Rabu, 28 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

My Lecturer Husband: Perjodohan yang Mengingkari Realitas

Tema perjodohan dalam drama ini seolah-olah mengingkari kultur patriarki yang masih membelenggu kaum perempuan dalam masyarakat kita.

Cut Novita Srikandi by Cut Novita Srikandi
8 Februari 2023
in Film, Rekomendasi
A A
0
Perjodohan

Perjodohan

573
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saya masih sulit membayangkan bahwa di zaman ini masih ada pernikahan yang dilatarbelakangi oleh perjodohan. Menurut saya, di zaman yang dipenuhi dengan kecanggihan teknologi dan keterbukaan informasi seperti sekarang, perjodohan tak lagi relevan.

Setiap orang di zaman ini memiliki kemudahan akses untuk menentukan dan menyuarakan pilihan, termasuk memilih pasangan hidup.  Pernyataan seperti, “Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!” atau “memangnya saya Siti Nurbaya!”, kerap muncul untuk menyuarakan ketidaksetujuan orang-orang terhadap praktik perjodohan.

Namun, setelah saya menonton My Lecturer Husband, saya heran dan jadi bertanya-tanya. Kok masih ada drama percintaan ala milenial yang mengusung tema perjodohan? Realitas perjodohan seperti apa yang ditampilkan di dalamnya? Didorong rasa penasaran, akhirnya saya putuskan untuk menonton episode demi episode drama yang satu ini.

My Lecturer Husband adalah serial drama-web Indonesia terbaru yang memiliki banyak sekali penggemar. Drama ini memang berbeda dan lebih ‘berkelas’ dibandingkan drama lainnya karena dibintangi aktor papan atas, Reza Rahardian. Seperti opera sabun lainnya di Indonesia, My Lecturer Husband juga menawarkan kisah yang berbelit-belit dengan lakon yang sentimental tetapi dihiasi banyak sekali unsur komedi.

Inggit, nama tokoh utama drama ini, merupakan seorang mahasiswi yang pada awalnya hidup normal seperti remaja seusianya. Ia cantik, ceria, dan tergolong pintar. Ia memiliki pacar yang selalu menyemangatinya dan ia juga memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya.

Selain sebagai mahasiswi, Inggit juga bekerja paruh waktu pada sebuah kafe sebagai barista. Kehidupan Inggit berjalan mulus sampai pada suatu hari ibunya menyuruh Inggit pulang ke kampung halamannya, yakni Yogyakarta karena sang ayah sedang sakit.

Sesampainya Inggit di Yogyakarta, sang ayah memberikan permintaan yang menurut Inggit sendiri tidak masuk akal. Ayah yang sedang sakit malah menyuruh Inggit untuk menemui seseorang yang akan menjadi suaminya. Demi memenuhi permintaan sang ayah yang sedang sakit, Inggit pun menemui laki-laki yang akan dijodohkan dengan dirinya. Alangkah terkejutnya Inggit, laki-laki itu adalah dosen killer yang sangat ia benci di kampus.

Inggit digambarkan berasal dari keluarga Jawa tulen. Hal ini dapat ditinjau melalui aksen Jawa kental saat dialog kedua orang tuanya. Selain itu, setting dan perabotan rumah orang tuanya dibuat semirip mungkin dengan nuansa Jawa. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam masyarakat Jawa, pemilihan jodoh dan perkawinan menjadi urusan  orang tua.

Oleh karenanya, bukan tanpa alasan, tokoh Inggit dalam My Lecturer Husband digambarkan tidak dapat menolak permintaan sang Ayah. Hal ini sebagai bentuk dari pengabdian dan kepatuhannya kepada orang tua sesuai dengan kultur masyarakat Jawa.

Praktik perjodohan memang telah mengakar kuat dalam kultur masyarakat kita. Perjodohan merupakan pemilihan calon istri-suami yang ditentukan oleh kuasa pihak-pihak tertentu seperti orang tua atau kerabat yang dituakan sesuai dengan nilai-nilai tradisi yang dipegang.

Perjodohan banyak diusung menjadi tema utama di dalam berbagai produk budaya popular, seperti novel, film, bahkan lagu. Novel-novel terbitan jadul banyak membahas tentang praktik perjodohan. Sitti Nurbaya misalnya, yang merupakan novel fenomenal bertemakan perjodohan karya Marah Rusli. Bahkan tokoh Sitti Nurbaya sering diasosiasikan dengan perempuan yang menjadi korban dari praktik perjodohan yang dilakukan orang tuanya.

Novel lain yang membicarakan tentang perjodohan adalah novel-novel karya Buya Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijk yang juga menggambarkan tragedi yang dialami tokoh utama akibat perjodohan. Kedua novel tersebut sama-sama membicarakan tentang kultur masyarakat Minang Kabau pada saat itu dalam melaksanakan praktik perjodohan. Kesamaan antara kedua novel fenomenal di atas adalah kegagalan dan kemalangan yang dialami oleh tokoh utamanya karena perjodohan.

Namun, berbeda dengan dua novel yang telah saya baca tentang perjodohan di atas, my Lecturer Husband bukan berisi tentang tragedi yang diakibatkan oleh perjodohan. Menonton tema perjodohan dalam My Lecturer Husband membawa kita dalam suasana ceria, riang, dan happy. Seolah tidak ada masalah dan kendala terkait perjodohan yang dialami tokoh utama. Semuanya tampak sempurna dalam setiap framing  penceritaannya.

Inggit yang masih belasan tahun dijodohkan dengan seorang dosen muda yang tampan dan baik hati. Meski pada awalnya ia tidak suka karena rasa cintanya pada sang pacar, namun lama kelamaan Inggrit mulai menaruh perasaan pada suami pilihan orang tuanya. Konflik yang disajikan dalam setiap episodenya juga cenderung monoton. Hanya seputaran perasaan Inggit yang plin plan memilih antara suami dan pacarnya.

Sang suami pun selalu menjadi pihak yang dapat menolong dan mengatasi konflik batin yang dialami Inggit. Semua begitu sempurna dan ringan. Tidak tampak adanya kemalangan ataupun kesedihan mendalam seperti novel-novel sebelumnya tentang perjodohan yang telah saya baca.

My Lecturer Husband sepertinya ingin mengusung tema perjodohan ala ‘zaman now’. Jika selama ini praktik perjodohan merupakan ‘momok’ bagi sebagian anak muda, maka berbeda dengan yang diusung drama yang satu ini. My Lecturer Husband menawarkan mimpi-mimpi perjodohan yang happy ending.

Tema perjodohan dalam drama ini seolah-olah mengingkari kultur patriarki yang masih membelenggu kaum perempuan dalam masyarakat kita. Padahal perjodohan sangat dipengaruhi oleh kepentingan di dalamnya, terkadang kepentingan orang tua jauh lebih besar dari si anak. Sehingga yang  terjadi adalah banyak ketidakadilan yang terjadi dalam praktek perjodohan.

Perempuan adalah pihak yang paling banyak dirugikan saat melakukan perkawinan yang didasarkan perjodohan. Perempuan terpaksa menikah dengan laki-laki  yang tidak ia kenal. Ia harus menjadi istri bagi laki-laki yang asing baginya.

Hal ini berdampak pada kehidupan rumah tangganya kelak. Tidak jarang terjadi percekcokan, perselingkuhan, bahkan KDRT dalam rumah tangga. Dan lagi-lagi dalam kultur patriarki, perempuanlah pihak yang harus ‘manut’ dan dipersalahkan atas kegagalan rumah tangga.

Maka, menurut hemat saya, perjodohan dalam realitas masyarakat tak seindah dalam My Lecturer Husband. Sudah semestinya produk budaya zaman sekarang lebih vokal untuk menyuarakan kultur patriarki yang cenderung tidak adil gender dalam masyarakat. Novel-novelnya Marah Rusli dan Hamka saja sudah berani lantang dalam mengkritisi patriarki, mengapa sekarang malah ‘manut’? []

Tags: dramaFilmMy Lecturer HusbandPerjodohanResensi FilmSinetronTradisi Jawa

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
This work is licensed under CC BY-ND 4.0
Cut Novita Srikandi

Cut Novita Srikandi

Alumni Women Writers Conference Mubadalah tahun 2019, Dosen dan Peneliti Sastra

Related Posts

Tokenisme
Publik

Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

10 Januari 2026
Perjodohan
Keluarga

Ibnu Al-Qayyim Menolak Perjodohan

1 Desember 2025
kitab Dha’ul Misbah
Keluarga

Tradisi Perjodohan: Mengurai Pesan Etika Kiai Hasyim dalam Kitab Dha’ul Misbah

25 November 2025
Film Girl in The Basement
Film

Kekerasan dalam Film Girl in The Basement

14 September 2025
Malam Tirakatan
Publik

Malam Tirakatan Ruang Renungan dan Kebersamaan Menyambut Kemerdekaan

17 Agustus 2025
Film Cocote Tonggo
Film

Budaya Gosip dan Stigma atas Perempuan dalam Film Cocote Tonggo (2025)

28 Mei 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kerja Perempuan Bernilai Sedekah
  • Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam
  • Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0