Rabu, 25 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    Motor Roda Tiga

    Lelucon Motor Roda Tiga

    Married Is Scary

    Married is Scary (No), Married is a Blessing (Yes?)

    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    Motor Roda Tiga

    Lelucon Motor Roda Tiga

    Married Is Scary

    Married is Scary (No), Married is a Blessing (Yes?)

    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Toleransi Butuh Pendakwah Agama dengan Pendekatan Ganda; Rasional dan Emosional

Pendek kata, kita saat ini berada pada titik urgensitas yang cukup tinggi untuk menanamkan toleransi, utamanya kepada para mubaligh dan tokoh agama terlebih dahulu. Sebab, sangat tidak etis jika sikap intoleransi muncul dari lisan dan tingkah polah mereka

Ahmad Dirgahayu Hidayat by Ahmad Dirgahayu Hidayat
6 Desember 2022
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Dakwah Agama

Dakwah Agama

5
SHARES
248
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Apa jadinya agama ini bila para pemeluknya, terutama para pendakwah agama, hanya menanam dan menanamkan paham dengan emosional, tentu semua titah dan sabda agama menjadi sakral. Kita harus manggut-manggut menyikapi apa saja yang dipercaya keluar dari tubuhnya. Padahal, bisa jadi bersumber dari tubuh lain yang hanya menumpang bahu agama. Artinya, sebuah kekacauan besar akan terjadi. Agama yang suci sedang ditunggangi berbagai kepentingan.

Demikian tak kalah kacau jika kita menanam dan menanamkan pemahaman dengan dakwah agama secara rasional semata. Karena tidak semua mampu dijangkau logika dengan utuh. Isra-Miraj misalnya. di sana butuh peran iman untuk membuka pintu kejadian luar biasa tersebut. Setidaknya, meyakini ada makhluk bernama Buraq dengan segenap kecepatannya-yang tidak pernah dilihat dan didengar dalam cerita-sebagai transportasi Nabi ke Sidratulmuntaha.

Tulisan ini, terinspirasi oleh catatan guru saya, kiai Muhammad Rizqil Azizi di akun Facebook-nya dengan judul ‘Dakwah Rasional dan Emosional’ dan dimuat di sebuah media onlina, Aswaja Dewata dengan judul yang sama. Di awal tulisan, dosen Ma’had Aly Situbondo itu mengutip buku Islam Aktual karya Jalaluddin Rahmat, bahwa saat ini para mubalig dengan pendekatan dakwah agama yang emosional, kerap mengabaikan porsi rasional sudah kian menjamur. Tak terbendung lagi banyaknya, baik di kota apalagi di pelosok-pelosok desa. Tentu, dampaknya cukup besar.

Kendatipun pendekatan dakwah agama yang emosional lebih hangat di masyarakat, serta lebih cepat meningkatkan gairah beragama mereka, tetapi metode dakwah agama ini menancapkan akar yang lemah. Nilai keberagamaan umat sangat mudah rapuh saat diterpa berbagai gelombang besar. Seperti isu-isu toleransi, keragaman budaya, tali kelindan antara budaya dan agama, dan seterusnya. Sehingga, wajar kiranya banjir sikap intoleransi di mana-mana.

Karena itu, untuk mengejawantahkan toleransi, para pendakwah agama kita perlu menggawangi keduanya, sisi emosional dan rasional. Sebab, dakwah agama yang rasional ini selain memuaskan nalar, juga bertujuan membentengi umat dari logika-logika yang menyesatkan.

Dalam teks-teks agama, kita diajarkan untuk menyandingkan kedua pendekatan tersebut. Karena itu, Allah tidak hanya menyeru hamba-Nya dengan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), melainkan juga dengan seruan afala tatafakkarun (apakah kalian tidak berpikir?), la’allakum tatafakkarun (agar kalian berpikir), afala ta’qilun (apakah kamu tidak mengerti?), la’allakum ta’qilun (agar kalian mengerti), dan redaksi lain yang terkait dengan akal budi.

Gampangnya, kita sedang dididik agar tidak menomorsatukan wahyu dan menomorseratuskan akal. Melainkan membuatnya berdampingan. Guru kami di Ma’had Aly Situbondo, KH Afifuddin Muhajir dalam buku Membangun Nalar Islam Moderat (hal. 10) menulis sebuah sub pembahasan yang berjudul Sumber Kebenaran antara Akal dan Wahyu.

Di sana, Rois Syuriah PBNU itu menegaskan bahwa akal dan wahyu memiliki peranan penting dalam Islam secara komplementer. Ia mengutip sebuah statement dalam al-I’tisham (juz 2, hal. 840) karya Abu Ishaq as-Syathibi (w. 790 H) yang berbunyi:

إجعل الشرع في يمينك والعقل في يسارك

“Letakkanlah syariat di tangan kananmu dan akal di tangan kirimu”.

Tak bisa dipungkiri, bahwa kita dihadapkan dengan tiga spektrum intelektual yang amat dahsyat. Yaitu paham tekstualisme (ahl an-naql), paham rasionalisme (ahl al-‘aql), dan paham intuisionisme (ahl ad-dzauq). Dan, kita berada pada paham moderatisme (ahl al-wasath) yang memadukan peran wahyu, akal, dan intuisi dalam beragama.

Saya meyakini, tragedi pembakaran masjid dan beberapa unit mobil milik salah seorang tokoh Salafi di Lombok Timur, NTB beberapa waktu lalu, tiada lain akibat ekspresi beragama masyarakat kita yang terlalu lama dicekoki oleh dakwah-dakwah agama dengan pendekatan emosional.

Baik dari pihak korban maupun pelaku yang emosinya tersulut oleh sikap intoleransi tokoh Salafi tersebut. Alhasil, sikap intoleransi itu muncul karena miskin pemahaman dakwah agama, serta kesadaran akan perbedaan dan keragaman yang ada. Dan, inilah kemiskinan terburuk.

Kemiskinan semacam ini bisa jadi lahir dari egoisme dan fanatisme. Dua faktor yang dapat membutakan siapa saja bagi yang memilikinya. Atau, mungkin juga lahir dari kabut tebal kebodohan yang menutupi hati dan pikiran umat. Masih ingatkah nama Abdurrahman bin Muljam? Seorang sahabat yang berbeda haluan politik dengan sang khalifah keempat, sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Dari sanalah muncul sikap-sikap beragama yang eksklusif dan ekstrem dari seorang Ibnu Muljam. Sampai pada akhirnya, ia dengan hati dingin membunuh Sayidina Ali dengan pedang beracun saat sang khalifah di tengah sujud subuhnya.

Hal yang penting digarisbawahi dari sosok Abdurrahman bin Muljam, bahwa ia bukan orang biasa, melainkan seorang ahli fikih (faqih), ahli ibadah, penghafal juga pengajar al-Qur’an. Tetapi, itu semua tidak menjamin sikap beragama yang merepresentasikan akhlak al-Qur’an. Ajaran-ajaran al-Qur’an yang dihafalnya itu tertutupi oleh fanatisme golongan Khawarij yang dianutnya. Sebab itu, imam Ali pun harus merasakan hangat darahnya di waktu subuh yang dingin.

Sikap fanatisme lainnya juga pernah dialami oleh Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i (w. 204 H), saat hijrahnya yang terakhir kali dari negeri Bagdad ke Mesir. Di mana, waktu itu Mesir dipadati oleh dua corong besar fikih; (1) Mazhab Maliki, dan (2) Mazhab Hanafi. Dalam biografi singkat as-Syafi’i yang ditulis oleh tim Percetakan Dar al-Fikr di kitab ar-Risalah, pada lembaran awalnya (hal. 5), sedikit bercerita bagaimana kondisi masyarakat Mesir pasca kehadiran imam Syafi’i di sana.

Singkat cerita, di Mesir, imam Muhammad bin Idris membuka sebuah majelis kajian, dan menyebarkan paham atau mazhab barunya (qoul jadid) melalui majelis tersebut. Hari demi hari, seiring berjalan waktu, majelis tersebut semakin sesak oleh masyarakat dari berbagai daerah di sana. Terutama dari kalangan penganut mazhab Maliki dan Hanafi.

Goncangan besar intelektual as-Syafi’i rupanya mampu mengaduk-aduk hati mereka. Sehingga, banyak pakar fikih dari golongan mereka banting setir menuju Mazhab Syafi’i. Para penggawa mazhab lain pun ketar-ketir, terutama dari kalangan Maliki. Sampai-sampai, mereka berani mengumumkan ‘permusuhan’ (munashabatul ‘ada’) kepada imam Syafi’i sendiri.

Tak heran bila salah seorang promotor mazhab Maliki bernama syekh Asyhab bin Abdil Aziz sampai memanjatkan doa buruk untuk imam Syafi’i. Dan, itu tidak tanggung-tanggung. Ia berdoa sangat serius dalam sujudnya. Ia memohon:

اللهم أمت الشافعي وإلّا مات علم مالك

“Ya Allah, cabutlah nyawa as-Syafi’i, jika tidak, pastilah ilmu (guru kami) imam Malik akan musnah tak tersisa.”

Secara logika normal, pantaskah seorang imam besar, pengemban agama Tuhan yang penuh kasih-sayang ini, mendoakan celaka kepada sesama? Tiada alasan untuk menyebutnya pantas. Namun, lagi-lagi bukan mustahil sikap tersebut muncul dari seorang pakar agama, imam besar, juga ahli hadis ini, ketika terserang penyakit fanatisme.

Pendek kata, kita saat ini berada pada titik urgensitas yang cukup tinggi untuk menanamkan toleransi, utamanya kepada para mubaligh dan tokoh agama terlebih dahulu. Sebab, sangat tidak etis jika sikap intoleransi muncul dari lisan dan tingkah polah mereka.

Tentu, dengan melahirkan sosok para pendakwah agama yang baru, dan tidak hanya berdakwah dengan emosional, tetapi disandingkan pula dengan pendekatan rasional. Sehingga, umat ini tidak hanya beragama dengan emosi, tetapi juga dengan akal mereka.

Akhirnya, saya ingin mengutip sebuah Hadis dalam kitab Tuhaf al-‘Uqul ‘an Alirrosul (hal. 54) karya seorang ulama kesohor abad keempat Hijriah, Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Husein bin Syu’bah al-Harroni, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنما يدرك الخير كله بالعقل ولا دين لمن لا عقل له

“Kebaikan itu-seluruhnya-hanya mampu dijangkau oleh akal (yang jernih), dan tiada agama bagi yang yang tidak menggunakan akal budinya.”

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab. []

 

 

Tags: Dakwah RasionalKebangsaanKeberagamaanPendakwahtoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Bolehkah Perempuan Hamil Tidak Berpuasa?

Next Post

Benarkah Setan Dibelenggu Selama Bulan Ramadhan?

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo, dan pendiri Komunitas Lingkar Ngaji Lesehan (Letih-Semangat Demi Hak Perempuan) di Lombok, NTB.

Related Posts

Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
Harlah NU
Publik

Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

9 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

5 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

28 Januari 2026
Teologi Tubuh Disabilitas
Rekomendasi

Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

2 Februari 2026
Nyadran Perdamaian 2026
Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

2 Februari 2026
Next Post
Setan Dibelenggu

Benarkah Setan Dibelenggu Selama Bulan Ramadhan?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan
  • Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam
  • Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah
  • Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan
  • Lelucon Motor Roda Tiga

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0