Rabu, 17 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Covid-19: ‘The Hunger Games’ atau sapi perah untuk Big Pharma?

Krisis masif seperti COVID-19 seharusnya menjadi momen melakukan perubahan paradigma. Namun apa yang terjadi, semua berjalan bisnis seperti biasa dan bahkan lebih parah  karena pandemi digunakan sebagai sapi perah untuk farmasi besar (Big Pharma)

Julia Suryakusuma by Julia Suryakusuma
5 Agustus 2021
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Covid-19

Covid-19

2
SHARES
114
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Indonesia mengantongi medali emas untuk bulu tangkis di Olimpiade Tokyo — kemenangan bersejarah! Berkat Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, medali tersebut adalah emas pertama untuk ganda putri Indonesia, tetapi juga merupakan  bagian warisan emas bulu tangkis yang kita miliki sejak 1958.

Kemenangan Greysia dan Apriyani adalah suntikan non-vaksin yang sangat kita butuhkan untuk mengangkat semangat Indonesia yang tengah diterpa pandemi. Menurut National Geographic (27 Juli), “Indonesia is a new COVID-19 epicenter. The peak has yet to come (Indonesia adalah episentrum COVID-19 baru. Puncaknya belum tiba).  Seolah judulnya tidak cukup mengenaskan, ada tambahan subjudul: “After the pandemic, we will probably have a lost generation.” (Setelah pandemi, kita mungkin akan kehilangan satu generasi).

Luar biasa. Hampir satu setengah tahun pandemi COVID-19 berjalan di seluruh dunia, mestinya kita semua sudah menjadi lebih bijaksana, lebih berpengetahuan dan pemerintah lebih cerdas dalam menangani masalah ini. Tapi tidak, keadaan malah menjadi lebih kacau dan membingungkan. Teori konspirasi berlimpah, kecuali bahwa, katakanlah, enam bulan kemudian, tidak dianggap konspirasi lagi. Misalnya, gagasan bahwa virus corona berasal dari laboratorium di Wuhan, Cina, tidak dipercaya sampai  satu setengah tahun kemudian, eh, ternyata dianggap bahwa ada benarnya juga.

Intinya, siapa yang bisa mengatakan apa yang sebenarnya tentang COVID, asal-usulnya, kemanjuran vaksin, serta apa yang disebut “teori konspirasi” vaksin? Siapa yang mendefinisikan apa itu kebenaran? Pemerintah? Farmasi Besar? Media arus utama? Bill Gates?

Vaksin digembar-gemborkan sebagai obat yang paling mujarab untuk pemulihan dari pandemi global. Tapi apakah benar demikian? Keragu-raguan vaksin (vaccine hesitancy) dipandang sebagai hambatan utama untuk tujuan ini. Tetapi bagaimana jika Albert Bourla, CEO Pfizer sendiri, yang mengatakan dia tidak perlu divaksinasi? Dia memberikan alasan bahwa dia berusia 59 tahun, dalam keadaan sehat, tidak berada di garis depan pandemi dan “tipe”-nya tidak direkomendasikan untuk divaksinasi. Hmm alasan yang menarik.

Yah, ada banyak kasus orang yang meski sudah divaksinasi, toh  terinfeksi juga. Saya mengetahui banyak kasus di Indonesia, dan sebuah penelitian baru-baru ini di Amerika Serikat menunjukkan tiga perempat orang yang terinfeksi virus corona telah divaksinasi.

Lalu ada masalah monopoli vaksin. Sebuah laporan yang diterbitkan oleh The People’s Vaccine Alliance (Aliansi Vaksin Rakyat) dengan judul “Biaya vaksinasi dunia terhadap COVID-19 bisa setidaknya lima kali lebih murah jika perusahaan farmasi tidak mengambil keuntungan dari monopoli mereka pada vaksin COVID-19”. Judulnya saja sudah mengatakan semuanya.

“Analisis baru oleh Aliansi menunjukkan bahwa perusahaan Pfizer/BioNTech dan Moderna membebankan biaya kepada pemerintah sebesar US$41 miliar di atas perkiraan biaya produksi. Kolombia, misalnya, berpotensi membayar lebih sebesar $375 juta untuk dosis vaksin Pfizer/BioNTech dan Moderna, dibandingkan dengan perkiraan harga biayanya,” demikian laporan tersebut.

“Meskipun peningkatan pesat dalam kasus dan kematian COVID-19 di seluruh negara berkembang, Pfizer/BioNTech dan Moderna sejauh ini telah menjual lebih dari 90 persen vaksin mereka ke negara-negara kaya, membebankan hingga 24 kali lipat dari potensi biaya produksi.” Hah??

Selain pandemi, ada pandemi lain yang juga membunuh orang: pandemi kelaparan. Lihat laporan Oxfam: “Dunia di tengah ‘pandemi kelaparan’: Konflik, virus corona, dan krisis iklim mengancam akan mendorong jutaan orang ke dalam kelaparan”, atau laporan Bank Dunia: “Ketahanan Pangan dan COVID-19”, tertanggal 16 Juli .

“Semakin banyak negara menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang semakin meningkat, membalikkan pencapaian pembangunan selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum COVID-19 mengurangi pendapatan dan mengganggu rantai pasokan, kelaparan kronis dan akut meningkat karena berbagai faktor, termasuk konflik, kondisi sosial ekonomi, bahaya alam, perubahan iklim, dan hama,” demikian laporan Bank Dunia.

“Dampak COVID-19 telah menyebabkan peningkatan kerawanan pangan global yang parah dan meluas, memengaruhi rumah tangga yang rentan di hampir setiap negara, dengan dampak yang diperkirakan akan berlanjut hingga 2021 dan hingga 2022.”

Adakah yang mengembangkan vaksin untuk kelaparan dan ketimpangan sosal-ekonomi dalam waktu dekat ini? Alasan lain untuk lonjakan COVID-19 di Indonesia adalah tingkat vaksinasi yang lamban, dengan hanya 9,7 persen dari populasi yang telah divaksinasi sekali dan 7,4 persen menerima kedua dosis.

Mengingat lambatnya program vaksinasi dan dengan tingkat kematian yang mengkhawatirkan, mengapa kita tidak membuka diri terhadap pengobatan alternatif? Ivermectin misalnya, telah terbukti secara empiris efektif mengobati virus corona di India dan wilayah di Indonesia, namun pemerintah masih menolak untuk menyetujui penggunaannya, dengan alasan masih menjalani uji coba.

Berapa banyak uji coba klinis yang telah dilalui oleh vaksin yang didukung pemerintah?

Lalu ada masalah testing. Mengapa vaksin digratiskan,  sementara tes COVID tidak? Bagaimana Presiden Joko “Jokowi” Widodo bisa mengatakan bahwa “perpanjangan PPKM saat ini harus disertai dengan pengujian, penelusuran, dan upaya pengobatan yang masif” jika pengujian tidak dilakukan secara meluas dan tanpa biaya?

Pak Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), bisa dijelaskan kenapa belum? Biaya tes PCR bisa mencapai Rp 750.000 (US$52,45), kecuali jika Anda pergi ke Puskesmas, maka di sana  gratis, tetapi saya belum pernah mendengar orang berbondong-bondong ke sana untuk dites Covid-19.

Semakin banyak yang tidak setuju dengan cara penanganan pandemi Jokowi, bahkan artikel yang ditulis oleh Chris Wibisana, mengatakan bahwa “Relawan warga bantu warga saat COVID-19 menelanjangi negara telah mengkhianati kita”. Wow,  dakwaan yang sangat berat!

Krisis masif seperti COVID-19 seharusnya menjadi momen melakukan perubahan paradigma. Namun apa yang terjadi, semua berjalan bisnis seperti biasa dan bahkan lebih parah  karena pandemi digunakan sebagai sapi perah untuk farmasi besar (Big Pharma). Beberapa individu dan perusahaan melipat gandakan kekayaan mereka  secara masif  sebagai akibat dari pandemi sementara banyak rakyat diancam kelaparan; negara-negara kaya dapat memulai pemulihan ekonomi mereka sementara negara-negara miskin yang sudah tertinggal akan semakin tertinggal dan menderita.

Berbicara tentang pandemi kelaparan,  mengingatkan saya pada trilogi novel distopia  2008 The Hunger Games, oleh penulis Amerika Suzanne Collins. Distopia adalah komunitas atau masyarakat yang tidak didambakan atau terkesan menakutkan, kebalikan dari utopia. Banyak tema trilogi ini  yang  dapat diterapkan pada situasi pandemi saat ini: kesenjangan kelas dan kekayaan yang sangat besar; melebarnya jurang antara negara kaya dan miskin; akses yang berbeda kepada sumber daya; kekuatan elit oligarki kecil yang menentukan nasib massa. Ada juga pemerintahan yang tidak akuntabel, kekerasan terhadap rakyat, tumbuhnya ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan pemimpin politik, dan bahkan terhadap  “sains”.

Apakah dunia sudah menjadi komunitas The Hunger Games? Akankah keadaan harus menjadi jauh lebih buruk sebelum rakyat bangkit dan memberontak untuk membuat segalanya lebih baik bagi diri mereka sendiri?

Sungguh menakjubkan menyaksikan keterampilan dan stamina dua pahlawan bulu tangkis kita, bermain reli panjang yang tampaknya tidak pernah berakhir, akhirnya mengalahkan lawan Cina mereka. Seperti warisan bulutangkis emas kita, Indonesia memiliki warisan kekayaan yang luar biasa. Namun akankah bangsa Indonesia memiliki keterampilan dan stamina untuk memainkan The Hunger Games yang dipaksakan kepada mereka dengan aturan yang tidak pernah mereka sepakati? []

*) Artikel yang sama telah diterbitkan di (The Jakarta Post) PREMIUM Jakarta pada Rabu, 4 Agustus 2021, dengan judul “Covid-19: ‘The Hunger Games’ or cash cow for Big Pharma?”

 

Tags: Covid-19IndonesiakemanusiaanPandemi Covid-19Pandemi GlobalPPKMPresiden JokowiVaksin
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Seksisme Juga Terjadi dalam Dunia Olahraga

Next Post

Kiat Mendidik Anak untuk Salat Sejak Dini

Julia Suryakusuma

Julia Suryakusuma

Columnist/Contributor di The Jakarta Post

Related Posts

Piala Dunia 2026
Publik

Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

16 Juni 2026
Dakwah Tauhid
Publik

Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis

8 Juni 2026
Buya Syafi'i
Figur

Menjadi Manusia Abadi ala Buya Syafi’i: Sebuah Refleksi dari Perjalanan Tour de Buya 

8 Juni 2026
Ida Nasution
Figur

Ida Nasution: Muslimah Pertama yang Meraih Gelar Doktor di Universitas Amsterdam

8 Juni 2026
Apa yang Membedakan
Personal

Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

6 Juni 2026
Indonesia
Publik

Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

3 Juni 2026
Next Post
Mendidik

Kiat Mendidik Anak untuk Salat Sejak Dini

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah
  • Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda
  • Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I
  • Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya
  • In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0