Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Merayakan Iduladha dalam Perspektif Perempuan

Soal bagaimana keluhuran akhlak Ibrahim sang bapak monoteisme dan Ishaq serta Ismail, jangan pernah melupakan peran besar dua orang perempuan atas nama Sarah dan Hajar, di mana mereka ikut andil dalam memberi sumbangsih besar demi terangnya peradaban Islam di dunia

Ela Nurlaela by Ela Nurlaela
17 Juli 2021
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Iduladha

Iduladha

5
SHARES
263
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ada yang mesti kita ingat saat perayaan Iduladha, ia lebih dari sekedar nyate bersama atau merayakannya dengan semangkuk gulai. Ialah perjuangan serta ketabahan umat manusia tentang manisfestasi kecintaan seorang hamba pada sang pencipta.

Tak salah sebenarnya jika memaknai Idul Qurban sembari euforia bikin sate bersama, sebab ia kental dengan kehangatan solidaritas kemanusiaan. Lebih-lebih saudara atau bahkan keluarga kita yang jarang mengkonsumsi daging, semoga perayaan ini senantiasa menambah rasa syukur sekaligus semangat persaudaraan.

Kembali pada Iduladha, bertahun-tahun kita diwariskan sebuah kisah bahwa Iduladha ialah sebab musabab diturunkannya syariat qurban: salah satu ritual ibadah yang menjadi ciri seberapa besar makhluk mencintai sang pencipta. Bagaimana tidak? Ibrahim adalah utusan Allah, ia diberikan tugas menyampaikan risalah, meski seorang nabi diberi keistimewaan terbebas dari perbuatan melakukan salah bukan berarti hidup mereka terbebas dari masalah bukan?

Ibrahim lahir di keluarga dan kondisi sosial masyarakat yang mengharuskannya jujur sejak kecil. Ia lahir di Syam, ayahnya pembuat patung berhala, besar dihadapkan dengan seorang raja yang mengaku dirinya Tuhan dan harus menerima hukuman:dibakar. Meski pada kejadian tersebutlah kemudian ia menerima mukjizat yakni tidak hangus saat dibakar.

Ibrahim adalah Nabi yang taat, ia bapak monoteisme, membawa ajaran bahwa hanya Tuhan yang satulah yang wajib disembah (disebutkan dalam tulisan Prof. Quraish Shihab: Tuhan seru sekalian alam) dan Ka’bah adalah buah karyanya. Sebuah simbol sekaligus menjadi kiblat umat muslim.

Mari membaca Iduladha dalam perspektif perempuan yang tak kalah fundamental dan kerapkali jarang diceritakan tetapi sangat besar makna dan pelajarannya yakni ketokohan Siti Sarah dan Siti Hajar. Siapa mereka? Ya, keduanya adalah istri Nabi Ibrahim AS, ibu dari Ishaq dan Ismail. Sarah adalah istri pertama Ibrahim, ia adalah perempuan cantik sekaligus salehah ia juga konsisten mengawal tugas besar Ibrahim, ia mengajak masyarakat pada saat itu untuk menyembah satu Tuhan: bukan benda bukan cuaca bukan pula manusia yang berkuasa. Sayang takdir berkata lain, ia tak juga dikarunia anak dari pernikahannya dengan Nabi Ibrahim.

Sebagai manusia, Ibrahim dan Sarah jelas bersedih akan hal ini, mereka tentu membutuhkan keturunan (kebutuhan-kebutuhan seperti makan, minum, bersosialisasi, bereproduksi ini kemudian dalam kitab klasik disebut sebagai al a’radul basyariah: sifat-sifat kemanusiaan). Bagaimana dengan Sarah sudah pasti ia sangat terpukul, bukankan mitos bahwa perempuan sejati adalah ia yang bisa hamil dan melahirkan bukankah setiap perempuan mendambakan untuk menjadi seorang ibu?

Dan sudah pasti bisa dibayangkan bahwa umpatan orang terhadap seseorang yang tidak bisa melakukan tersebut sudah pasti sangat banyak. Cemooh dan ejekan sosial sudah pasti membanjiri telinga Sarah, apalah daya ia yang menanggung beban ini. Perasaan cemas, kesal  dan khawatir sudah pasti menyelimuti hatinya (bukankah setiap perempuan selalu takut tidak bisa memberi keturunan dan lalu ditinggalkan pasangan karena alasan ini meski suaminya seorang Nabi sekalipun) teman-teman mari melihat Sarah dengan kacamata sosial dan biologis sekaligus.

Dalam beberapa kisah diceritakan, karena sebab inilah Ibrahim kemudian menikah lagi dengan Hajar (seorang budak dari golongan kulit hitam). Diceritakan pula bahwa Hajar sebetulnya adalah budak d irumah Ibrahim dan Sarah. Jika posisi Hajar adalah budak, bisa dibayangkan bagaimana kondisi dia menjalani kehidupan. Ya, sangat rentan (rentan dijadikan barang dagangan, rentan diperas tenaganya secara semena-mena, bahkan rentan menjadi korban kekerasan baik seksual maupun bukan juga rentan menerima perlakuan kriminal seperti pembunuhan).

Beruntung jika ia kemudian dipekerjakan oleh Ibrahim di rumahnya setidaknya ia mendapat rasa aman, tapi bagaimana dengan Sarah? menurut beberapa kisah yang saya dengar, dan literatur yang saya baca justru Sarahlah yang menyarankan Ibrahim untuk menikahi Hajar.

Teman-teman saya berusaha untuk tidak munafik dalam tulisan ini, jangankan menyuruh pasangan untuk menikah lagi melihat dia agak genit dengan lawan jenis meskipun cuma sekedar candaan sudah membuat hati gundah, ini malah disuruh menikah lagi, memang hati siapa yang rela dibagi dua? (Soal ini, lupakan tentang seminar poligami yang para praktisinya merasa keren sampe ke ubun-ubun, sebab punya istri banyak, mereka cuma sombong dan mempolitisir ayat dan hadits demi kepuasan pribadi. Titik!)

Dan benar, di usia Ibrahim yang ke delapan puluh enam Hajar akhirnya dikarunia keturunan ia melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ismail. Saat Ibrahim berusia seratus tahun Sarah juga akhirnya bisa hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Ishaq. Bagi Ibrahim karena tidak mungkin ada dua orang istri berada dalam satu atap dan dirasa kurang kondusif akhirnya satu diantara mereka harus diam di suatu tempat.

Akhirnya, Hajarlah kemudian yang mendapat giliran itu, ia bersama Ismail yang masih kecil harus tinggal di sebuah tempat yang panas dan tandus (kini adalah Mekah). Saat persediaan makanan dan minuman Hajar habis Ismail kemudian meraung-raung menangis kelaparan, ia dengan sigap mencari cara agar Ismail bisa tetap terisi perutnya dan tidak kehausan, ia mencari bala bantuan tetapi pada siapa, ia bukan tinggal di tempat yang ramai dan dermawan penduduknya.

Lalu ia mencari air ke bukit Safa dan Marwah berlari kesana kemari bukan hanya satu kali tapi beberapa kali (bahkan disebutkan sampai tujuh kali) banyak versi mengenai bagaimana Hajar mendapatkan air salah satunya; ada malaikat yang memberi air, ada genangan air yang sengaja dibuat malaikat tetapi yang paling populer adalah karena hentakan kaki Ismail ke tanah yang kemudian memunculkan air. Air yang keluar inilah yang kemudian menjadi sumur zamzam (lokasinya tak jauh dari Ka’bah) sungguh berat perjuangan Hajar, ia merawat anak sendirian di lokasi yang sangat beresiko.

Baik Hajar maupun Sarah, keduanya mengajarkan ketulusan. Tentang bagaimana perjuangan, mencintai, merawat dan menghamba pada sang pencipta. Keduanya adalah manusia taat, peran dan ketokohan Ibrahim jelas tidak boleh dipisahkan dari dua perempuan hebat ini, mereka dengan gigih berjuang dan memberi asuhan terbaik untuk para keturunannya.

Bisa dibayangkan sehebat apapun Ibrahim jika tidak ada rahim Sarah dan Hajar tentu tidak akan ada Ishaq dan Ismail. dua orang Nabi penerus Ibrahim dengan akhlak yang sangat mulia. Hal ini tentu tidak lepas dengan pola pengasuhan yang diberikan Sarah dan Hajar. Jika Sarah harus menunggu lama untuk bisa punya keturunan dan sakit hati suaminya menikah lagi, apa kabar dengan Hajar yang justru anak kesayangannya harus dikorbankan untuk disembelih oleh suaminya sendiri.

Saya rasa kedua perempuan mulia itu merasakan ujian yang sama berat. Sekali lagi, satu yang harus dijadikan benang merah bukan Nabi Ibrahim yang memiliki istri lebih dari satu. Tetapi bagaimana satu sama lain kemudian saling menjaga, saling merawat, saling berjuang, dan meneguhkan diri pada sang khalik dalam setiap sendi kehidupan.

Soal bagaimana keluhuran akhlak Ibrahim sang bapak monoteisme dan Ishaq serta Ismail, jangan pernah melupakan peran besar dua orang perempuan atas nama Sarah dan Hajar, di mana mereka ikut andil dalam memberi sumbangsih besar demi terangnya peradaban Islam di dunia. Selamat merayakan Iduladha. Semoga sifat-sifat kehewanan dari diri, bisa kita sembelih. []

Tags: Iduladha 1442 Histri nabiKisah NabiMonoteismePeradaban DuniaperempuanSejarah NabiSyariat Islam
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mewujudkan Keluarga Sakinah

Next Post

8 Tips Menjaga Kesehatan Mental dan Kebahagiaan Perempuan

Ela Nurlaela

Ela Nurlaela

Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung, Suka bercocok tanam, senang mempelajari berbagai isu

Related Posts

Perempuan Sumber Fitnah
Pernak-pernik

Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

16 Februari 2026
Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama
Hikmah

Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

14 Februari 2026
Sains
Publik

Sains Bukan Dunia Netral Gender

11 Februari 2026
The Tale of Rose
Film

Satu Mawar, Empat Cinta: Transformasi Karakter Huang Yi Mei dalam Drama Cina “The Tale of Rose”

10 Februari 2026
Poligami
Pernak-pernik

Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

7 Februari 2026
Pernikahan
Pernak-pernik

Larangan Pemaksaan Pernikahan terhadap Perempuan

5 Februari 2026
Next Post
Kesehatan

8 Tips Menjaga Kesehatan Mental dan Kebahagiaan Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral
  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang
  • Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0