Selasa, 10 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Surat Mahasiswa

    Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?

    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Surat Mahasiswa

    Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?

    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Monumen

Sejarah Pesantren Putri Berdiri di Pulau Jawa

Pada tahun 1919 Kiai Bisri mendirikan kelas khusus santri putri yang pada masa itu belum lazim

Halimatus Sa'dyah by Halimatus Sa'dyah
21 Juni 2024
in Monumen
A A
0
Sejarah Pesantren Putri

Sejarah Pesantren Putri

17
SHARES
845
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang berdiri sejak tahun 1917 Masehi. pendirinya adalah K.H Bisri Syansuri bersama istrinya Nyai Hj. Noor Khadijah. Melalui restu gurunya K.H Hasyim Asy’ari, berdirilah pesantren dengan jarak 2 km dari Jombang. Secara geografis, Desa Denanyar terletak di garis batas kota Jombang. Lokasi tersebut sangat strategis. Di sebelah utara merupakan sawah dan perkebunan subur yang memengaruhi kehidupan sosial masyarakat di sekitar pesantren.

Kiai Haji Bisri Syansuri, kakek Gus Dur dari ibu, adalah kiai yang pertama kali mengenalkan kelas putri ke dunia pesantren. Dalam proses pembelajaran, pesantren masih menerapkan sistem pemisahan laki-laki dan perempuan. Tidak hanya terjadi pada tingkat pembagian ruangan, namun termasuk keilmuan. Pada masa berdirinya santri laki-laki diberi kesempatan lebih leluasa untuk mengakses informasi ilmu, daripada santriwati.

Materi pendidikan pada awal berdirinya asrama putri, yang santriwati perempuan dapatkan tidak sepadat santri laki-laki. Santriwati mereka arahkan untuk menghafal Al-Qur’an dari pada menganalisis. Sedangkan santri laki-laki belajar ilmu alat seperti Nahwu, Sharf, Bahasa Arab, Mantiq, Balaghah, dll.

Santriwati lebih diarahkan keilmuan yang bersifat ubudiyyah seperti Fiqh dan Akhlak. Maka hal ini menunjukkan adanya pemisahan ruang gerak antara laki-laki perempuan di mana orientasi pemikiran perempuan diarahkan untuk berpikir di ranah domestik sementara laki-laki diarahkan urusan publik, sehingga terasah keilmuannya untuk bisa berpikir lebih logis dan kritis.

Banyak Terjadi Praktik Kekerasan

Pada masa sebelum ada sejarah pesantren putri, kondisi nilai moral sangat rendah, marak terjadinya praktik-praktik kekerasan misal sabung ayam, berjudi, dll. Kiai Bisri berniat mendirikan pesantren di desa tersebut sebagai pendekatan untuk mengubah pola hidup masyarakat.  Hal itu menarik perhatian penduduk desa untuk belajar ilmu-ilmu agama dari beliau.

Berawal dari sebuah surau dengan hanya empat orang murid, kemudian berkembanglah pesantren tersebut. Pada tahun 1919 Kiai Bisri mendirikan kelas khusus santri putri yang pada masa itu belum lazim. Di sinilah cikal bakal pesantren putri di Indonesia khususnya Jawa. Sumber lain  di buku profil sosok K.H Bisri Syansuri, perintisan pesantren putri berdiri ada tahun 1920.

Menurut pengakuan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi, “Santrinya adalah anak tetangga sekitar, yang diajar di beranda belakang rumah beliau. Langkah penting ini adalah percobaan pertama di lingkungan untuk memberikan Pendidikan sistematis kepada anak-anak perempuan muslim, setidaknya di Jawa Timur. Meski masih dianggap aneh pada masa itu, namun Kiai Bisri tetap menyelenggarakan pendidikan dan ngaji kitab untuk perempuan. Mendidik para kaum perempuan dengan kesempatan yang sama seperti para santri putra, nilainya sama membangun keluarga yang baik ke depannya.”

Hal senada juga almarhum Gus Dur ungkapkan dalam sebuah bukunya, bahwa pendirian pesantren putri ini sebagai wadah perempuan memiliki hak untuk mengenyam Pendidikan setara dengan kaum laki-laki. Gus Dur adalah cicit dari Kiai Bisri Syasuri dari jalur ibu. Ibunya adalah putri dari pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, yaitu Nyai Hajah Solihah Bisri.

Pesantren Berkembang dengan Sangat Baik

Dalam catatan lainnya yaitu oleh Kiai Haji Aziz Mayhuri menyebutkan, berkat kegigihannya memperjuangkan perempuan dalam Pendidikan pesantren, Kiai Bisri dan istrinya kemudian membuka Madrasah Diniyah khusus perempuan di tahun 1930. Pada masa itu, santriwati menggunakan seragam kebaya sebagai atasan, kemudian sarung atau jarit “sewek” sebagai bawahan,  dan memakai kerudung penutup kepala.

Model berpakaian di kalangan santriwati tersebut mengacu pada kebiasaan berpakaian bu Nyai Hj. Chodijah, yang dipakai sebagai acuan para santriwati dalam melaksanakan Pendidikan di pesantren. Hal ini sebagai identitas bagi kaum perempuan di masa itu, dan kemudian menjadi ciri khas di kalangan pesantren.

Keberadaan pesantren putri, sangat berdampak pada kondisi sosial masyarakat pada masa itu. Para kaum hawa memahami pandangan tentang kemuliaan perempuan, harga dirinya, ajaran-ajaran Islam yang sangat memuliakan perempuan.

Dari sinilah sesungguhnya awal perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Perempuan-perempuan berkerudung dengan anggun dan semangat belajar ilmu agama, membaca kitab kuning, belajar ilmu alat dan memahami hakekat akan diri.

Perspektif komunitas pesantren mengenai keberhasilannya berkaitan dengan tujuan dan pengharapan dalam Pendidikan pesantren. Perspektif mereka mencerminkan kepercayaan yang mereka pegang serta mengartikulasikannya.

Menurut informan, ulama perempuan dapat kita katakan berhasil dalam meningkatkan mutu Pendidikan dari indikator output santri, manajemen dan kepemimpinannya, keamanan dan kedisiplinan. Indikator keberhasilan pesantren adalah output yang lebih baik.

Pesantren dan Lembaga Formal

Seiring berkembangnya waktu, Pondok pesantren Mamba’ul Ma’arif memiliki Lembaga Pendidikan formal yang menyelenggarakan Ujian Nasional mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah, menengah pertama dan menengah atas. UNAS terselenggara setiap tahun pada akhir masa belajar di tiap tingkat sekolah mulai dasar sampai menengah. Meski terdapat perdebatan keras mengenai pentingnya Ujian Nasional dalam konteks otonomi daerah, otoritas Pendidikan tetap melaksanakannya.

Saat ini beragam institusi pendidikan yang tersedia di Pesantren Mamba’ul Ma’arif memiliki keunikan tersendiri. Memilik insititusi dasar, menengah dan institusi favorit yaitu MAPK. Selain itu, living cost di Jombang termasuk murah, dan transportasi umum mudah terjangkau. Menjadi daya tarik tersendiri bagi santri dan wali untuk mengenyam pendidikan di pesantren Jombang.

Indikator lain output santri yang lebih baik adalah banyaknya yang berhasil memasuki institusi Pendidikan ternama. Tampaknya terdapat konsensus di kalangan komunitas pesantren. Termasuk wali santri, bahwa keberhasilan pesantren dapat kita ukur dari indikator ini.

Pesantren yang memiliki Lembaga Pendidikan formal sudah selayaknya memfasilitasi dan mendukung lulusannya untuk memasuki ke jenjang perguruan tinggi. Misi dari pesantren yang di dalamnya ada Lembaga formal memberikan peluang bagi santrinya dapat mengenyam Pendidikan ke universitas.

Output santri tidak hanya terukur dari performa akademik, tetapi juga indikasi dari komitmen yang lebih kuat terhadap agama dan moralitas. Dengan nama lain budaya religiusitas santri selama di pesantren dan pada saat di tengah masyarakat. Iman berarti keyakinan atau kepercayaan, taqwa berarti kesalehan. Keseimbangan Imtaq dan Iptek adalah tujuan keberhasilan Pendidikan di pesantren.

Indikator Keberhasilan Pesantren

Ketua Yayasan juga menyebutkan indicator lain sebagai keberhasilan pesantren. Indikator ini mengacu pada kemampuan pesantren untuk mengadakan program-program ketrampilan kerja bagi para santri. Apabila mereka tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, maka pesantren menyediakan program-program ketrampilan tersebut.

Indikator ini sangat kontekstual mengingat pesantren adalah Lembaga Pendidikan tua di Indonesia. Terkenal dengan kemampuan mencetak alumninya dapat bertahan hidup dengan memiliki banyak ketrampilan. Prestasi santri non akademik tersebut sebagai kontribusi bagi pembekalan santri untuk memiliki output yang baik.

Pesantren memberikan fasilitas kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, ketrampilan berupa kegiatan-kegiatan di luar jam Pendidikan formalnya. Turut andil dalam perlombaan baik tingkat local sampai nasional juga menjadi wadah kompetisi dalam mencetak karakter santri semisal Porseni.

Keberhasilan pesantren juga dapat terlihat pada saat mampu menjalankan praktik-praktik manajemen dengan baik. Manajemen yang dimaksud di sini adalah menyusun program-program yang terencana dengan baik dan mudah kita terapkan. Menciptakan kultur pesantren beserta strukturnya yang kolaboratif.

Output Santri

Keselamatan dan keamanan santri tidak hanya mengacu baik area pesantren juga dari lingkungan sekitar. Keberhasilan terbukti dengan santri yang krasan dan mengatakan pada orang tuanya bahwa lingkungan pesantren dianggap aman dan nyaman. Penting bagi seluruh anggota pesantren untuk mengikuti aturan kedisiplinan dan tata krama.

Dari paparan tersebut ada tiga aspek yang terindentifikasi; output santri yang lebih baik, manajemen pesantren dan kedisiplinan pesantren. Ketiga aspek tersebut dapat kita anggap sebagai tolok ukur  dari harapan-harapan para konsumen Pendidikan yaitu wali santri dan santri. Pihak pesantren menyepakati bahwa keberhasilan pesantren terwujud apabila komponennya bekerja secara kohesif dan koheren oleh pimpinan ketua Yayasan di segala lini di pesantren.

Output santri juga mengimplikasikan kualitas kurikulum dan instruksi yang baik, yang diterapkan di pesantren, dengan kurikulum yang terintegrasi baik di Lembaga formal dan unit asrama. Koordinasi dan kerja sama antar komponen termasuk para stakeholder dapat mengindikasikan kualitas manajemen mutu pesantren tersebut. []

 

Tags: Islam NusantaraNahdlatul Ulamapesantren jombangPondok PesantrenSejarah Nusantara
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mencari Keadilan bagi Perempuan

Next Post

Buku The Alpha Girl’s Guide: 3 Cara Alpha Girl Memilih Teman yang Baik

Halimatus Sa'dyah

Halimatus Sa'dyah

Penulis bisa dihubungi melalui IG : Halimatus_konsultanhukum 2123038506

Related Posts

Harlah NU
Publik

Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

9 Februari 2026
Cat Calling
Publik

Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

7 Februari 2026
Harlah 100 Tahun
Aktual

Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

2 Februari 2026
NU dan Lingkungan
Lingkungan

Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

2 Februari 2026
Relasi dengan Bumi
Publik

Tahun Berganti, Tata Kembali Relasi dengan Bumi

3 Januari 2026
Lembaga Pendidikan
Publik

Pesantren; Membaca Ulang Fungsi dan Tantangan Lembaga Pendidikan Tertua di Nusantara

27 Oktober 2025
Next Post
Buku The Alpha Girl's Guide

Buku The Alpha Girl's Guide: 3 Cara Alpha Girl Memilih Teman yang Baik

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?
  • Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak
  • Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?
  • Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi
  • Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0