Rabu, 11 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ketaatan Suami Istri

    Ketaatan dalam Relasi Suami Istri Harus Berlandaskan Keadilan

    Ketaatan Suami Istri

    Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    Ketaatan Istri

    Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

    Perkawinan

    Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ketaatan Suami Istri

    Ketaatan dalam Relasi Suami Istri Harus Berlandaskan Keadilan

    Ketaatan Suami Istri

    Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    Ketaatan Istri

    Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

    Perkawinan

    Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Ini Film Riyanto, Bukan Film Tanda Tanya

Meskipun banyak perbedaan, baik pada Film Tanda Tanya maupun Film Riyanto sama-sama masih turut membahas tentang perjuangan seorang anggota Banser

Firda Rodliyah by Firda Rodliyah
23 Oktober 2023
in Figur, Film
A A
0
Film Riyanto

Film Riyanto

25
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Meskipun banyak perbedaan pada Film Tanda Tanya maupun Film Riyanto sama-sama masih turut membahas tentang perjuangan seorang anggota Banser 

Latar Belakang Pembuatan Film

Ketika menonton film “Tanda Tanya” yang merupakan garapan dari Hanung Bramantyo, mungkin kita akan ingat bahwa ada kejadian besar yang menewaskan seorang banser karena kegigihannya dalam melindungi seluruh masyarakat. Ia lari sembari membawa bom keluar gereja, dan akhirnya meledak bersama itu juga. 

Hanung membuat scene tersebut karena mendapatkan inspirasi dari sosok Riyanto. Yakni seorang Banser asal Mojokerto yang turut tewas ketika sedang berjaga di gereja saat tengah perayaan malam misa. Alur kejadiannya ia buat hampir sama, meskipun memiliki kisah keseluruhan yang berbeda.

Setelah film tersebut rilis, akhirnya banyak pihak dari romo dan berbagai pihak lain menghubungi Kukun Triyoga, seorang penggerak Gusdurian Mojokerto. Mereka sama-sama menanyakan, bagaimana testimoni istri dari Riyanto terkait kejadian yang menimpa suaminya. 

Di sini Kukun bingung, karena Riyanto sebagaimana yang masyarakat kenal, belum memiliki istri. Bahkan usianya masih tergolong muda pada saat itu. Akhirnya setelah itu Kukun berinisiatif untuk membuat kisah fenomenal tersebut menjadi sebuah pementasan teater. 

Riset Panjang

Ia pun melakukan riset selama tiga bulan melalui wawancara berbagai pihak. Diantara narasumbernya adalah ibu sang korban, adiknya, Gus Ipung, polisi yang berada di tempat kejadian, dan Ketua Satuan Koordinator Cabang Banser Mojokerto.

Setelah mendapatkan gambaran sosok Riyanto, dan bagaimana kejadian tersebut terjadi. Kukun Triyoga mulai menuliskan naskah, dan berlatih pentas. Sayangnya, pada hari H pementasan, hujan mengguyur Kota Mojokerto begitu deras. Akhirnya pentas pun gagal digelar.

Hingga suatu waktu pada 2021, Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) mengadakan Short Movie Competitition (SMC) memperingati ulang tahun ke-20. Kebetulan tema yang diberikan adalah “Saudara dalam Kemanusiaan”. Kukun yang mendengar berita ini pun akhirnya semangat untuk membongkar naskahnya, dan menjadikannya sebagai sebuah film pendek. 

Selama tiga minggu penggarapan film pun ia lakukan. Penyesuaian terhadap waktu dan suasana menjadi pertimbangan lamanya pengambilan angle dan adegan yang pas. Dan setelah penilaian berakhir, film karya Kukun Triyoga menang menjadi juara 2. 

Kisah Riyanto dalam Film

Film yang berdurasi 12 menit ini tidak banyak bercerita terkait hal-hal di luar kuasa Riyanto. Dalam film ini sendiri, sang penulis mengisahkan sosok Riyanto memiliki kesibukan sebagai seorang pengrajin sepatu di rumahnya. 

Suatu hari, ia mengalami sedikit perseteruan dengan adiknya yang tidak ingin bersekolah. Riyanto sebagai kakak menasehati bahwa dengan memiliki pendidikan tinggi lah adiknya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Namun adiknya mengelak, dan mengatakan bahwa  ia merasa lebih suka membantu kakaknya untuk membuat sepatu ketimbang harus memiliki pekerjaan baik tapi tidak menikmatinya.

Akhirnya adiknya pun menyindir kakaknya yang merupakan anggota Banser. Ia ragu bahwa menjadi Banser adalah benar-benar keinginan kakaknya. Dan Riyanto dengan ekspresi sabar memberikan pengertian pada adiknya bahwa menjadi seorang Banser penting untuk menjaga kesatuan.

Malam harinya Riyanto mendapatkan undangan untuk rapat bersama pimpinan. Di situ ia bersama kawanannya yang lain mendapatkan mandat untuk turut menjaga keamanan gereja pada perayaan misa dan natal. Perdebatan di antara anggota pun terjadi terkait keraguan mereka untuk menjaga gereja.

Keraguan dan Keyakinan

Mereka takut akan dianggap sebagai liberal, dan merasa bahwa sudah cukup polisi yang menjaganya. Namun dari Ketua Kesatuan Koordinator Cabang Banser Mojokerto memberikan keyakinan bahwa ini merupakan perintah dari atasan. Dan menjaga gereja sesungguhnya sama dengan dengan menjaga Indonesia.

Konflik lain pun kembali terjadi keesokan harinya saat ada Salim, seorang teman Riyanto,  yang mengajaknya untuk ikut pengajian. Riyanto pun mengatakan bahwa ia memiliki tugas untuk menjaga gereja. Salim pun merendahkan, bahkan menyebut bahwa Riyanto sudah musyrik, kafir, dan menyekutukan Allah. Namun Riyanto tetap kukuh pada pendiriannya. Dan yakin bahwa apa jalan yang ia pilih adalah sebuah kebenaran.

Akhirnya malam tiba, ketika Riyanto harus berjaga di malam misa. Di tengah mengontrol keadaanya, ia juga sembari mengobrol dengan salah satu teman Bansernya. Sebelum pembicaraan selesai, tiba-tiba seorang anggota Banser lain datang membawa sebuah bingkisan. Katanya, ia mendapatkan bingkisan itu dari seorang ibu-ibu, dan perempuan tersebut tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

Riyanto pun membawa bingkisan tersebut pada seorang polisi. Dan setelah mereka lihat, ternyata isinya adalah sebuah bom. Polisi tersebut pun akhirnya menyuruh Riyanto untuk membuang bom tersebut. Sebelum bom ia buang, ledakan hebat pun lebih dulu memberi salam. Riyanto pun gugur bersama ledakan bom tersebut.

Perbandingan Sosok Riyanto dalam Kedua Film

Dalam Film Tanda Tanya, sosok Banser yang sama-sama meledak bersama bom Hanung Bramantyo sebutkan telah menikah. Sedangkan pada kenyataannya belum. Kemudian pada scene di gereja, tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa ada seseorang yang menyelundupkan bom. Sampai akhirnya sosok Soleh melihat seseorang masuk gereja dengan membawa tas hitam. Setelah itu ia keluar lagi. Karena menaruh curiga, akhirnya ia membuka tas tersebut dan melihat bahwa isinya adalah bom.

Selain itu nama yang Hanung gunakan dalam Film Tanda Tanya adalah Soleh, bukan Riyanto. Sehingga hal tersebut menjadi samar dan tidak jelas. Meskipun demikian, Hanung juga telah mengakui bahwa penggambaran sosok yang sama merupakan bentuk ilham yang ia dapatkan. Sehingga ia pun tidak mengenalkan sosok Riyanto secara rinci atau sama persis.

Tetapi, pada intinya, meskipun banyak perbedaan, baik pada Film Tanda Tanya maupun Film Riyanto sama-sama masih turut membahas tentang perjuangan seorang anggota Banser. Sosok yang telah menjadi inspirasi banyak orang.

Banyak orang, sampai saat ini, menyebutkan bahwa Riyanto merupakan figur yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi. Bahkan Gus Dur pun mengatakan bahwa “Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai dengan pengorbanannya.” []

 

 

Tags: Banser RiyantoFilm RiyantokemanusiaanToleransi beragama
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Dampak Buruk Judi Online: Angka Cerai Gugat Meningkat Tajam

Next Post

Merangkul Perbedaan Melalui Kegiatan SUPI Bershalawat

Firda Rodliyah

Firda Rodliyah

Anggota Puan Menulis

Related Posts

Perang Iran
Publik

Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

8 Maret 2026
Kesetaraan Gender
Publik

Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

5 Maret 2026
sistem patriarki
Pernak-pernik

Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

24 Februari 2026
Sejarah Difabel
Disabilitas

Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

13 Februari 2026
Teologi Tubuh Disabilitas
Rekomendasi

Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

2 Februari 2026
Kerusakan Alam
Lingkungan

Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

2 Februari 2026
Next Post
SUPI Bershalawat

Merangkul Perbedaan Melalui Kegiatan SUPI Bershalawat

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ketaatan dalam Relasi Suami Istri Harus Berlandaskan Keadilan
  • Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?
  • Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri
  • Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan
  • Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0