Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Mengenal Lebih Dekat Kepemimpinan Perempuan Ala Ratu Balqis

Keputusan Ratu Balqis untuk tidak melakukan perang, adalah wujud kepedulian terhadap rakyatnya

Hilda Rizqi Elzahra by Hilda Rizqi Elzahra
24 Agustus 2023
in Hikmah
A A
0
Ratu Balqis

Ratu Balqis

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ratu Balqis, nama yang bagi sebagian umat islam sudah tidak asing lagi. Pasalnya, kisah tersebut termaktub dalam QS an-Naml. Namun, nama ratu Balqis memang tidak tersebut secara gamblang dalam surat tersebut.

Namanya masyhur dalam berbagai kitab tafsir. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya apresiasi Al-Quran terhadap seorang perempuan yang mampu dan berhasil menjadi pemimpin.

Tidak hanya dalam Islam, pada al-kitab pun terdapat kisah ratu Saba’ (Ratu Syeba’) namun tidak pernah tersebutkan namanya seribu tahun sebelum Kristus lahir. Dalam al-kitab diungkapkan bahwa Sheba adalah nama kuno untuk Abyssinia. Sebuah kerajaan Laut Merah yang sekarang berada di sekitar Ethiopia dan Yaman.

Namun, siapakah sebenarnya Ratu Balqis itu?

Dalam Kitab Durrul Mantsur, karya Imam Suyuthi pada Tafsiran Surat An-Naml ayat 23, dijelaskan:

أخرج ابن جرير وأبو الشيخ في العظمة وابن مردويه وابن عساكر عن أبي هريرة قال: قال رسول الله : ” إحدى أبوي بلقيس كان جنّيًا ” .

Dari Abu Hurairah, Rusullah Saw, berkata bahwa salah satu orang tua Ratu Balqis adalah jin.

وأخرج ابن أبي شيبه وابن المنذر عن مجاهد قال: صاحبة سبأ كانت أمها جنّي

Dari Mujahid, berkata bahwa Ratu Saba’ ibundanya adalah jin.

وأخرج الحكيم الترمذي وابن مردويه عن عثمان بن حاضر قال : كانت أم بلقيس امرأة من الجن ، يُقال لها بلقمة بنت شيصان

Dari Usman bin Hadhir berkata, Ibu Ratu Balqis adalah jin biasanya dia sebut dengan Bulqomah bin Syaishon.

Ayahnya adalah seorang raja bernama Sayarahil bin Dzijadan bin Assirah bin al Haryts bin Qais bin Shaifi bin Saba bin Yasyjab bin Ya’rab bin Qahtan. Ia tidak mau menikah dengan penduduk Yaman. Ia menikahi jin perempuan bernama Bulqomah binti Syaison yang pada akhirnya melahirkan putri bernama Balqis yang memimpin negeri Saba’.

Kisah Negeri Saba’

Bernama negeri Saba’ karena diambil dari nama raja pertama yakni Saba’bin Yasjib bin Ya’rib bin Qahtan. Saba’ dikenal sebagai negeri yang memiliki peradaban yang tinggi.

Al-qur’an menggambarkannya sebagai negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Mufassir Indonesia, Quraish Shihab maknai sebagai negeri yang aman sentosa, berlimpah rezeki serta hubungan yang baik antara masyarakat dan pemimpinnya.

Kepemimpinannya mulai dikisahkan tatkala menerima surat dari nabi Sulaiman AS. Suatu ketika, Nabi Sulaiman mendapat kabar dari burung hud-hud, bahwa ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh serorang perempuan. Kerajaan tersebut sangat kaya dan berperadaban tinggi. Namun ratu dan rakyatnya menyembah matahari.

Burung hud-hud adalah burung yang bertugas untuk mengetahui dan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang segala situasi, terutama tentang kekuatan musuh. Hud-hud diceritakan sebagai seekor burung yang dapat terpercaya. Burung Hud-hud dapat kita sebut sebagai media penyampai berita yang saat ini telah semakin mudah dengan adanya kemajuan teknologi.

Nilai-nilai yang ada pada Kepemimpinan Ratu Balqis

1. Demokratis

Ketika sang ratu menerima surat dari Nabi Sulaiman yang berisi ajakan untuk menyembah Allah ia langsung mendatangkan para penasihat istana, para cerdik pandai dan kerabatnya. Yakni untuk meminta pendapat yang benar, yang harus dia tempuh dalam menanggapi surat dari Nabi Sulaiman as.

Hal ini karenaBalqis tidak ingin memutuskan perkara secara otoriter. Setelah musyawarah dengan penasihat dan orang terdekat penguasa, akhirnya mereka memutuskan untuk melaksanakan apapun keputusan ratu.

Surat An-Naml ayat 29-33:

قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ إِنِّيٓ أُلۡقِيَ إِلَيَّ كِتَٰبٞ كَرِيمٌ
إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
أَلَّا تَعۡلُواْ عَلَيَّ وَأۡتُونِي مُسۡلِمِينَ
قَالَتۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَؤُاْ أَفۡتُونِي فِيٓ أَمۡرِي مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمۡرًا حَتَّىٰ تَشۡهَدُونِ
قَالُواْ نَحۡنُ أُوْلُواْ قُوَّةٖ وَأُوْلُواْ بَأۡسٖ شَدِيدٖ وَٱلۡأَمۡرُ إِلَيۡكِ فَٱنظُرِي مَاذَا تَأۡمُرِينَ

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”

“Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,”

“Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).”

“Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”

2. Melindungi rakyatnya

Setelah melakukan perundingan, semua tokoh istana yang ia undang menyarankan untuk melakukan perlawanan. Tetapi, sebagai ratu yang cerdas lagi bijaksana, ia mengemukakan pendapatnya yang berlawanan dengan para tokoh tersebut.

Menurutnya pikiran yang menghendaki untuk berperang adalah pikiran yang salah selama jalan damai belum ia tempuh. Sementara perdamaian lebih utama daripada peperangan. Padahal, ia memiliki 312 pemimpin dewan musyawarah. Di mana satu orang pemimpin memiiki anggota 10.00 orang.

Keputusan Ratu Balqis untuk tidak melakukan perang adalah wujud kepedulian terhadap rakyatnya. Dia mementingkan kehidupan rakyatnya yang jika berperang maka akan terjadi pertumpahan darah, kehancuran dan porak poranda.

3. Diplomatik

Balqis tidak lantas memanfaatkan kekuatan militernya untuk menyerang kerajaan Sulaiman dengan cara yang anarkistik. Peperangan untuk menyerang negeri lain adalah kebiasaan raja-raja terdahulu, yang tidak boleh ia lestarikan.

Kegiatan tersebut hanya akan menciptakan porak poranda, pertumpahan darah dan tidak manusiawi. Ia lebih memilih langkah diplomasi dengan mengirimkan hadiah terlebih dahulu. Ia berharap dapat memberi kesan baik sehingga bisa membangun relasi yang kooperatif.

Pada akhirnya, mereka mengikuti apa yang ratunya perintahkan.

QS. An-Naml ayat 34-35

قَالَتۡ إِنَّ ٱلۡمُلُوكَ إِذَا دَخَلُواْ قَرۡيَةً أَفۡسَدُوهَا وَجَعَلُوٓاْ أَعِزَّةَ أَهۡلِهَآ أَذِلَّةٗۚ وَكَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ
وَإِنِّي مُرۡسِلَةٌ إِلَيۡهِم بِهَدِيَّةٖ فَنَاظِرَةُۢ بِمَ يَرۡجِعُ ٱلۡمُرۡسَلُونَ

“Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.”

“Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.”

Namun setelah itu Nabi Sulaiman tidak mau menerima hadiah dari ratu Balqis. Ia ingin bertolak kembali ke Saba’. Nabi sulaiman memerintahkan kepada prajurit kerajaannya untuk memindahkan singgasana ratu Balqis dari Saba’ ke Palestina.

Jin Ifrid berkata “Aku akan membawa singgasananya sebelum engkau berdiri dari singgasanamu”

Ia menawarkan kemampuannya dengan menyombongkan diri seolah olah dia kuat dan dapat ia percaya.

Tetapi Nabi Sulaiman menginginkan yang lebih cepat daripada yang jin Ifrit tawarkan.

Ratu Balqis Menyatakan Keimanannya

Berdasarkan cerita dari pengajian kitab tanwirul qulub oleh ust. Thoifur, setelah jin Ifrit menawarkan diri, datanglah seorang pemuda tampan bernama Ashif bin Barkhoya, banyak yang mengatakan dia adalah sepupu Nabi Sulaiman, dia berkata kepada Sulaiman

“Aku akan membawa singgasananya setelah matamu berkedip”

Dan akhirnya, dalam waktu yang sekejap mata Sulaiman dapat melihat singgasana ratu Balqis sudah di depan matanya.

Singkat cerita mereka melakukan perbincangan hingga pada akhirnya Ratu Balqis beriman kepada Allah dan menjadi istri Nabi Sulaiman.

Karakter Kepemimpinan Ratu Balqis

Dari kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter pemimpin yang bijaksana, demokratis dan diplomatis. Dari kisah ini memperlihatkan bahwa sosok Ratu Balqis adalah pemimpin yang ideal dari sisi duniawi.

Namun, mengenai silsilah Ratu Balqis yang disebutkan bahwa ia adalah putri dari raja yang menikah dengan seorang jin, masih perlu kita ragukan.

Sehingga, al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani-nya berkesimpulan bahwa, hadis yang menceritakan salah satu orang tua Balqis adalah jin merupakan hadis dlaif (lemah). Cerita seputar pernikahan mereka hanyalah legenda yang tidak terdapat dalam al-Quran maupun hadis sahih.

Tidak hanya itu, al-Mawardi juga menentang kisah pernikahan manusia dengan bangsa jin karena hal tersebut merupakan hal yang sangat tidak rasional dan keduanya memiliki tabiat yang berbeda sehingga tidak bisa disatukan.

Terlepas dari simpang siur silsilahnya, kisah kepemimpinan ratu balqis adalah simbol kepemimpinan feminis. Bahwa perempuan berpeluang untuk menjadi pemimpin. Tentunya, dengan kredibilitas dan integritas sebagai seorang pemimpin seperti yang digambarkan pada sosok Ratu Balqis. Wallahua’lam. []

Tags: Kepemimpinan Perempuanperempuan pemimpinratu balqisSejarah Islam
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

7 Dampak Buruk Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)

Next Post

Mengapa Kita Harus Mendukung Gerakan Pekerja Rumah Tangga?

Hilda Rizqi Elzahra

Hilda Rizqi Elzahra

Mahasiswi Magister UIN Salatiga aktif menulis di berbagai media

Related Posts

Kepemimpinan Beragam Gender
Publik

Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

18 Juli 2026
Sejarah Penyebaran Islam
Publik

Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

24 Februari 2026
Relasi tidak Sehat
Keluarga

Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

24 Januari 2026
Sejarah Ulama
Publik

Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam

3 Januari 2026
Ratu Saba'
Figur

Ratu Saba’ dan Seni Memimpin ala Perempuan

24 Desember 2025
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Kepemimpinan Perempuan Mengakar dalam Sejarah Indonesia

18 Desember 2025
Next Post
Gerakan Pekerja Rumah Tangga

Mengapa Kita Harus Mendukung Gerakan Pekerja Rumah Tangga?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya
  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0