Mubadalah.id – Hadis tentang penghormatan Nabi Muhammad Saw kepada ibu susuan memiliki relevansi kuat dengan realitas sosial perempuan hari ini. Kisah tersebut menegaskan bahwa peran menyusui bukanlah kerja biologis yang sepele, melainkan kontribusi besar bagi keberlangsungan kehidupan manusia.
Dalam konteks masyarakat modern, peran menyusui kerap dihadapkan pada berbagai tantangan struktural. Tidak sedikit perempuan yang harus memilih antara menyusui anak atau mempertahankan pekerjaan. Di banyak tempat, lingkungan kerja dan ruang publik belum sepenuhnya ramah terhadap ibu menyusui.
Padahal, teladan Nabi Saw menunjukkan bahwa penghormatan terhadap peran reproduksi perempuan harus kita wujudkan dalam tindakan nyata. Menghormati perempuan tidak cukup dengan pujian moral, tetapi perlu kita terjemahkan dalam kebijakan sosial dan dukungan konkret.
Bentuk dukungan tersebut dapat berupa penyediaan ruang laktasi di tempat kerja dan fasilitas umum, jaminan cuti melahirkan yang layak, serta akses terhadap makanan bergizi dan layanan kesehatan.
Langkah-langkah ini sejalan dengan nilai hadis yang menempatkan peran menyusui sebagai sesuatu yang mulia dan patut mendapatkan fasilitas.
Selain itu, hadis ini juga relevan bagi perempuan yang tetap harus bekerja di ranah publik saat menyusui. Lingkungan sosial memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perempuan dapat menjalankan peran ganda—bekerja dan menyusui—tanpa diskriminasi dan tekanan.
Dengan demikian, penghormatan terhadap ibu susuan Nabi Saw dapat kita baca sebagai pesan etik bagi masyarakat hari ini.
Islam tidak hanya mengajarkan penghormatan simbolik terhadap perempuan, tetapi juga menuntut keadilan sosial yang berpihak pada kebutuhan nyata mereka.
Hadis ini menjadi pengingat bahwa memuliakan perempuan, khususnya dalam peran reproduksi, adalah bagian dari praktik yang sejalan dengan ajaran Islam. []




















































