Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Menilik Relasi Al-Qur’an dengan Noble Silence Pada Ayat-ayat Shirah Nabawiyah Tokoh Perempuan (Part 3)

Melalui tiga tokoh perempuan agung dalam shirah nabawiyah, Al-Qur’an menghadirkan narasi tentang keheningan yang sarat makna spiritual.

Layyin Lala by Layyin Lala
11 Juni 2025
in Personal
A A
0
Noble Silence

Noble Silence

28
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tidak hanya pada tokoh laki-laki, Al-Qur’an juga mengisahkan noble silence pada tokoh perempuan. Shirah pada tokoh perempuan menunjukkan bagaimana Al-Qur’an memuliakan tokoh-tokoh perempuan dalam Islam.

Lebih jauh dari itu, bentuk noble silence pada tokoh perempuan muslim menjadi pengajaran terutama untuk para muslimah. Al-Qur’an memberikan pengajaran mengenai bagaimana seseorang dekat dengan Allah, bahkan Allah angkat derajatnya melalui keheningan. 

Melalui keheningan, Al-Qur’an mengajarkan bagaimana seseorang bisa mendekat kepada Allah, bahkan Allah angkat derajatnya. Maka ketika kita membicarakan noble silence (dalam konsep Islam), kita sebenarnya sedang membahas bagaimana memaknai diam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. 

Sayyidah Hajar: Noble Silence di antara Bukit Safa dan Marwa

Al-Qur’an mendokumentasikan kisah Sayyidah Hajar (Ummu Ismail) dalam Surah Ibrahim ayat ke-37. Ayat tersebut berbunyi:

لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ يَبْنِي هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَهْلَهُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” 

Dalam penjelasan tafsir tahlili, ayat tersebut menjelaskan Nabi Ibrahim AS akan kembali ke Palestina menemui istrinya Sarah, meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil di Mekah. Setelah Nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar dan Nabi Ismail mulai merasa lapar dan haus. Bekal yang ditinggalkan pun sudah habis. Karena tidak tega melihat anaknya kehausan dan kelaparan, Siti Hajar memutuskan untuk mencari air atau makanan. Beliau pun berlari menuju Bukit Shafa, tapi saat sampai di sana, beliau tidak menemukan apa-apa.

Sayyidah Hajar lalu turun menuju Bukit Marwah, tapi tetap tidak menemukan makanan atau minuman. Ia pun kembali ke Bukit Shafa, lalu ke Bukit Marwah lagi. Begitu terus hingga tujuh kali. Perjalanan bolak-balik Sayyidah Hajar antara Bukit Shafa dan Marwah ini kini menjadi bagian dari ibadah haji, yaitu sa’i.

Saat berada di Bukit Marwah, Sayyidah Hajar tiba-tiba mendengar suara. Awalnya ia mengira itu hanya suara dari pikirannya karena kelelahan. Namun suara itu terdengar lagi dan lagi. Ia pun sadar bahwa itu memang suara sungguhan. Ia segera kembali ke tempat Nabi Ismail.

Sesampainya di sana, Nabi Ismail sedang menangis dan menghentakkan kakinya ke tanah. Dari hentakan itu, tiba-tiba muncul air dari dalam tanah. Siti Hajar berkata, “berkumpullah,” yang dalam bahasa Arab disebut “zam-zam.” Ia pun minum air itu dan menyusui anaknya kembali. Setelah itu, malaikat datang dan berkata kepadanya:

لَا تَخَافُوا الضَّيْعَةَ فَإِنَّ هَا هُنَا بَيْتَ اللَّهِ يَبْنِي هَذَا الْغُلَامُ وَأَبُوهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَهْلَهُ

Artinya:”Janganlah kamu takut diterlantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

Secara implisit, shirah Sayyida Hajar yang sedang berjuang di tengah gurun pasir sebetulnya sedang melakukan noble silence. Sayyida Hajar hanya seorang diri dan bersama Ismail di tengah gurun yang sunyi, panas, dan tandus.

Dalam keheningan tersebut, Sayyida Hajar selalu mempercayakan seluruhnya kepada Allah. Dalam kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa dalam kesulitan apapun, kita tetap dapat merefleksikan keimanan. Bahkan, melalui noble silence yang Sayyidah Hajar lakukan, Allah menolong keduanya dengan munculnya air zam-zam sesuai dengan kehendak-Nya.

Sayyidah Asiyah binti Muzahim: Noble Silence di antara Empat Tiang 

Dari beberapa shirah tokoh perempuan muslim, kisah mengenai Sayyidah Asiyah binti Muzahim menjadi kisah yang paling menarik untuk kita refleksikan. Sayyidah Asiyah binti Muzahim merupakan istri dari Fir’aun, seorang Raja Mesir. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Sayyidah Asiyah yang selanjutnya akrab sebagai Ummu Musa merupakan perempuan yang menemukan bayi Musa saat diatas aliran sungai. 

Dari Sayyidah Asiyah lah kemudian bayi Musa diangkat sebagai anak meskipun saat itu Fir’aun sedang gencar membunuh bayi yang terlahir sebagai laki-laki. Dalam kitab ‘Uqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan kisah awal keimanan Asiyah, istri Fir’aun.

Beliau mulai percaya setelah menyaksikan Nabi Musa berhasil mengalahkan para tukang sihir yang merupakan utusan Fir’aun. Saat itu, Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan menantang Nabi Musa untuk menunjukkan siapa yang benar.

Sayyidah Asiyah yang melihat langsung kejadian itu tersentuh hatinya. Beliau yakin dengan ajaran Nabi Musa karena mukjizat terlihat jelas dan kebenaran mengalahkan kebatilan. Beliau pun mantap memilih untuk beriman.

Namun, Fir’aun sangat marah atas keputusan istrinya. Beliau menghukum Asiyah dengan mengikat tangan dan kakinya di empat tiang, lalu membiarkannya di bawah terik matahari. Fir’aun dan para pengikutnya pergi, meninggalkan Asiyah sendirian di pasir yang panas.

Penderitaan Asiyah belum berakhir. Fir’aun memerintahkan pengawalnya untuk melemparkan batu besar ke tubuhnya. Dalam keadaan sangat sakit, Asiyah berdoa yang tertulis dalam Al-Qur’an surah At-Tahrim ayat 11 yang berbunyi:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Artinya: “Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

Allah pun memperlihatkan kepadanya rumah indah dari marmer putih. Tak lama kemudian, nyawanya Allah cabut dengan tenang sebelum batu besar itu mengenainya, sehingga beliau tidak merasakan sakit. 

Jika kita berefleksi melalui shirah tersebut, Allah menyelamatkan Sayyidah Asiyah saat akan dihujam oleh batu. Pada saat-saat terakhir, Sayyidah Asiyah menyempatkan untuk hening sesaat memohon bantuan kepada Allah. Pada saat itulah Allah menolong Sayyidah Asiyah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam keheningan, Allah mendengarkan kita.

Sayyidah Maryam binti Imran: Noble Silence dalam Mihrab Mulia

Kisah Sayyidah Maryam binti Imran juga menjadi kisah tokoh perempuan muslim yang Allah muliakan. Nama Maryam sendiri menjadi satu-satunya nama perempuan yang abadi dalam surah Al-Qur’an. Dalam surah Maryam ayat 16, Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مَرْيَمَۘ اِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ اَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّاۙ

Artinya: “Ceritakanlah (Nabi Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis).”

Dalam tafsir tahlili, Al-Qur’an menjelaskan bahwa Maryam ibunda Nabi Isa menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat yang berada di sebelah timur Baitul Maqdis untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadat kepada Allah. Maryam ingin melepaskan diri dari rutinitas kegiatan hidup sehari-hari.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّاۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًاۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَاۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” ali 

Dalam tafsir tahlili, Allah menerima Maryam sebagai nazar sebab permohonan ibunya. Allah meridainya untuk menjadi orang yang semata-mata beribadah dan barkhidmat di Baitul Maqdis walaupun Maryam masih kecil dan hanya seorang perempuan. Padahal orang yang khusus berkhidmat di Baitul Maqdis biasanya laki-laki yang akil balig dan sanggup melaksanakan pengkhidmatan. Allah juga memelihara dan mendidiknya serta mem-besarkannya dengan sebaik-baiknya. 

Manakala Sayyidah Maryam sudah mulai dewasa, dia telah mulai beribadah di mihrab. Tiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab, ia dapati di sana makanan dan bermacam buah-buahan yang tidak ada pada waktu itu karena belum datang musimnya. Nabi Zakaria pernah menanyakan kepada beliau tentang buah-buahan itu dari mana dia peroleh padahal saat itu musim kemarau. Maka beliau menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang Allah kehendaki tanpa perhitungan.”

Sebetulnya, di dalam mihrab itulah Sayyidah Maryam menjalani noble silence. Beliau tidak banyak bicara, namun ibadah dan keyakinannya terus menguat. Begitu pula sewaktu beliau memilih berpuasa berbicara setelah melahirkan bayi Isa atas perintah Allah. Sayyidah Maryam telah melakukan Noble silence.

Refleksi Noble Silence dalam Al-Qur’an

Melalui tiga tokoh perempuan agung dalam shirah nabawiyah, Al-Qur’an menghadirkan narasi tentang Noble Silence yang sarat makna spiritual. Ketiganya menunjukkan bahwa dalam sunyi yang mereka jalani, ada dialog batin yang sangat dalam dengan Allah. Al-Qur’an menjelaskan bahwa dalam diam pun, Allah bisa meninggikan derajat hamba-Nya. Noble silence menjadi jalan sunyi, namun penuh cahaya untuk mencapai keridhaan-Nya.

Wallahu a’lam bish shawab. []

Tags: islamKeheninganNoble SilencesejarahSirah NabawiyahSunah Nabi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Benarkah Ruang Domestik Menjadi Ruang Khusus Bagi Perempuan?

Next Post

Keadilan sebagai Prinsip dalam Islam

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Perempuan Sumber Fitnah
Pernak-pernik

Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

16 Februari 2026
Valentine Bukan Budaya Kita
Personal

Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

14 Februari 2026
Konsep Keluarga
Pernak-pernik

Konsep Keluarga dalam Islam

13 Februari 2026
Kehilangan Tak Pernah Mudah
Personal

Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

11 Februari 2026
Teologi Sunni
Buku

Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?

9 Februari 2026
Antara Non-Muslim
Pernak-pernik

Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

5 Februari 2026
Next Post
Keadilan

Keadilan sebagai Prinsip dalam Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang
  • Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?
  • Strategi Dakwah Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0