Minggu, 14 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Siapa Berkata Apa

Wawancara Martin Van Bruinessen: Dinamika Islam dan Masyarakat di Indonesia

Fachrul Misbahudin by Fachrul Misbahudin
20 Februari 2019
in Siapa Berkata Apa
A A
0
Martin Van Bruinessen

Martin Van Bruinessen

3
SHARES
143
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Martin Van Bruinessen adalah guru besar Studi Kurdi Universitas Utrecht di Belanda. Laki-laki yang akrab disapa Martin ini lahir di Kota Schoonhoven, Provinsi Utrecht, Belanda. Sebagai seorang intelektual, pada tahun 1998 Martin telah mendirikan Internasional Institute of the Study of Islam in Modern World (ISIM).

Selain menjadi guru besar, pada tahun 1981 Martin mendapatkan beasiswa dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) sebagai peneliti muda tentang Islam di Indonesia. Martin juga sempat menjadi dosen tamu untuk mengajar sosiologi agama Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1991-1993.

Dalam kunjunganya ke kantor Mubaadalah di kawasan Yayasan Fahmina Cirebon, Sabtu 8 Februari 2019, Martin bersedia untuk diwawancara Mubaadalahnews. Inilah hasil wawancara dengan beliau terkait Dinamika Islam dan Masyarakat di Indonesia.

***

Bagaimana ceritanya awal kali datang ke Indonesia?

Saya pertama kali datang ke Indonesia pada 1982. Itu terjadi kebetulan saja dan tidak pernah saya rencanakan. Saya menganggur kemudian melamar pekerjaan dan kebetulan mendapat beasiswa pasca doktoral untuk mengkaji Islam di Indonesia. Tapi sebelumnya saya sudah berpengalaman cukup lama di Timur Tengah terutama di wilayah Kurdi di Iran, Irak, Turki, Syria dan juga di Afganistan. Jadi saya udah tahu Islam yang ada di daerah sana termasuk tarekat-tarekatnya dan ziarah-ziarahnya yang sering saya kaji.

Saya berpikir untuk mengkaji sesuatu yang belum banyak dilakukan orang. Saya pun merancang sebuah penelitian mengenai kemiskinan dan radikalisme agama. Apakah radikalisme agama disebabkan karena kemiskinan? Dan ternyata asumsi itu salah. Tapi untung salah karena itu memaksa saya untuk mendapatkan hal yang berbeda.

Sebetulnya pada perjalanan pertama waktu saya belum tahu banyak Indonesia, saya berkeliling di Jawa Barat dulu. Karena saya tahu Pamijahan, Kab. Tasikmalaya, punya posisi penting dalam sejarah Islam di Jawa karena Tarekat Syattariyah masuk ke Pamijahan. Saya ziarah ke Pamijahan dan saya mengikuti jejak Islam di tanah Jawa jadi mulai dari Pamijahan. Dari Pamijahan saya sedikit demi sedikit ke arah Cirebon, ke Sunan Gunung Jati dan terus bergerak ke Jawa Tengah dan sebagainya.

Saya tertarik kepada sejarah terutama bagaimana Islam menemukan tepat di hati orang yang mempunyai budaya yang berbeda. Maka dari itu, saya banyak mempelajari ritual-ritual yang ada di masyarakat seperti ziarah, muludan dan sebagainya.  Saya banyak menziarahi makam wali di Jawa.

Pada satu waktu, di salah satu toko buku di Bandung, saya melihat ada satu buku berbahasa Arab yang ditulis oleh orang Kurdi. Penulisnya Muhammad Damim Al-Kurdi. Kemudian saya tertarik penulis Tarekat Naqsyabandiyah di Kurdi. Saya bertanya-tanya kenapa buku ini ada di Bandung? Apakah orang Kurdi ada di Bandung atau Naqsyabandi ada di sini karena kebetulan saya menemukan buku itu muncul pertanyaan di benak saya bagaimana saya menemukan orang yang mempraktikan Tarekat Naqsyabandiyah.

Nah, setelah penelitian saya yang pertama, saya satu tahun tinggal di kawasan miskin di Bandung. Saya diminta oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut dalam satu proyek penelitian mengenai ulama di Indonesia. Peneliti LIPI itu ada di seluruh Indonesia dan dari situ saya bisa bertanya kepada banyak peneliti lain tentang Tarekat Naqsyabandiyah. Saya menanyakan sejarah dan perkembangan tarekat ini kepada mereka.

Jadi, dari awal minat saya memang lebih kepada ritual-ritual tradisional tarekat seperti ziarah dan sebagainya. Ini lebih menarik dibanding penelitian saya yang resmi tentang Islam radikal. Bagi saya, kajian Islam radikal tidak terlalu menarik. Sampai sekarang banyak yang mengkaji hal itu seperti meneliti jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Al-Qaeda, dan sebagainya. Tapi ritual-ritual tradisi yang saya lihat sudah berakar di masyarakat dan ini yang jauh lebih penting.

Apakah perbedaan Islam di Indonesia jika dibandingkan, misalnya, dengan Islam di Arab?

Pertama, Islam di Arab itu tidak satu. Arab Syiria sudah sangat berbeda dengan Arab Jordan, Arab Mesir atau Arab Irak. Namun ada yang menarik di Arab Mesir. Mesir merupakan negara yang sangat kaya seperti halnya di Indonesia. Di sana juga banyak budaya yang sangat lama yang masih tetap dilakukan.

Jadi kita jangan pikir bahwa orang di Arab itu semua Wahabi, sama sekali tidak. Dan yang seperti Nahdhatul Ulama (NU) juga ada di tanah Arab. Setiap daerah mempunyai tradisi, punya budaya. Islam di mana-mana diungkapkan dalam bahasa dalam budaya setempat dan selalu ada akomodasi antara ajaran dan budaya. Ini proses yang terus menerus. Ada proses pemurnian kemudian ada lagi proses adaptasi kepada situasi dan kondisi setempat.

Kita lihat ada orang datang, pertama-tama mereka sangat fanatik, ingin membersihkan dan memurnikan Islam. Mereka berpakaian sangat putih tetapi setelah beberapa tahun itu mulai pakai batik lagi, bahasa mereka lebih lembut lagi. Itu proses normal dari setiap generasi. Orang kembali dari belajar di luar dan ingin mengubah yang ada di sini.

Sebagian mungkin membawa sedikit perubahan, tetapi pada akhirnya mereka harus melihat dan beradaptasi terhadap situasi setempat. Ada proses penyesuaian. Dan itu akan terus berlangsung. Tradisi tetap akan ada di sini. Tradisi juga akan tetap berubah dan berkembang antara lain karena pengaruh yang datang dari Arab, Barat atau dari Tiongkok. Jangan lupa bahwa Tiongkok mempunyai pengaruh yang besar. Islam ada di Tiongkok dan pengaruh Islam dari sana juga pernah ikut mewarnai Islam di jawa. Dan mungkin Islam dari tempat lain.

Sekarang, di intelektualisme Islam juga mulai muncul semacam Islam yang berkembang di perguruan tinggi seperti di Amerika, Australia bahkan Eropa yang akan ikut mewarnai wacana Islam di Indonesia. Jadi pengaruh terhadap budaya Islam, pengajar Islam, keilmuwan Islam akan tetap ada dan tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Banyak pihak menawarkan istilah Islam Nusantara untuk menyebut Islam di Indonesia. Bagaimana pandangan Anda terhadap istilah ini?

Setiap orang yang pakai istilah Islam Nusantara pasti sudah mempunyai definisi masing-masing. Mengenai Islam Nusantara ada juga perdebatan apakah Islam di Nusantara atau Islam Nusantara. Tetapi saya lebih memilih Islam Nusantara, karena menurut pendapat saya pribadi Islam Nusantara adalah agama yang hadir dengan budaya. Karena memang tidak mungkin ada agama tanpa budaya.

Islam itu tidak mungkin ada tanpa budaya. Islam hanya bisa hidup karena ada masyarakat. Tidak ada masyarakat, tidak ada Islam. Islam itu sesuatu yang hidup di dalam orang Islam. Islam tanpa manusia, tidak ada. Karena manusianya, Islam selalu diungkapkan dalam bentuk, bahasa, budaya dan tradisi setempat.

Sedangkan Islam Nusantara kalau menurut orang NU adalah Islam yang berkembang di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Hal tersebut sebagaimana yang telah diajarakan para Walisongo tentang cara belajar, cara mengajar, dan cara dakwah.

Apa pandangan Anda tentang populisme Islam yang sekarang banyak kita lihat terjadi di Indonesia?

Saya tidak tahu apakah istilah populisme Islam itu tepat dan itu juga mungkin mencakup terlalu banyak fenomena yang berbeda. Dari satu segi kita lihat contohnya adalah FPI. Dipimpin seorang yang karismatik tetapi para pengikutnya tidak mempunyai pendidikan formal bahkan mereka tidak banyak tahu tentang ajaran Islam. Tapi mereka mempunyai rasa yang kuat untuk ikut serta dengan pemimpinnya. Itu mungkin bisa disebut dengan Islam populis.

Tapi itu Islam yang sangat dangkal yang mudah terbawa ke arah politik yang tidak ada sangkut paut dengan akidah, ibadah, atau kepentingan umat seluruhnya. Tetapi yang ada hanya kepentingan politik dan ekonomi.

Selain fenomena FPI, kita bisa lihat saat ini media sosial sangat berbeda dibandingkan dengan madrasah, pesantren, dan sebagainya. Namun sayangnya media sosial saat ini banyak dimanfaatkan untuk belajar agama, pendidikan formal dan lain sebagainya. Salah satu akibatnya yaitu pendangkalan pemahaman agama karena orang belajar Islam hanya disajikan dalam bentuk sederhana yang sesuai dengan kebutuhan sesaat. Menghindari kompleksitas.

Dulu saya pernah baca buku judulnya Islam dalam 5 menit. Itu bagaimana orang bisa belajar Islam dalam 5 menit? Ini tentu sangat berbanding jauh dengan pesantren. Di pesantren Islam diajarkan kepada setiap orang bertahun-tahun untuk menguasai cara berpikir fiqh dan melihat permasalahan dalam berbagai segi. Jadi, di dalam pesantren ada satu kompleksitas yang merupakan kekayaan dalam tradisi Islam.

Apakah gelombang pendangkalan ini akan mengubah wajah Islam di Indonesia?

Bukan saja Islam, semua hal berubah di media sosial. Saya lihat orang yang membaca buku, apakah itu buku agama, buku umum, semakin sedikit dibandingkan dengan orang belajar dari Google. Kalau kita meng-Google sesuatu memang kita mendapatkan jawabannya, tetapi itu sangat sederhana. Kita tidak pernah bisa memahami latar belakangnya.

Jadi informasi yang diterima baik dari Google, WhatsApp, Instagram atau di Youtube itu sangat  mudah sekali kita dapat. Tetapi yang kita peroleh hanya kedangkalan. Jadi kalau ingin memahami yang lebih lanjut memang harus belajar sendiri, harus membaca sendiri, dan merenunginya.

Apakah pendangkalan ini bisa membahayakan kehidupan bersama?

Salah satu faktor dari populisme ini orang mudah dimobilisasi berdasarkan kebencian. Kita jadi mudah sekali membuat fitnah. Saat ini fitnah sudah mudah dipercaya. Orang tidak punya lagi pendidikan untuk menilai mana yang benar atau tidak.

Orang yang ahli hadis pasti mengetahui bagaimana menguji kesahihan sebuah hadis. Tetapi saat ini banyak orang yang membuat hadis ciptaan. Mereka tidak punya alat ilmiah untuk menilai sejauh mana itu dapat dipercaya atau tidak. Dan ini berbahaya.

Apa pesan untuk orang Islam di Indonesia untuk menghadapi kondisi demikian?

Sebagai kesimpulannya, belajarlah bagaimana kita menilai informasi yang kita peroleh, karena sekarang memperoleh informasi sangat mudah. Semua orang, termasuk tukang becak punya handphone dan ini menjadi sumber informasi utama untuk semua orang.

Saat ini kita belum belajar bagaimana membedakan antara informasi yang benar dan yang salah. Jadi, belajarlah bagaimana memproses informasi, menerima informasi, dan menyeleksi informasi. Itu sangat penting, saya kira. Pendidikan itu sesuatu yang harus diutamakan.[]

Tags: IndonesiaislamIslam NusantaraJawaMartin van BruinessenNUpesantrenumatWalisongo
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

RUU P-KS Sejalan dengan Pancasila

Next Post

Ertini: Perempuan Harus Percaya Diri

Fachrul Misbahudin

Fachrul Misbahudin

Lebih banyak mendengar, menulis dan membaca.

Related Posts

Bulan Suro
Featured

Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

12 Juni 2026
Kekerasan Seksual di Pesantren
Aktual

Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

11 Juni 2026
Kekerasan Seksual di Pesantren
Publik

Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

11 Juni 2026
Dakwah Tauhid
Publik

Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis

8 Juni 2026
Ida Nasution
Figur

Ida Nasution: Muslimah Pertama yang Meraih Gelar Doktor di Universitas Amsterdam

8 Juni 2026
Pesantren
Publik

Lima Langkah Pengelolaan Pesantren Putri agar Terhindar dari Kekerasan Seksual

6 Juni 2026
Next Post
Ertini: Perempuan Harus Percaya Diri

Ertini: Perempuan Harus Percaya Diri

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?
  • Kisah Perempuan Pekerja Sekaligus Fandom K-Pop dalam Serial Netflix Night Shift for Cuties
  • Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual
  • Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh
  • Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0