Rabu, 25 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Cara Stoikisme Memandang Disabilitas dengan Adil Sejak dari Pikiran

Seorang Difabel, misalnya, mungkin tidak bisa mengubah kondisi fisiknya, tetapi ia tetap punya kendali atas respons dan cara menjalani hidupnya.

Afiqul Adib by Afiqul Adib
2 Februari 2026
in Disabilitas, Publik
A A
0
Stoikisme

Stoikisme

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Stoikisme, atau filsafat Stoa, belakangan ini semakin populer dalam diskusi publik. Salah satu ajaran intinya adalah dikotomi kendali: fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan menerima dengan lapang dada segala sesuatu yang berada di luar jangkauan kita.

Kita juga harus mengakui bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa kita kendalikan sesuai keinginan, dan Stoikisme mengajarkan bahwa ketenangan justru datang dari menerima kenyataan tersebut.

Sedikit cerita, baru-baru ini saya mengikuti Akademi Mubadalah pada Selasa s/d Kamis, 11-13 Februari 2025 di Yogyakarta. Sebuah forum diskusi yang membahas berbagai isu dengan pendekatan keadilan dan kesetaraan. Ada banyak materi yang menarik yang saya dapat. Salah satunya ketika Buya Husein Muhammad menghubungkan Stoikisme dengan konsep Islam tentang ikhtiar, yakni usaha untuk melakukan secara sadar dan terarah.

Kata beliau, Ikhtiar dalam Islam tidak sekadar bekerja keras, tetapi juga memahami batas-batas mana yang bisa kita usahakan dan mana yang tidak. Jika diulas lebih lanjut, ikhtiar memang selaras dengan stoikisme, sebab juga berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.

Artinya, usaha harus selaras dengan realitas. Jadi, nggak bisa sekadar kerja, kerja, kerja saja tanpa visi yang jelas dan nggak masuk akal. Karena jika hanya bekerja tanpa arah yang jelas, ya cuma buang-buang anggaran dan menambah beban hutang negara saja, bukan? Haisssh.

Perspektif yang Utuh, Bukan Sekadar Niat Baik

Dalam salah satu materi di Akademi Mubadalah, Kang Faqih (Faqihuddin Abdul Kodir) menekankan betapa pentingnya cara pandang dalam memahami berbagai fenomena.

Kita tidak bisa cuma melihat sesuatu dari satu sisi doang, apalagi kalau sudah menyangkut isu-isu besar seperti disabilitas. Harus pakai sudut pandang yang utuh, biar nggak keliru dalam menyikapi. Kalau pakai istilah kerennya, helicopter view—melihat sesuatu dari atas, lebih luas, lebih menyeluruh.

Hal ini tentu penting. Sebab, sering kali, dalam memandang disabilitas, orang-orang hanya mengandalkan niat baik tanpa memperhatikan perspektif yang lebih luas. Seolah-olah kaum difabel selalu membutuhkan belas kasihan dan pertolongan, padahal yang mereka butuhkan adalah akses dan kesempatan yang setara.

Dalam sudut pandang Stoikisme, seseorang itu harus dilihat secara penuh dan utuh. Nggak cuma tubuhnya, tapi juga ruhnya, jiwanya, semangatnya. Ini berlaku buat siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, disabilitas maupun non-disabilitas. Kalau kita cuma fokus di satu aspek saja, maka kita akan mengalami kegagalan untuk memahami manusia secara keseluruhan. Jadi, perspektifnya harus bener dulu. Sebab, niat baik saja tidak cukup kawan.

Dikotomi kendali dalam Stoikisme mengajarkan kita untuk membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak. Seorang penyandang disabilitas, misalnya, mungkin tidak bisa mengubah kondisi fisiknya begitu saja, tetapi ia tetap punya kendali atas respons dan cara menjalani hidupnya. Fokusnya bukan pada meratapi hal-hal yang di luar kuasa, melainkan pada bagaimana menghadapi hidup dengan pilihan yang tersedia.

Begitu juga dengan kita yang non-disabilitas. Cara pandang kita terhadap penyandang disabilitas juga harus mengikuti prinsip ini. Bukan dengan kasihan berlebihan atau memperlakukan mereka seolah tak berdaya, tapi dengan memberikan akses dan kesempatan yang setara.

Fisik Bukan Indikator Kualitas Seseorang

Dalam konteks ini, pendekatan Stoikisme menawarkan cara pandang yang lebih memberdayakan. Alih-alih fokus pada batasan yang ada, lebih baik mengarahkan energi untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

Sekali lagi, menilai seseorang hanya berdasarkan fisiknya adalah bentuk pemikiran yang sempit. Sebab, kualitas seseorang tentu saja tidak ditentukan oleh kondisi tubuhnya, melainkan oleh bagaimana ia berpikir, bertindak, dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Dalam Stoikisme, kebebasan sejati bukan terletak pada keadaan eksternal, tetapi pada cara seseorang mengelola pikirannya.

Jika kita masih merasa bahwa kaum disabilitas adalah pihak yang harus kita tolong, ketimbang memberikan mereka kesempatan yang sama, maka memang ada yang salah dari cara kita berpikir. Karena keadilan bukan soal belas kasihan, melainkan soal memastikan bahwa setiap orang memiliki ruang untuk berkembang. Iya, mari berlaku adil sejak dari pikiran. []

Tags: Akademi Mubadalah 2025DifabelPenyandang DisabilitasPrinsip KUPIstoikisme
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Dakwah Tanpa Kekerasan

Next Post

Kerahmatan Islam untuk Semua Umat Beragama

Afiqul Adib

Afiqul Adib

Introvert garis keras. Tinggal di Lamongan.

Related Posts

Masjid
Disabilitas

Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

18 Februari 2026
Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an
Disabilitas

Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

2 Februari 2026
Buku Anak
Buku

Buku Anak: Kritik Ekologis dari Kisah Anak Disabilitas

2 Februari 2026
fashion show penyandang disabilitas
Disabilitas

Harmoni Inklusif: Membuka Ruang Fashion Show bagi Penyandang Disabilitas

2 Februari 2026
Disabilitas
Disabilitas

Di Mana Ruang Keadilan bagi Penyandang Disabilitas?

2 Februari 2026
Stigma Penyandang Disabilitas
Disabilitas

Mengapa Stigma Negatif terhadap Penyandang Disabilitas Masih Banyak Terjadi?

2 Februari 2026
Next Post
Kerahmatan Islam

Kerahmatan Islam untuk Semua Umat Beragama

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan
  • Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia
  • Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki
  • Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas
  • Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0