Mubadalah.id – Peran sahabiat (sahabat perempuan) dalam periwayatan hadis sangat banyak, penting, dan signifikan. Mereka juga menjadi pelaku sejarah dalam pembentukan hukum Islam.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Musyawarah Keagamaan (MM) Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Nyai Hj. Badriyah Fayumi dalam ceramahnya di Masjid Istiqlal pada 22 Maret 2025.
Di hadapan ribuan jamaah salat tarawih, ia mengungkapkan bagaimana kehidupan Rasulullah Saw dalam rumah tangga diketahui dari para istrinya yang menjadi perawi hadis.
“Kita tahu bagaimana relasi suami-istri dalam rumah tangga Rasulullah dari riwayat Ummul Mukminin Aisyah, Maimunah, Ummu Habibah, dan lainnya. Dari mereka, kita mengetahui bahwa Rasulullah Saw adalah suami dan kepala keluarga yang luar biasa, yang tidak pernah melakukan kekerasan sedikit pun. Bahkan kepada binatang di rumahnya saja beliau tidak pernah menyakiti,” jelasnya.
Lebih dari itu, para istri Nabi juga menjadi saksi bagaimana Rasulullah memperlakukan mereka dengan kasih sayang dan penghormatan yang tinggi.
“Beliau dengan ringan memasak di dapur. Ketika tiba waktu salat, beliau keluar untuk mengimami. Kita tahu itu semua dari istri Nabi yang membersamai beliau dalam proses pembentukan hukum dan akhlak Islam,” tambahnya.
Kontribusi dalam Medan Perang
Selain dalam urusan rumah tangga, perempuan sahabiat juga berkontribusi dalam perjuangan di medan perang. Salah satu sosok yang disebut Nyai Badriyah adalah Nusaibah binti Ka’ab atau Ummu Imarah, yang dikenal karena keberaniannya dalam Perang Uhud.
“Rasulullah tidak pernah melarang perempuan yang memiliki kesempatan dan kemauan untuk berjuang aktif di tengah-tengah masyarakat. Bahkan, Ummu Imarah menjadi perisai hidup Rasulullah di saat Perang Uhud,” tuturnya.
Meski tidak ada kewajiban untuk berperang, perempuan yang ingin berjuang bersama kaum laki-laki tidak pernah Rasulullah Saw melarangnya. Sebagai bentuk penghormatan atas keberaniannya, Rasulullah Saw bahkan mendoakan Ummu Imarah secara khusus:
“Allahumma alhiqni Jannah. Ya Allah, jadikanlah Ummu Imarah dan keluarganya sebagai teman-temanku di surga nanti.”
Dari periwayatan hadis hingga perjuangan di medan perang, para perempuan sahabiat menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap sejarah. Melainkan bagian penting dalam pembentukan Islam yang penuh rahmat. []