Mubadalah.id – Setiap tahun, di Jumat terakhir bulan Ramadan, ada satu momentum yang mungkin tidak semua orang kenal, tetapi menyimpan pesan kemanusiaan yang sangat dalam: Al-Quds Day.
Di berbagai kota di dunia, orang-orang turun ke jalan. Ada yang membawa bendera Palestina, poster kampanye, ada yang berdoa bersama, ada juga yang sekadar berdiri dalam diam. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda: Muslim, non-Muslim, aktivis kemanusiaan, mahasiswa, bahkan keluarga biasa yang membawa anak-anaknya.
Pertanyaannya sederhana: mengapa sebuah kota yang jauh dari tempat kita bisa membuat orang di berbagai negara merasa perlu bersuara?
Jawabannya ada pada satu kata: Al-Quds.
Kota yang Bukan Sekadar Kota
Al-Quds adalah nama Arab untuk Yerusalem. Dalam bahasa Arab, kata quds sendiri berarti kesucian. Kota ini memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah agama-agama dunia. Karena Yerusalem dikenal sebagai tempat suci bagi tiga agama monoteistik besar: Islam, Kristen, dan Yahudi.
Bagi umat Kristen, di sana ada gereja Holly Sepulchure, yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Isa Al Masih. Sedangkan bagi umat Yahudi, di sana ada tembok ratapan juga tempat di mana Nabi Musa as, menerima Ten Commandements.
Dan bagi umat Islam, kedudukannya memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Di kota inilah berdiri Masjid Al-Aqsa, salah satu tempat paling suci dalam Islam. Ia merupakan masjid tersuci ketiga setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Sejak masa Nabi Muhammad, Al-Aqsa telah menjadi bagian penting dari sejarah spiritual umat Islam. Tempat yang disebut langsung dalam Al-Qur’an:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini bukan sekadar menceritakan perjalanan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mi’raj. Ia juga menegaskan satu hal penting: Al-Aqsa dan sekitarnya adalah wilayah yang diberkahi. Artinya, menjaga kehormatan tempat itu bukan hanya soal politik atau wilayah, tetapi juga soal amanah spiritual.
Dari Kepedulian Menjadi Gerakan Dunia
Al-Quds Day pertama kali dicetuskan oleh seorang ulama dan pemimpin revolusi Iran, Ayatullah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1979. Di tengah dunia yang saat itu mulai terbiasa melihat penderitaan Palestina sebagai “berita biasa”, ia mengajukan satu gagasan sederhana: dunia perlu satu hari khusus untuk mengingat Al-Quds.
Ia berkata:
“Al-Quds Day adalah hari Islam, hari ketika umat Islam harus memperingatkan kekuatan arogan bahwa mereka tidak akan lagi membiarkan nasib umat Islam ditentukan oleh kekuatan asing.”
Namun jika kita membaca gagasan itu lebih dalam, pesan Al-Quds Day sebenarnya melampaui identitas agama semata. Ia adalah seruan moral. Seruan untuk tidak membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang kita anggap normal.
Sejarah menunjukkan bahwa kezaliman sering kali tidak bertahan karena kekuatannya saja, tetapi karena diamnya banyak orang. Pada awalnya, dunia mungkin terkejut melihat penderitaan sebuah bangsa. Namun lama-kelamaan, berita itu menjadi rutinitas. Foto-foto kehancuran menjadi sekadar gambar yang lewat di layar ponsel. Dan di titik itulah bahaya sebenarnya muncul: ketika hati manusia mulai kebal.
Al-Quds Day hadir untuk melawan rasa kebal itu.
Ia seperti alarm tahunan yang berkata:
“Jangan sampai kita terbiasa melihat ketidakadilan.”
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa harus Palestina? Mengapa harus Al-Quds?
Jawabannya sebenarnya tidak rumit: Palestina telah menjadi salah satu simbol paling kuat dari pertanyaan besar tentang keadilan di dunia modern ini.
Apakah hak sebuah bangsa untuk hidup merdeka benar-benar dihormati?
Apakah nilai kemanusiaan berlaku untuk semua orang, atau hanya untuk sebagian?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Palestina tidak lagi sekadar isu regional. Ia berubah menjadi cermin moral bagi dunia. Dan setiap orang yang peduli pada keadilan, sebenarnya sedang bercermin pada pertanyaan yang sama: di mana posisi kita ketika ketidakadilan terjadi?
Memulai Kepedulian dari Hati
Namun Al-Quds Day bukan hanya tentang demonstrasi atau pernyataan politik. Yang lebih penting adalah kesadaran batin. Bahwa penderitaan manusia di belahan dunia lain tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari hidup kita.
Al-Qur’an mengingatkan kita:
“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib menolong mereka.”
(QS. Al-Anfal: 72)
Ayat ini tidak selalu berarti pertolongan fisik. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana namun tetap bermakna: empati, doa, suara, dan keberpihakan pada keadilan. Karena pada akhirnya, dunia berubah bukan hanya oleh kekuatan besar, tetapi juga oleh hati manusia yang tidak berhenti peduli.
Al-Quds Day mengajarkan satu pelajaran yang sangat sederhana tetapi sering dilupakan:
keimanan bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga kepekaan terhadap penderitaan manusia.
Jika salat membuat kita lebih dekat kepada Tuhan, maka kepedulian terhadap kezaliman membuat kita lebih dekat kepada nilai-nilai yang Tuhan cintai. Itulah sebabnya Al-Quds Day tidak sekadar menjadi agenda politik tahunan. Ia adalah latihan moral bagi umat manusia. Latihan untuk memastikan bahwa hati kita tidak menjadi dingin.
Karena dalam dunia yang penuh konflik dan kepentingan, mungkin salah satu bentuk keberanian terbesar adalah tetap memiliki hati yang peduli. Dan mungkin, itulah pesan terdalam dari Al-Quds Day: bahwa selama masih ada manusia yang bersedia mengingat dan bersuara, harapan belum pernah benar-benar hilang. []







































