Senin, 2 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    "Azl

    ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri

    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    Kesehatan mental

    Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

    Hannah Arendt

    Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

    Pernikahan di Indonesia

    Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    "Azl

    ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri

    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    Kesehatan mental

    Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

    Hannah Arendt

    Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

    Pernikahan di Indonesia

    Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Penguntitan Adalah Kekerasan Berbasis Gender, Berhenti Meromantisasinya!

Berhenti meromantisasi penguntitan dan kekerasan berbasis gender sebagai “pejuang” cinta

Wanda Roxanne by Wanda Roxanne
21 Mei 2024
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Penguntitan

Penguntitan

30
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pada 15 Mei 2024, perempuan bernama N membagikan pengalamannya dikuntit (stalking) oleh mantan teman sekelasnya saat SMP, hingga saat ini selama 10 tahun. Dia mengatakan bahwa hal itu bermula saat N bertanya pada AR mengapa dia tidak ke kantin dan N memberi AR uang Rp 5.000,-.

Sejak saat itu, AR menganggap N tertarik padanya dan melakukan penguntitan secara online dan offline pada N. Mengapa seseorang begitu terobsesi dan berfantasi akan orang lain?

Apa yang AR lakukan adalah bentuk penguntitan atau stalking, yang merupakan kekerasan berbasis gender (KBG). AR membuat ratusan akun X dan Instagram untuk menguntit, berfantasi dan mengirimkan foto penisnya pada N.

Undang-undang nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual pada pasal 14 juga mengatur mengenai penguntitan yang merupakan bentuk kekerasan seksual berbasis elektronik (KSBE). Komnas Perempuan juga menyebutkan bahwa penguntitan (cyber stalking) merupakan bentuk kekerasan siber berbasis gender (KSBG) terhadap perempuan.

Kasus N menjadi momentum bagi netizen lain yang mengungkapkan hal serupa. Yaitu pengalaman mereka menjadi korban penguntitan, yang lebih banyak perempuan alami. Salah satunya R, perempuan yang juga mengalami penguntitan dan mengancamnya jika R menolak lamarannya.

Pelaku juga membuat akun sosial media atas nama N dengan tujuan merusak reputasi R. Mengapa penguntitan terjadi dan lebih banyak korbannya perempuan?

Penguntitan Adalah Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan

Penguntitan merupakan salah satu bentuk KSBG. Purple Code dalam buku saku #1 CTRL+ALT+DEL: Mengenal Dasar-dasar KBGO menjelaskan bahwa online stalking adalah “kekerasan berupa penguntitan atau pengawasan di ranah digital dengan tujuan membuat tidak nyaman. Bahkan lebih jauh untuk melakukan tindakan kekerasan secara offline.

Dalam cyberstalking, pelaku biasanya dengan sengaja menunjukkan pada korban bahwa ia sedang diawasi. Lebih jauh, pelaku bisa melakukan pelecehan, intimidasi, dan ancaman pada korban.

Komnas Perempuan mencatat pada 2022 terdapat 821 kasus KSBG di ranah personal yang dilakukan pacar dan mantan pacar. KSBG di ranah publik dilakukan oleh teman media sosial sebanyak 383 kasus. Hal yang harus menjadi catatan bahwa tidak semua korban melaporkan, sehingga tidak semua kasus KSBG tercatat oleh Komnas Perempuan.

Berefleksi dari kasus N, dia sudah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan AR baik secara online maupun menemuinya secara langsung. AR tidak berhenti mengganggu N, melecehkannya. Bahkan mengancam akan bunuh diri dan mengancam hubungannya dengan pacar N. Kasus N menjadi viral dan membuatnya mendapatkan dukungan untuk melaporkan kepada polisi dan polisi memproses kasus ini.

Survei Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA)

Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) bersama dengan Komnas Perempuan melakukan survei  pada 25 November sampai 10 Desember 2018 dengan 62.224 responden. Survei ini terdiri dari perempuan dan laki-laki yang terpilih secara acak di seluruh provinsi Indonesia. Hasilnya sebanyak 1.215 responden pernah mengalami stalking.

Saya ingin berefleksi kasus penguntitan di Indonesia melalui penelitian psikologi klinis mengenai stalker “Study of Stalker” yang Mullen dkk lakukan(1999). Penelitian ini melibatkan 145 stalker, yang 79% atau 114 pelakunya merupakan laki-laki. Mereka berusia 15-75 tahun (rata-rata berusia 38 tahun).

Sebanyak 75 stalker tidak pernah memiliki hubungan romantis sebelumnya. 41 stalker baru saja berpisah atau bercerai. 39% stalker tidak bekerja, dan 56% bekerja. Sebagian lainnya menempati posisi pekerjaan profesional yang tinggi, mahasiswa dan ibu rumah tangga (1%).

Dari penelitian ini, durasi penguntitan mereka lakukan dari 4 minggu hingga 20 tahun. Ada pola-pola yang penguntit lakukan kepada korbannya. 48% penguntit akan memberikan hadiah tanpa korban minta seperti bunga, cokelat, buku, foto-foto korban, makanan, dsb. Sebagian besar dari penguntit akan melakukan ancaman dan kekerasan pada korbannya.

Status psikiatri penguntit mendapatkan diagnosa delusional disorder (gangguan delusional). Di mana ini merupakan tipe erotomanik (gangguan psikologis yang tertandai oleh keyakinan bahwa seseorang mencintainya atau tertarik padanya, padahal kenyataannya tidak), morbid jealousy (rangkaian pemikiran dan emosi irasional). Sebagian lain memiliki skizofrenia, erotomanic delusions. Lalu yang lainnya memiliki gangguan bipolar, major depression dan gangguan kecemasan.

Tipe-tipe Pelaku Penguntitan

Mullen dkk (1999) membagi pelaku penguntitan menjadi lima. Yaitu rejected (ditolak), intimacy seeking (mencari intimasi), incompetent (tidak kompeten), resentful (marah) dan predatory (predator). Sebagian besar stalker merupakan rejected stalker dalam hubungan romantis dan biasanya melibatkan mantan pasangannya.

Sementara sebagian lainnya mereka yang ditolak atau putus dalam pertemanan dan hubungan kerja yang terganggu. Mereka melakukannya sebagai usaha untuk rekonsiliasi atau balas dendam. Sebagian besar dari mereka memiliki gangguan kepribadian seperti gangguan delusional dan morbid jealousy.

Intimacy seeking stalker mencari hubungan intim dengan orang yang tidak menginginkannya. Namun mereka mengidentifikasi hubungan itu sebagai cinta sejati dan resiprokal. Mereka memiliki gangguan seperti erotomanic delusions, gangguan delusional, skizofrenia, dan mania. Saya berasumsi bahwa AR termasuk dalam kategori ini. Dan kasus R merupakan tipe ini.

Tipe incompetent mengakui bahwa orang yang mereka sukai tidak membalas perasaan mereka namun mereka tetap berharap apa yang mereka lakukan membuat targetnya tertarik. Mereka secara intelektual terbatas dan tidak memiliki kapasitas secara sosial. Selain itu juga tidak memiliki pengetahuan dan kapasitas yang cukup mengenai hubungan. Mereka akan melakukan penguntitan namun tidak tergila-gila.

Tipe resentful stalker bertujuan untuk membuat korban ketakutan dan stres oleh keberadaan dan perilaku stalker. Sebagian dari korbannya bisa orang yang ia kenal dan sebagian bisa saja random di jalan. Mereka akan menguntit mereka yang dianggap menarik, kaya, bahagia, di saat stalker mengalami hal buruk.

Tipe terakhir adalah predatory stalker, mereka mempersiapkan serangan seksual. Mereka mendapatkan kesenangan dan kenikmatan karena merasa memiliki kuasa dan berfantasi akan korbannya sebelum menyerang. Mereka terdiagnosa memiliki paraphilias dan pernah dihukum karena kekerasan seksual yang ia lakukan.

Kuasa atas Perempuan

Saya jadi teringat, saya pernah diikuti stalker pada malam hari saat saya pulang ke kosan sekitar tahun 2015. Kami berpapasan di gang, dia membawa gitar. Baru saya menyadari dia ternyata bersembunyi dan mengamati saya, dan saya ketakutan karena sepi.

Lalu saya menghampirinya dan pura-pura menelpon teman, dan dia berlarian pergi. Di balik peristiwa itu, saya tidak tahu apa motif dia melakukannya, yang pasti saya menjadi takut setelah itu dan lebih berhati-hati lagi.

Dalam relasi gender terutama antara perempuan dan laki-laki, dalam masyarakat patriarki, laki-laki disosialisasikan untuk memiliki kuasa atas perempuan. Konstruksi sosial ini menjadikan laki-laki memiliki sense of power, entitlement atau ownership atau kepemilikan atas perempuan.

Akar Masalah dan Romantisasi Penguntitan

Penelitian “Power and Control Dynamics inPrestalking and Stalking Situations” (Brewster, 2003) menunjukkan bagaimana kuasa dan dinamika control pada situasi sebelum dan saat penguntitan. Ekspektasi gender menempatkan laki-laki sebagai dominan dan perempuan sebagai submisif, dan sistem patriarki melanggengkan laki-laki untuk memiliki entitlement atau merasa berhak dan rasa kepemilikan (ownership) pada perempuan (Brewster, 2023).

Hal ini yang kemudian menyebabkan kekerasan kepada perempuan, termasuk dalam kasus penguntitan kasus N, R, dan kasus lainnya.

Dalam penelitian di atas, 55% subyek menunjukkan pengalamannya dikontrol oleh stalker (terutama dalam hubungan romantis). Hal ini menunjukkan ketakutan stalker akan kehilangan kontrol akan pasangannya, relasi kuasa yang timpang dan memanipulasi korbannya.

Manne dalam “Entitled” menjelaskan, bahwa male entitlement berakar dari misogini, seksisme, dan himpathy yang merupakan sistem yang secara tradisional menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Saya jengah dengan komentar di X yang menyebut bahwa apa yang AR lakukan memiliki jiwa pejuang. Berhenti meromantisasi penguntitan dan kekerasan berbasis gender sebagai “pejuang” cinta. Sebagian dari kasus penguntitan berakhir pada pemerkosaan dan femicide atau pembunuhan.

Berhenti meromantisasi perbuatan kriminal dan melanggar HAM. Berhenti terobsesi dan berfantasi bahwa cinta harus kita lakukan dengan pemaksaan, kekerasan dan penindasan seperti ini. Mari mengajari anak-anak terutama laki-laki untuk menerima penolakan, dan tidak merasa berhak atas perempuan. Penguntitan adalah kekerasan berbasis gender yang harus tertangani secara serius. []

Tags: DoxingKBGOKejahatan DigitalKekerasan seksualPenguntitanRomantisasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Wanda Roxanne

Wanda Roxanne

Wanda Roxanne Ratu Pricillia adalah alumni Psikologi Universitas Airlangga dan alumni Kajian Gender Universitas Indonesia. Tertarik pada kajian gender, psikologi dan kesehatan mental. Merupakan inisiator kelas pengembangan diri @puzzlediri dan platform isu-isu gender @ceritakubi, serta bergabung dengan komunitas Puan Menulis.

Related Posts

Broken Strings
Personal

Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

21 Januari 2026
Kekerasan Seksual KUPI
Uncategorized

Fatwa KUPI Soroti Dampak Luas Kekerasan Seksual terhadap Kehidupan Korban

12 Januari 2026
Kecanggihan AI
Publik

Online Gender-Based Violence di Balik Kecanggihan AI

9 Januari 2026
Pacaran
Personal

Pacaran: Femisida Berkedok Jalinan Asmara

6 Januari 2026
Elon Musk
Publik

Dear Elon Musk, Anda Bertanggung Jawab atas Kiamat KBGO Masif Berbasis AI di Seluruh Dunia

4 Januari 2026
Kekerasan Seksual
Aktual

Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

16 Desember 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Hak Perempuan Menggugat Cerai

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    35 shares
    Share 14 Tweet 9

TERBARU

  • Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid
  • Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan
  • Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan
  • ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri
  • Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0