Kamis, 9 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    Kurikulum Responsif Gender

    Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    Konselor Sebaya

    Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    Kurikulum Responsif Gender

    Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    Konselor Sebaya

    Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

7 Hal Penting yang Dibahas Bersama Pasangan Sebelum Menikah

Fatikha Yuliana by Fatikha Yuliana
18 April 2020
in Keluarga
A A
0
3
SHARES
129
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Kehidupan pernikahan membutuhkan komitmen bersama dari kedua pasangan. Komitmen hidup bersama selamanya untuk saling melengkapi satu sama lain dalam suka maupun duka. Komitmen yang dibangun diharapkan sudah dimiliki keduanya sebelum menikah.

Selain itu, komitmen untuk menikah juga harus dipertimbangkan dengan baik secara matang. Tujuannya adalah memiliki kehidupan pernikahan dengan pondasi yang kuat, sehingga kedua pasangan dapat merasakan kenyamanan dan kebahagiaan bersama.

Hal ini tak terlepas dari bagaimana kita mengetahui dan membicarakan komitmen tersebut secara mendalam bersama pasangan, serta hal apa saja yang nanti akan ditemukan ke depan. Berikut beberapa topik diskusi yang bisa dibahas dengan pasangan sebelum menikah.

1. Finansial Bersama

Finansial adalah salah satu persoalan besar yang cukup sering dihadapi ketika menjalani kehidupan pernikahan. Menurut salah satu konselor kesehatan mental, Jaclyn Bronstein, membicarakan financial flow lebih baik saat sebelum menikah daripada sesudah menikah.

Masing-masing pasangan butuh mengetahui dari mana saja uang yang akan datang, siapa saja yang akan menjadi pencari nafkah, apakah hanya sang suami atau keduanya bekerja. Rencana apa saja yang akan dilakukan bersama setelah menikah, seperti membeli rumah, mobil, liburan atau kebutuhan primer serta sekunder lainnya? Kedua pasangan juga perlu mengetahui siapa yang cenderung boros dan siapa yang suka menabung.

Selain itu, kita juga harus mengetahui apakah kita atau pasangan kita memiliki beban finansial sebelum menikah? Sehingga kedua pihak dapat mempertimbangkan untuk membuat perjanjian pra nikah atau pre-nuptial agreement, yang menjabarkan apakah harta bersama hanya atas satu nama saja, atau atas nama masing-masing keduanya.

Lalu, bagaimana pembagian pemasukan serta pengeluaran yang akan dilakukan dalam keluarga? Siapa yang akan memegang keuangan keluarga. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang esensial yang bisa ditanyakan kepada pasangan supaya memudahkan kita memahami apa yang diinginkan masing-masing pihak.

2. Tempat Tinggal setelah Menikah

Pembahasan mengenai tempat tinggal juga harus dibicarakan bersama dengan pasangan, supaya kedua pihak dapat menemukan tempat yang nyaman untuk menyambung hidup bersama setelah menikah. Apakah tempat tinggal yang berupa rumah atau apartemen? Sewa, kontrak, atau beli?

Apakah ingin tinggal berdua atau bersama dengan salah satu orangtua pasangan? Selain itu, apakah kedua pasangan memiliki keinginan untuk tinggal di luar kota atau negara lain? Apakah keduanya ingin tinggal jauh atau dekat dengan keluarga besar? Beberapa pertanyaan tersebut harus dikomunikasikan lebih lanjut.

Pilihan demi pilihan yang telah dipertimbangkan bersama, akan berpengaruh pada pekerjaan yang akan didapatkan, sekolah untuk anak-anak (jika ingin memiliki keturunan), seberapa jauh atau dekat dengan keluarga masing-masing dan lain sebagainya. Pastikan kedua pasangan benar-benar memutuskan bersama, bukan hanya keputusan salah satu pihak saja.

3. Anak dan Pola Asuh

Apabila kedua pasangan berencana ingin memiliki anak, sebaiknya dibicarakan lebih matang terlebih dahulu baik dari segi persiapan mental, fisik, sampai keuangan. Rencana untuk memiliki anak tidak hanya membahas tentang berapa jumlah anak yang diinginkan.

Beberapa hal lain yang bisa ditanyakan seperti, bagaimana jika pasangan belum bisa hamil atau mengalami gangguan kesuburan? Apakah akan adopsi anak? Bagaimana jika salah satu pasangan memiliki bawaan genetik dan dapat berpengaruh terhadap kesehatan fisik anak?

Selain itu, persoalan siapa yang akan menjaga anak ketika keduanya bekerja pun harus dibahas. Apakah day care juga akan menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan? Vivian Jacobs, seorang terapis pernikahan dan keluarga memaparkan bahwa pola asuh dan cara didik kepada anak membutuhkan kerjasama yang baik antara kedua orang tua. Tak kalah penting untuk membicarakan soal kebutuhan konseling bagi orang tua. Hal ini juga turut menjaga kesehatan mental masing-masing pasangan.

Jika memutuskan tidak memiliki anak atau mengontrol kehamilan, bicarakan bersama pasangan mengenai kontrasepsi. Diskusikan beberapa pilihan kontrasepsi yang ada, pemilihan kontrasepsi tersebut harus disesuaikan dengan kesehatan fisik masing-masing pasangan dan akan lebih baik tidak ada pemaksaan salah satu pihak dalam penggunaan kontrasepsi.

4. Pembagian Tugas dalam Pekerjaan Domestik

Siapa yang akan mencuci pakaian, memasak, mencuci piring, serta membersihkan rumah, membersihkan toilet, dan lain sebagainya? Apakah akan meminta tenaga tambahan untuk membersihkannya jika keduanya bekerja?

Pembagian tugas seperti ini juga harus dibicarakan dengan jelas. Tidak semua orang merasa nyaman untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sehingga hal ini harus dibahas lebih lanjut supaya kembali menemukan jalan tengah. Jika istri tidak bekerja nine-to-five, apakah hanya istri yang mengurus pekerjaan rumah tangga? Pembagian tugas dengan suami kelak juga harus memiliki kesepakatan bersama.

5. Pekerjaan dan Pendidikan

Bagaimana karir serta pekerjaan yang dimiliki oleh masing-masing pasangan saat ini? Apakah masing-masing bekerja untuk mencari nafkah atau ingin bekerja dan mengejar karir ketika sudah menikah? Apakah salah satu pasangan memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah baik di dalam maupun di luar kota atau negeri?

Ceritakan juga tentang keinginan masing-masing pasangan jika memiliki cita-cita untuk membangun ‘karir impian’ atau berbisnis, serta cara untuk mewujudkannya. Jika hal-hal tersebut akan dilakukan setelah menikah, secara langsung atau tidak langsung kegiatan kita juga akan berdampak pada pasangan, maka itu harus dibicarakan lebih lanjut.

Apabila salah satu pasangan memutuskan untuk mengurus rumah tangga dan tidak bekerja, atau bekerja secara paruh waktu, bicarakan kepada pasangan. Apakah keadaan finansial yang dimiliki bersama sudah mencukupi kebutuhan atau jika salah satu yang bekerja saja sudah cukup?

Keberhasilan dalam menerima apa yang menjadi fokus dalam karir serta pekerjaan masing-masing pasangan harus terus diusahakan dan membutuhkan adaptasi yang sesuai dengan waktu setiap pasangan. Jika masing-masing dapat memahaminya sebelum menikah akan lebih baik, sehingga hal-hal ini juga harus menjadi topik yang dibicarakan bersama dengan pasangan.

6. Aturan dan Batasan yang Diterapkan Bersama

Pada pembahasan ini, masing-masing pasangan dapat saling terbuka tentang hal yang menjadi ruang personal (me time), apa yang menjadi hal yang disukai dan tidak disukai pasangan, serta tipe komunikasi yang akan dibangun bersama.

Jika harus menjalani hubungan jarak jauh setelah menikah, hal ini juga harus dibicarakan lebih dalam supaya tidak ada salah paham. Komunikasi adalah hal yang esensial dalam menjalani sebuah hubungan, sehingga pada topik ini menjadi hal yang penting juga untuk mengetahui pasangan kita lebih lanjut.

Hal lain yang dapat menimbulkan potensi untuk konflik adalah teman lawan jenis dari masing-masing pasangan. Keduanya harus membahas pertemanan mana yang masih dalam batas wajar dan mana yang harus diberi batasan. Selain itu, waktu yang diberikan untuk keluarga besar dan waktu untuk berdua juga dapat dibahas bersama untuk diatur dengan lebih baik.

7. Kehidupan Seksual

Pembicaraan seputar kehidupan seksual seringkali masih dianggap tabu. Padahal, jika hal ini dapat dibahas sebelum menikah, masing-masing pasangan dapat saling mengerti apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh masing-masing pasangan.

Tanyakan kepada pasangan apa pandangannya terhadap kehidupan seksual setelah menikah, serta bagaimana kehidupan seksualnya sebelum menikah dan adakah dampak yang kira-kira dapat ditimbulkan dalam menjalani hubungan pernikahan ke depan? Saling paham tentang pandangan masing-masing pasangan mengenai kehidupan seksual merupakan salah satu hal untuk tetap menjaga hubungan yang lebih intim.

Pada pembahasan ini, masing-masing pasangan dapat saling terbuka kepada pasangan supaya bisa saling memahami apa yang menjadi concern masing-masing pasangan terhadap kehidupan seksualnya. Bicarakan juga strategi yang dapat dilakukan bersama untuk terus menjaga “api cinta” dalam kehidupan pernikahannya ke depan.

Pernikahan yang bahagia pasti menjadi impian setiap pasangan agar keutuhannya terjaga selamanya. Meski tentu saja kerikil dalam rumah tangga akan selalu ada. Beberapa topik di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk kedua pasangan sebelum menikah, sehingga dapat saling mengenal lebih dalam satu dengan yang lainnya.

Selain itu, persiapan mental untuk masing-masing pribadi pasangan juga dibutuhkan. Mempersiapkan diri sendiri sebelum menikah juga menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menjalani kehidupan pernikahan kelak bersama pasangan yang kita cintai. Jadi, sudah siap menikah? []

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Peran Perempuan dalam Gerakan Radikalisme

Next Post

Ekofasisme dan Korona

Fatikha Yuliana

Fatikha Yuliana

Fatikha Yuliana, terlahir di Indramayu. Alumni Ponpes Putri Al-Istiqomah Buntet Pesantren Cirebon. Berkuliah di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Jatuh cinta pada kopi dan pantai.

Related Posts

Mitos Disabilitas
Disabilitas

Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

8 Juli 2026
Nyeleneh
Buku

Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

8 Juli 2026
Tradisi Pesantren
Personal

Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

8 Juli 2026
Merantau
Publik

Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

8 Juli 2026
Gender and Our Brains
Buku

Ulasan Buku Gender and Our Brains: Apakah Perbedaan Laki-laki dan Perempuan itu Bawaan Lahir?

8 Juli 2026
Pendidikan Perempuan
Publik

Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

8 Juli 2026
Next Post
ekofasisme, corona

Ekofasisme dan Korona

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas
  • Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger
  • Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren
  • Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri
  • Ulasan Buku Gender and Our Brains: Apakah Perbedaan Laki-laki dan Perempuan itu Bawaan Lahir?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0