“Ibu, Ayah pergi dengan perempuan lain. Dia pergi dan menitipkanku di rumah nenek.” Mubadalah.id - Suara di ujung telepon bergetar,...
Read moreDetailsMubadalah.id - Pernah merasa menjadi laki-laki tak berguna? Luka lelaki, Itulah yang sedang kurasakan sekarang. Perasaan tak berarti. Seperti sampah...
Read moreDetailsMubadalah.id - Menjadi anak sulung tentu bukanlah sebuah pilihan. Ini adalah takdir yang harus ku terima dengan lapang dada. Dimasa...
Read moreDetailsMubadalah.id - Surat ini kutulis saat usiaku genap 33 tahun. Untukmu, namun kukirimkan pada malam, kukabarkan pada angin. Biarlah rasa...
Read moreDetailsMubadalah.id - Ini adalah kali pertama aku keluar rumah semenjak mudik seminggu yang lalu. Setelah berpuluh purnama berada di rantauan,...
Read moreDetailsMubadalah.id - Sebelumnya pada cerita yang telah lalu aku telah bercerita tentang tubuh dan luka ibu. Hari-hari berlalu tanpa jeda....
Read moreDetailsMubadalah.id - Kereta Joglosemarkerto berhenti di Stasiun Gombong pukul sembilan lewat beberapa menit. Kuambil ranselku yang nangkring di bagasi atas....
Read moreDetailsMubadalah.id - Aroma sebra limbah pesulingan yang dibakar bersama kotoran kerbau kering merebak perlahan dari sela-sela atap welit alang-alang yang...
Read moreDetailsMubadalah.id - Aku masih duduk di sudut warung ini, menatap sendok kopi yang kuputar tanpa niat. Entah sudah berapa kali...
Read moreDetailsMubadalah.id - Murni berdiri di depan pintu rumah kontrakan, memegang kantong belanjaan majikannya. Wajahnya letih, rambutnya basah oleh keringat meski...
Read moreDetails Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0
Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0