Sabtu, 30 Agustus 2025
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Gus Dur yang

    Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan

    Media Alternatif

    Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    Keamanan Digital

    TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    Kekerasan

    Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Indonesia Masih Jauh dari Harapan: Mari Belajar dari Finlandia hingga Jepang

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi: Jalan Panjang Menuju Sekolah Ramah Disabilitas

    Tunas Gusdurian 2025

    TUNAS GUSDURian 2025 Hadirkan Ruang Belajar Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren hingga Digital Security Training

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Ketimpangan Gaji Guru

    Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    AI

    Pentingnya Etika Digital di Era AI: Kasus Foto Asusila di Cirebon Jadi Peringatan

    Menjadi Perempuan Adalah Cobaan

    “Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Gus Dur yang

    Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan

    Media Alternatif

    Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    Keamanan Digital

    TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    Kekerasan

    Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Indonesia Masih Jauh dari Harapan: Mari Belajar dari Finlandia hingga Jepang

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi: Jalan Panjang Menuju Sekolah Ramah Disabilitas

    Tunas Gusdurian 2025

    TUNAS GUSDURian 2025 Hadirkan Ruang Belajar Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren hingga Digital Security Training

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Ketimpangan Gaji Guru

    Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    AI

    Pentingnya Etika Digital di Era AI: Kasus Foto Asusila di Cirebon Jadi Peringatan

    Menjadi Perempuan Adalah Cobaan

    “Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Money Can’t Buy Class : Fenomena Gaya Hidup Mewah Hingga Mengabaikan Tata Krama

Kesalahan di era sekarang, yang serba materialistis ini, terletak pada perilaku orang tua yang berlebihan dalam memuja anak perempuannya

Halimatus Sa'dyah Halimatus Sa'dyah
13 Januari 2025
in Publik
0
Gaya Hidup Mewah

Gaya Hidup Mewah

999
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Era kapitalisme yang saat ini marak, segala hal berdampak dengan penilaian dari sisi materi. Misalnya, perempuan mengabaikan tata krama, lebih mengutamakan penampilan. Memasang eyelash, nail art, membeli tas branded, sepatu branded, pakaian yang memenuhi wardrobe. Segala hal koleksinya bisa terpajang dan dipamerkan. Menghadiri undangan acara dengan penampilan gaya hidup mewah yang mengundang decak kagum, itulah yang menjadi harapannya.

Hal ini lah yang kemudian memancing industri untuk menjadikan perempuan sebagai target pasar.  Kaum hawa menjadi objek materialisme, misalnya membuat produk skin care, fashion, perabotan, women stuff, apapun barang yang ditargetkan market pada perempuan terjamin akan lebih laris manis.

Bahkan barang yang sebetulnya bukan hal yang konsumsi perempuan, lebih banyak konsumennya dari kaum laki-laki, tetap saja perempuan menjadi alat promosinya. Misal mobil, rokok, bahkan obat kuat laki-laki  pun menggunakan perempuan sebagai pemeran iklan produk tersebut.

Kelas atas dengan gaya hidup mewah memang bergelimang harta. Mereka terbiasa memiliki kebiasaan menggunakan barang mewah. Di mana hal itu ditiru oleh kalangan kelas menengah supaya terlihat old money, supaya naik kelas dan selevel dengan kalagan di atasnya. Meski sebetulnya tidak menjadi masalah asal masih under control.

Sayangnya banyak orang berfokus pada penampilan tanpa ia barengi dengan tata krama yang harus pula dimiliki seiring sejalan dengan penampilannya. Misal, boleh berpenampilan mewah namun juga harus elegan dengan memprioritaskan perlakuan baik terhadap sesama manusia. Bertutur kata baik, berbicara sopan, bersikap santun dan menjaga harkat martabat dirinya.

Cinderella Complex Syndrome, Cantik Namun Otak Kosong

Pola asuh dari orang tua dalam mendidik anaknya tidak diajarkan hidup mandiri. Orang tua tidak berhasil dalam mengontrol kemelekatan pada anak. Anak tidak mendapat pendidikan mandiri, cenderung menunggu, manja, tidak bisa membuat keputusan, terburu-buru mencari pasangan, takut ditinggalkan laki-laki.

Princess atau Cinderella complex syndrome, meletakkan value hidupnya di atas kecantikan fisik, penampilan, keunggulan melalui seksualitas, atribut bawaan lainnya. Berharap akan hidup dengan mewah dan memiliki pasangan dan banyak pelayan untuk memenuhi kebutuhannya.

Kesalahan di era sekarang, yang serba materialistis ini, terletak pada perilaku orang tua yang berlebihan dalam memuja anak perempuannya. Terutama melalui paras wajahnya, penampilan fisiknya. Orang tua cenderung berharap dapat kehidupan yang lebih baik, dengan memiliki menantu bak pangeran. Menawarkan putri cantiknya, tanpa pembekalan pendidikan dan tata krama yang baik pada putrinya.

Manusia yang hidup dengan kondisi ini cenderung narsistik, sehingga kompetitif dengan kelompoknya. Bahkan cenderung manipulatif dengan memanfaatkan parasnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Hargai anak perempuan kita dengan sewajarnya, jangan membandingkan mereka dengan orang lain. Puji atas prestasinya dalam pendidikan dan perilaku baiknya. Panggil dengan nama, bukan dengan sebutan yang berbau princess, sehingga anak terbiasa dengan pujian dan validasi atas penampilannya, bukan karena parasnya.

Memiliki Inner Beauty dengan Ilmu dan Adab

Inner beauty atau kecantikan dari dalam adalah kecantikan yang berasal dari kepribadian, sifat asli, dan faktor psikologis seseorang.  Di mana inner beauty dapat terpancar dari perilaku, karakter, dan budi pekerti seseorang. Inner beauty kita anggap lebih penting daripada kecantikan fisik. Beberapa alasan di antaranya; Inner beauty tidak dimiliki oleh semua orang. Inner beauty akan selalu abadi, sedangkan kecantikan fisik akan memudar seiring waktu.

Inner beauty muncul secara alami dari dalam, bukan kepura-puraan atau polesan. Bersikap adil dan bijak dengan semua orang, mampu mengelola stres dengan baik, mengasah keilmuan atau passion, memiliki kepercayaan diri, mampu mengontrol emosi, murah senyum, selalu berpikiran positif, menjalankan pola hidup sehat, gaya hidup sederhana, memperbaiki diri terutama dalam bersikap dan memperlakukan orang lain.

Kecantikan dan perempuan seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Wajar jika  selalu ingin tampil cantik. Meski secara intuisi tiap perempuan adalah cantik, namun kebanyakan terobsesi untuk memperjuangkan kecantikannya dengan berbagai cara berlebihan (tabarruj). Mengubah hidung untuk lebih mancung, dagu lebih lancip, pipi lebih tirus, suntik supaya kulit terlihat glowing dan putih.

Mulai dari mengubah bentuk wajah dengan menggunakan filler dan tanam benang pada bagian tubuh hingga menggunakan kosmetik secara tidak wajar. Padahal, kecantikan fisik yang kita perjuangkan hanyalah kecantikan tiruan (palsu) dan memudar seiring bertambahnya usia.

Tanpa sadar, hal ini dampak dari pengaruh opini industri kecantikan dan iklan produk kecantikan yang bertebaran di media. Ambisi tersebut tidak lain adalah karena dorongan hawa nafsu untuk menjadi faktor penentu dalam mencapai kecantikan dan penampilan yang semu.

Kecantikan dalam Pandangan Ibnu Sina

Ibnu Sina atau Avicena (890-1037 M) adalah salah satu tokoh Islam yang membahas kecantikan dan perawatan tubuh. Kecantikan bukan hanya bertujuan mempercantik diri, melainkan lebih menekankan kepada kesehatan dengan cara merawat diri. Mulai dengan menjaga kebersihan. Kecantikan yang berasal dari hati tidak bisa kita lihat, tapi bisa kita rasakan.

Apabila kita pernah bertemu dengan seseorang yang berpenampilan biasa saja, tapi saat kita bersamanya, menjadi merasa nyaman karena tingkah lakunya yang baik, tutur katanya yang indah, pengetahuannya luas, sikapnya sopan dan hangat. Menunjukkan bahwa seseorang dianggap cantik secara sosial dan  psikologis, yang dihasilkan dari perilaku sehari-harinya dalam interaksi dengan kemampuan menempatkan diri.

Keindahan jiwa (inner beauty) dapat kita raih melalui tiga tahapan, yakni dengan salat, puasa dan menunaikan ibadah. Seperti dalam firman Allah

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Q.S. al-Baqarah [2]: 153).

Salat adalah media yang paling penting untuk melatih jiwa, memperbaharui spiritual serta menyucikan moral. Salat, bagi orang yang menjalakannya bagaikan tali yang kuat, yang terus kita pegang erat. Sarana dalam memohon pertolongan dari musibah dan malapetaka yang kita hadapi. Dapat menghilangkan trauma dan ketakutan, dan mendapatkan kekuatan untuk yang lemah.

Tiga Aspek yang Menunjang Inner Beauty

Aspek Intelektual Intelektual adalah orang yang menggunakan kecerdasan untuk belajar, bekerja, berpikir, berimajinasi, dan menjawab masalah dengan ide-ide yang berbeda. Secara garis besar, istilah intelektual memiliki pengertian yang kita kaitkan dengan buku dan gagasan.

Definisi intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh informasi yang berbeda, berpikir abstrak, rasional dan bertindak secara efektif dan efisien. Selain itu, intelektual adalah kemampuan yang dibawa individu sejak lahir, intelektual ini berkembang ketika lingkungan memungkinkan dan ada peluang untuk bergerak dan beradaptasi dengan situasi baru.

Aspek Emosional, adalah apabila seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik jelas terlihat dari kemampuannya mengelola emosi, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, dapat bangkit ketika ditimpa masalah serta dapat memotivasi diri sendiri dan orang lain dalam hal kebaikan sehingga kecantikan senantiasa terpancar dari dalam dirinya.

Seorang ahli kecerdasan emosi, Daniel Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosi termasuk kecakapan dan kemampuan mengontrol diri, memacu, tetap tekun, serta dapat memotivasi diri sendiri juga mencakup pengelolaan bentuk emosi baik yang positif maupun negatif. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif dalam mengelola diri sendiri dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain secara positif.

Menilik Aspek Spiritual

Aspek Spiritual Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia spiritual merupakan sesuatu yang berhubungan dengan sifat kejiwaan (rohani, batin). Adapun Spiritual quotient berasal dari kata spiritual dan quotient. Spiritual berarti batiniah, rohaniah, religius. Sedangkan quotient berarti kesempurnaan perkembangan akal, budi, kecerdasan. Yaitu kecerdasan yang menerima inspirasi, dorongan dan efisiensi yang memfokuskan semua kejadian kepada orang-orang baik.

Kecerdasan spiritual dapat membantu seseorang dalam mengembangkan dirinya secara utuh dengan menciptakan peluang untuk menerapkan nilai-nilai positif. Spiritual quotient atau kecerdasan spiritual adalah kecerdasan pikiran untuk selalu berpikir positif tentang segala peristiwa yang dialami. Berpendapat bahwa Tuhan mempunyai rencana yang baik untuk setiap peristiwa,  baik atau bahkan yang buruk.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١

 “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”. (Q.S. al-Hujurat [49]: 13)

Inner beauty dalam perspektif al-Qur’an adalah, definisi keindahan dari balutan ketakwaan. Semua atribut dunia, baik kebangsaan, gelar, kekayaan, kecantikan dan kedudukan adalah sarana penunjang namun bukan faktor utama. yang paling utama adalah menjadikan diri penuh dengan ketaatan, manusia bisa meraih kedudukan penting di hadapan Allah SWT apabila menjadi manusia yang taat. []

 

Tags: Gaya Hidup MewahIbnu SinakecantikanKecerdasan EmosionalKosmetikLife Stylesindrom cinderella complexTren
Halimatus Sa'dyah

Halimatus Sa'dyah

Penulis adalah  konsultan hukum dan pengurus LPBHNU 2123038506

Terkait Posts

Film The Substance
Film

Film The Substance: Saat Tubuh Perempuan Bukan Lagi Komoditas Visual

27 Agustus 2025
Tidak Good Looking
Personal

Merana Tidak Diperlakukan Baik Karena Tidak Good Looking itu Pilihan, Tapi Menjadi Mandiri Itu Sebuah Keharusan

8 Agustus 2025
Tubuh yang Terlupakan
Personal

Luka Cinta di Dinding Rumah: Tafsir Feminis-Spiritual atas Tubuh yang Terlupakan

3 Juni 2025
Sukainah
Pernak-pernik

Tren Mode Rambut Sukainah

31 Mei 2025
Laku Tasawuf
Personal

Hidup Minimalis juga Bagian dari Laku Tasawuf Lho!

24 Mei 2025
Awet Muda
Personal

Awet Muda di Era Media Sosial: Perspektif dan Strategi Perempuan

2 Mei 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia
  • Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan
  • Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa
  • Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif
  • Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID