Mubadalah.id – Pernah kah melihat konten humor di media sosial yang menampilkan seorang suami yang malas-malasan di atas kasur? Ketika istrinya menegur dengan dongkol dan membangunkannya, si suami memberikan seonggok uang. Spontan si istri berubah drastis sikapnya yang tadinya dongkol menjadi luluh.
Sekilas, kita akan menganggap konten tersebut ringan, lucu, dan relatable di masyarakat. Namun. jika melihatnya lebih dalam lagi. humor tersebut menyimpan pesan tak sederhana. Pesan tersebut mengandung narasi yang dapat membentuk cara pandang terhadap perempuan, relasi suami-istri, dan relasi kuasa dalam rumah tangga atau relationship.
Tulisan ini mengajak kita melihat ulang: benarkah ini sekadar candaan, atau justru bentuk lain dari normalisasi stereotip gender?
Membalut Relasi Kuasa dengan Humor
Dalam konteks ini, humor tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa nilai, sudut pandang, dan kepentingan tertentu. Sayangnya, dalam konten humor yang menampilkan “penaklukan istri dengan materi”, yang menjadi sorotan bukanlah relasi kuasa yang menimbulkan stereotip terhadap perempuan. Tetapi, cara menyikapi emosi seorang perempuan dengan materi.
Pesan implisitnya jelas: emosi perempuan tidak penting, tidak serius, dan mudah membungkamnya dengan materi. Atau memberikan imajinasi bahwa masalah dalam sebuah relasi suami-istri dapat mudah terelai dengan materi. Bahkan, bisa saja menjadikannya standar ideal seorang laki-laki — yang memiliki materi (uang) dapat berkuasa dalam sebuah relasi.
Ketika pola ini terulang terus-menerus, publik tanpa sadar belajar bahwa emosi perempuan — dalam konteks hubungan suami-istri tidak penting. Cukup dengan uang, persoalan yang seharusnya perlu dialog bisa selesai begitu saja.
Humor semacam ini menutup halus relasi kuasa. Ia tidak memerintah dan tidak menggurui, tapi membangun imajinasi yang timpang. Dan jika menjadi standarisasi pemecahan masalah justru akan menambah subur patriarki itu sendiri.
Candaan yang Mereproduksi Stereotipe Gender
Konten humor tersebut juga, secara tidak langsung mereproduksi stereotip yang menjamur tentang perempuan: mudah luluh oleh uang (matre), emosional, dan labil. Sekaligus memberikan gambaran bahwa ekspresi emosional perempuan bukan sebagai ekspresi rasional atas ketidakadilan, melainkan sebagai drama yang mudah larut.
Stereotip ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan stigma sosial yang lebih luas—bahwa perempuan materialistis dan tidak teguh pada prinsip. Akibatnya, keberatan perempuan dalam kehidupan nyata sering kali terabaikan, bahkan cenderung meremehkannya.
Dalam jangka panjang, representasi seperti ini merugikan perempuan karena mengikis legitimasi suara mereka, baik di ruang domestik maupun publik. Di sinilah bentuk stereotip gender yang makin membuat perempuan makin terpinggirkan.
Relasi yang Menjadi Transaksi
Masalah lain yang tak kalah penting adalah bagaimana relasi suami-istri yang seharusnya bersifat resiprokal terreduksi menjadi hubungan transaksional. Uang tidak lagi hadir sebagai sarana memenuhi kebutuhan bersama, tetapi sebagai alat kontrol simbolik.
Dalam konten candaan tersebut, terkandung narasi bahwa bisa uang menjadi senjata untuk membungkam, bukan wujud tanggung jawab. Relasi yang seharusnya terbangun atas dasar komunikasi, kerja sama, dan kesalingan justru menjadi sempit oleh pihak yang punya kuasa ekonomi.
Logika ini berbahaya karena menormalisasi dominasi satu pihak atas pihak lain, sekaligus mengaburkan makna relasi bahwa suami-istri adalah kemitraan setara. Ada sebuah potongan syair — tepatnya, Sholawat Awliya’ yang menegaskan soal kemitraan;
Menegakkan kebenaran adalah kewajiban bersama, laki-laki dan perempuan…
Laki-laki dan perempuan, yang beriman, satu sama lain adalah mitra setara…
Petunjuk Nabi, jelas dan tegas menyatakan
bahwa perempuan dan laki-laki, satu sama lain adalah mitra dan saudara (Faqih Abdul Kodir)
Pengabaian Kesalingan dalam Relasi
Dalam perspektif mubadalah, membangun relasi suami-istri harus memegang prinsip kesalingan, keadilan, dan saling memuliakan. Tanggung jawab rumah tangga bukan beban satu pihak, melainkan amanah bersama. Keberatan pasangan bukan gangguan, tetapi bagian dari dialog dan kontrol.
Konten yang menampilkan pengabaian keberatan istri jelas bertentangan dengan prinsip ini. Ia mengabaikan nilai berdialog, mendengar, menghargai, dan bertanggung jawab. Islam tidak membenarkan relasi yang merendahkan martabat salah satu pihak, terlepas dari apa kepentingan dari konten tersebut.
Prinsip ini mengajak kita keluar dari relasi kuasa menuju relasi setara—termasuk dalam cara kita memproduksi dan mengonsumsi humor yang berkaitan dengan hubungan yang seharusnya resiprokal yaitu pernikahan.
Kritik terhadap konten ini bukan berarti menolak humor. Kritiknya berfokus pada candaan yang dibangun di atas perendahan dan ketimpangan. Apa yang kita anggap lucu dan normal hari ini, bisa menjadi nilai yang kita wariskan esok hari.
Jika kita menormalisasi perempuan yang “luluh karena uang”, maka kita sedang ikut melanggengkan ketidakadilan relasi. Mari kita memilih dan memilah humor yang membebaskan, bukan yang merendahkan; humor yang mengkritik kuasa, bukan yang mengukuhkannya. []


















































