Minggu, 22 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Keheningan Melalui Noble Silence dan Khusyuk sebagai Jembatan Menuju Ketenangan Hati

Keheningan yang bermakna adalah praktik esensial dalam kehidupan spiritual dan kesejahteraan psikologis.

Fisco Moedjito by Fisco Moedjito
8 Mei 2025
in Personal
A A
0
Keheningan

Keheningan

39
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Keheningan adalah sebuah fenomena yang seringkali dianggap sederhana karena hanya sebagai ketiadaan suara. Namun sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam dalam kehidupan manusia, terutama dalam konteks spiritual dan keagamaan. Keheningan bukan hanya soal diam secara fisik, melainkan sebuah kondisi batin yang penuh kesadaran dan ketenangan.

Keheningan ini berfungsi sebagai media untuk menenangkan pikiran, memusatkan konsentrasi, mengurangi gangguan dari luar maupun dalam diri. Selain itu membuka ruang bagi kesadaran penuh (mindfulness) yang membawa kedamaian dan pemahaman diri yang lebih mendalam.

Dalam berbagai tradisi agama, praktik keheningan memiliki bentuk dan istilah yang berbeda, namun esensinya sama. Sebagai sarana mencapai kedamaian batin dan mempererat hubungan dengan Sang Pencipta

Prinsip Noble Silence dalam Agama Buddha

Noble Silence atau keheningan mulia adalah konsep keheningan yang berasal dari ajaran Buddha. Noble Silence bukan sekadar diam secara fisik. Melainkan juga menenangkan pikiran dan ucapan sehingga tercipta kedamaian batin yang mendalam. Praktik ini mengajarkan menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna, meningkatkan kesadaran akan saat ini, dan memperdalam pemahaman terhadap diri sendiri serta lingkungan sekitar.

Ajaran Buddha Gautama menekankan bahwa keheningan sejati adalah kondisi batin yang damai, bebas dari kegelisahan dan keruwetan pikiran. Keheningan ini merupakan bentuk disiplin yang mengurangi gangguan eksternal dan internal, sehingga pikiran menjadi tenang dan fokus.

Dalam meditasi Buddha, Noble Silence adalah praktik spiritual yang disengaja untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan sia-sia. Meditator mengalihkan perhatian dari komentar batin yang berulang dan tidak produktif. Lalu memusatkan kesadaran pada napas dan sensasi tubuh saat ini, sehingga mengembangkan mindfulness yang berkelanjutan dan mengalami kedamaian batin serta kejernihan pikiran

Noble Silence melibatkan tiga aspek utama: tubuh, ucapan, dan pikiran. Diam secara fisik adalah langkah awal, namun yang lebih penting adalah menenangkan ucapan dan pikiran yang sering menjadi sumber kegelisahan dan konflik batin. Dengan menahan diri dari perkataan yang tidak perlu dan mengendalikan arus pikiran, seseorang dapat memasuki keadaan batin yang damai dan penuh kesadaran.

Selain itu, Noble Silence juga merupakan bentuk penghormatan terhadap kekuatan kata-kata. Dalam ajaran Buddha, ucapan yang tidak bijaksana dapat menimbulkan penderitaan dan konflik, sehingga menahan diri dari perkataan yang tidak perlu penting untuk menciptakan kedamaian dalam diri dan hubungan sosial. Noble Silence bukan hanya praktik meditasi, tetapi juga etika komunikasi yang mengajarkan kesadaran dan tanggung jawab atas kata-kata yang kita ucapkan.

Dengan demikian, Noble Silence membuka jalan bagi kedamaian batin, pemahaman diri yang lebih dalam, dan pengembangan welas asih yang tulus. Hingga pada akhirnya membawa kebijaksanaan dan kebahagiaan sejati.

Prinsip Khusyuk dalam Agama Islam

Meskipun istilah Noble Silence berasal dari tradisi agama Buddha, prinsip keheningan mulia yang mengandung makna menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia serta menjaga ketenangan batin. Selain itu juga sangat kental, koheren, dan paralel dalam ajaran Islam.

Dalam Islam, konsep yang sejalan dengan Noble Silence kita kenal sebagai Khusyuk. Ssecara bahasa berarti ketenangan, kerendahan dan keteguhan hati, serta kesungguhan dalam beribadah. Khusyuk bukan sekadar diam secara fisik, melainkan kondisi hati dan jiwa yang sepenuhnya memusatkan perhatian kepada Allah.

Menurut para ulama seperti Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Khusyuk adalah keteguhan hati saat menghadapi Allah dengan kerendahan hati dan penghambaan total. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa Khusyuk merupakan kondisi di mana hati tunduk dan tenang, serta pikiran tidak teralihkan oleh hal-hal duniawi selama ibadah.

Dalam fiqih, Khusyuk dianggap sebagai salah satu syarat sahnya salat dan ibadah lainnya. Karena apabila ibadah tidak kita landasi dengan Khusyuk, ibadah menjadi kurang bermakna dan tidak mencapai tujuan spiritualnya.

Khusyuk menuntut seorang muslim untuk mengendalikan pikirannya agar tidak melayang ke hal-hal duniawi. Selain itu menjaga ucapan dan gerakan agar tetap khidmat dan penuh kesadaran. Dengan demikian, Khusyuk adalah manifestasi dari penghambaan total yang melibatkan seluruh aspek diri, baik lahir maupun batin.

Khusyuk Sebagai Ciri-ciri Orang Mukmin

Salah satu ayat tentang Khusyuk yang sangat relevan dengan prinsip Noble Silence dalam Islam terdapat dalam firman Allah yang berbunyi:

“Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang Khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3)

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu ciri orang mukmin yang beruntung adalah mereka yang menjaga Khusyuk dalam salat dan menjauhi perkataan serta perbuatan yang tidak berguna. Makna “perkataan yang tidak berguna.” Di sini mencakup segala bentuk ucapan sia-sia, senda gurau yang berlebihan, maksiat, dan hal-hal yang tidak memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dengan menjauhi perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seorang mukmin menjaga kesucian hati dan pikirannya, sehingga dapat lebih fokus dan Khusyuk dalam beribadah serta menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam menjaga lisan dari perkataan yang tidak berguna, Rasulullah bersabda:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata baik atau (lebih baik) diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjaga lisan dari perkataan tidak berguna bukan hanya soal diam, tetapi juga mengendalikan diri agar tidak terjerumus dalam pembicaraan yang menimbulkan fitnah, perselisihan, atau dosa. Keheningan menjadi disiplin spiritual penting untuk menjaga hati tetap lembut dan terhindar dari kekerasan hati yang menjauhkan dari rahmat Allah.

Khusyuk Sebagai Sarana Melembutkan Hati

Rasulullah juga menegaskan pentingnya menjaga ucapan dan memperbanyak dzikir sebagai bagian dari Khusyuk. Dalam sebuah hadits yang riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda:

“Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini mengingatkan bahwa perkataan yang tidak kita iringi dengan mengingat Allah dapat mengeraskan hati dan menjauhkan seseorang dari rahmat-Nya. Sebaliknya, berdzikir dengan penuh Khusyuk menuntun hati menjadi lembut dan tenteram.

Ketika berdzikir, seorang muslim menempatkan dirinya dalam keadaan hening, diam, dan fokus penuh pada menyebut asma Allah, sehingga hati menjadi tenteram sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Khusyuk juga sangat penting dalam pelaksanaan salat, dzikir, dan doa. Dalam salat, Khusyuk memungkinkan seorang hamba untuk merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan Allah, menghayati setiap gerakan dan bacaan dengan penuh kesadaran.

Dzikir yang Khusyuk bukan hanya sekadar pengulangan kata-kata, tetapi penghayatan makna dan penghambaan total kepada Allah. Begitu pula dalam doa, Khusyuk menjadikan komunikasi dengan Allah menjadi lebih tulus dan bermakna, sehingga doa menjadi sarana efektif untuk memohon dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Tuma’ninah Sebagai Perwujudan Khusyuk Dalam Salat

Khusyuk dalam salat tidak hanya berarti fokus dan tenang secara mental, tetapi juga terwujud melalui gerakan yang teratur dan penuh ketenangan, yang terkenal dengan istilah tuma’ninah. Tuma’ninah berarti ketenangan dan kestabilan dalam setiap gerakan salat, tanpa terburu-buru atau tergesa-gesa, dan memberikan jeda yang cukup agar tubuh benar-benar diam dan stabil sebelum melanjutkan ke gerakan berikutnya.

Rasulullah menegaskan pentingnya tuma’ninah dalam salat dalam sabdanya:

“Allah tidak akan melihat seorang hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya ketika rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah tidak menyukai orang yang tergesa-gesa dalam salat, yang tertandai dengan tidak adanya jeda waktu saat transisi dari satu gerakan ke gerakan berikutnya. Dengan kata lain, salat yang kita lakukan dengan penuh ketenangan dan kestabilan, bukan sekadar gerakan fisik yang cepat.

Rasulullah menjelaskan tata cara tuma’ninah dalam hadits berikut:

“Jika kamu hendak mengerjakan sholat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al-Qur’an yang mudah bagi kamu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tuma’ninah, lalu bangkitlah dari ruku hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma’ninah, lalu angkat kepalamu untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tuma’ninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud. Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh salatmu.” (HR. Bukhari).

Sepertiga Malam Terakhir, Waktu Terbaik untuk Ibadah yang Khusyuk

Salah satu bentuk praktik keheningan mulia yang sangat Islam anjurkan adalah Qiyamul Lail dan salat Tahajud, yaitu salat malam yang kita lakukan di waktu sepertiga malam terakhir. Waktu ini dianggap sebagai waktu yang paling afdhal untuk beribadah karena suasana yang sunyi dan tenang memungkinkan seorang hamba untuk lebih khusyuk dan mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat (pengaruhnya terhadap jiwa) dan lebih mantap ucapannya (mudah untuk dihayati).” (QS. Al-Muzzammil: 6)

Waktu terbaik untuk melaksanakan salat tahajud adalah pada sepertiga malam terakhir, yaitu waktu di mana Allah turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Mengenai hal tersebut, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Tuhan turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam keheningan malam, gangguan eksternal berkurang, memungkinkan fokus dan konsentrasi lebih baik. Keheningan malam menjadi latar ideal untuk menghayati ibadah dengan kesadaran dan ketenangan batin. Sejalan dengan konsep Noble Silence yang menekankan pentingnya keheningan fisik dan batin untuk mencapai kedamaian dan fokus.

Keutamaan Qiyamul Lail dan Tahajud tidak hanya pada waktu pelaksanaannya, tetapi juga pada kondisi hamba yang bangun dari tidur dengan kerendahan hati dan kekhusyukan. Ibadah ini mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, dan memberikan ketenangan hati yang mendalam.

Oleh karena itu, salat Tahajud sangat dianjurkan sebagai bentuk keheningan mulia yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta dalam suasana paling tenang dan penuh pengharapan.

Noble Silence dan Khusyuk Dalam Kacamata Ilmiah

Praktik keheningan mulia dalam Noble Silence dan Khusyuk tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga dapat kita jelaskan secara ilmiah melalui kajian neurofisiologi, khususnya aktivitas gelombang otak.

Penelitian menunjukkan bahwa keheningan yang dilakukan secara sadar, baik dalam meditasi Buddha maupun ibadah Islam, berperan penting dalam mengoptimalkan fungsi otak. Selain itu menciptakan keadaan mental yang tenang namun waspada, dikenal sebagai state of mindfulness.

Gelombang otak adalah pola aktivitas listrik neuron yang diukur dengan EEG (electroencephalogram). Di mana dalam gelombang otak terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan frekuensi, Gelombang alpha (7–13 Hz) dan theta (4–8 Hz) terkait dengan relaksasi, meditasi, dan fokus mental. Gelombang alpha muncul saat otak rileks tapi waspada. Sedangkan theta dominan saat relaksasi mendalam dan fokus internal intens.

Penelitian dari Universitas Wollongong Australia menunjukkan selama meditasi mindfulness, terjadi peningkatan gelombang theta dan alpha. Gelombang theta memungkinkan meditator mengamati pikiran tanpa distraksi. Sedangkan alpha menandakan kemampuan menekan gangguan eksternal dan mempertahankan ketenangan waspada. Kombinasi ini menciptakan kondisi mental unik, relaxed alertness, di mana seseorang tenang namun tetap fokus dan sadar penuh terhadap momen saat ini.

Noble Silence dan Khusyuk Bukan Hanya Ritual Keagamaan

Dalam Islam, praktik Khusyuk dalam salat dan dzikir juga terkait aktivitas gelombang otak serupa. Saat ibadah Khusyuk, pikiran dan hati terpusat pada Allah, menghindari gangguan pikiran dan ucapan sia-sia. Kondisi ini mirip mindfulness dalam meditasi, dengan fokus dan kesadaran penuh pada momen saat ini.

Penelitian menunjukkan ibadah Khusyuk meningkatkan gelombang alpha dan theta. Berkontribusi pada ketenangan mental dan pengurangan stres, menurunkan tekanan darah, detak jantung, dan hormon stres kortisol. Kondisi ini memungkinkan tubuh dan pikiran beristirahat dan pulih, meningkatkan keseimbangan emosional dan ketahanan terhadap tekanan hidup sehari-hari.

Secara keseluruhan, perspektif ilmiah ini menguatkan bahwa Noble Silence dan Khusyuk bukan hanya ritual keagamaan, tetapi proses neuropsikologis yang mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Keheningan sadar membantu mengurangi gangguan pikiran, meningkatkan fokus, dan menciptakan keadaan mental tenang namun waspada. Praktik ini efektif mengembangkan mindfulness, memperdalam pengalaman spiritual, dan mendekatkan diri kepada Ilahi.

Bagaimana Noble Silence dan Khusyuk Membentuk Kedamaian Batin

Memahami Noble Silence dalam tradisi Buddha dan Khusyuk dalam Islam menunjukkan kesamaan esensial: pentingnya ketenangan batin, pengendalian pikiran, dan penghambaan total kepada Ilahi. Noble Silence bukan sekadar diam fisik, melainkan kondisi aktif menahan diri dari perkataan dan pikiran tidak perlu untuk menciptakan ruang batin tenang dan penuh kesadaran.

Khusyuk bukan hanya keheningan lahiriah, melainkan ketenangan hati dan jiwa yang memusatkan perhatian hanya kepada Allah, menjauhkan gangguan yang mengalihkan fokus ibadah. Kedua konsep menegaskan keheningan bermakna sebagai sarana utama mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencapai kedamaian batin hakiki.

Untuk mengintegrasikan Noble Silence dan Khusyuk dalam rutinitas spiritual, disarankan melatih keheningan sadar melalui meditasi, dzikir, dan ibadah penuh kesadaran. Praktik sederhana seperti mengurangi percakapan tidak perlu, mengendalikan pikiran agar tidak melayang ke hal duniawi saat beribadah. Selain itu meluangkan waktu khusus untuk berdiam diri dan merenung dapat menjadi langkah awal efektif.

Dalam tradisi Buddha, menjaga Noble Silence selama meditasi dan kehidupan sehari-hari membantu mempertahankan mindfulness dan kedamaian batin. Dalam Islam, menjaga Khusyuk dalam salat dan memperbanyak ibadah malam seperti Qiyamul Lail dan Tahajud sangat dianjurkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Keheningan yang bermakna adalah praktik esensial dalam kehidupan spiritual dan kesejahteraan psikologis. Melalui keheningan, manusia dapat mengatasi kebisingan pikiran, menguatkan hubungan dengan Tuhan, dan mencapai kualitas hidup lebih bermakna dan damai. Meskipun berasal dari tradisi keagamaan berbeda, Noble Silence dan Khusyuk bersama-sama mengajarkan bahwa keheningan adalah kunci membuka pintu kedamaian batin dan kedekatan dengan Ilahi yang sejati. []

 

 

Tags: agamaBudhaibadahislamKeheningankhusyukMindfulnessNoble Silence
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kritik Syaikh Al-Ghazali atas Diskriminasi Kesaksian Perempuan

Next Post

Cara Membaca Ayat Kesaksian Perempuan Menurut Ibnu Rusyd dan Ibnu Al-Qayyim

Fisco Moedjito

Fisco Moedjito

Part-time student and worker. Full-time learner. Bachelor of Law from Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Laki-laki dan perempuan Berduaan
Pernak-pernik

Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

22 Februari 2026
Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Puasa dalam Islam
Pernak-pernik

Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

20 Februari 2026
Konsep isti’faf
Pernak-pernik

Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

20 Februari 2026
ghaddul bashar
Pernak-pernik

Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

20 Februari 2026
Refleksi Puasa
Publik

Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

20 Februari 2026
Next Post
Membaca Ayat Kesaksian Perempuan

Cara Membaca Ayat Kesaksian Perempuan Menurut Ibnu Rusyd dan Ibnu Al-Qayyim

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya
  • Ayat-ayat Mubadalah dalam Relasi Berkeluarga
  • Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan
  • Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak
  • Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0