Mubadalah.id – Meskipun bulan Ramadan telah usai, ada satu hal yang ingin saya bagikan kepada teman-teman terkait tradisi yang masih terus dirawat oleh sebagian masyarakat di Mushala As-Sa’diyyah, Desa Mulyasari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Tradisi tersebut adalah ndarus (tadarus) al-Qur’an.
Ndarus al-Qur’an di bulan suci Ramadan sebenarnya sudah menjadi praktik yang umum dilakukan. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk banyak mengkhatamkan al-Qur’an. Karena di bulan ini, pahala orang membaca al-Qur’an, Tuhan lipat gandakan.
Selain itu, bulan Ramadan juga kita kenal sebagai bulan turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an). Tidak heran jika setiap mushala atau tajug di sekitar rumah saya ramai dengan lantunan ayat suci al-Qur’an.
Namun, ada satu hal menarik dari tradisi ndarus di Mushala As-Sa’diyyah. Yaitu banyak soal keterlibatan perempuan (anak-anak, ibu, maupun remaja) dalam ndarus al-Qur’an. Apalagi mereka ndarus itu menggunakan mikrofon. Sehingga membuat suara perempuan terdengar sampai ke blok-blok tetangga.
Hal ini menjadi menarik karena, seperti kita ketahui, di banyak tempat ndarus sering kali didominasi oleh laki-laki. Perempuan sering kali tidak diberi ruang untuk ndarus, bahkan ada anggapan bahwa suara perempuan adalah aurat. Pandangan seperti ini semakin mempersempit ruang perempuan dalam ruang keagamaan.
Namun, bagi saya, hal tersebut tidak berlaku di Mushala As-Sa’diyyah. Sebaliknya, ndarus al-Qur’an di tempat ini justru memberikan ruang yang terbuka bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam mengaji al-Qur’an. Suara mereka tidak hanya diterima, tetapi juga dihargai.
Bahkan suara perempuan berharga ini, mengingatkan aku pada salah satu kisah Ummu Salamah dalam Hadis Nabi Saw.
Dalam sebuah Riwayat Hadis, Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Wahai Rasulullah, mengapa kami (para perempuan) tidak disebut dalam al-Qur’an sebagaimana laki-laki disebut?”
Kemudian, turunlah ayat berikut:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
Dalam perspektif Mubadalah, Hadis ini menunjukkan bahwa Ummu Salamah berbicara kepada Rasulullah Saw dengan suara yang jelas, dan Rasulullah tidak melarangnya. Bahkan, pertanyaannya menjadi sebab turunnya ayat yang menegaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam.
Oleh karena itu, apa yang Mushala As-Sa’diyyah lakukan, bagi saya merupakan langkah luar biasa. Perempuan mendapatkan kesempatan yang setara dengan laki-laki untuk terlibat dalam aktivitas keagamaan, terutama dalam Ndarus al-Quran.
Maka dari itu, tradisi ndarus ini bukan hanya menjadi sarana untuk keterlibatan perempuan di ruang keagamaan. Tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan perempuan di desa.
Dengan diberikannya ruang untuk mengaji bersama-sama, perempuan di sini bisa lebih merasa dihargai, memiliki peran yang penting dalam masyarakat, serta dapat memperkuat ikatan sosial antar sesama perempuan.
Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa peran perempuan dalam ranah keagamaan sangat tidak terbatas, dan mereka memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Apalagi dalam ndarus al-Qur’an.
Semoga kita semua, termasuk para perempuan, senantiasa Allah Swt berikan kemuliaan al-Qur’an. Amin. []