Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Konflik Agraria: Membaca Kembali Kasus Salim Kancil hingga Raja Ampat

Tragedi Salim Kancil berhasil menjadi salah satu bukti kegagalan negara dalam menjamin hak hidup rakyatnya.

intanhandita by intanhandita
29 September 2025
in Publik
A A
0
Konflik Agraria

Konflik Agraria

22
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Indonesia adalah negeri yang kaya dengan tanah dan sumber daya alamnya. Namun, ironisnya kasus agraria menjadi kasus serius yang cukup menghantui di Indonesia. Fakta ini menjadi luka yang tak kunjung sembuh. Dari Jawa hingga tanah Papua, kesuburan tanahnya terjarah, dirusak kemudian ditinggal begitu saja tanpa memberi kejelasan dan menyisakan pertanyaan. “Siapa yang bertanggungjawab akan kerusakan alam ini?”.

Bahkan, petani hingga masyarakat adat sudah menjelma menjadi suara-suara yang melawan. Namun, hasil nyatanya adalah suara perlawanan tersebut menyisakan senyap karena terbungkam. Ruang hidup mereka terampas dan kita saat ini hidup di tengah konflik agraria yang semakin memanjang dan memanas.

Data konflik agraria di Indonesia, menunjukkan angka yang terus naik tiap tahunnya. Hal ini diperkuat dengan data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang mencatat bahwa terdapat 241 kasus pada tahun 2023. Lalu pada tahun 2024 meningkat menjadi 295 kasus. Sektor yang paling banyak memicu konflik adalah perkebunan (terutama sawit), pertambangan, dan proyek pembangunan infrastruktur nasional (PSN).

Dampaknya sangat luas, melibatkan jutaan hektare lahan dan ratusan ribu kepala keluarga. Selain itu sering disertai dengan kekerasan, kriminalisasi, dan bahkan pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat. Salah satu pelanggaran hak asasi manusia terbesar dalam konflik agraria di sejarah Indonesia berasal dari kota kecil di Jawa Timur, Lumajang. Kasus tersebut dikenal dengan nama kasus Salim Kancil yang terjadi pada tahun 2015 silam.

Kasus Salim Kancil dan Simbol Perlawananan Warga

Tahun 2015, nama Salim Kancil mencuat di media nasional, bahkan hingga media internasional juga turut meliputnya. Ia bukanlah seorang politikus, bukan pula aktivis besar. Ia tidak punya pengikut, tidak punya panggung politik, tidak bersenjata, tidak pula memegang jabatan dan kekuasaan di pemerintahan. Ia hanya seorang petani kecil yang hidupnya bergantung pada tanah dan sawah. Ia terbunuh karena dua hal, pertama terlalu berani dan kedua, benar. Ia terbunuh karena benar.

Salim Kancil meregang nyawa di tangan para suruhan kepala desanya sendiri, karena ia menolak adanya pertambangan pasir ilegal di desanya. Keyakinan bahwa tanah adalah sebuah kehidupan, yang berarti membela tanah adalah sebuah upaya membela masa depan anak cucu.

Kronologi kejadian yang memilukan tersebut terjadi pada 26 September 2015 pada pagi hari. Bertempat di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Sebelum Salim Kancil terbungkam dengan dibunuh, dia terkenal sebagai sosok yang keras dan tak kenal menyerah. Perjuangannya baru berhenti saat dia terbunuh oleh sekelompok orang di Balai Desa Selok Awar-Awar.

Aksi Salim sebenarnya sudah terhalangi termasuk oleh istrinya sendiri, tetapi dia bersikeras menentang penambangan pasir yang ia khawatirkan merusak kelestarian alam. Sehari-hari, Salim adalah petani yang sekaligus menjadi pemilik lahan sekitar lokasi penambangan di pesisir pantai selatan Watu Pecak.

Hingga pada suatu hari, Salim mendapati 8 petak lahannya hancur akibat tambang pasir ilegal. Salim menduga tambang tersebut terkelola oleh tim 12 yang merupakan mantan tim kampanye kepala desa mereka, Haryono, yang di kemudian hari terseret dalam perkara ini.

Beralih Profesi Menjadi Nelayan

Salim yang menjadi tulang punggung keluarga kebingungan. Ia bingung lantaran lahan pertanian sebagai mata pencaharian sudah tidak dapat ia harapkan kembali untuk menghidupi keluarganya. Sehingga penghasilannya semakin menurun drastis. Untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya Salim memutuskan beralih profesi menjadi nelayan.

Sadar bahwa ia tak mungkin bertahan hanya dengan menjadi nelayan dadakan, Salim pun mulai mengunjungi rumah teman-temannya di malam hari. Dia berhasil merekrut lima orang warga. Dari situlah perlawanan ia mulai secara diam-diam karena khawatir aktivitas mereka diketahui oleh Tim 12.

Salim mulai aktif, dan rajin surat-menyurat dengan pihak keamanan, pemerintah kabupaten, provinsi, sampai ke Jakarta. Tujuannya bulat, dia memperjuangan hak hidup sebagai warga negara Indonesia, apalagi apa yang menimpa dia juga sama dengan warga pemilih lahan di lokasi tambang ilegal.

Perlawanan Salim yang semakin nyata membuat penambang ilegal yang ‘diamankan’ oleh tim 12 mulai gusar. Ancaman dan intimidasi pada Salim pun mulai berdatangan. Bahkan di pertengahan bulan Ramadan tahun itu, salah satu pimpinan mantan tim 12 yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Desir, mendatangi rumah Salim.

Khawatir dengan keselamatan suaminya, istrinya kemudian meminta Salim untuk berhenti memperjuangkan lahan pertanian yang dirusak tambang. Namun, semangat untuk memperjuangkan hak hidup dan menolak tambang justru semakin membesar. Kemudian Salim Kancil melaporkan intimidasi dan ancaman pada petani yang menolak tambang ke Kepolisian Sektor Pasirian. Kemudian ia teruskan ke Kepolisian Resor Lumajang, tetapi tidak ada tindakan.

Gerakan Advokasi

Melansir dari Wikipedia, kronologi lengkap peristiwa tragis tersebut bermula dari nihilnya tanggapan aparat Kepolisian Resor Lumajang yang kemudian mendorong Salim untuk membentuk sebuah Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar yang terdiri dari 12 warga. Yakni Salim Kancil, Tosan, Iksan Sumar, Ansori, Sapari, Abdul Hamid, Turiman, Muhammad Hariyadi, Rosyid, Mohammad Imam, Ridwan dan Cokrowidodo.

Mereka mulai melakukan gerakan advokasi protes perihal penambangan pasir yang mengakibatkan rusaknya lingkungan di desa Selok Awar-awar. Yaitu dengan cara bersurat kepada Pemerintahan Desa Selok Awar-Awar, Pemerintahan Kecamatan Pasirian bahkan kepada Pemerintahan Kabupaten Lumajang. Kemudian, pada Juni, kelompok ini menyurati Bupati Lumajang As’at Malik untuk meminta audiensi tentang penolakan tambang pasir, tapi tidak mendapatkan tanggapan.

Pada 9 September 2015, FORUM melakukan aksi damai dengan cara memberhentikan aktivitas penambangan pasir dan truk muatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar. Lalu menghasilkan surat pernyataan dari Kepala desa Selok Awar-Awar untuk menghentikan penambangan pasir.

Pada hari yang sama, Salim dan warga yang menolak tambang pasir tersebut mengaku mendapat ancaman pembunuhan. Menurut mereka pengirimnya adalah tim 12 yang diketuai Desir. Warga melaporkannya kepada aparat, tapi sekali lagi, tidak mendapatkan tanggapan.

Kemudian pada 25 September 2015, FORUM merencanakan aksi penolakan tambang pasir di hari Sabtu, 26 September pukul 07:30 pagi. Pada 26 September 2015, Tosan, rekan Salim, mulai aksi pada pukul 07:00 dengan menyebar selebaran aksi damai tolak tambang di depan rumahnya bersama Imam.

Kemudian ada satu orang yang melintas dan membaca selebaran tersebut sambil memarahi Tosan dan Imam. Enam puluh menit kemudian, banyak orang mendatangi rumahnya. Salim diseret ke Balai Desa dan teraniaya hingga meninggal dunia.

Vonis Pembunuhan Salim Kancil

Dua orang pelaku utama pembunuhan Salim Kancil telah divonis bersalah dengan hukuman 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis 23 Juni 2016. Mantan Kepala Desa Selok Awar-awar, kecamatan Pasirian, kabupaten Lumajang, Jatim, Hariyono dan Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat, Mat Dasir dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan secara berencana.

Atas putusan tersebut, tim kuasa hukum dari Salim Kancil menilai ada upaya untuk menyederhanakan kasus pembunuhan terhadap Salim dan penganiayaan terhadap rekannya, Tosan. Hal ini terbukti melalui dakwaan yang dikenakan terhadap para tersangka hanya terjerat dengan pembunuhan biasa, bukan pembunuhan berencana.

Padahal pembunuhan terhadap Salim dan penganiayaan terhadap Tosan harus dilihat sebagai rangkaian panjang perlawanan keduanya terhadap praktik mafia tambang pasir ilegal di Lumajang. Selain itu, jika terlihat dari jumlah terdakwa yang Polda Jawa Timur tetapkan  hanya 35 orang yang terbagi dalam 15 berkas perkara sidang. Pihak tim kuasa hukum juga sudah melaporkan keterlibatan 13 orang yang masih bebas kepada Polda Jawa Timur bahkan ke Mabes Polri.

Peristiwa Salim Kancil tersebut berhasil melahirkan banyak gerakan solidaritas yang hingga kini mengatasnamakan keadilan untuk Salim Kancil, melalui petisi, gerakan massa, dan penyebaran poster melalui berbagai media. Mereka menuntut diadilinya orang-orang yang harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Salim Kancil. Namun, sayangnya peristiwa tragis Salim Kancil tidak cukup berhasil membangun ketakutan untuk merusak dan menjarah alam.

Hari ini di tempat yang kita juluki sebagai surga terakhir dunia milik Indonesia, Raja Ampat, yang bertempat di Papua Barat, masyarakat adatnya tengah terancam oleh ekspansi tambang, perkebunan, dan proyek-proyek yang sering kali datang tanpa persetujuan masyarakat lokal.

Wilayah yang seharusnya kita jaga karena nilai ekologis dan kulturalnya, justru diincar untuk tereksploitasi. Bahkan, masyarakat adat Papua kerap menghadapi kriminalisasi saat mereka menolak ekspansi tambang yang merusak tanah kelahiran mereka.

Darurat Konflik Agraria hingga Dalih Upaya Perluasan Lahan Pertanian

Konflik Agraria di Indonesia dalam kurun lima tahun terakhir terus meningkat. Sejumlah konflik pertanahan tersebut berkaitan erat dengan upaya perluasan lahan pertanian. Indonesia yang berangan-angan menjadi negara berdaulat di sektor pangan nyatanya tidak luput dari masalah yang justru dinilai merugikan bagi sebagian masyarakatnya.

Reforma agraria yang kita gadang menjadi alat pendorong kesejahteraan masyarakat serta menumpaskan ketimpangan penguasaan sumber daya alam tampaknya belum sejalan dengan yang direncanakan. Indikasinya terlihat dari jumlah kasus konflik agraria justru terus meningkat. Selain itu masih banyak kasus yang belum menemukan ujung jalan penyelesaiannya.

Hasil pemantauan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) melaporkan terdapat kenaikan jumlah kasus konflik agraria selama lima tahun terakhir. Tahun 2024 menjadi tahun dengan jumlah konflik terbanyak, yaitu mencapai 295 kasus atau naik 21,9 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah kasus ini juga mencakup tentang tindak kekerasan dan kriminalitas di wilayah konflik.

Meskipun jumlah konflik agraria sempat menurun saat wabah pandemi melanda, sayangnya pada periode berikutnya terjadi lonjakan kasus yang cukup signifikan. Alih-alih proses kepemilikan tanah dapat diredistribusikan dan pemberian pengakuan hak atas tanah bagi masyarakat, perampasan hak tanah justru meningkat pada masa pascapandemi.

Muncul sejumlah konflik terkait perebutan hak tanah atau pengelolaan sumber daya alam, baik oleh pemerintah maupun swasta terhadap masyarakat lokal. Peningkatan kasus sengketa lahan ini sejalan dengan mulainya program-program Proyek Strategis Nasional, salah satunya program food estate yang mulai pada tahun 2020-2024.

Sepanjang tahun 2024, konflik agraria di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, terutama yang terpicu oleh sengketa di sektor pertanian secara luas—terutama dalam kegiatan budidaya perkebunan. Jumlah kasus yang tercatat melonjak dari 74 kasus pada 2021 menjadi 111 kasus pada 2024.

Lonjakan ini patut kita waspadai karena berpotensi kembali mencapai level tertinggi seperti yang pernah terjadi pada tahun 2016 dan 2017, di mana konflik agraria mencapai 163 kasus pada 2016 dan bahkan melonjak menjadi 208 kasus pada 2017.

Data Konflik Agraria

Berdasarkan pemantauan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dari total 111 konflik agraria di sektor perkebunan selama 2024, sekitar 67 persen di antaranya berkaitan langsung dengan industri perkebunan kelapa sawit.

Akibat konflik ini, sebanyak 127.280 hektare lahan yang 14.696 keluarga miliki terdampak secara langsung. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sektor perkebunan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar konflik agraria di Indonesia.

Kelapa sawit hingga kini tetap menjadi sektor yang paling rentan menimbulkan konflik agraria. Menurut laporan dari Auriga Nusantara, selain industri hutan tanaman, ekspansi bisnis sawit juga mengancam kelestarian kawasan hutan dan hak-hak masyarakat adat. Sepanjang 2024, deforestasi tercatat mencapai 37.483 hektare, dan sekitar 14 persen dari luasan tersebut teralokasikan untuk konsesi perkebunan sawit.

Selain sektor perkebunan, pembangunan infrastruktur juga menjadi penyumbang besar dalam statistik konflik agraria tahun 2024. KPA mencatat ada 79 kasus konflik lahan yang terpicu oleh proyek infrastruktur, menyumbang sekitar 26,8 persen dari total keseluruhan konflik agraria.

Banyak dari konflik ini berkaitan dengan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Setidaknya tercatat 36 kasus sengketa yang terjadi dalam kerangka program PSN tahun lalu. Umumnya berkaitan dengan pengadaan tanah untuk proyek-proyek seperti kawasan industri, kota baru, destinasi wisata, bendungan, bandara, hingga kawasan energi terbarukan.

Keterlibatan Aparat Negara

Ironisnya, dalam setiap konflik itu terdapat keterlibatan aparat negara yang dinilai lebih condong membela investor ataupun kepentingan pemerintah. Akibatnya, menimbulkan rasa takut bagi masyarakat sehingga lahan yang mereka tempati atau miliki tak lagi mereka kuasai.

Bahkan, secara legalitas, masyarakat rentan kehilangan status kepemilikannya karena tak mampu menandingi tekanan kekuatan yang sangat besar dari pihak luar, termasuk dari pihak aparat seperti Kepolisian dan TNI.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memantau banyak terjadi keterlibatan aparat dalam upaya meredam atau menyelesaikan konflik-konflik agraria. Melalui pantauan YLBHI, ada keterlibatan aparat dalam proyek-proyek pemerintah selama 10 tahun terakhir. Di antaranya dalam program food estate hingga sejumlah proyek yang diambil perusahaan swasta. Misalnya, pengamanan PT Duta Palma di Kalimantan Barat (2024), PSN Smelter Nikel CNI Group, Sulawesi Tenggara (2022), dan pembangunan Eco City di Rempang.

Hal ini membuktikan bahwa negara belum kompeten dalam mengambil peran parental bagi warganya. Dalam teori politik dan sosial, peran parental negara berarti meliputi tindakan melindungi dan mengayomi warganya, serta kehadiran negara dalam menjamin hak hidup, tanah, lingkungan dan budaya rakyat terutama kelompok rentan seperti masyarakat adat.

Tragedi Salim Kancil berhasil menjadi salah satu bukti kegagalan negara dalam menjamin hak hidup rakyatnya. Namun, selama konflik agraria masih ada dan masih menghantui  rakyat akan kekhawatiran terampasnya hak-hak sebagai warga negara, maka sosok Salim Kancil tidak akan pernah mati.

Ia akan terus hidup dan menjelma dalam keberanian warga dan masyarakat adat yang menolak sawit di Papua, petani yang terancam food estate di Kalimantan, nelayan yang melawan reklamasi di Jakarta, atau keluarga yang kehilangan tanahnya karena tambang di Sulawesi.

Mereka semua adalah wajah-wajah baru dari perlawanan yang sama: menjaga tanah, laut, dan hutan dari rakusnya modal. Sesuai dengan kutipan dalam novel Leila Chudori, yang berjudul Laut Bercerita.

“Matilah engkau, mati. Kau akan lahir berkali-kali.” []

 

Tags: hukumIndonesiaIsu LingkunganKerusakan AlamKonflik AgrariaMafia TambangSalim Kancil
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Teladan Nabi dan Abu Bakar terhadap Umat Berbeda Agama

Next Post

Dakwah Nabi di Makkah: Menang dengan Akhlak, Bukan Kekerasan

intanhandita

intanhandita

Lulusan sastra Arab, hobi baca, nulis, dan sekarang lagi ngincer skill gambar biar lengkap. Bisa dihubungi di ig: @intnhndta

Related Posts

Militerisasi
Publik

Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

17 Juli 2026
Aborsi
Pernak-pernik

Aborsi Menurut Hukum Indonesia

2 Juli 2026
Pemadaman Listrik
Aktual

Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

30 Juni 2026
Pesantren di Pesisir
Lingkungan

Pesantren di Pesisir dan Aktivitas Ekoteologinya

26 Juni 2026
Sampah di Laci Kelas
Lingkungan

Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

24 Juni 2026
Popok Bayi
Lingkungan

Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

23 Juni 2026
Next Post
Akhlak Nabi

Dakwah Nabi di Makkah: Menang dengan Akhlak, Bukan Kekerasan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0