Sabtu, 30 Agustus 2025
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Indonesia Masih Jauh dari Harapan: Mari Belajar dari Finlandia hingga Jepang

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi: Jalan Panjang Menuju Sekolah Ramah Disabilitas

    Tunas Gusdurian 2025

    TUNAS GUSDURian 2025 Hadirkan Ruang Belajar Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren hingga Digital Security Training

    Konferensi Pemikiran Gus Dur

    Merawat Warisan Gus Dur: Konferensi Pemikiran Pertama Digelar Bersama TUNAS GUSDURian

    Kenaikan Pajak

    Demokrasi di Titik Nadir: GUSDURian Ingatkan Pemerintah Soal Kenaikan Pajak dan Kebijakan Serampangan

    Musawah Art Collective

    Lawan Pernikahan Anak Lewat Seni: Musawah Art Collective Gelar Trip Exhibition “Breaking the Chain” di Tiga Kota

    Krisis Iklim

    Green Youth Quake: Pemuda NU dan Muhammadiyah Bergerak Lawan Krisis Iklim

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    AI

    Pentingnya Etika Digital di Era AI: Kasus Foto Asusila di Cirebon Jadi Peringatan

    Menjadi Perempuan Adalah Cobaan

    “Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

    Sunan Gunung Jati

    Mengurai Polemik Pengemis di Makam Sunan Gunung Jati

    Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas

    Menilik Kembali Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Bukanlah Proyek

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Indonesia Masih Jauh dari Harapan: Mari Belajar dari Finlandia hingga Jepang

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi: Jalan Panjang Menuju Sekolah Ramah Disabilitas

    Tunas Gusdurian 2025

    TUNAS GUSDURian 2025 Hadirkan Ruang Belajar Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren hingga Digital Security Training

    Konferensi Pemikiran Gus Dur

    Merawat Warisan Gus Dur: Konferensi Pemikiran Pertama Digelar Bersama TUNAS GUSDURian

    Kenaikan Pajak

    Demokrasi di Titik Nadir: GUSDURian Ingatkan Pemerintah Soal Kenaikan Pajak dan Kebijakan Serampangan

    Musawah Art Collective

    Lawan Pernikahan Anak Lewat Seni: Musawah Art Collective Gelar Trip Exhibition “Breaking the Chain” di Tiga Kota

    Krisis Iklim

    Green Youth Quake: Pemuda NU dan Muhammadiyah Bergerak Lawan Krisis Iklim

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    AI

    Pentingnya Etika Digital di Era AI: Kasus Foto Asusila di Cirebon Jadi Peringatan

    Menjadi Perempuan Adalah Cobaan

    “Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

    Sunan Gunung Jati

    Mengurai Polemik Pengemis di Makam Sunan Gunung Jati

    Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas

    Menilik Kembali Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Bukanlah Proyek

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Menyoal Budaya Nikah Suku Sasak (4): Maskawin Melangit yang Tak Ramah Kantong

Jalan syariat itu sangat lebar. Tak bisa lewat jalan itu, lewat jalan lain. Tidak perlu repot oleh konstruk budaya yang kejam, tak ramah sosial, bahkan sampai menabrak norma agama

Ahmad Dirgahayu Hidayat Ahmad Dirgahayu Hidayat
12 Januari 2023
in Publik, Rekomendasi
0
3 Strategi Menjaga Relasi Suami Istri Perspektif Mubadalah

3 Strategi Menjaga Relasi Suami Istri Perspektif Mubadalah

811
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat termasuk di antara suku dengan jumlah maskawin yang melangit. Apalagi para perempuan berdarah biru. Mereka yang bergelar ‘lale’ atau ‘baiq’ itu nyaris membuat banyak pria Sasak geleng-geleng kepala. Terutama, bagi yang tak menyandang gelar ‘raden’ atau ‘lalu’.

Gelar ‘raden’ adalah gelar bangsawan yang diberikan kepada mereka yang memiliki jasa besar terhadap kerajaan di Pulau Lombok, dan keturunan perempuannya bergelar ‘lale’. Sedangkan ‘lalu’ adalah gelar bangsawan untuk mereka yang sekadar membantu raja dan mengabdi untuk kerajaan. Keturunan perempuannya bergelar ‘baiq’. Secara kasta, ‘raden-lale’ menyandang posisi tertinggi, lalu diikuti kasta ‘lalu-baiq’ di bawahnya.

Untuk masyarakat dengan strata sosial yang tinggi, maskawin 50 juta itu masih tergolong standar. Ini realita. Lebih-lebih, menggenap dengan pria yang berkasta rendah. Belum lagi melihat jenjang pendidikan perempuan tersebut yang tak sekufu dengan calon suaminya. Ini hanya maskawin, lain dengan pisuke-nya (Uang yang diberikan kepada orang tua calon istri sebagai rasa terima kasih sekaligus permintaan maaf karena telah menculik putrinya).

Penting digaris di sini, kami tak mempersoalkan apakah maskawin itu membumbung tinggi ke langit atau masih jongkok di bumi. Karena itu bukan ranah kami. Tetapi, yang meresahkan yaitu saat maskawinnya melangit dan tak ramah kantong sama sekali. Masyarakat kita seperti tiba-tiba gelap mata dari melihat realita. Kebijakan-kebijakan yang keluar tampak tak bersumber dari akal-budi. Melainkan muncul dari egoisme. Katanya sih, demi mempertahankan pangkat sosial warisan leluhur. Tapi benarkah demi mempertahankan pangkat sosial sampai-sampai tak ramah sosial? Ini perlu dikoreksi.

Lebih parah lagi, ketika masyarakat dengan kasta yang tak tinggi, hanya karena ada pihak yang tak merestui, akhirnya maskawin dan pisuke dibebankan seberat mungkin. Tak ubahnya seperti sanksi sosial. Padahal, pernikahan sebagai salah satu cara memuliakan perempuan. Tapi mengapa malah dihujani penderitaan. Yang susah bukan hanya pihak laki-laki, pengantin perempuannya pun banyak yang turut menangis melihat sikap keluarganya.

Baik, biar lebih enjoy saya akan bercerita. Mari kita membuka hati menelaah cerita ini. Di salah sebuah desa di Lombok, ada salah seorang ayah yang berpendirian kokoh dalam hal maskawin putrinya. Jumlah yang ia tetapkan tak ada peluang tawaran. Pandangannya benar-benar gelap, ia bersikap seolah kepada orang asing yang tak dikenal. Padahal yang turut menanggung derita tak lain adalah putrinya sendiri. Sang ayah menetapkan ‘harga’ yang amat mahal. Kondisi ekonomi pihak pria tak mampu menjangkau itu. Antara langit dan bumi.

Jalan satu-satunya adalah utang. Pinjam sana-sini, keluar masuk bank. Sedangkan, kalkulasi pendapatan harian dan bulanan tak bisa melunasi utang tersebut. Harapannya hanya satu, tanah warisan sebagai jaminan tumpukan utangnya. Bahkan, tak sedikit yang sampai memunculkan kesenjangan sosial berkepanjangan antar dua keluarga tersebut. Di sini, sengaja tak disebutkan detail ihwal ceritanya. Demi menghindari ketersinggungan pihak-pihak tertentu. Sudah maklum bersama bahwa pembenahan budaya tak seperti goreng pisang. Kita butuh waktu yang panjang.

Lalu, bagaimanakah teladan baginda Nabi yang harus kita tiru terkait maskawin ini? Mari kita kaji perlahan dengan hati nurani.

Adalah penggalan surah an-Nisa’ ayat 20, termasuk di antara teks syariat yang berbicara tentang jumlah maskawin. Lebih tepat pada lafal Qinthar(an) dalam frasa ‘Wa ataitum ihdahunna qinthar(an)’. Rata-rata, para ulama tafsir memaknai lafal tersebut dengan al-Mal al-Katsir (jumlah harta yang banyak). Ini sebagai bukti bahwa pernikahan adalah salah satu cara menghormati perempuan, mengangkat martabat sosialnya. Mengingat di masa jahiliah, para perempuan melulu dipandang sebagai komoditas rendahan. Sehingga, al-Qur’an menegaskan bahwa maskawin yang diberikan kepada mereka itu mesti tinggi.

Apa yang diajarkan surah an-Nisa’ ayat 20 ini adalah tentang sebuah idealitas. Umat Islam sedang dididik menjadi pribadi yang idealistis dalam urusan ini. Dan, ini benar. Namun, untuk tepat memahami agama, kita tidak bisa hanya dengan al-Qur’an. Kita sangat butuh hadist Nabi sebagai mubayyin (penjelas) dan mufassir (penafsir) kalam ilahi itu.

Baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana ucapan (aqwal), tingkah langkah (af’al), dan sikap pembiarannya (taqrirunnabi) sebagai wahyu Tuhan dari jalur lain, tak hanya bicara maskawin dari sudut pandang idealitas. Tetapi juga sesekali turun ke bumi realitas. Dalam banyak kesempatan, guru kami di Ma’had Aly Situbondo, KH. Afifuddin Muhajir kerap kali menyampaikan statement indah yang berbunyi:

التنزيل من السماء العلى إلى الأرض الواقع

Artinya, “Turun dari langit idealitas menuju bumi realitas.”

Sikap semacam ini memiliki peran penting dalam eksistensi nilai luhur ajaran yang dibawa baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia harus elastis seperti balon yang mempu menampung banyak air. Laiknya sikap Nabi yang mampu selentur mungkin di hadapan hukum-hukum parsial (al-ahkam al-juziyah).

Syekh Iqbal dalam syairnya yang dikutip syekh Yusuf al-Qardhawi dalam al-Fiqh al-Islami baina al-Ashalah wa at-Tajdid (hal. 48), menyampaikan makna elastisitas (al-murunah) dalam beragama:

مرحبين بكل جديد نافع # ومحتفظين بكل قديم صالح

Artinya, “Selamat datang udara baru yang segar nan sejuk kuucapkan, mutiara-mutiara lama yang berkilap indah tetap kupertahankan, takkan kubuang.”

Syair indah ini semakna dengan kaidah Al-muhafadhzatu ‘ala qadim(in) shalih wa al-akhdzu bi jadid(in) nafi’, (Menjaga tradisi lama yang masih relevan sekaligus terbuka untuk hal baru yang bermanfaat besar).

Kembali ke maskawin, bagi diri Nabi sendiri maskawinnya tidak murah untuk ukuran masanya. Bahkan lumayan mahal. Dalam sebuah Hadits, Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepada sayyidah Aisyah terkait jumlah mahar Nabi. Ia menjawab:

كان صداقه لأزواجه ثنتي عشرة أوقية ونشا قالت أتدري ما النش؟ قال: قلت لا. قالت: نصف أوقية فتلك خمسمائة درهم. فهذا صداق رسول الله صلى الله عليه وسلم لأزواجه

Artinya, “Maskawin Nabi untuk (sebagian besar) istrinya adalah 12 tambah setengah uqiyah. Dan jumlah semuanya adalah 500 dirham. Itulah maskawin yang diberikan pada sebagian besar istrinya.”

Syekh Abu Abdillah Abdissalam Allausy dalam Ibanatul Ahkam Syarh Buluq al-Maram (juz 3, hal. 314) mencoba mengkalkulasi 500 dirham bila dibelanjakan hari ini. Ternyata, setara dengan harga 50 ekor kambing. Dalam konteks Indonesia sekarang-dengan nilai mata uang yang lebih rendah dari Arab Saudi yang berkonsekuensi lebih mahal-harga seekor kambing dewasa lebih kurang tiga juta (Ini ketika harga kambing sedang naik). Berarti untuk 50 ekor bisa mencapai harga 150 juta. Apakah maskawin ini tergolong murah? Tentu tidak.

Kendati demikian, Nabi sangat realistis. Sang sayyidus sadat tak berkenan memberatkan umatnya dengan harus memiliki maskawin mahal. Masih ingat kisah seorang perempuan yang menawarkan dirinya kepada Nabi? Lantaran tak berkenan, si perempuan pun akhirnya menikah dengan seorang sahabat yang miskin papa. Sahabat yang hanya punya satu buah sarung. Jangankan cincin perak, dari besi pun ia tak punya. Kemudian, Nabi menikahkan mereka dengan mahar sedikit hafalan al-Qur’annya. Riwayat lain bilang, ia bermaskawinkan jasa mengajarkan 20 ayat al-Qur’an.

Artinya, jalan syariat itu sangat lebar. Tak bisa lewat jalan itu, lewat jalan lain. Tidak perlu repot oleh konstruk budaya yang kejam, tak ramah sosial, bahkan sampai menabrak norma agama. Dalam hal ini yaitu raf’ul haraj (memudahkan umat). Saat agama ingin memudahkan, norma adat malah bermaksud menyusahkan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab. []

 

Tags: NusantarapernikahanSuku SasakTradisi
Ahmad Dirgahayu Hidayat

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo, dan pendiri Komunitas Lingkar Ngaji Lesehan (Letih-Semangat Demi Hak Perempuan) di Lombok, NTB.

Terkait Posts

Pratama Arhan dan Azizah Salsha
Personal

Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

29 Agustus 2025
Maulid Nabi
Hikmah

Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

28 Agustus 2025
Pernikahan yang
Hikmah

Makna Pernikahan

23 Agustus 2025
Pernikahan yang
Hikmah

Mewujudkan Pernikahan Ideal dengan Kesiapan Lahir dan Batin

23 Agustus 2025
Pernikahan yang
Hikmah

Hikmah Pernikahan: Menjaga Nafsu, Memelihara Keturunan

22 Agustus 2025
Uang Panai
Publik

Uang Panai: Stigma Perempuan Bugis, dan Solusi Mubadalah

21 Agustus 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah
  • Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?
  • Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi
  • Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian
  • Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID