Minggu, 25 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    Musik untuk Semua

    Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan masih tabu

    Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu

    Kesehatan Reproduksi diabaikan

    Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    Musik untuk Semua

    Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan masih tabu

    Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu

    Kesehatan Reproduksi diabaikan

    Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

RIP Paus Emeritus Benedictus XVI dan Dialog Mubadalah antar Agama-agama

Selamat jalan Joseph Alois Ratzinger, sang Paus Emeritus Benedictus XVI. Duka cita mendalam saya ucapkan untuk seluruh komunitas beriman umat Katolik dunia. Belas kasih Tuhan semoga selalu iringi setiap perjalanan kembali pulang

Hafidzoh Almawaliy Ruslan by Hafidzoh Almawaliy Ruslan
5 Januari 2023
in Personal, Rekomendasi
0
Paus Emeritus Benedictus XVI

Paus Emeritus Benedictus XVI

666
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Paus Emeritus Benedictus XVI bukanlah sosok asing bagi saya. Kurun 2006 saya telah menulis kajian tentang pemberitaan kontroversi pidatonya soal jihad dalam agama Islam. Pidato ini beliau sampaikan kepada mahasiswa Universitas Regensburg, Jerman pada 12 September di tahun yang sama. Tulisan itu merupakan tugas akhir bagi konsentrasi kesarjanaan yang saya ambil. Di moment wisuda, kajian itu sempat peroleh Puslit award dan rektorat beri semangat dengan tepuk pundak agar terbitkan sebagai buku, segera.

Dalam kajian itu saya ambil tajuk ‘Analisis Pemberitaan Harian Kompas tentang Pidato Paus Benedictus XVI soal Jihad’. Tujuannya untuk ketahui bagaimana konstruksi pemberitaan media mainstream paling terpercaya di Indonesia tersebut. Yakni tentang pidato sang Paus Emeritus soal jihad agama Islam yang disebutkan : ‘diwartakan dengan jalan pedang’ pada masa Nabi Muhammad saw.

Sebagai pisau analisa, saya gunakan analisis wacana model Teun A. van Dijk. Seorang profesor dari Universitas Amsterdam, Belanda yang juga mendirikan Pusat Studi Wacana pada 2017, di Universitas Pompeu Fabra, Barcelona.

Memang sebagaimana kita tahu, Harian Kompas jatidirinya sebagai media massa kerap kita katakan dekat dengan kekuatan Partai Katolik di Indonesia pada dekade 1964-1965. Saat itu para tokohnya telah berpikir cari cara efekstif untuk ‘pengaruhi’ opini publik lewat surat kabar.

Media Massa Independen

Namun pada perkembangan berikutnya kisaran 1971-1973 (sebelum perstiwa Malari 1974) ketika Partai Katolik difusikan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI); Kompas telah berusaha menjadi media massa independen, berpijak pada prinsip-prinsip dasar jurnalisme yang obyektif. Menaruh belas kasih yang tinggi pada umat manusia (transcendental humanism), keterharuan dan kepedulian (compassion), serta berjuang keluar dari ikatan primordial yang dimiliki, termasuk politik dan agama, dan lebih tekankan substansi dari tiap masalah yang diberitakan.

Meskipun demikian sebagian publik masih menilai latar belakang tersebut pengaruhi posisi Kompas dalam berbagai pemberitaan perdebatan politik. Utamanya bila itu menyangkut kekuatan politik Islam. Inilah yang membuat saya tertarik melakukan analisa, dengan latar belakang Kompas yang sedemikian rupa. Sementara kasus yang jadi kajian adalah persolan yang melibatkan pemimpin Umat Katolik dunia yang tengah menyoroti persoalan jihad dalam Islam dan praktik kekerasan atas nama agama.

Hasilnya berdasar pisau analisis Van Dijk, bagaimanapun Kompas telah berusaha berlaku obyektif, hidup bebas dari bias tertentu, dan menyajikan fakta dan kebenaran secara komprehensif. Namun sengaja atau tidak, teks-teks berita Kompas yang merupakan bentuk praktik ‘ideologinya’, telah beri kontribusi dalam membangun solidaritas terhadap pihak Vatikan.

Implikasinya citra Vatikan tidak terlampau ‘nampak bersalah’ atas pidato Paus Benedictus XVI tersebut. Kompas juga memilih sikap lebih akomodatif terhadap suara-suara Islam moderat yang cenderung memaklumi dan cepat memaafkan isi pidato. Ketimbang akomodatif terhadap Islam konservatif yang getol lontarkan kecaman-kecaman keras atas peristiwa saat itu.

Tapi barangkali memang inilah, sikap idealisme Kompas sebagai media massa menempatkan diri, menggunakan kekuatan dan fungsinya sebagai instrumen perjuangan ‘membangun damai’ dalam kehidupan sosial-politik antaragama dan bangsa. Ini sah dalam arti positif yang sesungguhnya karena media memang arena pergulatan ‘antar-ideologi’ yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies), kata Antonio Gramsci, filsuf sekaligus teoritikus politik Roma, Italia.

Saling Pengakuan dan Permaafan

Memang, di awal banyak kalangan tokoh agama dunia terkejut dengan isi pidato tersebut. Apalagi insiden itu terjadi di tengah upaya keras masyarakat dunia melakukan dialog, mencari solusi damai bagi kehidupan bersama. Sebagaimana yang masih terus tokoh-tokoh umat upayakan hari ini. Akibat bertambahnya situasi ketiadaan damai karena ancaman ‘perang’ global (ekonomi, sosial, politik). Konflik antaretnis dan agama, nasionalisme sempit, maupun konflik komunal lain yang disebabkan klaim-klaim kebenaran secara sepihak.

Namun demikian, situasi saat itu cepat berubah menjadi rasa simpati dan penghargaan serta maaf yang tak kalah tulusnya. Karena tak selang lama, Paus Emeritus Benedictus XVI segera mengeluarkan pernyataan permintaan maaf secara terbuka, penuh kerendahan hati dan penyesalan. Ia tegaskan bahwa isi pidato yang beliau kutip dari teks abad ke-14 milik Kaisar Bizantium, Manouel II Palaiologus, itu sama sekali tidak mencerminkan pikiran pribadinya. Justru ia mengutipnya karena berniat untuk memantik diskusi. Membangun dialog konstruktif tentang agama-agama.

Pribadi sang Paus Emeritus yang demikian menjadi contoh teladan, bagaimana diplomasi-relasi dan juga dialog konstruktif itu kita mulai. Kebesaran diri dan jiwanya menghantarkannya pada sikap rendah hati, tulus ikhlas meminta maaf atas kekhilafan yang tidak sengaja ia lakukan. Di mana mungkin sikap-sikap kerelaan dan kerendahan hati itu juga terus ia tempuh saat memilih menanggalkan jabatan dari takhta Vatikan sebagai pemimpin utama umat Katolik dunia pada 2013 karena alasan usia dan kesehatan pribadi.

Semua itu terlepas dari isu krisis signifikan terkait dugaan korupsi internal Bank Vatikan, dan juga pelecehan seksual oleh para pendeta Katolik, serta upaya mengaburkannya selama puluhan tahun. Pengunduran diri Paus Benedictus XVI adalah sebuah tradisi Vatikan yang hampir tidak pernah terjadi. Kecuali setelah hampir 600 tahun terakhir, sejak Paus Gregorius XII mengundurkan diri pada 1415 M.

Tugas ini semestinya ia emban hingga akhir hayat. Karenanya butuh keberanian dan tekad kuat yang lahir dari jiwa kepeduliannya yang tinggi terhadap keyakinan dan institusi. Ia tidak ingin Gereja Katolik terus alami distorsi akibat perpecahan, individualisme, dan persaingan internal. Ia terus saja memikirkan umat.

Saling Kerjasama atas Dasar Persaudaraan Kemanusiaan

Sikap-sikap egoistik etnosentris yang dikembangkan masing-masing baik intern maupun antar golongan untuk kepentingan sendiri, memang tidak akan pernah bisa mencapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin (esoteris). Di mana hal itu menjadi kebutuhan dasar kehidupan seluruh umat manusia.

Tidak peduli apapun perbedaan keyakinan, agama, suku, ras, maupun lainnya. Sikap mengedepankan kepentingan bersama, saling kerjasama dalam pengertian, juga membangun kesejahteraan yang menyeluruh atas dasar nilai persaudaraan antar manusia, adalah yang paling dibutuhkan bagi umat di seluruh belahan dunia.

Namun semua itu memang butuh kerendahan hati dan tekad untuk saling memulai membuka diri. Melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi, serta berbuat lebih banyak lagi untuk kemaslahatan bersama. Sesuai kapasitas perjuangan. Karena hakikatnya semua manusia adalah hamba Tuhan yang berasal dari satu keturunan, Bani Adam.

Oleh sebab itu dalam sejarah, apa yang jadi jalan hidup Nabi Muhammad saw., adalah sebagaimana fitrah universal semua umat manusia yang menghendaki saling menjaga damai. Lalu kerjasama, harmoni, menjunjung tinggi kemanusiaan, menghapus ketidakadilan, sikap aniaya, kesewenang-wenangan. Itu terbukti selama memimpin umat 23 tahun atau kurang lebih 8000 hari, hanya terakumulasi 80 hari Baginda Nabi terlibat peperangan.

Itu pun semuanya dimaksudkan semata karena membela diri. Pertahankan harkat dan martabat kemanusiaan yang terus dipersekusi, teraniaya, terusir, dan dikhianatinya perjanjian damai yang telah disepakati bersama oleh kafir Quraisy. Bahkan Nabi Muhammad saw. tak segan menerima bantuan persenjataan atau kekuatan lainnya dari umat non-muslim, Yahudi dan Nasrani yang bersikap damai, mendukung dan saling bekerjasama dalam persaudaraan kemanusiaan bersama umat Islam.

Dialog Mubadalah antar Agama-agama

Dengan begitu, bercermin dari semua peristiwa perjalanan umat manusia, rasanya tidak ada apapun kebaikan yang kita peroleh dalam kehidupan ini. Kecuali bila kita kedepankan sikap pengakuan, penghormatan, dan penghargaan atas perbedaan sebagai kenyataan sejarah (historical necessity). Sekaligus kehendak Tuhan (sunnatullah). Sambil terus upayakan relasi saling kerjasama untuk dan atas dasar kemanusiaan, dengan kehalusan dan keikhlasan budi pekerti.

Jika agama-agama itu saling menuju kepada Tuhan, maka di situlah titik kesamaannya. Titik batiniyah esoterika. Ini pula yang perlu kita tekankan dalam dialog mubadalah antar agama-agama. Tuhan dari puncak ‘arsy­-Nya pasti akan terus bekerja dengan wahyu dan ilham yang dianugerahkan kepada para Nabi, para pemimpin umat, dan tokoh arif-bijak di sepanjang zaman.

Dengan penuh penghormatan, selamat jalan Joseph Alois Ratzinger, sang Paus Emeritus Benedictus XVI. Duka cita mendalam saya ucapkan untuk seluruh komunitas beriman umat Katolik dunia. Belas kasih Tuhan semoga selalu iringi setiap perjalanan kembali pulang. Wallahu a’lam bisshawab. []

Tags: agamadialogduniaPaus Emeritus Benediktus XVIPerdamaiantoleransiVatikan

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Ibu dua putri, menyukai isu perempuan dan anak, sosial, politik, tasawuf juga teologi agama-agama

Related Posts

Dialog Lintas Iman
Publik

Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

23 Januari 2026
Seksualitas
Pernak-pernik

Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

25 Januari 2026
Nyadran Perdamaian 2026
Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

22 Januari 2026
Tafsir Agama
Publik

KUPI Hadir Menjawab Kebuntuan Tafsir Agama dalam Isu Perempuan

6 Januari 2026
KUPI Indonesia
Publik

Kontribusi KUPI Bagi Indonesia dan Dunia

5 Januari 2026
Pancasila di Kota Salatiga
Publik

Melihat Pancasila di Kota Salatiga

31 Desember 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi
  • Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu
  • Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup
  • Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah
  • Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID