Minggu, 8 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    Bencana Alam

    Prof. Maghfur UIN Gus Dur: Bencana Alam adalah Bencana Politik

    Cinta Bukan Kepemilikan

    Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    Mindful Ramadan

    Mindful Ramadan: Menerapkan Ramadan Ramah Lingkungan Berkelanjutan

    Dakwah Nabi

    Dakwah Nabi Muhammad Saw. Juga Ditopang Tokoh Non-Muslim

    Permusuhan

    Ketika Relasi Antaragama Masih Dipandang sebagai Permusuhan

    Program KB

    Program KB Dinilai Beri Manfaat Ekonomi Besar bagi Indonesia

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    Bencana Alam

    Prof. Maghfur UIN Gus Dur: Bencana Alam adalah Bencana Politik

    Cinta Bukan Kepemilikan

    Cinta Bukan Kepemilikan, Kekerasan Bukan Jalan Keluar

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    Mindful Ramadan

    Mindful Ramadan: Menerapkan Ramadan Ramah Lingkungan Berkelanjutan

    Dakwah Nabi

    Dakwah Nabi Muhammad Saw. Juga Ditopang Tokoh Non-Muslim

    Permusuhan

    Ketika Relasi Antaragama Masih Dipandang sebagai Permusuhan

    Program KB

    Program KB Dinilai Beri Manfaat Ekonomi Besar bagi Indonesia

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Tokoh Profil

Enam Perempuan yang Berpengaruh dalam Filsafat

Keterlibatan Perempuan dalam Sejarah Wacana Filsafat

Fadlan by Fadlan
15 September 2020
in Pernak-pernik, Rekomendasi
A A
0
Film Cinta Suci Zahra seolah menanamkan stigma kalau Perempuan Berpendidikan Tinggi Sulit Menemukan Jodoh

Film Cinta Suci Zahra seolah menanamkan stigma kalau Perempuan Berpendidikan Tinggi Sulit Menemukan Jodoh

10
SHARES
485
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sebelummya, saya memiliki—beberapa teman perempuan di kelas filsafat, dan selama saya duduk di kelas tersebut, saya merasa bahwa mereka nampaknya kurang menikmati diskursus—yang mendalam seperti filsafat. Ini ditunjukkan dengan keaktifan mereka dalam kelas filsafat itu tak seaktif ketika mereka mengikuti kelas-kelas lain, seperti kelas fiqih atau sejarah.

Ini membuat saya berpikir, bahwa mungkin perempuan memang—kurang menaruh perhatian pada persoalan-persoalan filosofis. Perempuan mungkin cenderung tertarik—pada masalah-masalah yang lebih praktis dan mudah dipahami dengan cara yang (seharusnya) jua lebih sederhana.

Seperti apa yang pernah dikatakan oleh penulis eksistensialis, Mary Warnock bahwa “perempuan memang cenderung lebih mudah bosan dengan persoalan filosofis dibanding laki-laki, karena filsafat tampaknya kurang menarik di mata perempuan ketika ia mulai menjadi serius.”

Menurut saya, kurangnya filsuf perempuan hari ini sebenarnya bukan karena ketidakadaan bakat mereka tetapi karena kerapuhan semangat filsafat itu sendiri. Berbeda dari masa-masa awal, filsafat kini pada praktiknya mungkin hanya sekadar menjadi bacaan kering di dalam kelas.

Hal ini juga tak terlepas dari fakta bahwa buku teks filsafat kita memiliki kesadaran relasi gender yang buruk; dari semua penulis-penulis filsafat, hanya sedikit saja dari kalangan perempuan yang menjadi penulis atau kritikus filsafat seperti Sachiko Murata atau Nawal El-Saadawi. Inilah jawaban mengapa kita lebih banyak mengenal filsuf laki-laki daripada perempuan.

Apakah perbedaan tersebut mencerminkan fakta yang tidak dapat diubah tentang sejarah filsafat kita? Saya kira tidak. Itu bisa diperbaiki apabila kesadaran dan pengetahuan kita akan kesetaraan kualitas setiap orang (terlepas dari gender) bertumbuh.

Namun begitu, ini bukan berarti bahwa perempuan secara inheren tidak memiliki kualitas dalam berpikir filosofis. Saya kira ini hanya sekadar persoalan minat—antara suka atau tidak suka sahaja, laiknya kurangnya minat laki-laki pada urusan dapur—karena saya percaya bahwa setiap orang memiliki kualitas kognitif yang sama meskipun dengan minat yang berbeda. Bahkan mungkin saya lebih banyak memiliki teman laki-laki yang tidak menyukai filsafat, daripada teman perempuan yang tidak menyukai filsafat.

Terlepas dari itu, meskipun tampak bahwa hanya laki-laki saja yang getol membicarakan persoalan filosofis (olehnya dunia memiliki sejarah patriarki yang pantas untuk disalahkan).

Namun dalam sejarah, ada beberapa perempuan pemberani, brilian, dan menginspirasi yang pernah melakukan dobrakan masif dan berpengaruh pada wacana filsafat kita bahkan sampai terasa hingga hari ini, meskipun perempuan-perempuan ini jarang terabadikan dalam buku standar filsafat pada umumnya. Kita boleh menyebut mereka sebagai “filsuf perempuan yang terlupakan” atau apapun itu. Berikut adalah enam filsuf perempuan yang saya kira perlu untuk diketahui.

1. Hypatia (350-370 M)

Ia merupakan pengikut mazhab Neo-Platonisme yang banyak mengembangkan ide Plotinus di Alexandria. Olehnya dia begitu terkenal di masanya.

Selain filsuf, ia juga adalah seorang matematikawan dan ahli astronomi. Dia—telah mengajarkan beragam ide yang berkaitan dengan realitas dan bagaimana cara manusia dalam memahami realitas. Sebagaimana para pengikut Neo-Platonis lain, dia juga percaya bahwa segala sesuatu—berasal dari “yang satu”—dan bahwa manusia tidak akan dapat memahami segala realitas dunia secara lengkap.

Pada Maret 415, Hypatia dibunuh oleh sekelompok Kristen yang dipimpin oleh seorang lektor yang bernama Petros. Pembunuhan Hypatia tersebut mengguncang kekaisaran dan menjadikannya sebagai seorang “martir filsafat” yang digadang-gadang setara dengan leluhur filsafat, Socrates. Kematian Hypatia tersebut, tentu saja, menyebabkan tokoh-tokoh Neo-Platonis sesudahnya, termasuk Damaskios, marah dan berubah masif dalam mengkritik agama Kristen.

2. Tullia d’Aragona (1510-1556 M)

Tullia d’Aragona, ia merupakan putri tidak sah dari seorang kardinal dan pelacur. Ia dikenal di seluruh Italia karena kecantikannya dan keahlian retorikanya, mulai dari sastra hingga filsafat.

Teks filsafat terkenalnya adalah ‘Dialogues on the Infinity of Love’ (1547), sebuah karya yang berbau Neo-Platonis yang membahas tentang perlunya kebebasan seksual dan juga emosional perempuan dalam cinta romantis.

Dalam buku tersebut ia berpendapat bahwa semua dorongan seksual itu tidak terkendali dan juga bukan sebuah kecacatan. Ia menilai bahwa dorongan seksual merupakan kombinasi dari spiritualitas yang dapat menciptakan—moral cinta.

Olehnya, satu-satunya cara agar cinta menjadi mulia, menurutnya, adalah jika pria dan wanita saling menerima dan mengakui hasrat seksual dan spiritual mereka (tubuh dan jiwa mereka).

3. Anne Conway (1631-1679 M)

Terlahir sebagai Anne Finch, dia belajar filsafat secara langsung—bersama saudara tirinya John Finch—di bawah bimbingan Henry More di Cambridge. Selain saudaranya, suaminya pun juga tertarik pada filsafat. Namun demikian, Conway tetap jauh melampaui suaminya dalam hal filsafat, baik dalam hal kedalaman pemikiran maupun keragaman minatnya.

Karena kecerdasannya tersebutlah, More pernah mengatakan bahwa ia “jarang bertemu dengan seseorang, pria atau wanita—yang lebih baik daripada Lady Conway.” Tak heran, ide filsafatnya kemudian banyak mempengaruhi gagasan-gagasan filsafat setelahnya, salah satunya berpengaruh pada tokoh penting mazhab Rasionalisme: Gottfried Leibniz (1646-1716).

4. Marry Wollstonecraft (1759-1797 M)

Ia lahir dari keluarga yang boleh dikata amburadul; ayah dengan sifat kasar yang suka memukul saat mabuk, dan seorang ibu yang tidak bisa apa-apa. Hal itu membuatnya kabur dari rumah, dan mulai bergelut di dunia kepenulisan sembari menjadi seorang guru.

Karyanya yang paling terkenal ialah ‘A Vindivcation of the Rights of Woman’ (1792). Pada buku ini, sangat jelas terlihat kebenciannya terhadap pemikiran orang-orang yang menilai perempuan sebagai perhiasaan rumah tangga yang tidak berdaya. Ia juga menulis bahwa wanita secara alamiah setara dan tidak lebih rendah dari laki-laki.

Menurutnya, perempuan terlihat lebih rendah karena mereka tidak memperoleh pendidikan yang layak. Maka, tak jarang ia menegaskan agar laki-laki dan perempuan musti dianggap setara, dan untuk menyukseskan kesetaraan tersebut—adalah penting untuk mengubah sistem pendidikan yang ada dan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki.

5. Simone de Beauvoir (1908-1986 M)

Jika kita membuka buku-buku sejarah pemikiran eksistensialisme pada umumnya, adalah lazim terjadi apabila filsuf yang satu ini jarang kita temukan. Padahal dia merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang paling berpengaruh dalam mazhab ini, yang bahkan tak kalah hebat dari sang kekasih Jean Paul Sartre, atau tokoh-tokoh eksistensialis lain seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Albert Camus, dan Martin Heidegger.

Mengapa ini bisa terjadi? Apa sebenarnya perbedaan antara Beauvoir dan para filsuf laki-laki tersebut yang karyanya diidentifikasikan sebagai pemikiran eksistensialisme? Jawabannya dapat Anda temukan dengan membaca secara kritis sejarah filsafat kita.

Namun demikian, meskipun ia kurang kesohor sebagai filsuf eksistensialisme, Simone sangat masyhur dalam barisan feminisme melalui bukunya ‘The Second Sex’ (1949) yang menguraikan dasar teori eksistensialisme feminis.

Dalam buku tersebut, ia percaya bahwa pria menjadikan wanita sebagai sesuatu ‘yang lain’ atau the second sex, agar supaya mereka menjadikan diri mereka seolah lebih tinggi dan mulia dari perempuan—menempatkan perempuan di sudut sejarah—dan di balik bayang-bayang laki-laki.

Bagi Beauvoir, pemahaman laki-laki yang menindas itulah yang menyebabkan perempuan rentan mengalami perbudakan, penganiayaan, intimidasi dan bahkan kekerasan dalam masyarakat atau bahkan rumah tangga. Ide yang cukup menohok dan indah, namun tidak untuk pembela nilai-nilai patriarkal yang dogmatik. Tak heran kemudian, gereja Vatikan saat itu memasukkan buku ini ke dalam daftar buku terlarang mereka.

6. Iris Murdoch (1919-1999 M)

Iris Murdoch mungkin lebih dikenal sebagai seorang novelis dan penulis drama. Namun, tak dapat dinafikkan bahwa ia juga merupakan seorang filsuf. Ia memiliki banyak karya yang berkenaan dengan filsafat. Ia banyak dipengaruhi oleh ide Plato dan gagasan filsuf Prancis Simone Weil. Ide filsafatnya banyak berkutat pada persoalan etika.

Seperti Plato, dia sangat fokus pada moralitas dan kebaikan. Ia pernah menyatakan bahwa mengenali diri sendiri dan kehidupan orang lain merupakan hal penting untuk hidup secara bermoral.

***

Itulah beberapa “filsuf perempuan” yang dapat saya rangkum pada tulisan singkat ini. Tentu, masih banyak filsuf perempuan lain yang (terus terang) tidak dapat saya terangkan di sini satu per satu, karena berbagai alasan.

Terlepas dari itu, apa yang terpenting untuk saat ini adalah kita musti menjauhkan diri dari perfeksionisme atas nama gender. Karena laki-laki ataupun perempuan memiliki kelebihan yang sama, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Menurut saya, apa yang membuat filsuf perempuan ini kurang terkenal dan membuat semangat mereka tak tersampaikan kepada perempuan-perempuan saat ini adalah dominasi budaya maskulinis dan kurangnya kesadaran kita akan relasi gender—yang cenderung mengklaim bahwa perempuan tidak memiliki kemampuan berpikir yang sama seperti laki-laki.

Saya kira, dengan membaca sejarah pemikiran dan perjuangan perempuan secara adil dan kritis, kita dapat mematahkan klaim perfeksionisme maskulinis, bias, dan sepihak tersebut.

Tentu saja, pengalaman saya dan teman-teman saya dalam kelas-kelas filsafat hanyalah satu bagian kecil dari cerita yang jauh lebih besar—karena selain pendidikan, berbagai macam kekuatan seperti sosial dan budaya juga memengaruhi keputusan, nilai, dan bahkan karir perempuan di semua aspek kehidupan. Tujuan akhir tulisan ini ialah, membiarkan setiap orang untuk memilih apa yang mereka sukai atau minati.

Tags: filsafatperempuansejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Rumah dan Lempeng Sosial untuk Pencegahan Covid-19

Next Post

Hijrah dan Merdeka bagi Anak Muda

Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Related Posts

Perang Iran
Publik

Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

8 Maret 2026
Nuzulul Quran
Personal

Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

7 Maret 2026
Non-Muslim
Pernak-pernik

Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

7 Maret 2026
Hari Perempuan Internasional
Featured

Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

8 Maret 2026
Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an
Aktual

Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

6 Maret 2026
Pengalaman Perempuan
Personal

Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

4 Maret 2026
Next Post
Feminisme, Islam dan Hegemoni Keilmuan

Hijrah dan Merdeka bagi Anak Muda

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama
  • Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama
  • Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran
  • Mengilhami Kembali Makna Puasa
  • Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0