Selasa, 24 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Rekomendasi Buku Tentang Sejarah Pemikiran Para Filsuf Perempuan

Kesenjangan sejarah pemikiran bukan karena kurangnya sumber atau rujukan yang mengarah pada para filsuf perempuan, tetapi barangkali tidak dianggap penting

Fadlan by Fadlan
28 Juli 2024
in Buku, Rekomendasi
A A
0
Filsuf Perempuan

Filsuf Perempuan

21
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Banyak orang berpikir bahwa karya Plato yang berjudul ‘Republic’ bukanlah tulisan feminisme. Tetapi ketika Plato mengusulkan bahwa perempuan, juga laki-laki, mampu menjadi pemimpin negara-kota idealnya, dia dianggap berpikir jauh ke depan, melampaui zamannya.

Ribuan tahun kemudian, saat ini perempuan tampaknya belum memenuhi ekspektasi Plato bahwa mereka juga bisa menjadi pemikir hebat. Atau setidaknya, seperti itulah yang buku-buku filsafat katakan hari ini.

Faktanya sejarah filsafat belum menawarkan keadilan bagi perempuan. Jika tak percaya, Anda bisa memeriksanya sendiri di beberapa buku-buku sejarah filsafat konvensional yang nyaris tidak menyentuh gagasan para pemikir perempuan. Seperti ‘A History of Western Philosophy’-nya Bertrand Russell (telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia).

Di tempat lain, misalnya di ‘Philosophy: 100 Essential Thinkers’ hanya dua perempuan saja yang tertampilkan—Mary Wollstonecraft dan Simone de Beauvoir. Dalam ‘The Great Philosophers: From Socrates to Turing’, lebih parah lagi, tidak ada satupun filsuf perempuan yang penulis singgung.

Pada 2020 silam, Penerbit Mizan telah menerjemahkan masterpiece penulis berkebangsaan Amerika, Eric Weiner, yang berjudul ‘Socrates Express’. Buku ini, paling tidak, lebih baik daripada tiga buku di atas. Karena dari 14 filsuf yang Weiner diskusikan, 3 di antaranya adalah perempuan, yakni Sei Shōnagon, Simone Weil, dan Simone de Beauvoir. Namun sayangnya, buku ini bukan murni karya sejarah, lebih kepada self-improvement.

Kesenjangan Pemikiran

Menurut saya, penting untuk kita catat, bahwa kesenjangan sejarah pemikiran ini bukan karena kurangnya sumber atau rujukan yang mengarah pada para filsuf perempuan. Tetapi barangkali karena filsuf perempuan tidak dianggap penting. Saya berikan contoh seperti Hipparchia. Ketika saya meneliti tentang filsuf Sinis ini, tidak satupun buku, jurnal, atau artikel yang khusus membahas tentang Hipparchia. Anda boleh memeriksanya sendiri.

Beberapa peneliti bahkan mengatakan bahwa Hipparchia tidak begitu penting, karena corak berpikirnya yang tak jauh berbeda dari suaminya, Crates. Namun penelitian saya justru menunjukkan sebaliknya; beberapa filsuf Yunani Kuno seperti Zeno, Epictetus, dan Diogenes (of Sinope dan Laertius) bahkan mengagumi pemikiran dan keberaniannya (saya tiba-tiba teringat momen lucu ketika Hipparchia membuat filsuf Theodorus kesal).

Penelitian saya tentang Hipparchia ini telah saya rangkum dalam sebuah esai panjang berjudul ‘Hipparchia: Filsuf Perempuan dan Pecinta Sejati yang Terlupakan’. Di sisi lain, beberapa tulisan saya yang mengulas tentang filsuf perempuan juga pernah saya buat, dua di antaranya adalah ‘Enam Perempuan yang Berpengaruh dalam Filsafat’ dan ‘Things That You Can Learn From a Woman Philosopher, Ayn Rand, to Gain Happiness’.

Sayangnya saya merasa ini masih belum cukup. Oleh karena itu, dalam artikel kali ini. Mengingat kurangnya pemahaman kita tentang para pemikir perempuan dan rujukan sejarah yang dapat kita gunakan. Saya akan memberikan beberapa rekomendasi buku yang mengulas dengan detail dan khusus tentang para pemikir perempuan dan kontribusi mereka dalam sejarah.

1. A History of Women Philosophers (1987)

Sebenarnya ada satu karya lain yang memiliki judul serupa: ‘Women Philosophers’ karya Baroness Mary Warnock, yang terbit dua tahun kemudian (1989) setelah ‘A History of Women Philosophers’. Sayangnya saya tidak memiliki buku tersebut. Saya hanya akan mengulas karya-karya yang pernah saya baca saja.

‘A History of Women Philosophers’ pada dasarnya adalah karya antologi, alih-alih karya perseorangan. Buku ini dikurasi langsung oleh Mary Ellen Waithe. Seoarng filsuf dan penasihat utama Center for the Study of Women Philosophers & Scientists, Universitas Paderborn, Jerman.

Menurut saya buku ini sangat lengkap mendiskusikan gagasan dan sejarah pemikiran para filsuf perempuan. Saking lengkapnya, buku ini bahkan terdiri dari empat jilid tebal, sesuai dengan periodesasi pemikiran filsufnya. 1) Ancient Women Philosophers (600-500 SM). 2) Medieval, Renaissance, and Enlightenment (500-1600). 3) Modern Women Philosophers (1600-1900). 4) Contemporary Women Philosophers (1900-today).

2. A History of Women: From Eve to Dawn (2002)

Karya yang Marilyn French tulis ini memang tidak secara khusus mendiskusikan para filsuf perempuan. Seperti buku ‘A History of Women Philosophers’ sebelumnya, yang membuat daftar tokoh-tokoh filsuf perempuan. Jadi jika Anda termasuk pribadi yang tidak suka narasi yang bertele-tele dan terlampau panjang, buku ini mungkin bukan untuk Anda.

Alasan mengapa saya memasukkan buku ini ke dalam daftar rekomendasi, karena buku ini menjelaskan secara komperhensif, runtut, dan menyeluruh sejarah perempuan. Bukan hanya dalam konteks sosial, budaya, hukum, dan teologi, tapi juga pemikirannya. Selain itu, buku ini mengandung analisis Marilyn French sendiri yang dengan tegas mengkritik wacana-wacana patriarki sepanjang sejarah. Meskipun dia berusaha berdiri netral untuk tidak melemparkan semua kesalahan kepada laki-laki.

Lebih dari itu, sebagaimana ‘A History of Philosophy’ sebelumnya, buku ini juga terdiri dari 4 jilid: 1) Origins; 2) The Masculine Mystique; 3) Infernos and Paradises, The Triumph of Capitalism in The 19th Century; 4) Revolution and The Struggles for Justice in The 20th Century. Jadi lengkap-tidaknya buku ini tidak perlu kita pertanyakan lagi.

3. Queenly Philosophers: Renaissance Women Aristocrats as Platonic Guardians (2017)

Dari judul bukunya saya kira kita sudah dapat menebak isi buku yang ditulis oleh penulis berdarah Amerika-Spanyol, Jane Duran, ini. Karya ini terinspirasi dari istilah “guardian” (penjaga negara) yang Plato gunakan dalam ‘Republic’-nya. Duran membuka bukunya dengan premis bahwa filsafat abad ke-16 hingga ke-18 banyak didominasi oleh kaum aristokrat atau bangsawan. Karena saat itu mereka memiliki akses yang luas terhadap karya-karya cetak pada masanya.

Sayangnya, ketika kita membicarakan tentang filsafat di abad 16 sampai 18, yang terpikirkan adalah gagasan-gagasan para filsuf laki-laki saja. Padahal, menurut Duran, tidak sedikit perempuan dari kalangan aristokrat yang juga berkontribusi besar terhadap wacana-wacana filosofis yang hangat saat itu. Bahkan sampai hari ini, seperti tentang kehendak bebas, sifat tuan tanah, dan hubungan antara Tuhan dan manusia.

Buku ini akan memperkenalkan Anda dengan beberapa tokoh-tokoh pemikir penting namun jarang kita ketahui seperti Mary Sidney Herbert, Katherine Parr, dan Elizabeth I.

Di sisi lain, buku ini juga tertulis dengan baik dan sedemikian rupa, sehingga kita tidak merasa perlu untuk membaca setiap babnya secara runtut dan tersusun. Kita bisa membacanya di bagian mana pun di dalam buku ini tanpa harus merasa takut kehilangan ide utamanya.

4. The Philosopher Queens (2020)

Seperti ‘A History of Women Philosophers’ sebelumnya, buku yang dikurasi oleh Rebecca Buxton dan Lisa Whiting ini juga merupakan karya antologi. Tidak banyak yang dapat saya jelaskan tentang buku ini. Namun dua hal yang terpikirkan ketika saya membaca buku ini: estetik dan mudah kita pahami.

Ini adalah karya yang muncul dari kegelisahan para penulisnya yang bertanya-tanya tentang posisi perempuan di dalam filsafat. Para penulis buku ini berusaha untuk meruntuhkan stigma tentang rasionalitas laki-laki dan irasionalitas perempuan sekaligus menjawab mengapa dalam sejarah pemikiran, para filsuf perempuan selalu terkecualikan.

Setidaknya ada 20 filsuf perempuan yang diulas dalam buku ini, mulai dari Diotima (terlepas dari kontroversialnya status tokoh ini) hingga Azizah Y. Al-Hibri. Tidak begitu banyak, memang. Mungkin beberapa dari mereka sudah pernah Anda dengar dan pelajari, dan beberapa lainnya tidak pernah. Namun karya ini patut mendapatkan apresiasi. Para filsuf yang diulas di dalam buku ini juga cukup kompleks, menantang, problematik, dan tentu saja menginspirasi.

5. The Women are Up to Something (2022)

Kajian etika akhir-akhir ini memang cukup banyak. Dan sebagai orang yang mempelajari filsafat, saya jarang menemukan para pemikir perempuan yang berkutat dalam isu ini.

‘The Women are Up to Something’ ditulis dengan apik oleh guru besar filsafat Houghton University, Benjamin J.B. Lipscomb. Berawal dari pertemuan penulis dengan Mary Midgley pada 2010, Lipscomb merasa terpanggil untuk menulis sebuah buku tentang Mary Midgley dan tiga sahabatnya: Elizabeth Anscombe, Philippa Foot, dan Iris Murdoch.

Mary Midgley merupakan filsuf etika yang karya-karyanya banyak berhubungan dengan hak-hak hewan seperti ‘Animals and Why They Matter’ (1983), ‘Wickedness’ (1984), ‘The Ethical Primate’ (1994), ‘Evolution as a Religion’ (1985), dan ‘Science as Salvation’ (1992).

‘The Women are Up to Something’ menjelaskan secara detail gagasan etika keempat filsuf perempuan tersebut yang merevolusi dan mengkritisi pandangan etika konvensional yang dimotori oleh para pemikir laki-laki seperti gagasan moral subjektif—mereka menjulukinya dengan “an intellectual fad”. Keempat filsuf perempuan ini percaya bahwa ada moral objektif yang didasarkan pada sifat dasar manusia.

Jika saya boleh memberikan garis besar buku ini, sepanjang 9 bab bukunya, Lipscomb hanya membahas dua poin utama: Pertama, kisah tentang keempat filsuf perempuan—Mary Midgley, Elizabeth Anscombe, Philippa Foot, dan Iris Murdoch—persahabatan mereka, perbedaan, dan perjuangan mereka menjadi pemikir hebat dan berpengaruh. Kedua, cerita tentang dua pendekatan etika yang saling bertentangan—subjektivisme dan objektivisme moral.

6. A History of Islam in 21 Women (2019)

Saya kurang yakin apakah ini termasuk karya filsafat atau bukan, tetapi saya merasa perlu untuk memasukkan buku ini ke dalam daftar. Buku yang Hossein Kamaly tulis ini cukup menarik bagi saya. Sebab buku ini menjelaskan banyak hal yang tidak saya ketahui tentang kontribusi dan pengaruh perempuan dalam sejarah Islam, yang sebagian dari mereka kita kategorikan sebagai filsuf muslim seperti Rabiah al-Adawiyah, Safiatuddin Syah, Tahereh, Maryam Mirzkhani.

Menurut Hossein Kamaly, buku ini terinspirasi dari karya Jenni Murray yang berjudul ‘A History of Britain in 21 Women’. Dia berpikir mengapa tidak membuat karya yang mengulas tentang sejarah Islam yang berfokus pada perempuan? Tujuan penyusunannya pun sebenarnya tidak jauh berbeda dari karya-karya sejarah keperempuanan lainnya.

Hossein Kamaly mengklaim bahwa buku ini hadir untuk meruntuhkan asumsi umum di Barat bahwa Islam hanya memberikan perempuan peran pasif yang berkutat dalam persoalan domestik, sehingga melacak pengaruh perempuan dalam sejarah Islam adalah pekerjaan yang nyaris sia-sia.

Dengan mengulas satu per satu beberapa sosok perempuan penting dalam sejarah Islam, mulai dari Khadijah sampai Maryam Mirzkhani, Hossein Kamaly membuktikan bahwa kontribusi perempuan dalam sejarah pemikiran dan tradisi Islam bukan sekadar isapan jempol belaka. Terlepas dari itu, buku ini saya kira cukup memuaskan, meskipun saya sendiri belum menyelesaikannya. []

Tags: Buku PerempuanfilsafatFilsuf PerempuanRekomendasiReview Bukusejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Suami Istri Harus Saling Merawat Tujuan Pernikahan

Next Post

Memperkuat Ikatan Pernikahan dengan Komunikasi dan Saling Beri Hadiah

Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Related Posts

Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Sejarah Perempuan atas
Aktual

Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

23 Februari 2026
Valentine Bukan Budaya Kita
Personal

Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

14 Februari 2026
Kehilangan Tak Pernah Mudah
Personal

Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

11 Februari 2026
Teologi Sunni
Buku

Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?

9 Februari 2026
Difabel dalam Sejarah Yunani
Disabilitas

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

5 Februari 2026
Next Post
Ikatan Pernikahan

Memperkuat Ikatan Pernikahan dengan Komunikasi dan Saling Beri Hadiah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam
  • Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0