Mubadalah.id – Disabilitas adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Lalu beberapa dari mereka merasa lemah,terdzalimi, dan bahkan terdiskriminasi. Sebenarnya sudah banyak terjadi perubahan paradigma dalam memahami isu disabilitas.
Dari yang awalnya dipandang sebagai musibah atau kutukan, kini disabilitas kita pandang sebagai bagian dari keberagaman manusia. Pada akhirnya pun masih banyak masyarakat yang belum memahami dan menghargai hak-hak dan kebutuhan orang-orang dengan ragam disabilitas.
Stigma Disabilitas yang Salah Kaprah
Salah satu contoh perubahan paradigma ini adalah dalam bidang pendidikan. Pengalaman penulis pada saat MTs. sebut saja namanya Angga (Bukan Nama Sebenarnya). Salah satu siswa berkebutuhan khusus yang mengalami perundungan dari teman-temannya di sekolah. Karena menganggap temanya tidak normal, tidak dapat berkomunikasi dengan baik, dan lambat dalam berpikir.
Begitulah bahayanya stigma jika tidak kita pahami dengan baik. Dan masih banyak orang-orang yang mengganggap bahwa disabilitas sering tidak mampu untuk belajar dan berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan.
Tetapi harapan demi harapan kian tumbuh menuju perubahan. Kini telah terbukti bahwa orang-orang dengan disabilitas dapat belajar dan berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan. Jika orang-orang disekitarnya memberikan kesempatan dan dukungan yang setara dan adil
Meski banyak tantangan yang harus dihadapi oleh orang-orang dengan disabilitas. Salah satu tantangan terbesar adalah stigma dan diskriminasi. Banyak masyarakat yang masih memandang orang-orang dengan disabilitas sebagai “korban” atau “penderita” yang memerlukan belas kasihan dan bantuan. Namun, orang-orang dengan disabilitas tidak memerlukan belas kasihan, melainkan kesempatan dan dukungan yang sama untuk berpartisipasi dalam masyarakat.
Lalu sejauh ini aku, kamu, dan kalian bagaimana dalam memahami isu disabilitas? Apakah sebagai anugerah atau musibah?
Dua pertanyaan itu mungkin kerap kali berkelindan di pikiran kita selama ini, toh hal ini barangkali menjadi akar masalah kenapa fasilitas untuk teman-teman difabel belum merata, karena banyak yang beranggapan bahwa mereka tidak penting dan hanya bisa hidup dengan uluran tangan orang lain. Saking pentingnya isu disabilitas ini, Mubadalah di tahun 2025 ini menginisiasi untuk mengangkat isu tentang disabilitas.
Perspektif yang Membawa Perubahan
Dalam perspektif tradisional, percaya atau tidak, bahkan yakin ataupun tidak yakin : disabilitas sering dipandang sebagai musibah atau kutukan. Bahkan parahnya lagi orang-orang menganggap bahwa disabilitas sebagai “korban” atau “penderita” yang memerlukan belas kasihan dan bantuan dari orang lain.
Salah kaprah, sempitnya pikiran, dan stigma ini tentu telah banyak menuai masalah karena akan memperkuat diskriminasi terhadap teman-teman penyandang disabilitas.
Di sisi lain, perspektif keadilan hakiki memandang disabilitas sebagai anugerah. Dalam perspektif ini, seharusnya kita mengganggap disabilitas sebagai bagian dari keberagaman manusia dan dapat menjadi sumber kekuatan dan inspirasi. Orang-orang dengan disabilitas dianggap memiliki kemampuan dan potensi yang unik dan dapat membuat kontribusi yang signifikan dalam masyarakat.
Bagaimana kita dapat memahami disabilitas sebagai anugerah? Salah satu caranya adalah dengan mengakui bahwa disabilitas adalah bagian dari keberagaman manusia.
Kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan, dan disabilitas hanya salah satu dari banyak kekurangan yang dapat kita miliki. Dengan mengakui hal ini, kita dapat mulai memandang disabilitas sebagai bagian dari keberagaman manusia, bukan sebagai musibah atau kutukan.
Menjadi Anugerah Kehidupan
Seyogyanya kita perlu mengakui bahwa orang-orang dengan disabilitas memiliki hak yang sama dengan orang pada umumnya. Teman-teman disabilitas juga memiliki hak untuk berpartisipasi dalam masyarakat, untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Selain itu mereka pun berhak menikmati kehidupan yang sama dengan masyarakat secara umum.
Maka, dengan mengakui hak-hak ini, saya rasa kita dapat mulai memandang disabilitas sebagai anugerah, bukan sebagai musibah atau kutukan.
Perspektif disabilitas sebagai anugerah atau musibah adalah pertanyaan yang kompleks dan multifaset. Tetapi menurut hemat penulis dengan mengakui bahwa disabilitas adalah bagian dari keberagaman manusia. Selain itu, orang-orang dengan disabilitas memiliki hak-hak yang sama dengan manusia lainnya, di mana kita dapat mulai memandang disabilitas sebagai anugerah, bukan sebagai musibah atau kutukan.
Saya telah menyimak Bu Nyai Nur Rofi’ah pada saat mengisi acara Ngaji Ramadan Inklusi (RAIN) yang telah meneguhkan kepada kita semua bahwa prinsip dasar manusia adalah bisa memanusiakan sesama manusia. Tidak memandang latar belakang dan perbedaan apapun. Selama ini difabel merupakan label bagi manusia yang memiliki kekurangan fisik dan mental, tidak pernah menyasar pada moral dan etika.
Langkah yang bisa kita ambil salah satunya yaitu mengubah perspektif kita ke arah perbaikan terhadap disabilitas. Kita mengakui bahwa orang-orang dengan disabilitas memiliki kemampuan dan potensi yang unik. Selain itu dapat membuat kontribusi positif di dalam masyarakat.
Dengan demikian memberikan kesempatan dan dukungan kepada orang-orang dengan disabilitas menjadi penting, yakni untuk berpartisipasi aktif di dalam masyarakat dan menikmati kehidupan yang sama dengan orang-orang di sekitarnya. []