Senin, 9 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

“Birrul Awlaad” Orientasi Parenting Masa Kini

Ada banyak anak yang semestinya mendapatkan rasa aman di rumah, malah menerima bulian yang pertama dari rumah

Rahmah Eka Saputri by Rahmah Eka Saputri
26 Februari 2024
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
Birrul Awlaad

Birrul Awlaad

18
SHARES
909
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Suatu hari di awal tahun 2018 ketika membaca sebuah buku parenting dari Retno Hening saya tertegun dengan sebuah kutipan pertama di halaman depan buku itu.

“Untuk ibuku yang tidak pernah kuingat kapan ia pernah memasang wajah masamnya.”

Mubadalah.id – Saya jadi tertegun karena menyadari bahwa ternyata menjadi orang tua bukan hanya tentang menjadi polisi kehidupan bagi sang anak. Bukan Birrul Walidain, tapi Birrul Awlaad. Yakni, hanya tentang memberi rambu-rambu tentang benar dan salah. Di mana  jika anak salah akan dihukum, dihardik, dimarahi, dan kita beri ekspresi menakutkan.

Tapi pengasuhan adalah tentang memberi rasa sayang yang konstan kepada anak. Membuat anak merasakan sayang itu bahkan di titik terburuk dalam performa kita sebagai orang tua.

Proses pengasuhan rupanya adalah tentang proses menyayangi sepanjang masa. Membuat anak merasa bahwa dia memang disayangi dalam semua proses kehidupannya. Sejak saat itu saya mulai memproyeksikan diri saya sebagai ibu yang ingin diingat karena kasih sayangnya.

Ini menarik, karena sebaliknya bagi kebanyakan anak-anak dengan orang tua yang otoriter, merekam memori bahwa dia disayangi itu akan sangat susah.  Karena dalam banyak keluarga dengan orang tua otoriter, anak-anak tidak terlahir untuk disayangi tapi untuk dibesarkan dengan rasa bersalah.

Ada banyak anak yang semestinya mendapatkan rasa aman di rumah, malah menerima bulian yang pertama dari rumah. Ada juga yang dipukuli sampai hampir mati.  Tidak semua anak menemukan kasih sayang itu di dalam rumahnya. Kebanyakan anak justru kerap disuruh untuk bungkam.

Orang Tua Otoriter

Dalam ingatan anak dengan orang tua otoriter pendapat mereka selalu tidak penting. Sewaktu kecil misalnya, saat anak penasaran dengan apa yang orangtua bicarakan, lalu ikut bertanya, sang anak akan langsung disuruh diam dengan ekspresi marah.

Atau saat melakukan kesalahan, sebuah cubitan menyakitkan langsung mendarat dirusuk. Bertambah dengan ekspresi menakutkan, atau juga ada yang pernah terikat di tempat tidur untuk kesalahan yang bisa dia ingat. Ya dalam masa kecil anak-anak seperti ini perlakuan serupa itu adalah makanan sehari-hari. Bahkan dalam masyarakat kita, adalah hal yang wajar orangtua lakukan kepada anaknya.

Dalam pola asuh yang otoritatif anak selalu salah. Suara anak selau tidak kita anggap penting. Pembelaan diri anak adalah bentuk pembangkangan. Setiap kata yang anak keluarkan untuk meluruskan ucapan orangtuanya yang keliru tentangnya adalah kedurhakaan. Sehingga kalimat andalan orang tua otoritatif biasanya adalah “Dasar anak durhaka, berani membantah orang tua.”

Kalimat-kalimat yang jelas tidak menyimpan makna kasih sayang sedikitpun. Model pengasuhan otoritatif ini merupakan bentuk pengasuhan orang tua zaman dulu. Di mana dalam relasi mereka dengan anak mengandaikan anak sebagai objek sedangkan orang tua adalah subjek. Sehingga orang tua selalu menganggap anak sebagai sasaran power mereka.

Narasi Teologis yang Tidak Seimbang

Penulis melihat bahwa pola komunikasi seperti ini tidak lepas dari narasi teologis yang tidak seimbang antara birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan birrul awlad (berbuat baik kepada anak).

Narasi teologis yang mainstream dan berkembang hanyalah tentang biruul walidain. Di mana narasi ini mengatakan bahwa surga terletak di bawah kaki ibu, sehingga dalam prakteknya kadang ibu bertindak arogan dengan memaksakan anaknya tunduk dan patuh begitu saja.

Atau narasi tentang larangan anak berkata ah dan ciss, yang dalam prakteknya kadang dimaknai orangtua sebagai tidak bolehnya anak bersuara sedikitpun. Sehingga komunikasi dua arah antara anak dan orang tua adalah hal yang dianggap tabu.

Setiap harapan keinginan dan perintah orang tua kadang dianggap sebagai titah Tuhan. Tampak jelas di sini bahwa dengan hanya mengedepankan narasi teologis tentang berbakti kepada orang tua menimbulkan sebuah ketimpangan. Di mana pada kondisi tertentu dapat saja merugikan perkembangan anak.

Kondisi ini tentu membutuhkan narasi yang yang dapat menciptakan relasi yang saling menyayangi antara orang tua dan anak. Dalam pandangan Islam berbuat baik kepada orang tua, dan berbuat baik kepada anak adalah sama pentingnya.

Jika sebelumya dalam relasi orang tua-anak hanya didominasi oleh tingginya otoritas orang tua dalam mengontrol anak, karena berperspektif bahwa hanya anaklah yang harus menurut, berbakti dan patuh.

Ternyata ini salah, justru orang tualah yang terlebih dahulu harus membangun relasi baik dengan sang anak. Tujuannya  agar sang anak dapat dengan kekaguman dan penghormatan mencontoh kebaikan itu, bukan dengan intimidasi dan kekerasan.

Prinsip Kesalingan

Dalam sebuah hadis misalnya nabi menyebutkan bahwa,

“Tidaklah termasuk gologan umatku mereka yang tua tidak menghormati yang muda, dan mereka yang muda tidak menghormati yang tua.” (HR Tirmizi no 2043).

Dalam hadis ini tampak bahwa mesti ada prinsip kesalingan antara kedua belah pihak. Bahkan penyebutan penghormatan orang tua kepada yang muda Nabi dahulukan. Hal ini menyiratkan makna bahwa kunci penghormatan yang muda kepada yang tua adalah dari contoh yang diberikan oleh yang tua kepada yang muda.

Dalam hal ini orang tualah yang semestinya memulai kasih sayang dan penghormatan itu. Barulah kemudian akan diikuti oleh yang muda atau anak. Jika kita tarik kepada relasi orang tua-anak berarti dapat kita maknai bahwa orang tua tidak dapat begitu saja menuntut bakti dan penghormatan dari sang anak, tanpa memberikan kasih sayang dan penghormatan juga kepada sang anak. Kesalingan itu kita mulai dari orang tua.

Demikian juga dalam hadisnya yang lain Nabi  SAW pernah berkata “man laa yarham wa laa yurham”. “Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi.”

Dalam hadis ini juga memperlihatkan bahwa relasi yang semestinya kita tumbuhkan terutama dalam hubungan orang tua-anak adalah relasi kesalingan. Dan bahwa di atas segalanya hubungan antara orang tua dan anak mestilah kita penuhi memori tentang kasih sayang dan kelembutan. Bukan hubungan yang tuntut-menuntut, baik anak maupun orang tua.

Anak Menjadi Subjek dalam Pengasuhan

Menurut Asma Barlas dalam buku Cara Quran Membebaskan Perempuan, Alquran dalam menjelaskan dasar hubungan orang tua-anak adalah mengedepankan gagasan tentang kewajiban ketimbang gagasan tentang hak. Sehingga dengan demikian dalam prosesnya hendaklah orang tua maupun anak fokus terhadap apa yang mesti mereka lakukan dan berikan. Sebab dalam hubungan itu yang akan memberikan hak kepada mereka adalah Allah, bukanlah anak atau orang tua itu sendiri.

Dengan demikian jika dalam model parenting dengan perspektif birrul walidain, orang tua memposisikan diri mereka sebagai subjek, maka dalam paradigma birrul awlad, anaklah yang  menjadi subjek dalam pengasuhan tersebut.

Tampaknya isu-isu pengasuhan masa kini telah memasukkan “birrul awlaad” sebagai fokus pengasuhan. Yakni dengan menempatkan perasaaan dan psikologis anak sebagai tinjauan utama. Sehingga setiap sikap ibu atau orangtua selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap mental dan psikologis anak. []

 

Tags: anakBirrul Awlaadkeluargaorang tuaparentingpengasuhan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kasih Sayang Orang Tua kepada Anak: Upaya agar Tidak Terjadi Kekerasan

Next Post

4 Cara Meningkatkan dan Menjaga Kesehatan Mental

Rahmah Eka Saputri

Rahmah Eka Saputri

  • Ibu muda. Penulis lepas. Alumni Aqidah Filsafat Islam UIN Padang dan UIN Bukittinggi. Tertarik pada kajian Islam, gender dan pemikiran. Merupakan bagian dari Pimpinan Wilayah Nasyiatul Asyiah (PWNA) Sumatera Barat

Related Posts

Pengasuhan Anak
Pernak-pernik

Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

9 Februari 2026
Relasi dalam Al-Qur'an
Pernak-pernik

Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

9 Februari 2026
Keluarga Disfungsional
Keluarga

Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

9 Februari 2026
Laki-laki Provider
Personal

Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

5 Februari 2026
Ayahnya
Personal

Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

1 Februari 2026
Ekonomi Keluarga
Pernak-pernik

Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

29 Januari 2026
Next Post
Kesehatan Mental

4 Cara Meningkatkan dan Menjaga Kesehatan Mental

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak
  • Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?
  • Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi
  • Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan
  • Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0