Kamis, 19 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    Post-Disabilitas

    Post-Disabilitas: “Kandang Emas” dan Kebutuhan Hakiki

    Imlek

    Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    Post-Disabilitas

    Post-Disabilitas: “Kandang Emas” dan Kebutuhan Hakiki

    Imlek

    Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Ini Ceritaku Belajar Toleransi dari Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama

Aku juga percaya bahwa setiap orang berhak memeluk keyakinannya masing-masing dengan rasa aman dan damai. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh merendahkan dan melukai orang yang beda agama

Afifatun by Afifatun
24 November 2023
in Personal
A A
0
Penggerak Moderasi

Penggerak Moderasi

23
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Aku adalah seorang Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Semester tiga. Aku bersyukur terpilih mengikuti kegiatan Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama lintas iman di salah satu Kecamatan Sumber 4 bulan yang lalu.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Fahmina Institute dalam rangka menanamkan nilai-nilai keberagaman dan toleransi pada anak muda di Cirebon.

Melalui pelatihan penggerak moderasi ini, aku belajar banyak tentang bagaimana pentingnya saling mengenal, menghargai, menghormati setiap keyakinan atau aliran orang lain yang berbeda, dan tidak boleh menjustifikasi bahwa ‘Agama kitalah yang paling benar’.

Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai komunitas di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Selama kegiatan, aku sebenarnya tidak banyak berkomunikasi dengan teman-teman peserta, karena waktu itu masih merasa canggung dan ada sedikit rasa takut.

Aku rasa, hal ini sangat wajar. Karena sejak kecil aku selalu diajarkan bahwa orang yang berbeda agama itu kafir. Jadi aku tidak boleh bergaul dengannya. Berangkat dari doktrin ini, aku selalu berpikir bahwa agama yang paling benar hanya Islam, dan yang lain adalah salah. Sehingga ketika mendengar agama selain Islam, janganlah mau berteman, bertemu saja tidak mau. Karena takut tertular dan menjadi kafir.

Namun, setelah mengikuti pelatihan penggerak moderasi beragama komunitas lintas iman, cara pandang seperti itu sedikit demi sedikit berubah. Terutama ketika aku diundang kembali menjadi peserta kegiatan konsolidasi tokoh agama dan lingkar Fahmina, tepatnya di Hotel Prima Cirebon.

Keberagaman itu Anugerah

Dalam kegiatan konsolidasi tersebut, ada lebih banyak peserta anak muda yang dilibatkan. Latar belakang keyakinannya pun beragam, yaitu ada dari Islam, Kristen, Katolik dan Ahmadiyah.

Aku ingat betul, sebelum kegiatan di mulai, kami diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Selama melantunkan lagu ini, aku merinding sekaligus terharu. Ternyata Indonesia itu seindah itu, bahasa, suku, tradisi, agama semuanya beragam, dan ini merupakan kekayaan Indonesia yang harus dijaga, supaya tetap berjaya.

Di sisi lain, ini juga merupakan pengalaman pertama saya menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza bersama teman-teman dan tokoh-tokoh lintas iman di Cirebon. Dalam sesi itu, aku melihat betapa indahnya perdamaian. Ternyata benar, keberagaman itu anugerah Tuhan yang harus kita rayakan bersama.

Setelah acara pembukaan, saya dan teman-teman terbagi menjadi tiga kelas. Tujuannya untuk saling berbagi cerita baik atau perubahan kita setelah mengikuti pelatihan penggerak moderasi beragama komunitas lintas iman.

Aku waktu itu kebagian ruangan satu, di sana aku bergabung dengan teman-teman dari Kecamatan Sumber, Kedawung, Lemah Abang dan Ciledug. Sebagian dari mereka juga ada yang dari Kristen dan Ahmadiyah.

Dalam sesi ini, kami bergantian untuk berbagi cerita perubahan apa yang kita dapatkan setelah pelatihan moderasi beragama. Aku sendiri bercerita bahwa, pelatihan tersebut membuka pikiran saya bahwa orang yang beda agama itu tidak sejahat dan semenakutkan yang aku kira.

Aku juga percaya bahwa setiap orang berhak memeluk keyakinannya masing-masing dengan rasa aman dan damai. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh merendahkan dan melukai orang yang beda agama. Karena dengan cara ini lah, lingkungan kita bisa tetap damai.

Di sisi lain, aku juga jadi merasa lebih terbuka. Prasangka buruk terhadap orang yang beda agama, kini sudah mulai runtuh. Aku tidak lagi memandang mereka sebagai orang kafir dan salah.

Ada Banyak Jalan Menuju Tuhan

Dalam kegiatan konsolidasi tokoh agama dan lingkar Fahmina, aku juga mendengar kata-kata indah dari Buya Husein Muhammad. Waktu itu beliau mengutip pernyataan seorang sufi asal Persia bernama Abu Said bin Abu Khair. Katanya “Ada banyak jalan menuju Tuhan”.

Kata-kata ini menurut saya sangat indah, bagaimana tidak, selama ini kita selalu berpikir bahwa jalan menuju Tuhan itu hanya satu, yaitu Islam. Sehingga ketika ada orang yang menyebut kata Tuhan tidak menggunakan ayat-ayat Islam, kita akan menganggapnya salah.

Di sisi lain, Abu Said bin Abu Khair juga menyampaikan bahwa “Tersedia jalan terpendek, terbaik, dan tercepat menuju Tuhan. Caranya cukup dengan memberikan kenyamanan kepada orang lain”.

Buya Husein menduga bahwa tips yang disebutkan oleh Abu Said itu terinspirasi dari Hadis Nabi Muhammad saat ditanya oleh para sahabat tentang siapakah Muslim terbaik. Ketika ditanya itu, Nabi menjawab, “Al-muslimu man salimal muslimuna min lisanihi wa yadihi” (Muslim yang baik adalah yang kehadirannya membuat orang yang ada di sekitarnya merasa nyaman tidak terganggu oleh lisan dan tangannya).”

Itu lah pengalamanku menyelami makna toleransi. Sebetulnya ini adalah gerbang pertama aku untuk mengenal dan berteman dengan orang yang beda agama. Tapi, dengan pengalaman pertama ini membuat aku semakin bersemangat dan termotivasi untuk lebih banyak belajar berempati dan menghargai perbedaan. []

Tags: belajarBeragamaceritalintas imanModerasipelatihanPenggeraktoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Fatima Mernissi, Menilik Kembali Hak Politik Wanita dalam Islam

Next Post

Isu Feminisme dan Politik dalam Novel Arok Dedes

Afifatun

Afifatun

Related Posts

Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

5 Februari 2026
Antar Umat Beragama
Pernak-pernik

Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

5 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

28 Januari 2026
Teologi Tubuh Disabilitas
Rekomendasi

Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

2 Februari 2026
Nyadran Perdamaian 2026
Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

2 Februari 2026
Next Post
Novel Arok Dedes

Isu Feminisme dan Politik dalam Novel Arok Dedes

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih
  • Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi
  • Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih
  • Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan
  • Tuntutan Amal Salih bagi Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0