Selasa, 16 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Tokoh

Perjuangan Rahmah El Yunusiyyah Memperbaiki Nasib Perempuan

Syekhah Rahmah El Yunusiyyah sama sekali tak terpikir dan sedikit pun tak berharap akan gelar kehormatan. Yang ada dipikirannya sewaktu memulai upaya Diniyyah Putri (dan gerakannya yang lain), adalah untuk memperbaiki nasib perempuan

Moh. Rivaldi Abdul by Moh. Rivaldi Abdul
26 Agustus 2021
in Buku, Featured
A A
0
Ulama Perempuan

Ulama Perempuan

4
SHARES
186
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Judul Buku: Perempuan yang Mendahului Zaman: Sebuah Novel Biografi Syekhah Rahmah El Yunusiyyah

Penulis: Khairul Jasmi

Penerbit: Republika

Cet.: I, 2020

Tebal: xii + 229 halaman

Ukuran: 13.5 cm x 20.5 cm

ISBN: 9786232790896

Mubadalah.id – Bagi Rahmah El Yunusiyyah memajukan nasib kaum perempuan adalah perjuangan utama dalam hidupnya. Perempuan yang lahir di Padang Panjang pada 29 Desember 1900 ini, mencurahkan hidupnya untuk perjuangan mengangkat derajat kaum perempuan. Untuk tujuan ini, dia berani mendobrak zaman.

Tak berlebihan jika Khairul Jasmi memberi judul Perempuan yang Mendahului Zaman atas novel biografi tentang Rahmah El Yunusiyyah yang ditulisnya. Meski termasuk kategori novel, namun sebagaimana dijelaskan penulisnya: “Novel biografi ini adalah fakta. Untuk keperluan penulisan saya melakukan riset, membaca banyak buku dan tulisan, serta mewawancarai pihak Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang, meminta saran kepada sejumlah ahli sejarah, juga pada ulama.” Sehingga, buku tersebut termasuk bacaan yang bagus bagi pembaca untuk mengenal sosok Rahmah El Yunusiyyah.

Perempuan Itu Lemah? Bisa Apa?

Berulang kali saya menggelengkan kepala saat membaca kiprah Rahmah El Yunusiyyah. Dia perempuan yang luar biasa. Melihat sosoknya jadi berpikir dua kali jika hendak mengatakan perempuan itu makhluk yang lemah. Beberapa episode perjuangan Rahmah membuat kaum lelaki harus mengakui kalau tekad Rahmah melebihi ekspektasi yang dapat dibayangkan terhadap sosok perempuan.

Di masa pendudukan Jepang, saat perempuan Minangkabau dibawa paksa oleh penjajah ke Medan untuk dijadikan pemuas nafsu, Rahmah dengan berani masuk ke markas Jepang di Medan. Mendesak komandan mereka agar membebaskan perempuan Minangkabau yang disekap. Sikap yang oleh Khairul Jasmi: “membuat pria-pria Minangkabau sebenarnya malu muka,” sebab harusnya kaum lelaki yang menantang penjajah yang hendak melecehkan perempuan, “namun apa hendak dikata, yang ada kemudian orang mengadu padanya (pada Rahmah).”

Tidak ada ketakutan sama sekali berhadapan dengan penjajah Jepang yang tak manusiawi. Bagi Rahmah yang terpenting adalah melindungi perempuan dari praktek jugun ianfu–dijadikan budak nafsu bejat serdadu Jepang.

Pasca proklamasi kemerdekaan dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Saat itu, kaum lelaki ragu untuk menjadi komandan TKR Padang Panjang. Dengan penuh keberanian Rahmah mengambil peran itu. “Jika Engku-engku menolak jadi komandan, maka biarkan saya maju. Saya ambil komando,” ucap Rahmah.

Dan banyak lagi momen yang disajikan Khairul Jasmi dalam Perempuan yang Mendahului Zaman, di mana kaum lelaki harus menunduk dan mengakui kalau perempuan bukan sosok lemah, sebab melihat kebesaran tekad dan gerakan Rahmah El Yunusiyyah.

Perjuangan Rahmah El Yunusiyyah

Sejak awal Rahmah El Yunusiyyah bergerak dalam dunia pendidikan. Tapi, bukan berarti dia tidak memiliki kiprah di bidang lainnya. Perempuan ulama yang satu ini punya banyak keahlian. Dia seorang ulama dan mubaligah yang handal. Keilmuannya tidak hanya diakui di Padang Panjang, namun hingga ke negeri sebrang Malaysia. Ah, bahkan dunia mengakui keulamaannya, terbukti Universitas Al-Azhar memberi gelar syekhah kepadanya.

Rahmah juga menguasai ilmu kedokteran dan kebidanan. Beberapa kali Diniyyah Putri, di masa perjuangan kemerdekaan, menjadi rumah sakit darurat untuk perempuan. Tentu kepala kesehatan waktu itu adalah Rahmah. Dia juga menguasai ilmu kebidanan, membantu persalinan mereka yang kurang mampu menanggung biaya bersalin.

Kiprah Rahmah dalam dunia politik juga luar biasa. Dia menjadi peninjau Sumatera Chu Sangi In, semacam dewan pertimbangan pusat, yang dibentuk untuk menuntut janji kemerdekaan dari Jepang.

Ketika dibentuk Komite Nasional Indonesia dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 22 Agustus 1945, Bung Karno memasukkan nama Rahmah El Yunusiyyah sebagai salah satu anggota. Namun, pada sidang PPKI di Malang, Rahmah tidak bisa hadir, sebab sedang merawat ibunya yang sakit.

Dan, di zaman Indonesia merdeka pada pemilu 1955, Rahmah terpilih menjadi anggota DPR. Satu kedudukan yang diidamkan banyak orang. Namun, bukan Rahmah namanya kalau sampai terbuai dengan kursi/pangkat.

Khairul Jasmi menjelaskan, “Siapa yang tak bangga jadi anggota DPR hasil pemilu yang hebat dan hangat? Rahmah tidak. Ia melihat tokoh sentral Indonesia, Soekarno, telah termakan umbuk-rayu PKI. Dalam sidang-sidang, kalau membaca assalamualaikum, pasti ada celetukan anggota PKI di belakang, ‘Seperti di pondok saja.’ Rahmah juga disindir karena memakai jilbab. Rahmah kembali saja ke Padang Panjang, lebih baik, katanya, ia mencurahkan energinya untuk perguruan, ketimbang terombang-ambing dalam dunia politik Soekarno.”

Rahmah bukan lari dari perjuangan. Tak ada kata undur dalam kamus hidupnya. Dia justru menyadari bahwa akan lebih produktif kalau melanjutkan perjuangan pendidikan untuk perempuan yang telah dibangunnya sejak lama. Selain itu, sebagai seorang perempuan ulama, komitmen Rahmah El Yunusiyyah terhadap ajaran Islam, terlebih jilbab, memang sangat kuat. Jilbab merupakan simbol muslimah yang amat dibanggakannya. Pada 20-24 Juli 1935, ketika Rahmah El Yunusiyyah menjadi salah satu perwakilan Permi (Persatuan Muslim Indonesia) dalam Kongres Perempuan di Jakarta, dirinya dengan penuh semangat turut mengkampanyekan jilbab.

Model jilbab Rahmah El Yunusiyyah disebut lilik. Ukurannya termasuk kategori jilbab besar. Khairul Jasmi menggambarkan bagaimana jilbab Rahmah: “…selendang warna putih, setinggi tegaknya kira-kira. Lalu ia melilitkan di kepalanya, diberi peniti. Sebentar saja sudah terpasang dengan rancak. Semua rambutnya tertutup.

Kain yang dililitkan di kepala itu disebut lilik. Kelak, berbilang tahun kemudian, dikenal sebagai lilik Diniyyah. Penutup kepala perempuan itu menjulur sampai ke dada dan terjuntai di bagian belakang sampai di bawah bahu. Rahmah sudah akrab dengan hal demikian (lilik) sejak remaja. Di sekolahnya semua keluarga besar Diniyyah, memakai hal serupa.”

Jilbab model lilik menjadi identitas Diniyyah Putri. Rahmah menanamkan kebanggaan jilbab sebagai pakaian muslimah dalam diri murid-muridnya. Jika ada muridnya yang memakai baju terbuka (tidak berjilbab), maka Rahmah akan menegurnya.

Mendirikan Diniyyah Putri

Diniyyah Putri adalah perjuangan Rahmah El Yunusiyyah yang paling luar biasa. Keinginan kuatnya untuk memperbaiki nasib kaum perempuan mendorong Rahmah bergerak dalam jalur pendidikan.

Perguruan Islam khusus perempuan pertama di Nusantara bahkan dunia, yang dinamai Rahmah dengan Diniyyah Putri, itu didirikannya pada 1 November 1923. Pada masa itu, sedikit sekali perempuan Minangkabau yang sekolah. Institusi pendidikan Islam juga cenderung terbuka untuk lelaki, namun masih sulit bagi perempuan. Padahal Islam memberi ruang yang sama kepada lelaki dan perempuan dalam hal pendidikan. Maka, upaya memperbaiki nasib kaum perempuan dimulai Rahmah dengan pendidikan.

Sikap Rahmah El Yunusiyyah, di masa itu, adalah terlampau sangat berani. Seorang perempuan mendirikan sekolah Islam, dan belum lagi dikhususkan untuk perempuan. Apa yang dia lakukan termasuk hal baru di zamannya. Tidak heran kalau kemudian banyak kalangan yang menentangnya.

Khairul Jasmi menjelaskan: “Kisah Rahmah membuka sekolah itulah yang kemudian menjadi perbincangan. Ia disebut ‘yang ketidak-tidak saja’. Rahmah ditantang dengan diam-diam dan dengan frontal. Ia dicibir, digunjingkan. Ia digugat kalangan adat. Karena sudah lancang membangun sekolah, untuk perempuan pula. Penolakan pada sekolah Rahmah itu bukan sekadar cerita. Cerita, pasti. Di kedai kopi, di sawah, di ladang, di tepian tempat mandi, apalagi di pasar. Pemuka adat menolak secara tegas, sebab sekolah perempuan itu benar-benar tak ada gunanya.”

Upaya untuk memajukan pendidikan perempuan harus dimulai. Rahmah dengan berani mengambil peran tersebut. Tujuannya: “…Diniyyah School Putri akan selalu mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan..” Dan, meski banyak tantangan, namun dia tak goyah.

Di sisi lain, banyak yang mendukung langkahnya. Kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, yang juga seorang ulama, sangat support atas langkah yang diambil Rahmah. Kaum perempuan Minangkabau bahkan hingga negeri sebrang, Malaysia, juga banyak yang antusias menyambut Diniyyah Putri.

Tercatat jumlah murid pertama Diniyyah Putri Padang Panjang sejak didirikan hingga 1924 berjumlah 71 orang. Murid-muridnya terdiri dari kelompok ibu muda, janda, dan remaja putri. Mereka masuk ke sekolah baru, di sebelah rumah gadang Rahmah kawasan Pasa Usang. Ada yang datang dibawa oleh orang tua atau nenek mereka, dan ada juga yang datang sendiri ingin belajar.

Berapa usia Rahmah El Yunusiyyah waktu itu? 23 tahun. Usia yang terbilang sangat muda, namun sudah mengawali langkah yang mampu mengguncang zaman.

Pada 1924, Rahmah juga mengupayakan pemberantasan buta huruf untuk perempuan. Program itu dinamai Menyesal School. “Ini untuk perempuan buta huruf. Huruf apa saja, Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Juga angka dari 0 sampai 9.. Rahmah membuat sejarah, tapi tak dicatat. Kelak 1948, setelah merdeka baru diluncurkan program Pemberantasan Buta Huruf. Ketika Rahmah membuat kursus ‘Sekolah Menyesal’ tahun 1924, ia telah mengambil peran yang oleh orang lain tak terpikirkan. Ia pakai emperan masjid, duduk bersimpuh di sana, membimbing kaumnya. Memegang jemari kasar mereka dan mengajari cara memegang pensil.”

Demikian upaya Rahmah El Yunusiyyah dalam mencerdaskan kaum perempuan. Meski banyak rintangan, namun dia berhasil. Diniyyah Putri yang dibangunnya terus berkembang. Banyak perempuan yang tercerdaskan berkat buah upaya Rahmah.

Tinur, Rasuna Said, dan Ratna Sari, tiga sekawan perempuan yang aktif di Permi. Di negeri sebrang, ada Puan Sri Datin Sakinah Junid, perempuan pejuang kemerdekaan di Malaysia. Mereka murid-murid Rahmah. Dan, banyak lagi, sosok-sosok perempuan hebat yang lahir dari Diniyyah Putri. Hingga sekarang, sekolah yang dibangun Rahmah El Yunusiyyah itu terus mencerdaskan kaum perempuan.

Jelas upaya Rahmah mendirikan Diniyyah Putri adalah hal yang luar biasa. Tidak hanya memukau Nusantara, tapi hingga dunia.

Kilaunya membuat langkah Syekh Abdurrahman Taj, rektor Universitas Al-Azhar 1954-1958, datang mengunjungi Diniyyah Putri. “Dalam pidatonya… Abdurrahman Taj menyebut, di sini, di sebuah surga yang tersembunyi karena keindahan negerinya nan elok, ada perguruan khusus perempuan pula. Di Al-Azhar sama sekali belum ada. Ia menyatakan, akan memungut pola Diniyyah Puteri untuk diterapkan di universitasnya di Kairo…. (beberapa tahun kemudian) fakultas untuk perempuan baru diresmikan pada 1962: Kulliyatul Lil Banat.”

Sekitar 1956, Rahmah El Yunusiyyah diundang Al-Azhar ke Kairo. Dia diberi gelar syekhah (Doktor Honoris Causa). Dia perempuan pertama yang diberi gelar tersebut oleh Universitas Al-Azhar. Mereka kagum dengan sosok Rahmah El Yunusiyyah yang berhasil membangun Diniyyah Putri.

Syekhah Rahmah El Yunusiyyah sama sekali tak terpikir dan sedikit pun tak berharap akan gelar kehormatan. Yang ada dipikirannya sewaktu memulai upaya Diniyyah Putri (dan gerakannya yang lain), adalah untuk memperbaiki nasib perempuan. Berbagai posisi dan gelar yang didapatkannya tidak lain adalah pengakuan dunia terhadap pemikiran dan kiprahnya.

Ketulusan perjuangan dan tekad Rahmah El Yunusiyyah benar-benar memukau. Dia sosok perempuan yang pantas untuk terus hidup dalam sejarah. []

Tags: Pendidikan PerempuanPerempuan Ulamaperjuangan perempuanSejarah PerempuanUlama Nusantaraulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Cinta adalah Anugerah

Next Post

Merebut Tafsir: Pak Karel Steenbrink, Sang “Jendela Dunia”ku telah Berpulang  (1941- 2021)

Moh. Rivaldi Abdul

Moh. Rivaldi Abdul

S1 PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2019. S2 Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Islam Nusantara di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang, menempuh pendidikan Doktoral (S3) Prodi Studi Islam Konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Atlas Ulama Perempuan KUPI
Aktual

Atlas Ulama Perempuan KUPI Resmi Diluncurkan, Rekam Jejak Perjuangan Ulama Perempuan

24 Mei 2026
Next Post
Bias

Merebut Tafsir: Pak Karel Steenbrink, Sang “Jendela Dunia”ku telah Berpulang  (1941- 2021)

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?
  • Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial
  • Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan
  • Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?
  • Mengenal Kondom Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0