Mubadalah.id – Frugal living adalah gaya hidup hemat di mana seseorang mengelola keuangan dengan bijak, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, dan lebih memanfaatkan sumber daya yang ada. Tujuannya bukan sekadar berhemat, tetapi juga mencapai kestabilan finansial, menghindari utang, dan bisa menabung untuk keberlangsungan jangka panjang.
Frugal living bukan berarti pelit, tetapi lebih ke cara hidup secara sadar dan wajar dalam menggunakan uang dan sumber daya. Memanfaatkan promo dan diskon secara bijak tanpa membeli barang yang tidak kita butuhkan. Memasak sendiri di rumah daripada sering makan di luar. Menggunakan barang second hand atau menukar barang dengan orang lain.
Mengurangi penggunaan listrik dan air untuk menekan tagihan bulanan. Tidak Berlebihan dalam Harta dan Gaya Hidup adalah contoh bagaimana menerapkan frugal living dalam keseharian. Sayangnya, frugal living ini susah diterapkan saat menjelang lebaran di mana, tradisi kinsumtif melonjak tinggi dari hari-haro sebelimnya.
Tradisi Belanja Menjelang Lebaran
Tradisi belanja menjelang Lebaran sudah menjadi bagian dari budaya di Indonesia. Di antaranya adalah membeli baju baru untuk menyambut lebaran. Biasanya, masyarakat berburu pakaian muslim seperti gamis, koko, atau pakaian formal lainnya.
Berbelanja jajanan, syrup dan aneka makanan khas lebaran. Kue-kue khas seperti nastar, kastengel, dan putri salju menjadi incaran banyak orang. Selain itu, bahan makanan untuk memasak opor ayam, rendang, ketupat, dan sambal goreng juga laris manis di pasar. Segala aneka makanan akan muncul di momen lebaran, apalagi usai menjalankan satu bulan berpuasa.
Berburu diskon dan promo lebaran di pusat perbelanjaan, toko online, dan pasar tradisional sering mengadakan diskon besar-besaran. Hal ini membuat masyarakat semakin antusias berbelanja. Beberapa keluarga juga menjadikan Lebaran sebagai momen untuk memperbarui perabotan rumah, seperti mengganti sofa, cat rumah, atau alat elektronik.
Menukar Uang untuk THR, masyarakat sering menukar uang baru di bank atau pedagang uang untuk diberikan sebagai THR (Tunjangan Hari Raya) kepada anak-anak atau kerabat yang lebih muda. Membeli Tiket Mudik, Tradisi mudik juga memengaruhi tren belanja. Banyak orang membeli tiket transportasi jauh-jauh hari agar bisa pulang kampung merayakan Lebaran bersama keluarga di daerah asal.
Menghindari Sikap Boros dan Mengutamakan Kebutuhan
Hidup sederhana sesuai anjuran Nabi Muhammad ﷺ berarti menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan, tanpa berlebihan, serta selalu bersyukur atas apa yang dimiliki. Konsep ini tidak berarti hidup dalam kemiskinan, tetapi lebih kepada menghindari sifat boros, sombong, dan tamak
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan”, (HR. Abu Dawud dan Ahmad), artinya, kita boleh menikmati rezeki yang Allah berikan, tetapi tetap dalam batas kewajaran dan tidak berlebihan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧
Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. Al-Isra: 27).
Ayat tersebut berisi perintah terkait untuk menjauhi sikap boros dan mubazir. Allah mencela perbuatan membelanjakan harta secara boros, “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, mereka berbuat boros dalam membelanjakan harta karena dorongan setan.” Oleh karena itu, perilaku boros termasuk sifat setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada nikmat dan anugerah Tuhannya. Kesederhanaan berarti menggunakan harta dengan bijak, bukan menghambur-hamburkannya untuk hal yang tidak bermanfaat.
Rasulullah ﷺ menjalani kehidupan dengan mencukupkan diri pada kebutuhan pokok. Nabi ﷺ bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam hal dunia), dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian”, HR. Muslim. Dengan bersyukur, kita akan merasa cukup dan tidak selalu merasa kurang.
Kepedulian Sosial di Bulan Ramadan
Dengan segala keutamaannya, Ramadan menjadi waktu terbaik untuk meningkatkan amal kebaikan, berbagi rezeki, dan peduli terhadap sesama. Tradisi belanja ini mencerminkan semangat berbagi dan kebersamaan yang menjadi nilai utama dalam perayaan Idulfitri.
Nabi ﷺ adalah orang yang sangat dermawan. Ketika memiliki sesuatu, beliau lebih memilih membagikannya kepada yang membutuhkan. Hidup sederhana memungkinkan kita lebih banyak berbagi kepada orang lain. Hidup sederhana bukan berarti menolak kenikmatan dunia, tetapi lebih kepada menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, menghindari pemborosan, dan menggunakan rezeki dengan cara yang bermanfaat. Dengan begitu, kita bisa hidup lebih tenang, berkah, dan mendapatkan rida Allah.
Ramadan adalah bulan penuh berkah yang mengajarkan umat Islam untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama. Berikut beberapa keutamaan Ramadan dalam hal berbagi dan peduli terhadap orang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Membersihkan Harta dan Jiwa dengan menunaikan Zakat fitrah di akhir Ramadan bertujuan untuk menyucikan diri dari kesalahan serta membantu kaum yang membutuhkan. Berbagi dengan sesama dapat membersihkan harta dari sifat kikir dan menumbuhkan rasa syukur.
Puasa mengajarkan kita merasakan lapar dan haus seperti yang dirasakan oleh mereka yang kurang mampu, sehingga memotivasi untuk lebih peduli terhadap mereka. Mempererat persaudaraan dengan berbagi makanan untuk berbuka puasa atau memberikan bantuan kepada yang membutuhkan mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan kasih sayang.
Bersedekah di bulan Ramadan termasuk amalan yang bisa menghapus dosa-dosa kecil dan mendekatkan diri kepada Allah, bisa dalam bentuk parcel. Dalam hadis disebutkan: “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Menjaga Lingkungan dengan Tidak Membeli Baju Baru untuk Lebaran
Minat yang sangat tinggi untuk membeli baju lebaran di bulan Ramadan, sama halnya dengan kita mendukung tren fast fashion. Karena lebaran ada setiap tahunnya, kemudian kita selalu berbelanja baju setiap tahun. Padahal kita tahu bagaiaman dampaknya fast fashion secara signifikan terhadap lingkungan.
Limbah tekstil yang berlebihan adalah dampak utama jika permintaan pasar akan pakaian sangat tinggi. Fast fashion menghasilkan pakaian dalam jumlah besar dengan siklus tren yang cepat berubah, menyebabkan banyak pakaian terbuang dalam waktu singkat. Limbah tekstil sulit terurai dan sering berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar, yang tentu saja akan mencemari lingkungan.
Penggunaan air yang berlebihan adalah dampak kedua terkait penggunaan fast fashion. Industri fashion, terutama produksi kain seperti katun, memerlukan banyak air. Contohnya, untuk membuat satu kaos katun, dibutuhkan sekitar 2.700 liter air, setara dengan konsumsi air minum seseorang selama lebih dari 2 tahun.
Pencemaran air akibat pemakaian pewarna dan bahan kimia. Banyak pabrik tekstil membuang limbah pewarna dan bahan kimia langsung ke sungai tanpa pengolahan yang baik, mencemari air dan membahayakan ekosistem serta kesehatan manusia secara jangka panjang.
Fast fashion berkontribusi terhadap perubahan iklim karena proses produksinya menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar, baik dari pabrik, transportasi global, maupun penggunaan bahan sintetis berbasis minyak bumi seperti poliester. Bisa kita sebut dampak ini adalah emisi karbon yang tinggi.
Bahan baku seperti kapas membutuhkan lahan luas dan pestisida, sementara bahan sintetis memerlukan minyak bumi. Hal ini mempercepat degradasi lingkungan dan kehabisan sumber daya alam. Eksploitasi sumber daya slam seharusnya memiliki solusi yang bisa dilakukan. Mendukung fashion berkelanjutan, membeli pakaian dari brand yang menerapkan praktik ramah lingkungan.
Mengurangi konsumsi pakaian baru: Mengutamakan kualitas daripada kuantitas dan memilih pakaian secondhand atau thrift. Mendaur ulang dan mendonasikan pakaian. Mengurangi limbah tekstil dengan memberikan pakaian yang tidak terpakai kepada yang membutuhkan. Dengan lebih sadar akan dampak fast fashion, kita bisa berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. []