Mubadalah.id – Islam hadir untuk manusia dalam kerangka kemanusiaan. Pengabdian manusia kepada kemanusiaan pada hakikatnya merupakan puncak pengabdian mereka kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam konsep etika spiritual, pengabdian kepada kemanusiaan tersebut—meminjam terminologi Mulla Sadra (w. 1640 M) dalam “al-Asfar’—dinyatakan sebagai proses perjalanan dari makhluk untuk makhluk bersama Tuhan (as-safar min al-khalq ila al-khalq bi al-haqq).
Hal ini adalah kebijakan Tuhan yang tertinggi (al-Hikmah al-Muta’aliyah). Kemudian, dalam bahasa para ahli hukum Islam (fuqaha), frase dalam kerangka kepentingan kemanusiaan tersebut dinyatakan sebagai “al-mashalih al-‘ammah” (kemaslahatan umum).
‘Izz ad-Din bin Abd as-Salam (w. 660 H/1262 M), sultan para ulama, bermazhab Syafi’i, menegaskan :
“Seluruh tugas yang dibebankan Tuhan kepada manusia adalah bekerja demi kepentingan (kemaslahatan/ kesejahteraan) hamba-hamba-Nya. Dia tidak membutuhkan siapa pun. Ketaatan manusia kepada Tuhan tidaklah membuat-Nya memperoleh manfaat, dan kedurhakaan manusia terhadap-Nya tidaklah merugikan Dia sedikit pun.”
Kemudian, Ibnu Atha’illah as-Sakandari (w. 1309 M), seorang sufi master, dalam bukunya yang terkenal al-Hikam al-‘Atha’iyyah, nomor 211, mengatakan hal yang sama:
“Ketaatanmu tak memberi-Nya manfaat apa pun, dan kedurhakaanmu kepada-Nya tak merugikan Dia sama sekali. Tuhan menyuruhmu begini dan melarangmu begitu, hanya untukmu sendiri.”
Hadits Qudsi
Bahkan dua pandangan ulama di atas memeroleh dasar legitimasi dari sebuah hadits qudsi yang sangat terkenal:
“Wahai hamba-hamba-Ku, andaikan semua manusia dan jin, sejak awal sampai hari terakhir, bersatu untuk taat kepada-Ku, kekuasaan-Ku tak akan bertambah sama sekali.”
“Wahai hamba-hamba-Ku, andaikan semua manusia dan jin, sejak awal sampai nanti, semua bersatu menentang-Ku, kekuasaan-Ku tak akan berkurang. Hamba-hamba-Ku, andaikan semua manusia dan jin, sejak awal sampai hari terakhir, bersama-sama meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan setiap permintaanmu.”
“Dan, milik-Ku tak akan berkurang sedikit pun, bagai jarum di masukkan ke air samudera luas. Hamba-hamba-Ku, setiap perbuatanmu Aku catat, dan Aku perhitungkan dengan baik. Semua akan kembali kepadamu. Bila kalian memperoleh keberuntungan, maka bersyukurlah. Sebaliknya, bila kalian memperoleh ketidakberuntungan, maka janganlah menyalahkan orang lain. Sesalilah dirimu sendiri.” (HR. Muslim). []