Senin, 9 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    Mindful Ramadan

    Mindful Ramadan: Menerapkan Ramadan Ramah Lingkungan Berkelanjutan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    Mindful Ramadan

    Mindful Ramadan: Menerapkan Ramadan Ramah Lingkungan Berkelanjutan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Identitas Perempuan setelah Menikah

Wanda Roxanne by Wanda Roxanne
13 Agustus 2020
in Aktual
A A
0
14
SHARES
722
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Ada yang mengatakan bahwa setelah menikah, perempuan mulai kehilangan identitasnya. Saya pernah mendengar, “setelah menikah, perempuan adalah milik suaminya”. Saya ngeri sekali mendengar hal seperti ini. Kata milik menunjukkan bahwa istri adalah objek dan suami memiliki hak penuh pada istrinya.

Jadi, tidak heran jika setelah menikah, perempuan dipanggil dengan nama suaminya. Itu mengapa kita sering mendengar, Bu Bambang, Bu Agus, dan seterusnya. Tapi kita tidak pernah mendengar suami yang dipanggil dengan nama istrinya, misal, Pak Juleha, Pak Zakiya, dan seterusnya. Kecuali itu nama anak pertamanya. Mama saya juga dipanggil “Bu Wanda”, dan Papa saya dipanggil “Pak Wanda”. Yang kadang, si pemanggil ini tidak tahu Wanda itu yang mana.

Panggilan ini tidak hanya sebagai kebiasaan dan budaya yang khas, tapi juga menegaskan peran seseorang tersebut. Setelah memiliki anak, perempuan senang memanggil dirinya sebagai Ibu + nama anaknya, misal, Ibu Lulu. Saya jadi ingat, Ibu Alissa Wahid pernah bercerita bahwa beliau tetap menggunakan namanya, tidak mencatut nama belakang suaminya, karena beliau ingin menjadi identitas dirinya tidak kabur karena peran sosial sebagai istri ataupun ibu.

Sebenarnya sah-sah saja memanggil diri dengan sebutan apa saja. Setiap orang pasti ingin menonjolkan identitasnya dalam lingkungan sosial berdasarkan peran tertentu, pekerjaan atau lebih senang dipanggil dengan nama panggilannya. Misal di Korea, akan lazim untuk memanggil seseorang berdasarkan nama dan pekerjaannya, seperti “Penulis Ko”, dst.

Kebetulan Mbak Lya Fahmi (Psikolog Klinis) dan Mbak Admin Ihya’ Ienas Tsuroiyah beberapa hari lalu berbicara tentang “Menemukan Makna Diri Setelah Menjadi Istri dan juga obrolan Teh Nurul Bahrul Ulum dan Mbak Ashilli, “Mengejar Mimpi Setelah Menikah”. Kedua obrolan ini mencerahkan dan menginpirasi saya secara personal.

Saat Mbak Ienas ikut arisan setelah menikah, semua Ibu-ibu yang mengikuti arisan akan dipanggil dengan nama suaminya. Tapi suami Mbak Ienas, Gus Ulil sudah meminta Mbak Ienas tidak menggunakan namanya. Jadi Mbak Ienas satu-satunya peserta arisan yang ditulis dengan namanya, bukan nama suaminya.

Mbak Ienas mengatakan, “Saat saya terjun di media sosial, saya tidak dikenal sebagai Ienas. Waktu terjun di media sosial, saya tidak punya identitas”. Dia hanya memiliki tiga identitas, yaitu “Putrinya Gus Mus”, “Istrinya Gus Ulil”, dan “Kakaknya Mas Ova”. Jadi kemudian Mbak Ienas membangun self brand dengan membuat kue karena itu memang hal yang disukainya. Akhirnya dia dikenal sebagai “Ienas the baker”. Dan sekarang dikenal sebagai “Mbak Admin” Ngaji Ihya’.

Sebagian orang tidak nyaman ketika identitasnya dilekatkan dengan orang lain. Sekalipun ketika menambah dan berubah peran sosialnya, maka terjadi “shifting” yang tidak dapat dihindarkan. Dan identitas manusia akan berubah seiring bertambahnya peran sosial dan juga stereotip yang mendampinginya.

Setelah menikah maka kegiatan sebagian perempuan menjadi terbatas. Ada yang mengatakan bahwa fase kehidupan perempuan berakhir setelah menikah. Kata Teh Nurul, bagi perempuan, kemandirian itu keniscayaan. Perempuan setelah menikah juga boleh lebih menonjolkan dirinya sebagai Aktivis, dari pada Ibu atau istri. Setelah menikah, perempuan tetap bisa bersosialisasi dan menggapai impiannya.

Manusia itu kan makhluk sosial dan makhluk individu. Diri (self) dan identitas adalah konstruk cognitif yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan persepsi. Definisi sederhana identitas menurut KBBI, adalah ciri-ciri atau keadaan khusus; jati diri. Menurut Stella Ting Toomey, identitas adalah refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi.

Ketika kita berbicara tentang manusia sebagai diri yang utuh, kita dapat memandang diri dengan identitas sosial dan identitas personal. Dalam identitas sosial, kita merupakan collective self yang membangun identitas dengan berbagi atribut dengan orang lain. Ini adalah hubungan kita dengan orang lain, yang biasa disebut sebagai peran sosial.

Dalam identitas personal, kita adalah individual self yang membangun atribut yang unik yang membedakan kita dengan yang lain. Hubungannya adalah “I” dan “me”, atau “aku” dan “diriku”. Kita bebas mendefinisikan diri kita sebagaimana kita ingin dikenal dan mengenal diri sendiri.

Dengan begitu, kita boleh menonjolkan individual self sebagai identitas yang khas dan tidak dilekatkan dengan siapapun atau lebih menonjolkan identitas kolektifnya. Seperti Mbak Ienas, individual self-nya adalah sebagai Ienas The Baker dan Mbak Admin. Dalam collective self, maka identitasnya adalah sebagai Anak Gus Mus, Istri Gus Ulil, atau Ibu Ben.

Panggilan-panggilan ini sebenarnya dapat terus berubah sesuai tempat, kondisi dan peran sosial pada saat individu berada. Menusia tidak selamanya menjadi anak, tidak selamanya menjadi istri dan tidak selamanya menjabat peran tertentu dalam pekerjaannya.

Identitas individu sebagai individual self menunjukkan bahwa dia adalah independent self, yaitu individu yang otonom, unik, sebagai satu kesatuan dan statusnya stabil. Identitas individu sebagai collective self merupakan interdependent self yang statusnya terhubung dengan orang lain, lingkungan sosial, dan dapat berubah sesuai situasi, peran dan hubungan. Manusia adalah teka-teki bagi dirinya sendiri. Kita akan terus mencari dan menemukan hal-hal baru dalam hidup. Selamat membangun jati diri dan menemukan makna diri untuk hidup dan kehidupan yang berkualitas. []

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Cinta dalam Relasi Kesalingan, Menutup Celah Orang Ketiga

Next Post

La Taghdab: Bagaimana Cara Mengendalikan Amarah?

Wanda Roxanne

Wanda Roxanne

Wanda Roxanne Ratu Pricillia adalah alumni Psikologi Universitas Airlangga dan alumni Kajian Gender Universitas Indonesia. Tertarik pada kajian gender, psikologi dan kesehatan mental. Merupakan inisiator kelas pengembangan diri @puzzlediri dan platform isu-isu gender @ceritakubi, serta bergabung dengan komunitas Puan Menulis.

Related Posts

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan
Aktual

Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

9 Maret 2026
Tokenisme
Uncategorized

Tokenisme, Ketika Perempuan Selalu Menjadi Biang Keladi Kesalahan Lelaki

9 Maret 2026
Peperangan
Pernak-pernik

Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

9 Maret 2026
International Women’s Day 2026
Publik

Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

9 Maret 2026
Perang
Pernak-pernik

Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

9 Maret 2026
Takjil
Publik

Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

9 Maret 2026
Next Post
La Taghdab: Bagaimana Cara Mengendalikan Amarah?

La Taghdab: Bagaimana Cara Mengendalikan Amarah?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan
  • Tokenisme, Ketika Perempuan Selalu Menjadi Biang Keladi Kesalahan Lelaki
  • Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan
  • Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?
  • Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0