Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah

Puncak Intelektual Seorang Muslim

Ulama adalah keheningan mutlak. Sisiri jarak. Keagungan akhlak. Suaranya, adalah air wudhu semesta. Ilmunya adalah rahasia alif ba ta tsa —Fauz Noor, Berpikir Seperti Nabi

Rizki Eka Kurniawan by Rizki Eka Kurniawan
8 Maret 2021
in Khazanah, Personal
A A
0
Puncak Intelektual

Puncak Intelektual

16
SHARES
792
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Seorang pembelajar (muriddin) ketika telah mencapai puncak intelektual, maka ia akan mendapati dua pilihan—pilihan pertama, menaruh kepalanya tepat berada di bawah telapak kakinya, sebagaimana kata Rumi: “Tangga menuju langit adalah kepalamu, maka letakkan kakimu di atas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu.”

Pilihan kedua dari puncak intelektual seorang manusia yakni, menaruh kepalanya pada kedudukan yang tertinggi dan menjadi sombong, angkuh dan merasa telah menguasai segalanya, layaknya Nimrod yang membangun menara babel untuk menentang Tuhan sehingga ia akhirnya binasa.

Pikiran memang berada di dalam kepala, dan kepala letaknya paling atas di antara anggota tubuh lainnya. Tapi meskipun kedudukannya secara fisik ada di atas, sejatinya pikiran hanya kaki bagi hati untuk berjalan menuju kesempurnaan. Kedudukan pikiran tidak boleh lebih tinggi dari hati.

Perumpamaan puncak intelektual seperti sebuah koin emas yang ditaruh di bawah koin logam, meskipun koin emas berada di bawahnya tapi koin emas tetap lebih bernilai daripada logam biasa dan kedudukan koin emas tetap lebih tinggi darinya. Berada di atas ataupun di bawah tak akan mempengaruhi nilai dan kedudukan koin emas.

Syeh Abdul Qodir Al-Jailani pernah berkata: “Aku lebih menghargai orang-orang yang beradab daripada yang berilmu. Kalau hanya berilmu, Iblis-Iblis pun lebih tinggi ilmunya dibandingkan manusia.”

Dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah Jilid 12, Ibnu Arabi menulis “Berhati-hatilah agar kamu tidak bersikap sombong atau tinggi hati di muka bumi. Biasakanlah bersikap rendah hati. Jika Allah meninggikan kata-katamu, maka sebenarnya tidak ada yang lebih tinggi kecuali Al-Haqq (Allah). Jika Dia menganugerahkan kepadamu ketinggian di dalam hati mahluk-Nya, maka hal itu kembali pada-Nya. Kerendahan hati, kehinaan, dan ketidakberdayaan melekat pada dirimu. Karena kamu berasal dari tanah. Jangan merasa lebih tinggi dari tanah. Karena tanah adalah ibumu, siapa yang sombong dan angkuh kepada ibunya dia telah durhaka.”

Ini menjelaskan bahwa puncak intelektual dari seorang muslim dalam memahami ilmu bukanlah tujuan utama di kehidupan, ilmu hanyalah sarana untuk manusia bisa menyempurnakan ahlak. Semakin sempurna ilmunya maka seharusnya semakin sempurna akhlaknya. Orang berakhlak sudah tentu berilmu tapi orang berilmu belum tentu berahlak.

Rasionalitas, realisme, naturalisme, empirisme apapun yang melibatkan akal sehat (common-sense explanation) dan membuahkan sebuah pemikiran jika dijalankan tanpa moralitas itu bahaya. Buku The Prince karya Machiaveli memang sangat rasional jika diterapkan secara praktis untuk kepemimpinan sehingga bisa melahirkan pemimpin besar seperti Napoleon, Stalin, Hitler, dan Benito Mussolini.

Namun apa yang dikatakan oleh Dalam The Prince karya Machiaveli hanya tentang rasionalitas tanpa disertai moralitas, tak heran ada banyak darah yang mengalir di tangan pemimpin besar dunia yang menjadikan buku ini sebagi pedoman dalam kepemimpinannya.

Meskipun Napoleon lebih bijak dalam menerapkan buku ini sehingga ia tidak menjadi pemimpin yang brutal tapi empat abad kemudian para pemimpin yang membaca buku ini seperti Hitler mempelopori PD II yang membunuh puluhan juta orang. Musolini berkoalisi dengan Hitler, sementara Stalin membunuh jutaan rakyatnya.

Jadi tidak semua yang masuk akal itu benar dan tidak semua yang kamu anggap benar itu baik. Moralitas atau etika itu sangat penting dalam puncak intelektual seseorang untuk merumuskan suatu pemikiran. Baik Adam Smith, Karl Marx dan Max Webber ketika membuat buku tentang ekonomi mereka tak sekedar berbicara mengenai teori-teori ekonomi yang sifatnya praktis dan pragmatis.

Namun mereka juga membumbui bukunya dengan pembahasan mengenai filsafat etika. Bahkan Max Webber sangat menekankan etika dalam karya sehingga ia menamai bukunya dengan judul The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

Filsuf besar Yunani  Aristoteles  sangat menekankan epirisme dan realisme, juga memiliki perhatian besar terhadap etika, bahkan ia menulis salah satu buku khusus membahas tentang etika yang sekarang lebih kita kenal dengan judul “Etika Nikomakea”. Salah satu mottonya yang paling terkenal adalah “Menjadi orang baik itu baik”

Menurut Aristoteles tujuan dari adanya etika dalam puncak intelektual, adalah agar bisa merasakan kenyamanan dan kebahagiaan (eudamonisme). Tindakan berbuat baik akan membuat seseorang menjadi lebih baik dan membangun watak yang lebih baik pula. Di al-Qur’an dijelaskan dalam QS. Al-An’am 6: Ayat 160

مَنْ جَآءَ بِا لْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَا لِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِا لسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰۤى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

mang jaaa`a bil-hasanati fa lahuu ‘asyru amsaalihaa, wa mang jaaa`a bis-sayyi`ati fa laa yujzaaa illaa mislahaa wa hum laa yuzhlamuun

“Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).”

هَلْ جَزَآءُ الْاِ حْسَا نِ اِلَّا الْاِ حْسَا نُ ۚ

hal jazaaa`ul-ihsaani illal-ihsaan

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 60)

Di al-Qur’an kita akan menemukan banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik.

KH. Husein Muhammad pernah bercerita tentang Khalifah Al-Ma’mun yang bertemu dengan Aristoteles di dalam mimpinya, sekiranya begini:

Khalifah Abasiah Al-Makmun bin Harun al-Rasyid bertemu dalam mimpi seseorang berkulit putih, berambut merah, berdahi lebar, alisnya tebal menyatu, berkepala botak, bermata biru dan perangainya bagus. Dia sedang duduk di atas permadani, di hadapanku dia sangat berwibawa.

Aku bertanya : “Siapakah anda?” Dia menjawab : “Aku Aristo (Aristoteles)”. Aku senang. Lalu aku berkata:”Wahai sang bijak bestari; “apakah aku boleh bertanya? Dia menjawab : “Silakan, dengan senang hati”. Apakah baik itu?” Dia menjawab : “Apa yang dipandang baik oleh akal” Lalu? “Apa yang dipandang baik oleh aturan agama”. Lalu? “Apa yang dipandang baik oleh mayoritas”. Lalu? “Tidak ada lagi dan tidak ada lagi.”

Di sini bisa kita pahami bahwa tolak ukur suatu tindakan bisa dikatakan sebagai kebaikan ada tiga, yaitu kebaikan yang baik dipandang oleh akal, kebaikan yang dipandang baik oleh agama, dan kebaikan yang dipandang baik oleh semua orang.

Ketiga tolak ukur puncak intelektual tersebut tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, semuanya terikat dan saling melengkapi. Suatu kebaikan yang dipandang baik oleh akal jika bertentangan dengan agama tak akan bisa disebut kebaikan. Karena, kebaikan yang dipandang oleh akal manusia barulah berupa spekulasi, hasil dari penalarannya terhadap realita.

Itu mengapa kebaikan akal harus selaras dengan kebaikan agama. Kebenaran Tuhan yang ada dalam ajaran agama adalah pembanding utama untuk seorang mengoreksi pemikirannya. Dan sesuatu yang baik dipandang oleh agama harus bersifat universal, menyeluruh kepada semua mahluk.

Karena sifat dasar agama adalah rahmatal lil alamin (ramat bagi seluruh alam) maka kebaikan-kebaikan yang dipandang baik oleh agama niscaya harus baik kepada semua pihak. Jika kebaikan yang dipandang oleh agama menimbulkan kerugian di salah satu pihak kemungkinan besar ada yang salah dalam pemaknaannya.

Ibnu Rasyd menawarkan motode takwil untuk memaknai kebenaran Tuhan yang dimuat dalam lembaran-lembaran teks kitab suci, menurutnya kitab suci seperti al-Qur’an memiliki keaneragaman makna secara lahiriah maupun batiniah sesuai dengan kapasitas kemampuan dan perbedaan bakat pembacanya.

Setiap orang bisa menghidupkan makna al-Qur’an sesuai versinya, itu mengapa metode takwil ditawarkan agar ada kesadaran akan keberagaman makna dalam al-Qur’an, sehingga para pembacanya bisa saling membuat interpretasi untuk memkompromikan pertentangan makna.

Selain itu al-Qur’an juga memiliki sifat yang sangat persuasif dan mampu diterima oleh semua orang. Akan lebih baik lagi jika sekiranya dalam memaknai al-Qur’an kita mempunyai semacam double movement (gerakan ganda) yaitu merumuskan visi al-Qur’an yang utuh kemudian menerapkan prinsip umum tersebut dalam situasi sekarang.

Maka, Itu sebabnya puncak intelektual seorang pembelajar (muridin) harus bisa menyeleksi kebaikan secara selektif. Akalnya harus selalu aktif sebelum melakukan tindakan. Hingga akhirnya ia bisa memilih salah satu dari kedua pilihan tersebut dengan benar. []

 

 

 

 

Tags: CendekiawanFilosofisIlmu PengetahuanIlmuwan MuslimpemikiranTokoh Inspiratif
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Merebut Tafsir: Nilai Pakaian Perempuan

Next Post

Pernikahan Beda Agama, Bolehkah?

Rizki Eka Kurniawan

Rizki Eka Kurniawan

Lahir di Tegal. Seorang Pembelajar Psikoanalisis dan Filsafat Islam

Related Posts

Konferensi Pemikiran Gus Dur
Aktual

Merawat Warisan Gus Dur: Konferensi Pemikiran Pertama Digelar Bersama TUNAS GUSDURian

20 Agustus 2025
Sejarah Perempuan dan
Hikmah

Mengapa Sejarah Ulama, Guru, dan Cendekiawan Perempuan Sengaja Dihapus Sejarah?

17 Juli 2025
Seksualitas Perempuan
Pernak-pernik

Membongkar Konstruksi Seksualitas Perempuan dalam Pemikiran Keagamaan

23 Juni 2025
Kekerasan Seksual di Dunia Akademik
Publik

Refleksi Filosofis atas Kekerasan Seksual di Dunia Akademik

18 April 2025
Menulis
Pernak-pernik

Menulis, Sebuah Pilihan Bagi Kita yang Bukan Anak Raja atau Anak Ulama Besar

21 Februari 2025
Riba
Personal

Menyingkap Pemikiran KH. Marzuki Wahid tentang Riba dalam Musyawarah Taqrib

17 Januari 2025
Next Post
Pernikahan Beda Agama

Pernikahan Beda Agama, Bolehkah?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang
  • Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?
  • Strategi Dakwah Mubadalah
  • Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi
  • Dakwah Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0