Kamis, 23 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Islam Kita

    Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

    Harga Diri Laki-laki

    Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

    Martabat Manusia

    Komodifikasi Martabat Manusia di Balik Budaya Viral

    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    Kehamilan HIV

    Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

    Pengidap HIV

    Tips Menjaga Kesehatan bagi Pengidap HIV

    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Islam Kita

    Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

    Harga Diri Laki-laki

    Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

    Martabat Manusia

    Komodifikasi Martabat Manusia di Balik Budaya Viral

    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    Kehamilan HIV

    Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

    Pengidap HIV

    Tips Menjaga Kesehatan bagi Pengidap HIV

    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Gus Dur dan Warisan Ideologis: Inspirasi bagi Orang Tua Masa Kini

Orang tua tidak hanya harus menjadi penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi mentor nilai dan pemikiran.

Muhammad Syihabuddin by Muhammad Syihabuddin
23 Januari 2025
in Keluarga
A A
0
Warisan Ideologis

Warisan Ideologis

17
SHARES
842
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam memperingati Haul Gus Dur ke-15 di Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga pada 15 November 2024 silam, Habib Husein Ja’far mengangkat topik penting tentang peran orang tua dalam membangun generasi penerus. Tidak cukup hanya menjadi orang tua biologis, katanya, kita juga perlu menjadi orang tua ideologis, yang mewariskan nilai-nilai luhur kepada anak-anak.

Konsep ini sejalan dengan kehidupan Gus Dur, yang mewariskan pemikiran dan nilai-nilai kebangsaan yang tetap relevan hingga kini. Tulisan ini berusaha mengeksplorasi tiga komponen penting berupa; konsep anak ideologis, inspirasi dari Gus Dur, dan langkah konkret untuk menjadi orang tua ideologis di era modern.

Anak Ideologis: Melampaui Biologi dan Hubungan Keluarga

Secara tradisional, orang tua kita pahami sebagai pencipta kehidupan biologis. Namun, Habib Jafar mengajak kita melihat lebih dalam: tanggung jawab orang tua tidak hanya soal memberi kehidupan, tetapi juga membentuk jiwa dan pola pikir anak. Seorang anak ideologis adalah individu yang terpengaruhi oleh nilai-nilai, pemikiran, dan cara hidup yang diwariskan oleh orang tua atau sosok panutan lainnya, bahkan tanpa ikatan darah.

Konsep ini sangat penting di era modern, di mana anak-anak kita hadapkan pada berbagai tantangan ideologis dari media, lingkungan sosial, dan dunia digital. Tanpa bimbingan yang kuat dari orang tua, mereka berisiko kehilangan arah atau mengadopsi nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kebijaksanaan lokal maupun universal.

Dengan menjadi orang tua ideologis, kita memastikan bahwa generasi berikutnya tidak hanya memahami dunia, tetapi juga punya warisan ideologis, memiliki prinsip moral dan spiritual untuk menjalaninya.

Gus Dur sebagai Panutan Orang Tua Ideologis

Gus Dur adalah contoh nyata seseorang yang tidak hanya mendidik keluarga biologisnya tetapi juga membangun generasi ideologis di luar keluarganya. Lewat gagasannya tentang pluralisme, keadilan, dan kemanusiaan, ia berhasil menciptakan “anak-anak ideologis” di seluruh Nusantara. Para pengikutnya, baik dari kalangan muda maupun tua, adalah hasil dari pendidikan ideologis yang ia tanamkan selama hidup.

Gus Dur tidak hanya mengajarkan nilai-nilai luhur, tetapi juga menerapkannya secara nyata. Misalnya, ia dikenal sebagai pembela kaum minoritas dan pelopor dialog antaragama. Dalam konteks keluarga, ia menanamkan nilai keberagaman kepada anak-anaknya, seperti Yenny Wahid, yang kini melanjutkan perjuangannya di berbagai bidang. Dengan cara ini, Gus Dur membuktikan bahwa warisan ideologis dapat bertahan lebih lama daripada warisan materi atau biologis.

Bagi orang tua masa kini, inspirasi ini dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, seperti menanamkan keberanian untuk berpikir kritis dan menghormati perbedaan pada anak-anak mereka. Gus Dur mengajarkan bahwa keluarga adalah tempat pertama di mana nilai-nilai ini harus ditanamkan sebelum anak menghadapi dunia luar.

Menjadi Orang Tua Ideologis di Era Modern

Di tengah tantangan modernitas, menjadi orang tua ideologis memerlukan usaha ekstra. Orang tua tidak hanya harus menjadi penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi mentor nilai dan pemikiran. Berikut adalah langkah konkret yang dapat kita ambil:

1. Menanamkan Toleransi dan Keberagaman:
Seperti Gus Dur yang menekankan pentingnya menghormati perbedaan, orang tua dapat memperkenalkan anak-anak pada berbagai perspektif dan budaya. Misalnya, melalui diskusi tentang isu-isu sosial atau dengan melibatkan mereka dalam kegiatan lintas budaya.

2. Mendorong Pemikiran Kritis:
Anak-anak perlu belajar mempertanyakan dan menganalisis informasi, terutama di era informasi yang sering kali bias. Orang tua dapat mengajarkan mereka untuk berdiskusi secara logis dan menghargai pandangan yang berbeda.

3. Menjadi Teladan Nyata:
Anak-anak lebih terinspirasi oleh tindakan daripada kata-kata. Orang tua harus menunjukkan nilai-nilai yang mereka ajarkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti empati, integritas, dan keadilan.

4. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif:
Orang tua harus menciptakan ruang di mana anak-anak merasa aman untuk mengekspresikan diri, bertanya, dan belajar tanpa rasa takut.

5. Melibatkan Anak dalam Aktivitas Sosial:
Seperti Gus Dur yang aktif dalam komunitas, orang tua dapat melibatkan anak dalam kegiatan yang memperkuat rasa solidaritas, seperti kerja sosial atau advokasi lingkungan.

Gus Dur adalah teladan sempurna tentang bagaimana menjadi orang tua ideologis yang tidak hanya membentuk keluarga, tetapi juga menginspirasi masyarakat luas. Pesan yang Habib Jafar sampaikan dalam Haul Gus Dur ke-15 mengingatkan kita bahwa warisan sejati bukanlah dalam bentuk materi atau biologi, melainkan nilai-nilai yang ditanamkan dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Di era modern yang penuh tantangan, menjadi orang tua ideologis adalah langkah penting untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki jiwa yang kuat dan prinsip yang kokoh.

Dengan mengikuti jejak Gus Dur, kita dapat memastikan bahwa anak-anak kita, baik biologis maupun ideologis, tumbuh menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi dunia. Warisan ideologis adalah investasi terbaik untuk masa depan yang lebih baik. []

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Larangan Menebang Pohon Sembarangan

Next Post

Memanfaatkan Tanah yang Tidak Produktif

Muhammad Syihabuddin

Muhammad Syihabuddin

Santri dan Pembelajar Instagram: @syihabzen

Related Posts

Persalinan HIV
Pernak-pernik

Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

22 Juli 2026
Islam Kita
Personal

Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

22 Juli 2026
Ibu dengan HIV
Pernak-pernik

Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

22 Juli 2026
Harga Diri Laki-laki
Keluarga

Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

22 Juli 2026
Kehamilan HIV
Pernak-pernik

Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

22 Juli 2026
Martabat Manusia
Personal

Komodifikasi Martabat Manusia di Balik Budaya Viral

22 Juli 2026
Next Post
Tanah Produktif

Memanfaatkan Tanah yang Tidak Produktif

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV
  • Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain
  • Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya
  • Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji
  • Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0