Mubadalah.id – Arra, bocah berusia lima tahun yang dikenal dengan kelucuannya dan kecerdasannya, belakangan ini ramai dibicarakan di media sosial. Bersama kedua orang tuanya, yang akrab disapa Bubu dan Baba, Arra sering muncul di media sosial dengan pembawaan yang berani, dan menggemaskan.
Awalnya, ia kita puji sebagai anak yang cerdas dan mampu berkomunikasi layaknya orang dewasa. Namun, seiring popularitasnya meningkat, kritik dan hujatan pun berdatangan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan fenomena Arra ini?
Sisi Positif: Pendidikan yang Membentuk Anak Percaya Diri
Saya pengikut setia Sanarra di instagram maupun di Youtube. Dari video panjang hingga video pendeknya, saya bisa mengambil beberapa pelajaran.
Bubu dan Baba membesarkan Arra dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan orang tua. Mereka menghindari penggunaan “bahasa bayi” dan lebih sering mengajak Arra berdiskusi secara serius. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa cara ini lah yang membuat Arra tumbuh menjadi anak yang kritis, percaya diri, dan memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa untuk usianya.
Pendekatan ini banyak diapresiasi oleh para orang tua yang ingin mengembangkan kecerdasan anak mereka. Arra juga terkenal karena keberaniannya mengungkapkan pendapat. Sesuatu yang jarang terlihat pada anak-anak seusianya. Ia bahkan berkesempatan berduet dengan penyanyi indie Bernadya dalam lagu Masa Sepi, kemudian shooting di beberapa acara tv, jadi presenter ala-ala. Hal itu menandakan bahwa Arra memiliki potensi baik dalam entertain.
Sebelumnya, banyak yang melihat Arra sebagai bukti bahwa pola asuh yang berbasis komunikasi terbuka bisa melahirkan anak-anak yang cerdas dan kritis. Di era di mana anak-anak sering kali lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget daripada berdiskusi dengan orang tua, pendekatan Bubu dan Baba dianggap sebagai angin segar.
Ketika Kebebasan Berbicara Berujung Kontroversi
Namun, semakin besar eksposur Arra di media sosial, semakin besar pula tekanan yang ia hadapi. Salah satu pemicu kontroversi ini adalah video yang menampilkan Arra mengatakan ingin menggunakan pelembap agar wajahnya tidak terlihat seperti “teteh-teteh bubaran pabrik.”
Ucapan ini dianggap merendahkan pekerja pabrik dan memicu reaksi keras dari masyarakat. Alih-alih menegur, orang tua Arra justru tertawa dan merespons dengan santai. Kenyataan ini semakin memperkuat anggapan bahwa mereka kurang peka terhadap dampak dari pernyataan tersebut.
Selain itu, Arra juga beberapa kali menanyakan agama kepada artis yang ia temui. Seperti dalam sebuah acara televisi di mana ia bertanya mengapa seorang presenter tidak mengenakan hijab. “Tante muslim tidak? Kenapa kok pakai lekbong? (Bacu ketiak bolong). Tindakan ini menimbulkan perdebatan. Apakah ini murni refleksi dari rasa ingin tahu anak-anak, atau ada nilai-nilai tertentu yang terlalu cepat ditanamkan kepadanya?
Di sinilah muncul kekhawatiran dari banyak pihak. Sebagian orang merasa bahwa sebagai anak kecil, Arra seharusnya lebih banyak bermain dan mengeksplorasi dunianya tanpa terlalu banyak eksposur ke ruang publik. Kritik juga terarahkan kepada Bubu dan Baba, yang dianggap kurang memberikan batasan dalam membimbing Arra berbicara di depan umum.
Eksploitasi Anak di Media Sosial
Fenomena Arra juga menyoroti persoalan lebih besar: eksploitasi anak di media sosial. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ada lebih dari 431 kasus eksploitasi anak di dunia digital sepanjang 2021–2023. Banyak di antaranya melibatkan orang tua yang mengekspos anak mereka demi popularitas dan keuntungan finansial.
Kasus eksploitasi anak di media sosial bukanlah hal baru. Pada 2023, sebuah panti asuhan di Medan kedapatan mengeksploitasi anak-anak dalam konten TikTok untuk menarik simpati dan menggalang donasi. Praktik ini mirip dengan tren “child influencer” di berbagai negara, di mana anak-anak terpaksa tampil di depan kamera untuk menghasilkan uang bagi keluarga mereka.
Tapi sejauh yang saya simak di beberapa siniar Baba, Bubu Arra, hasil dari ngonten Arra, mereka tabungkan untuk keperluan Arra ketika dewasa. Bubu dan Baba Arra juga mengajari tentang finansial sejak dini. Tapi apakah hal tersebut sudah cukup?
Karena banyaknya hujatan netizen, Psikolog Lita Gading menyoroti hal ini sebagai bentuk kelalaian orang tua dalam membimbing anak di ruang publik. Ia menegaskan bahwa peran orang tua tidak hanya sekadar mengelola akun media sosial anak, tetapi juga memastikan bahwa setiap pernyataan yang terucapkan tidak merugikan orang lain atau berdampak negatif bagi perkembangan anak itu sendiri.
Lita Gading bahkan melaporkan Baba dan Bubu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Menanggapi kritik yang berkembang, Baba dan Bubu akhirnya meminta maaf kepada publik. Mereka menyatakan kesadaran akan kesalahan yang telah mereka lakukan dan memutuskan untuk rehat dari aktivitas di media sosial.
Dampak Media Sosial terhadap Anak: Pedang Bermata Dua
Kasus Arra menjadi contoh bagaimana media sosial bisa menjadi pedang bermata dua bagi anak-anak. Di satu sisi, ia mendapat banyak kesempatan dan apresiasi karena kecerdasannya. Namun, di sisi lain, setiap ucapannya diawasi dan dikomentari oleh jutaan netizen, yang bisa berdampak pada perkembangan psikologisnya.
Eksposur berlebihan bisa membawa tekanan yang tidak seharusnya dirasakan oleh anak-anak seusianya. Sebagai figur publik cilik, Arra kini menghadapi ekspektasi tinggi yang mungkin sulit ia pahami sepenuhnya. Ia juga harus menghadapi kritik yang bisa berdampak pada kepercayaan dirinya di masa depan.
Fenomena Arra, Bubu, dan Baba mengingatkan kita bahwa membesarkan anak di era digital bukan hanya tentang membentuk anak agar cerdas dan percaya diri, tetapi juga memastikan mereka tidak menjadi korban eksploitasi atau tekanan sosial yang berlebihan. Pengasuhan anak harus berlandaskan prinsip kesalingan antara hak anak untuk bertumbuh dalam lingkungan yang sehat dan hak orang tua untuk membimbing mereka dengan penuh kasih sayang serta tanggung jawab.
Dalam Islam, anak bukanlah milik orang tua yang dapat kita kendalikan sepenuhnya, tetapi amanah yang harus kita jaga dan kita berikan haknya. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik, melindungi, dan memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman secara fisik dan psikologis. Sebaliknya, anak juga memiliki hak untuk kita dengar, kita hormati, dan tidak tereksploitasi, termasuk dalam ranah digital.
Menyoal Pengasuhan Terbaik untuk Anak
Pengasuhan terbaik adalah yang tidak hanya mencetak anak-anak yang unggul, tetapi juga memastikan mereka tetap menjadi anak-anak dengan kebahagiaan, keamanan, dan hak-hak yang terlindungi.
Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena Arra? Jelas bahwa pola asuh Bubu dan Baba memiliki banyak aspek positif, terutama dalam membangun kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi anak. Namun, dalam menghadapi era media sosial, ada kebutuhan untuk lebih berhati-hati dalam membimbing anak, terutama dalam memahami konteks sosial dan dampak dari setiap ucapan mereka.
Saat ini yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak tanpa membebani mereka dengan ekspektasi yang terlalu besar.
Apakah orang tuanya akan terus mempertahankan pola asuh yang sama atau menyesuaikan diri dengan kritik yang muncul? Biarkan waktu yang akan menjawab. []