Selasa, 10 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan di Tempat Kerja

    Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja

    Bertetangga

    Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

    Surat Mahasiswa

    Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?

    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kehormatan

    Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

    Pakaian Istri

    Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an

    Penyapihan Anak

    Al-Qur’an Tekankan Musyawarah dalam Keputusan Penyapihan Anak

    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan di Tempat Kerja

    Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja

    Bertetangga

    Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

    Surat Mahasiswa

    Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?

    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kehormatan

    Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

    Pakaian Istri

    Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an

    Penyapihan Anak

    Al-Qur’an Tekankan Musyawarah dalam Keputusan Penyapihan Anak

    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Pico della Mirandola: Pandangan Tentang Martabat Manusia

Pico membayangkan Tuhan menyatakan kepada Adam bahwa "ketika makhluk lain diciptakan dengan batas-batas, kau bisa menyelami dirimu sendiri" tanpa batas

Humaerah by Humaerah
19 April 2024
in Figur
A A
0
Pico della Mirandola

Pico della Mirandola

18
SHARES
911
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Renaisans Eropa merupakan warisan yang kontradiktif. Kita sering menganggapnya sebagai tempat kelahiran modernitas. Namun mereka yang berada di balik layar Renaisans pada dasarnya cukup prihatin dengan girah untuk membangkitkan kembali dunia kuno. Sebagaimana namanya yang berarti ‘kebangkitan kembali’.

Bagi kelompok humanis abad ke-15 dan ke-16, budaya skolastik Abad Pertengahan perlu terisi kembali dengan semangat zaman kuno. Seperti yang dilakukan oleh pendeta berdarah Italia Marsilio Ficino (meninggal tahun 1499) yang pergi “menangkap ikan dengan jaring Platonisme” demi mencari kebenaran Kristen. Giordano Bruno (meninggal tahun 1600) yang mendalami tradisi Mesir kuno dan Helenisme untuk mencari rahasia yang ia yakini sudah lama ada.

Menurut pandangan mereka, gerakan yang mereka lakukan adalah gerakan ke belakang menuju masa lalu yang berupaya mendapatkan kembali mutiara-mutiara kebijaksanaan yang sudah terabaikan saat ini. Mereka tidak berniat melakukan revolusi. Melainkan, sebagaimana tersirat dalam istilah “renaisans”, sebuah kebangkitan—sebuah renovasi .

Namun, terlepas dari semua pengetahuan arkais yang mereka peroleh, kelompok humanis juga memunculkan ide-ide yang pada akhirnya membentuk pandangan dunia yang bertentangan dengan hal-hal yang telah ada sebelumnya.

Ini terjadi karena, menurut beberapa orang, pemahaman kelompok humanis terhadap filsafat kuno sering kali didekontekstualisasikan dengan mendistorsi makna aslinya. Misalnya, dengan mencampurkan Platonisme dengan aliran pemikiran lain yang tidak sejalan, seperti Epikureanisme dan Skeptisisme. Akibatnya, Renaisans secara tidak sengaja memunculkan apa yang sekarang kita sebut sebagai filosofi modern.

Konsep Martabat Manusia

Penekanan modernitas terhadap pengalaman empiris bisa kita bilang merupakan nubuat atas metodologi ilmiah; peralihannya menuju keindahan dunia imanen menandai dimulainya sastra dan seni modern; dan perayaan akan kebebasan manusia—yang dianggap sebagai ciri khas peradaban kuno—menggambarkan liberalisme yang membuahkan hasil berupa Pencerahan.

Mungkin tidak ada contoh paradigmatik dari pembiasan tradisi ini selain ‘Oration on the Dignity of Man’, yang juga terkenal sebagai “the manifesto of the Renaissance,” yang ditulis oleh pangeran sekaligus filsuf Italia Giovanni Pico della Mirandola pada 1486, tepat di usianya yang ke dua puluh tahun.

Manifesto di atas mengartikulasikan konsep martabat manusia dengan memberikan penjelasan tentang manusia yang mengacu pada ajaran Platonisme, Kristen, Hermetik, Kabbalistik, dan Islam. Namun di sisi lain mengarah pada paradigma modernitas dan liberal atas kebebasan individu.

Pesannya kira-kira begini: “Martabat manusia tidak terletak pada bentuk fisiknya yang paling sempurna, melainkan pada potensinya untuk menjadi apa pun yang ia inginkan.” Bagi Pico, kita bisa memilih menjadi malaikat atau iblis, tapi kita akan selalu bermartabat karena kita adalah manusia.

Pandangan tentang martabat manusia terpenuhi dengan makna spiritual yang berdasarkan pada doktrin imago Dei dan hakikat kehendak yang ditahbiskan oleh Tuhan. Namun, nilai sakral yang Pico berikan pada pilihan-pilihan individu tampaknya terlalu condong ke arah sekularisme modern yang mengutamakan aktualisasi diri di atas segalanya, yang menjadi sumber keangkuhan dan sikap eksploitatif manusia terhadap alam dan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, tidak sedikit yang mengatakan bahwa karya tersebut terjebak di antara pandangan dunia pramodern dan pandangan dunia modern, sehingga menimbulkan pertanyaan. Di mana dan bagaimana pandangan Pico tentang martabat manusia yang memunculkan pemahaman kita saat ini? Dan bagaimana filosofinya membantu untuk mengungkapkan perbedaan antara kedua paradigma tersebut?

Yang Membuat Manusia Spesial

Menariknya, Pico membuka ‘Oration’-nya dengan mengutip seorang pemikir Muslim Persia, Ibn al-Muqaffa, yang ketika ditanya apa yang “menurutnya paling membuatnya takjub.” Ia menjawab “bahwa tidak ada yang lebih luar biasa dari manusia.” Pico mengatakan bahwa manusia spesial karena ia bebas dari batasan-batasan spasial, organik, dan kreatif yang hewan lain miliki, sehingga manusia berpotensi dapat menjadi apa pun yang ia inginkan.

Pico della Mirandola membayangkan Tuhan menyatakan kepada Adam bahwa “ketika makhluk lain diciptakan dengan batas-batas, kau bisa menyelami dirimu sendiri tanpa batas.” Kita, kata Pico, seperti bunglon: tidak seperti makhluk lain yang sifat-sifatnya telah ditentukan sebelumnya, kita tidak terbatas pada satu sifat tertentu saja. Pico membayangkan Tuhan memberi tahu kita bahwa kita bisa berubah menjadi apa pun yang kita inginkan:

“Kami telah menjadikanmu makhluk yang bukan berasal dari langit dan bumi. Tidak fana dan tidak abadi, agar kamu, sebagai pembentuk wujudmu sendiri yang bebas dan bangga, membentuk dirimu sesuai dengan wujud yang kamu sukai.”

Kemampuan transmutasi manusia ini, bagi Pico, memiliki dimensi moral. “Adalah kekuatanmu,” lanjutnya. “untuk turun ke bentuk kehidupan yang lebih rendah dan brutal; kau juga akan mampu, melalui keputusanmu sendiri, untuk bangkit ke tingkatan tertinggi yang ilahiah.”

Hal ini menyiratkan bahwa martabat manusia terletak pada kemampuannya untuk memilih. Pico menekankan bahwa manusia memiliki tingkat kebebasan dan potensi yang dapat membawanya lebih dekat pada Tuhan dibandingkan makhluk lain.

Menilik Pemikiran Johann Herder

Kita menemukan gambaran lain tentang pemikiran ini dalam tulisan filsuf Romantisme Jerman abad 18, Johann Herder. Herder juga memandang manusia sebagai makhluk yang unik dan unggul karena manusia relatif bebas dari batas-batas alamiahnya. Senada dengan Pico, ia berpendapat bahwa semua makhluk hidup terbatas pada “lingkup” ekspresi dan pengaruh tertentu, yang ditentukan oleh kapasitas fisik dan sumber daya yang mereka miliki.

Seekor laba-laba, misalnya, “menenun dengan seni Minerva; namun semua karya seninya juga terjalin dalam ruang pemintalan yang sempit.” Sementara itu, manusia tidak terbatasi pada konstruksi sarang laba-laba—dimensinya, bentuknya, atau sutranya—sebaliknya ia memiliki “ruang yang bebas untuk berlatih dalam banyak hal, sehingga ia bisa terus meningkatkan dirinya.”

Bagi Herder, seperti halnya Pico, meningkatkan kualitas diri terus-menerus merupakan cara pemanfaatan kebebasan tertinggi. Kedua pemikir ini selaras dengan upaya penyempurnaan diri dalam Platonisme (dan tentu saja Kristen dan Islam).

Namun, yang unik dari pandangan Renaisans adalah anggapan bahwa martabat manusia terletak pada kehendaknya dan bukan pada pemenuhan teleologisnya. Kita akan bermartabat selama kita menjalani kehidupan yang kita pilih sendiri. Hal ini memberikan prioritas tinggi terhadap aktualisasi diri, atau apa yang Herder sebut sebagai “cerminan diri” (self-mirroring):

“Manusia dapat mencari ruang untuk mencerminkan dirinya sendiri. Ia bukan mesin di tangan alam, ia adalah tujuan dan objek penyempurnaannya sendiri.”

Nilai Kebebasan Manusia

Oleh karena itu, bagi Pico, nilai kebebasan manusia terletak pada kemampuannya untuk mengaktualisasi diri. Karenanya kemampuan ini tidak boleh terbatasi oleh struktur atau sistem yang kita paksakan dari luar dirinya. Pemahaman tentang kebebasan ini—dan implikasi politik bahwa masyarakat tidak boleh membatasi potensinya—merupakan awal dari putusnya hubungan Pico dan Plato. Meskipun Pico mengakui bahwa dia banyak berhutang budi pada filsafatnya.

Bagi Plato, nilai kebebasan manusia bergantung pada perjuangannya demi “Kebaikan”, sehingga menjadi tanggung jawab otoritas politik dan sistem pendidikan untuk menciptakan kondisi yang cocok bagi realisasi kolektif perjuangan tersebut. Hal ini memerlukan penerapan batasan-batasan tertentu (misalnya, melarang hal-hal yang dapat merangsang nafsu). Di mana pada dasarnya merupakan suatu bentuk “kebebasan positif” atau kebebasan untuk mengejar kebaikan dan kebebasan dalam keterbatasan.

Sebaliknya, penekanan Pico terhadap keutamaan sikap untuk menentukan nasib sendiri (self-determination) sejalan dengan apa yang kita sebut “kebebasan negatif”. Kebebasan dari apa pun yang mengganggu keinginan dan kecenderungan kita, dan juga kebebasan dalam ketidakterbatasan. Ini adalah kebebasan yang mengutamakan keinginan individu dibandingkan kebaikan kolektif, mengecam segala bentuk pengekangan.

Dengan demikian, meskipun Platonisme, Kristen, dan Islam berpendapat bahwa manusia hanya benar-benar bebas dan bermartabat ketika ia memilih kehidupan yang terbai. Yakni, kehidupan yang dapat mengatasi hawa nafsu, di sisi lain kemartabatan dan kebebasan manusia versi Pico bergantung pada kemampuannya mengejar keinginannya dan memilih bentuk kehidupan yang diinginkan.

Jaring Laba-laba Duniawi

Bagi Herder dan Pico, manusia bebas ketika manusia tidak terbatasi oleh parameter jaring laba-laba metaforis dan mampu “menelusuri dirinya sendiri.” Selain itu juga bertindak berdasarkan keinginannya sendiri. Namun dalam pandangan Platonisme, jika kehidupan seseorang terdorong oleh nafsu, ia sebenarnya sedang membuat jaring laba-laba yang menjebaknya dengan kesibukan-kesibukan duniawi dan menghalanginya dari kebebasan sejati.

Gambaran semacam itu juga muncul dalam Surah al-Ankabūt ayat 41, di mana kita diberitahu bahwa mereka yang hidup untuk hal lain selain Tuhan “diumpamakan seperti seekor laba-laba yang membangun rumahnya sendiri.” Ayat ini mengajarkan bahwa jaring laba-laba ini tidak hanya menjebak kita tetapi juga merupakan “rumah yang paling lemah”, yang terpintal dari sutra duniawi dan bukan dari kebenaran yang transenden.

Pico sendiri pun tidak berniat untuk menghapuskan sisi kerinduan akan sesuatu yang transenden dalam diri manusia. Faktanya, beliau mendorong agar kita juga harus “menutrisi sisi ketuhanan dalam jiwa kita dengan pengetahuan tentang hal-hal ilahi.” Bentuk aktualisasi diri yang paling tinggi, menurut Pico, justru adalah mengaktualisasi bagian yang paling dekat dengan Tuhan: spiritualitas.

Namun, karena Pico melihat bahwa martabat manusia terletak pada potensinya untuk memilih apa pun yang diinginkan, cita-cita transendensi seperti itu menjadi sulit untuk kita gapai. Ketika martabat kita samakan dengan hak untuk “membentuk diri yang merdeka”, maka keharusan untuk mencapai keadaan tertinggi (transenden) rentan dikompromikan; jadi mungkin inilah yang menyebabkan kejatuhan spiritualitas kita di era modern. []

 

Tags: filsafatFilsafat EtikaFilsufmanusiaMartabatPico Della MirandolaPlatoRomawiYunani
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mari Ajak Anak-anak untuk Bermain dan Rekreasi ke Tempat yang Menyenangkan

Next Post

Mengapa yang Mengasuh Anak Lebih Banyak Perempuan?

Humaerah

Humaerah

Kontributor Mubadalah

Related Posts

Kehormatan
Pernak-pernik

Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

10 Februari 2026
Dr. Fahruddin Faiz
Lingkungan

Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

4 Februari 2026
Gotong-royong
Lingkungan

Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

2 Februari 2026
Labiltas Emosi
Personal

Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

26 Januari 2026
reproduksi Manusia
Pernak-pernik

Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

25 Januari 2026
Seks
Pernak-pernik

Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

25 Januari 2026
Next Post
Lebih Banyak Mengasuh Anak Perempuan

Mengapa yang Mengasuh Anak Lebih Banyak Perempuan?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja
  • Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia
  • Satu Mawar, Empat Cinta: Transformasi Karakter Huang Yi Mei dalam Drama Cina “The Tale of Rose”
  • Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an
  • Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0