Minggu, 22 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Zakat untuk MBG

    Mendedah Dalil Keharaman Zakat untuk MBG

    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nyepi dan Idulfitri

    Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi

    Refleksi Lebaran

    Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?

    Lebaran Core

    Lebaran Core dan Standar Sosial Menjelang Idulfitri

    Hari Raya

    Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

    Lebaran

    Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

    Kaffarat

    Dipaksa Berhubungan Saat Puasa: Haruskah Istri Menanggung Kaffarat?

    Makna Idulfitri

    Mengembalikan Makna Idulfitri sebagai Milik Perempuan

    Pengasuhan Anak

    Kemiskinan dan Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan Anak

    Disabilitas di Purwokerto

    Ruang-ruang Ramah Disabilitas di Purwokerto

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ekonomi Perempuan

    Ketergantungan Ekonomi Membatasi Akses Kesehatan Perempuan

    Hak Perempuan

    Pembatasan Hak Perempuan

    Ketimpangan Gender

    Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini

    Status Perempuan

    Status Perempuan yang Rendah Berdampak pada Kesejahteraan Keluarga dan Masyarakat

    Kemiskinan yang

    Kemiskinan Persempit Ruang Perempuan dalam Mengambil Keputusan Hidup

    Kesehatan Perempuan yang

    Kondisi Hidup Perempuan Miskin Berisiko Tinggi terhadap Kesehatan

    Kemiskinan Perempuan

    Kemiskinan Perempuan Dimulai Sejak Dini dan Berlangsung Sepanjang Siklus Hidup

    Kemiskinan

    Kemiskinan Jadi Akar Masalah Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Perempuan

    Beragam Penyebab Medis Perburuk Kondisi Kesehatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Zakat untuk MBG

    Mendedah Dalil Keharaman Zakat untuk MBG

    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nyepi dan Idulfitri

    Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi

    Refleksi Lebaran

    Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?

    Lebaran Core

    Lebaran Core dan Standar Sosial Menjelang Idulfitri

    Hari Raya

    Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

    Lebaran

    Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

    Kaffarat

    Dipaksa Berhubungan Saat Puasa: Haruskah Istri Menanggung Kaffarat?

    Makna Idulfitri

    Mengembalikan Makna Idulfitri sebagai Milik Perempuan

    Pengasuhan Anak

    Kemiskinan dan Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan Anak

    Disabilitas di Purwokerto

    Ruang-ruang Ramah Disabilitas di Purwokerto

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ekonomi Perempuan

    Ketergantungan Ekonomi Membatasi Akses Kesehatan Perempuan

    Hak Perempuan

    Pembatasan Hak Perempuan

    Ketimpangan Gender

    Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini

    Status Perempuan

    Status Perempuan yang Rendah Berdampak pada Kesejahteraan Keluarga dan Masyarakat

    Kemiskinan yang

    Kemiskinan Persempit Ruang Perempuan dalam Mengambil Keputusan Hidup

    Kesehatan Perempuan yang

    Kondisi Hidup Perempuan Miskin Berisiko Tinggi terhadap Kesehatan

    Kemiskinan Perempuan

    Kemiskinan Perempuan Dimulai Sejak Dini dan Berlangsung Sepanjang Siklus Hidup

    Kemiskinan

    Kemiskinan Jadi Akar Masalah Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Perempuan

    Beragam Penyebab Medis Perburuk Kondisi Kesehatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Relasi Kesalingan Guru dan Murid untuk Keberkahan Ilmu

Di dalam proses pendidikan dan belajar mengajar guru dan murid harus bekerjasama untuk mencapai keberhasilan tujuan dari pendidikan dan pembelajarannya

Rochmad Widodo by Rochmad Widodo
2 Desember 2022
in Publik
A A
1
Relasi Kesalingan

Relasi Kesalingan

11
SHARES
547
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ki Hajar Dewantara menggambarkan relasi guru terhadap murid dengan indah. Di mana guru harus mampu memposisikan diri dengan tepat dan adaptif kepada muridnya. Baik di depan, di tengah, atau pun di belakang mereka. Saat berada di depan, maka harus tampil menjadi seorang teladan dan inspirator (ing ngarso sung tulodo).

Ketika di tengah, harus menjadi penyemangat atau menyumbangkan ide sebagai dukungan (ing madyo mangun karso). Adapun jika berada di belakang mereka, maka menjadi motivator atau pemberi dorongan (tut wuri handayani).

Artinya, guru bukan berarti harus selalu berada di depan muridnya. Baik secara harfiah fisik maupun maknawi sebagai memposisikan diri dengan muridnya. Guru yang baik berdasarkan falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara, harus memiliki fleksibilitas dalam memposisikan diri. Kadang duduk di depan murid seperti menjadi antara raja dan rakyatnya.

Terkadang juga duduk di sampingnya, sembari mengelus dan menyayangi seakan seperti antara ayah atau ibu kepada anaknya. Terkadang juga bisa menjadi seperti teman mereka saat sedang bermain bola. Yakni antara pemain dan penonton di belakang yang menjadi supporter-nya. Berbagai peran itu dihayati dan dilakukan dengan baik, juga bijaksana dalam rangka sebuah proses mendidik mereka.

Membahas relasi antara guru dan murid, juga relevan jika kita kaitkan dengan konsep relasi kesalingan (mubadalah) yang Dr Faqihuddin gagas dalam rangka untuk menciptakan kondisi pendidikan yang asyik dan menyenangkan, serta memudahkan dalam mencapai tujuan dari pendidikan. Laiknya konsep yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara juga, kenapa menamakan sekolah yang didirikannya sebagai “Taman Siswa”.

Kata “taman” Ki Hajar ambil untuk menggambarkan filosofi tempat belajar yang menyenangkan dan membahagiakan. Seperti pada umumnya taman sebagai tempat untuk bermain dan bersenang-senang. Namun juga sekaligus ada pendidikan dan pembelajaran.

Prinsip Kesalingan (Mubadalah) Guru dan Murid

Sejatinya prinsip mubadalah (kesalingan) berlaku mencakup semua nilai dan prinsip-prinsip kesetaraan dan kemanusiaan. Dalam bukunya “Qiraah Mubadalah” KH. Faqihuddin menjelaskan, bahwa kesetaraan dan kemanusiaan menjadi dua pondasi penting untuk mewujudkan kemaslahatan, kerahmatan, dan keadilan.

Mubadalah merupakan sebuah cara pandang dalam memahami sebuah relasi tertentu antara dua pihak yang mengandung nilai dan semangat kemitraan, kerjasama, kesalingan, timbal balik dan prinsip resiprokal. Termasuk di dalamnya juga hubungan antara guru dan murid dalam sebuah proses pendidikan.

Adapun wujud dari pengamalan prinsip mubadalah tersebut berdasarkan penjelasan KH. Husein Muhammad bahwa kesalingan itu adalah relasi saling menghormati, saling menolong/bekerjasama (ta’awun), saling melindungi, saling berbuat baik dan santun, saling mencinta dan saling membahagiakan.

Menyangkut terkait saling menghormati, menurut KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab “Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim”, salah satu adab guru kepada muridnya diantaranya juga guru harus bersikap rendah hati (tawadhu’) kepada murid. Adapun dalam kitab “Ta’lim Muta’alim”, Sheikh Az-Zarnuji pun menjelaskan jika adab murid kepada guru diantaranya harus menghormati guru.

Relasi Kesalingan Ciptakan Kenyamanan Proses Belajar Mengajar

Hal itu menunjukkan pada dasarnya dalam literatur Islam klasik (kitab kuning) yang menjadi rujukan dalam adab belajar dan mengajar, mengajarkan tentang relasi saling menghormati antara guru dan murid. Dengan kesadaran mengamalkan kesalingan antara guru dan murid tersebut, tentu akan menciptakan rasa kenyamanan dalam proses belajar dan mengajar yang dilakukan.

Demikian halnya ta’awun. Pada dasarnya saat guru menjalankan tugas sebagai pendidik kepada murid, mentransfer kerilmuan (transfer of knowlage) dan menanamkan akhlak, serta membentuk karakter mereka menjadi lebih baik, adalah wujud dari tindakan guru dalam menolong muridnya.

Namun dalam proses pendidikan, sejatinya hal itu tidak bisa guru lakukan secara aktif, dan murid bersifat pasif. Keberhasilan pendidikan dan pengajaran yang guru lakukan harus ada kerjasama dengan murid.

Artinya, ada kesalingan tolong menolong demi tercapainya proses pendidikan yang guru dan murid lakukan bersama. Guru mengajar, murid siap untuk belajar. Guru memberikan pendidikan, murid menerima pendidikannya dengan penuh kerelaan hati dan bahkan dengan senang hati.

Prinsip Keadilan Guru dan Murid

Dalam proses jalannya pendidikan dan proses belajar mengajar, relasi yang terbangun antar guru dan murid juga menerapkan kesalingan dalam berbuat baik, relasi yang bernuansa saling menyayangi dan saling membahagiakan. Atau dalam bahasa KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab “Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim”, guru mendekatkan murid pada hal terpuji, mewujudkan kebaikan murid, dan perhatian terhadap murid.

Sedangkan bagi murid kepada gurunya, Sheikh Az-Zarnuji dalam kitab “Ta’lim Muta’alim” tergambarkan sebagai tidak menyakiti hati seorang guru, menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, dan mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama, agar ilmu yang ia pelajari berkah.

Di posisi masing-masing guru dan murid juga menghadirkan prinsip-prinsip keadilan. Seorang guru tidak melakukan diskriminasi kepada muridnya dalam hal apa pun, juga atas dasar apa pun. Baik dalam proses pembelajaran maupun di luar pembelajaran. Baik dengan dalih alasan terhadap anak yang kita sebut nakal, tidak pintar, bukan anak orang terpandang, disabilitas, atau pun karena gender-nya (laki-laki atau perempuan).

Mereka semua harus kita perlakukan sama sesuai dengan porsinya atas dasar prinsip keadilan. Karena pada dasarnya semua adalah manusia ciptaan Allah SWT, yang di hadapan-Nya semua sama, hanya ketakwaan yang membedakannya. Hal itu juga berlaku bagi murid kepada para gurunya.

Prinsip Kesalingan Pendekatan Regulasi dan Perspektif Literatur Modern

Implementasi prinsip kesalingan antara guru dan murid, sebenarnya dalam konteks pendekatan regulasi atau pun perspektif kajian literatur prinsip-prinsip pendidikan modern, juga tidak ada yang bertentangan, bahkan secara umum selaras dan relevan. Dalam Undang-Undang (UU) nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 8, menyebut ada 4 kompetensi guru, yaitu; pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Penerapan sikap-sikap seorang guru yang menghormati murid, menolong atau bekerjasama, melindungi, berbuat baik dan santun, mencintai dan membahagiakan mereka, pada dasarnya bagian dari kompentensi kepribadian dan sosial seorang guru.

Di dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pun dijelaskan jika setiap peserta didik berkewajiban menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.

Termasuk dari norma yang dimaksud, di antaranya juga menyangkut etika murid kepada guru. Secara tersirat hal itu sekaligus menunjukkan sikap-sikap yang sama seperti yang guru lakukan kepada murid, juga dituntut dilakukan murid kepada guru sebagai wujud keluhuran akhlak.

Terlebih dalam UU Sisdiknas pasal 1, disebutkan jika tujuan dari pendidikan adalah menjadikan peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia. Di samping juga mengembangkan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Saling Kerjasama dalam Proses Pendidikan

Para ahli pendidikan modern juga menyebut, bahwa di abad 21 ini kita membutuhkan keterampilan 4C untuk kesuksesan dalam berbagai hal. Termasuk di dalamnya di dunia pendidikan. Keterampilan 4C tersebut adalah Critical Thinking, Communication, Creative Thinking, dan Collaboration. Terutama C yang berarti Collaboration (kerjasama), hal itu menunjukkan relevansinya dengan prinsip mubadalah (kesalingan).

Di dalam proses pendidikan dan belajar mengajar guru dan murid harus bekerjasama untuk mencapai keberhasilan tujuan dari pendidikan dan pembelajarannya. Di samping itu, kerjasama tersebut juga antar sesama murid, sekaligus guru dengan guru lainnya.

Sebagai kesimpulan, dalam bukunya “Qiraah Mubadalah” Dr. Faqihuddin menjelaskan, ketauhidan pada dasarnya bermakna dua. Pertama, pegakuan atas keesaan Tuhan, dan kedua pernyataan atas kesetaraan manusia di hadapan Tuhan. Tauhid memiliki dua dimensi. Yakni dimensi vertikal yaitu penghambaan manusia terhadap Tuhannya (hablum minannas), dan dimensi horizontal manusia dengan sesama manusia (hablum minannas).

Dalam proses pendidikan, berdasarkan perspektif ketauhidan vertikal dan horizontal tersebut, sekaligus juga menjadi dasar kesadaran untuk relasi kesalingan antara guru dan murid. Bahwasanya, guru mengajar dan murid belajar, guru mendidik dan murid dididik, yang menjadikan keberhasilannya adalah Allah SWT.

Karena itulah, KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim juga mengajarkan adab guru kepada murid agar senantiasa mencari ridho Allah SWT dalam belajar. Penerapan relasi kesalingan antara guru dan murid adalah dalam rangka untuk mencari keberkahan ilmu dan ridla dari Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Tags: guruHari Guru NasionalKesalinganmuridRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

KUPI II Menjadi Ruang Pemulihan Bagi Jiwa Perempuan

Next Post

Menaker: Pemerintah Terus Mendorong Peningkatan Kompetensi Perempuan

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo adalah Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama-Pemimpin Berakhlakul Qur’ani Berwawasan Kebangsaan di Kota Bekasi.

Related Posts

Nyepi dan Idulfitri
Publik

Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi

22 Maret 2026
Kaffarat
Keluarga

Dipaksa Berhubungan Saat Puasa: Haruskah Istri Menanggung Kaffarat?

19 Maret 2026
Makna Idulfitri
Personal

Mengembalikan Makna Idulfitri sebagai Milik Perempuan

19 Maret 2026
Pengasuhan Anak
Keluarga

Kemiskinan dan Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan Anak

18 Maret 2026
Khairunnas Anfa’uhum Linnas
Personal

Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

16 Maret 2026
Konflik Keluarga
Keluarga

Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

16 Maret 2026
Next Post
Kompetensi Perempuan

Menaker: Pemerintah Terus Mendorong Peningkatan Kompetensi Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ketergantungan Ekonomi Membatasi Akses Kesehatan Perempuan
  • Pembatasan Hak Perempuan
  • Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi
  • Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?
  • Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0