Mubadalah.id – Sebagai santri, saya baru menyadari satu hal, bahwa jargon populer: “Khairunnas anfa’uhum linnas.” bisa memberikan dampak yang luar biasa dalam menjalankan kehidupan, terutama saat kita sudah keluar dari dunia pesantren. Ia bisa menjadi kompas moral kehidupan.
Bahwa hidup tidak boleh egois, hidup harus memberi manfaat. Namun saya luput pada satu hal lainnya: terkdang “obesesi” untuk menjadi bermanfaat, bersaaman dengan over pressure terhadap pencapaian kebermanfaatan itu sendiri.
Dalam diskusi Ramadan bertajuk Overthink Club yang diselenggarakan Mubadalah.id dengan tema kesehatan mental dalam perspektif mubadalah, mbak Hijroatul Maghfiroh memberikan angin segar dalam membaca kalimat yang tersebut. Tentu bukan untuk menolak maknanya, tetapi untuk bertanya dengan lebih berimbang:
Bagaimana Jika Jargon itu Justru Berubah Menjadi Tekanan?
Diskusi ini menghadirkan salah satu pemateri, Hijroatul Maghfiroh, penulis aktif di Mubadalah.id, yang mengajak kami melihat ulang bagaimana cara kita memahami tuntutan untuk selalu “bermanfaat” dalam kehidupan sehari-hari.
Di banyak ruang keagamaan, terutama di lingkungan santri, menjadi“manusia yang bermanfaat” sering kali terdengar sebagai kewajiban yang tidak boleh berhenti. Kita harus aktif. Harus berkontribusi, lalu memberi dampak, dan harus terlihat berguna.
Masalahnya, dalam praktik sehari-hari, jargon ini sering berjalan berdampingan dengan satu kata yang tak kalah populer: produktif.
Kata “produktif” hari ini seperti mantra modern. Motivasi untuk selalu “produktif” kerap hadir dalam berbagai buku pengembangan diri, dalam konten motivasi, di tengah ceramah agama, bahkan diantara obrolan santai antar teman. Orang yang produktif dipuji. Yang tidak, diam-diam dianggap menyia-nyiakan hidup.
Akibatnya, banyak orang hidup dalam perasaan yang aneh: merasa bersalah ketika tidak sedang menghasilkan sesuatu.
Padahal Manusia Bukan Mesin
Tidak semua fase hidup adalah fase berlari. Ada masa ketika seseorang sedang kelelahan, kehilangan arah, atau sekadar butuh berhenti sebentar. Dalam kondisi seperti itu, tuntutan untuk selalu “bermanfaat” justru bisa berubah menjadi bumerang psikologis.
Alih-alih menyemangati, ia malah menambah beban. Diskusi siang itu juga menyinggung sesuatu yang cukup dekat dengan pengalaman banyak orang: overthinking. Istilah ini sering terpakai untuk menggambarkan pikiran yang terlalu ramai memikirkan banyak kemungkinan, banyak kekhawatiran, banyak skenario yang belum tentu terjadi.
Namun menariknya, overthinking tidak selalu harus kita pahami sebagai kelemahan. Ia juga bisa menjadi bagian dari cara manusia memproses pengalaman hidupnya.
Setiap orang memiliki coping mechanism yang berbeda. Ada yang menulis, dan yang berbicara panjang dengan teman. Ada yang memilih berjalan sendirian, lalu juga yang diam, merenung, dan mencoba ulang kekacauan pikirannya.
Tradisi Uzlah dan Usaha untuk Memahami Diri
Fenomena ini agaknya mengingatkan kita kembali pada tradisi Islam yang sebenarnya tidak asing dengan praktik semacam itu. Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu sering melakukan uzlah di Gua Hira. Menyendiri, menjauh dari hiruk pikuk Mekah, dan merenungkan banyak hal.
Dalam sejarah intelektual Islam, kita juga mengenal sosok Imam al-Ghazali. Dalam perjalanan spiritualnya, beliau pernah mengalami krisis batin yang cukup berat, yang jika menggunakan istilah hari ini mungkin mendekati apa yang kita sebut sebagai depresi.
Pada masa itu, ia bahkan memilih meninggalkan posisi akademiknya yang sangat prestisius untuk menjalani pengasingan diri, menata ulang jiwanya, dan mencari kembali makna hidup. Artinya, dalam tradisi spiritual Islam, berhenti sejenak bukanlah kegagalan. Kadang ia justru bagian dari proses menemukan kembali diri sendiri.
Mindfulness dan Upaya Penertiban Mimpi-mimpi Liar
Dalam diskusi tersebut juga muncul gagasan tentang mindfulness, kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada saat ini. Mengendalikan pikiran, termasuk mimpi-mimpi liar tentang masa depan, memang tidak mudah. Ia perlu latihan.
Kita sering terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dicapai besok, sampai lupa menikmati apa yang sedang kita jalani hari ini. Padahal hidup tidak selalu harus dikejar. Kadang ia hanya perlu disadari.
Salah satu refleksi menarik yang muncul dalam diskusi itu adalah pendekatan yang agak mirip dengan stoikisme sederhana: let it go. Tidak semua hal berada dalam kendali kita. Selain itu, tidak semua harapan harus tercapai dan tidak semua target harus terpenuhi.
Kemampuan untuk melepaskan sebagian beban mental sering kali justru menjadi cara untuk tetap waras di tengah kehidupan yang terlalu bising.
Kesehatan Mental dalam Lanskap Mubadalah
Dalam perspektif mubadalah, seperti dijelaskan Hijroatul Mghfiroh, ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang kesehatan mental: manusia tidak hidup sendirian.
Tuntutan untuk menjadi manusia yang “bermanfaat” sering kita pahami secara individual, seolah semua harus ditanggung sendiri. Padahal manusia hidup dalam jaringan relasi.
Kita membutuhkan support system, sekecil apa pun itu. Teman yang mau mendengarkan cerita. Keluarga yang memberi ruang untuk beristirahat. Komunitas yang tidak hanya menilai kita dari seberapa sibuk kita terlihat.
Bahkan hubungan dengan alam juga bisa menjadi bagian dari proses pemulihan. Berjalan santai, menghirup udara segar, atau sekadar duduk di tempat yang tenang sering kali membantu pikiran kembali menemukan ritmenya.
Dan tentu saja, ada satu relasi yang sering terlupakan dalam dunia yang terlalu terobsesi pada produktivitas: relasi dengan Tuhan.
Dalam tradisi spiritual Islam, ibadah bukan hanya kewajiban ritual. Ia juga ruang untuk menata ulang jiwa. Salat, doa, dzikir, semuanya adalah cara manusia mengingat bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Bahwa nilai manusia tidak selalu diukur dari seberapa banyak ia menghasilkan sesuatu.
Bagi saya pribadi, hadis “Khairunnas anfa’uhum linnas” tetap indah. Tetap menjadi kompas hidup saya dimanapun saya menjejakkan kaki. Karena menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain adalah cita-cita moral yang sangat mulia.
Namun mungkin kita hanya perlu memaknainya dengan cara yang lebih manusiawi.
Karena sebelum seseorang bisa memberi manfaat kepada orang lain, ia juga perlu memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk bernapas. Dan teruntuk dirinya menerima kebermanfaatan dari penerimaan diri dan berdamai dengan segala hal yang berada di luar kendalinya.
Bahkan, jika kita diam. Belum tentu kita sedang malas. Bisa jadi kita hanya sedang mencari cara untuk kembali utuh. Untuk kemudian mampu menebar mandaat dengan cara yang paling jujur dan sehat lahir dan batin. Wallahu A’lam. []






































