Judul: Katri
Penulis: Adeste Adipriyanti
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan Pertama, 4 Juni 2025
Tebal: 260 halaman
Ukuran: 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-623-1343-83-3
“Jadi manusia harus terampil menderita, terlebih lagi perempuan.” (halaman. 117)
Mubadalah.id – Kalimat itu menghantam pembaca setiap kali mereka menutup halaman demi halaman Novel Katri karya Adeste Adipriyanti. Novel ini tidak sekadar mengigatkan kisah sejarah berlatar tragedi 65. Sebagai buku debut, Adeste berhasil meracik dengan bahasa yang menyesakkan bagi pembaca.
Berlatar tahun 1965, berpusat pada kehidupan Katri, sesorang gadis yang di masa itu berusia 18 tahun dan tengah hamil 7 bulan. Dari situlah kisahnya bergulir, bagaimana Katri kemudian masuk penjara, tersiksa selama 11 tahun dari penjara ke penjara dan kemudian memulai hidupnya kembali.
Novel ini juga terilustrasikan oleh Audrey Murty. Gambar-gambar yang tersisipkan bukan sekadar pelengkap, tetapi mempertebal mempertegas bayangan situasi pada cerita. Visual itu membuat pembaca seakan terpaksa berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari bahwa apa yang terbaca bukan sekadar fiksi.
Mengajak dan mengikat imajinasi pembaca pada tubuh-tubuh yang tersiksa. Pada ruang-ruang sempit penjara, pada wajah-wajah yang kehilangan harapan. Visual tersebut justru memperlambat bacaan karena rasa sakit yang terhadirkan tidak memungkinkan kita melaju begitu saja.
Adeste menujukan penyiksaan tertulis apa adanya, tanpa efek dramatis berlebihan. Justru karena itu, kisah Katri terasa menyakitkan. Tubuh perempuan dalam novel ini bukan metafora, justru menjadi medan kekuasaan. Terpukul, terpenjara, dilabeli, dan terlupakan. Trauma tidak diberi jeda manis, dibiarkan tinggal, menua bersama waktu, dan hidup berdampingan dengan keseharian.
Keluarga Katri
Luka itu kian dalam ketika Adeste menghadirkan keluarga Katri. Penderitaan di penjara tidak berdiri sendiri, merembes hingga ke rumah, ke orang tua, ke cinta yang tak pernah benar-benar bisa menolong. Dalam dialog keluarga, Adeste kerap menyelipkan bahasa lisan dan ungkapan bahasa Jawa yang menghadirkan keintiman sekaligus kepedihan.
Ada adegan ketika bapak Katri menyambangi penjara. adegan di mana bagi saya menjadi salah satu titik paling emosional. ”Waktu menjemur satu per satu pakaianmu, aku ngomong neng kusti Allah, duk, tak ewangi nyonggo lorangmu, Nduk!.” Dalam percakapan sederhana itu, sang ayah menuturkan bagaimana ia mencuci satu per satu bekas pakaian anak perempuannya yang berlumur darah dan nanah menyayat.
Sebagai pembaca, kami tidak hanya melihat penderitaan Katri, tetapi juga merasakan kepedihan seorang keluarga yang ikut memikul sakit atas kekejaman di dalam penjara. Meski tak mampu berbuat apa-apa selain membersihkan pakaian dan berdoa.
Di titik ini, relasi orang tua dan anak tidak lagi sekadar dialog, melainkan jembatan empati yang kuat antara teks dan pembaca. Kalimat itu menghantam pecahnya tangisan yang menunjukkan keterbatasan seorang bapak yang hanya bisa ikut memikul derita anaknya lewat doa dan kasih yang tak bersuara.
Maka, di titik inilah Katri menunjukkan kekuatannya, Adeste tidak sekadar menceritakan kekerasan, tetapi membuat pembaca merasakannya. Air mata tidak jatuh karena dramatisasi berlebihan, melainkan karena kejujuran luka yang tersampaikan apa adanya.
Penderitaan Katri
Rasa sakit Katri menjadi rasa sakit pembaca. Dari situasi sunyi, kejam, dan tak mudah terlupakan. Detail Penderitaan, kesakitan, dan kekejian hadir melalui sudut-sudut kecil yang sering luput dari catatan sejarah. Lorong penjara yang pengap, lantai yang dingin dan lembap, bau darah dan nanah yang menempel di pakaian tahanan, hingga tubuh-tubuh yang bergerak bukan oleh kehendak, melainkan oleh ketakutan.
Semua itu tersusun dengan alur yang mengalir, luwes, tanpa terasa terpaksakan, seolah mengajak pembaca berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang gelap, sekaligus merasakan kemarahan yang membara pada sosok-sosok yang selama ini menyiksa, menahan, dan bahkan membunuh kejahatan yang tersembunyikan di balik tirai kekuasaan.
Menceritakan penyiksaan demi penyiksaan secara apa adanya. Penyetruman, pembakaran bagian-bagian tubuh, interogasi yang merendahkan martabat, serta kekerasan yang teralami bukan hanya oleh Katri, tetapi juga para tahanan politik lainnya.
Hidup Katri berubah bukan oleh satu peristiwa besar, melainkan oleh rangkaian kejadian yang datang beruntun, nyaris tanpa jeda. Ia lahir di Desa Trunuh, Klaten, sebagai anak bungsu dari enam bersaudara lima di antaranya laki-laki yang menjadikannya pusat kasih dalam keluarga petani sederhana.
Oktober 1965 sebagai Titik Balik
Kakak sulungnya, Suwasno, aktif di organisasi Pemoeda Rakjat dan bercita-cita mengangkat martabat petani desa. Dari Wasno-lah Katri mengenal dunia baca-tulis, kelas rakyat, dan pelan-pelan juga kesadaran sosial. Katri membantu kakaknya, menyimak, belajar, tanpa pernah membayangkan bahwa keterlibatan yang tampak sepele itu kelak menyeret hidupnya ke pusaran penderitaan dalam balik gelapnya penjara.
Pertemuan Katri dengan Agus, pemimpin Paduan Suara Lembah Merapi mula-mula tertulis sebagai kisah romansa. Namun ketegangan mulai terasa ketika pernikahan mereka ditentang keluarga Katri. Agus telah beristri. Pernikahan pun berlangsung dalam situasi serba terpaksa, Setelah menikah, Katri berhenti sekolah. Hidupnya seolah dipercepat, terpadatkan, sebelum sempat benar-benar memilih.
Lima bulan kemudian, Oktober 1965 datang sebagai titik balik. Klaten memanas. Kantor partai terbakar. Kakak-kakak Katri menghilang satu per satu. Agus ikut menyingkir. Katri, hamil tujuh bulan, tertinggalkan bersama orang tua dan satu kakak yang tidak terlibat organisasi apa pun.
Tentara datang ke rumah. Katri ditembak di kepala dalam kondisi hamil 7 bulan hingga peluru menembus pipinya, menghancurkan rahang, tetapi menyisakan lidahnya tetap utuh detail yang tertulis dengan dingin, nyaris tanpa efek dramatik, namun justru itulah yang membuat adegan ini terasa begitu kejam.
Dari Penjara ke Penjara
Selepas dirawat di RS Panti Rapih dan melahirkan, Katri tidak pulang ke rumah. Ia dijemput tentara. Ia memulai perjalanan panjang dari satu penjara ke penjara lain. Interogasi demi interogasi, tanpa penjelasan yang pernah tuntas. Anehnya, Katri dianggap “orang penting”. Tahun 1968, ia sempat terbebaskan, hanya untuk kembali tertangkap setelah diam-diam menemui kakaknya, Wasno. Di sela-sela penjara, Katri bahkan pernah ditempatkan di rumah sakit jiwa sebuah ruang yang dalam novel ini terasa tak kalah represif dari sel tahanan.
Kekerasan mencapai titik paling bringas ketika Katri diperkosa oleh penjaga penjara di Jakarta hingga hamil anak ke dua. Adeste menuliskan peristiwa ini sangat jelas dan telanjang. Justru karena itu, pembaca terpaksa menatap kekerasan itu apa adanya sebagai praktik yang banal, berulang, dan terbiarkan.
Di tengah penyiksaan, Katri menulis sebuah kalimat di secarik kertas:
“Aku pasti selamat. Usiaku bakal lewat 70 tahun dan sehat…” (hlm. 238)
Kalimat ini bukan afirmasi heroik, melainkan pegangan paling minimal agar ia tidak runtuh. Seperti Adeste tuliskan, keyakinan Katri bekerja sunyi, nyaris tak terdengar, tetapi terus bertahan.
Korban Tahanan Politik
Gaya penulisan Adeste Adipriyanti tegas, bernyawa, bergerak spontan, dan jujur nyaris tak memberi ruang bagi pembaca untuk bernapas lega. Jujur pada kenyataan pahit yang ia tuturkan. Selama 11 tahun, penulis meriset dan merekap setiap pengalaman ibu Katri di dunia nyata, gerak tubuh di penjara dan cara perempuan menahan lapar. Selain itu ingatan yang tersimpan diam-diam menjadi kekayaan yang membentuk tokohnya dari pakaian tahanan, lorong penjara, doa lirih, ingatan keluarga dan lainnya.
Meski kisahnya berkelindan dengan penderitaan dan kekerasan korban tahanan politik, Adeste menuturkannya tanpa efek sentimentil. Sehingga luka terasa lebih nyata justru karena tersampaikan apa adanya.
Setelah tiba di titik terakhir Katri, kita turut mengamini semacam kesaksian sunyi yang terajut sepanjang novel ini. Bahasa yang Adeste Adipriyanti pilih begitu tajam dan jujur, niscaya mengharuskan pembaca menundukkan pandangan saat membacanya. Bukan karena silau oleh keindahan, melainkan oleh sakit dan kepedihan yang membuat air mata turut jatuh tanpa kita minta.
Pada pokok yang lebih utama, Katri mengingatkan kita bahwa tragedi 1965 bukan semata peristiwa sejarah yang telah usai, melainkan luka kemanusiaan yang terus bekerja dalam kehidupan sehari-hari para penyintas dan keluarganya.
Melalui kisah Katri, mengajak pembaca memahami bahwa bertahan hidup sering kali bukan soal keberanian besar, melainkan kesanggupan menerima luka, merawat ingatan, dan tetap memilih hidup di tengah ketidakadilan.
Novel ini menegaskan bahwa pemulihan tidak selalu hadir sebagai kemarahan atau perlawanan terbuka, tetapi bisa berupa ketabahan yang sunyi, kasih yang diam-diam bekerja, serta upaya menjaga kemanusiaan di tengah sistem yang pernah dan masih gemar membungkam. []




















































