Sabtu, 7 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    Pelecehan Seksual

    Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    Pernikahan sebagai

    Relasi Pernikahan sebagai Ladang Kebaikan dan Tanggung Jawab Bersama

    Istri adalah Ladang

    Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    Pelecehan Seksual

    Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    Pernikahan sebagai

    Relasi Pernikahan sebagai Ladang Kebaikan dan Tanggung Jawab Bersama

    Istri adalah Ladang

    Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Isu Komunisme di Tengah Tutupnya Masjid

Hasna Azmi Fadhilah by Hasna Azmi Fadhilah
18 Juli 2020
in Publik
A A
0
Isu Komunisme di Tengah Tutupnya Masjid

(foto koleksi penulis)

18
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Menyambut lebaran di tengah pandemi Corona memang serba tidak mengenakkan. Dimulai dari banyak masjid yang tak menyelenggarakan tarawih, hingga absennya ritual buka bersama yang biasa menghiasi hari-hari Ramadan kita.

Tahun ini, kita betul-betul dipaksa untuk menerima situasi yang berbeda dari biasanya: larangan anjuran untuk tidak mudik, hingga merayakan idul fitri cukup di rumah dengan hanya bersilaturahmi dengan tetangga dekat, meski imbauan tersebut akhirnya banyak yang dilanggar.

Sayang disayang, sepinya masjid justru berbanding terbalik dengan tempat publik lainnya seperti pasar dan pusat perbelanjaan. Wabah corona yang telah memakan ribuan korban jiwa seakan tak menyurutkan nyali umat untuk tetap berdesak-desakkan demi memenuhi kebutuhan (atau hawa nafsu?) di hari raya. Warga tetap bersikukuh bahwa tak ada yang perlu dirisaukan. Tak ayal, aturan physical distancing pun terabaikan.

Kondisi tersebut lalu menyulut beberapa pihak menyebarkan isu dan kecurigaan bahwa pemerintah sekarang sedang menjalankan strategi komunis yang ingin melenyapkan ritual reliji secara perlahan.

Berdasarkan premis dasar bahwa paham komunisme adalah anti agama, yang dihubungkan dengan tutupnya berbagai tempat ibadah, termasuk masjid. Lalu dikaitkan dengan perlakuan berbeda di mall dan pasar, yang justru malah makin ramai dan tak terkendali.

Dua situasi tersebut kemudian menjadi fondasi penarikan kesimpulan bahwa kebijakan menutup masjid adalah kebijakan komunisme terselubung yang direncanakan, dan hal itu mengindikasikan bahwa tindakan anti agama sedang digalakkan di negeri kita tercinta. Kalau benar sudah begitu, betapa daruratnya bangsa kita ini! Sudahlah terkena wabah corona, eh kini harus menghadapi gerakan marxisme yang meresahkan!

Eits.. tunggu dulu, sesederhanakah itu membuat kesimpulan dari kondisi terkini kita? Meski saya tidak setuju dengan betapa plin-plannya pemerintah mengatasi dampak wabah. Tapi, menerapkan silogisme serampangan dengan metode cocoklogi antara tutupnya tempat ibadah dan komunisme kok sepertinya keterlaluan.

Begini, menurut Karl Marx yang juga bapaknya komunisme, komunisme dan agama memang tidak sejalan. Ia bahkan bilang agama itu bagaikan candu. Pernyataan Marx sendiri dapat dirunut dari pandangan dasar bahwa manusia sejatinya adalah individu yang mandiri dan seharusnya memiliki kendali penuh atas tindakan yang ia lakukan.

Nah, ketika seseorang mulai percaya pada agama dan kekuatan supranatural yang melekat pada kepercayaannya tersebut, menurut Marx, hal itu akan membuat manusia tidak lagi memegang kuasa secara optimal pada dirinya. Situasi itu ia sebut dengan istilah man’s alienation.

Dari situ, jelas bahwa agama hanyalah efek samping, bukan sumber masalah utama. Di sisi lain, Marx melihat agama adalah alat protes yang digunakan kaum pekerja yang mengalami ekonomi sulit pada eranya.

Perlu diketahui, zaman Karl Marx hidup, rakyat terbagi atas tiga kelas: kaum buruh, pemilik modal, dan tuan tanah. Dulu, hidup sebagai pekerja sangatlah menyengsarakan karena tenaga mereka harus diperas habis-habisan untuk memenuhi kehendak tuan tanah dan pemilik modal. Sontak, harapan dan ajaran agama yang bertumpu pada keadilan memberikan secercah asa bagi kaum proletar untuk memberontak serta memprotes tindakan semena-mena yang mereka terima.

Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah yang menerapkan sistem komunisme pun mencoba membungkam kaum beragama karena sebagian besar dari mereka adalah pihak yang berseberangan dengan tindakan politik yang mereka jalankan, bukan semata-mata karena agamanya.

Menariknya, di China sebagai negara berpaham komunis terbesar di dunia, ritual dan penyelenggaraan ibadah agama apapun tidak serta merta dilarang. Meski pelaksanaannya tidak cukup bebas dan harus diawasi ketat oleh pemerintah. Jika ada yang terlihat mencurigakan, mereka akan segera berangus serta lenyapkan. Tujuannya apa? Demi kestabilan politik dan mencegah terjadinya pemberontakan, tidak sebatas disebabkan oleh esensi agama itu.

Sehingga, ketika pandemi Covid-19 merajalela di negeri tirai bambu, banyak komunitas dari beragam agama mampu bergerak cepat untuk mengumpulkan donasi. Meski dalam perjalanannya sempat dicurigai oleh pemerintah setempat karena khawatir mereka sedang menjalankan aksi politik menggalang simpati, yang lagi-lagi ditakutkan agak menggoyang reputasi para politisi.

Syukurlah, hal tersebut justru tidak menyurutkan semangat mereka untuk membuktikan bahwa tindakan mereka bukan dalam rangka pemberontakan, justru sedang mengimplementasikan ajaran hakiki dari keimanan pada Tuhan.

Tak pelak, otoritas yang awalnya menaruh curiga, akhirnya mempersilakan keberlanjutan aksi amal mereka. Walau tempat-tempat ibadah harus tutup demi memotong rantai penyebaran corona, akhirnya gereja dan pura menggelar doa berjamaah secara virtual. Umat muslim di Wuhan pun tak mau kalah, mereka mendonasikan makanan gratis bagi para tenaga medis yang berada di garis terdepan.

Dari kisah di China tadi, sebenarnya kita bisa memetik pelajaran bahwa sistem komunisme memang tidak bisa membuka peluang seluas mungkin bagi kaum beragama untuk secara merdeka menjalankan ibadah mereka.

Namun di sisi lain, terbatasnya ruang berekspresi justru tidak serta merta menutup peluang dakwah dan amal ibadah. Mereka tetap bersemangat 45 untuk menerapkan nilai-nilai agama di tengah pandemi corona dan segera mencari alternatif solusi demi kemaslahatan bersama.

Hal ini tentu kondisinya berbeda dengan di Indonesia yang masih mempersilakan umat beribadah, meski di rumah saja. Dan hal itu tak perlu dibesar-besarkan, apalagi mengaitkannya dengan paham komunisme, yang justru menginginkan dunia tanpa kelas sosial.

Sedangkan tindakan pemerintah kita dalam menangani wabah sejauh ini malah semakin memperlebar kesenjangan sosial ekonomi di antara masyarakat. Kalau sudah begitu, sistem apakah yang sebenarnya pemerintah kita tetapkan? Wallahu a’lam. []

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Benarkah Perempuan Jilbab Punuk Unta Dilaknat Allah?

Next Post

Hi Suami, Istri bukan Asisten Rumah Tanggamu

Hasna Azmi Fadhilah

Hasna Azmi Fadhilah

Belajar dan mengajar tentang politik dan isu-isu perempuan

Related Posts

Gempa
Khazanah

Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

7 Februari 2026
Inpirasi Perempuan Disabilitas
Disabilitas

Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

7 Februari 2026
Pernikahan
Pernak-pernik

Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

7 Februari 2026
Cat Calling
Publik

Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

7 Februari 2026
Poligami
Pernak-pernik

Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

7 Februari 2026
Aborsi
Publik

Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

7 Februari 2026
Next Post
Hi Suami, Istri bukan Asisten Rumah Tanggamu

Hi Suami, Istri bukan Asisten Rumah Tanggamu

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih
  • Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia
  • Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an
  • Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?
  • Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0