Minggu, 30 November 2025
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Transisi Energi

    Gerakan 16 HAKTP: Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Menguatkan Transisi Energi Berkeadilan

    Fahmina

    Marzuki Rais: Fahmina Tumbuh dari Kontrakan, Kuat di Pendidikan, Meluas Lewat Jejaring Asia

    Fahmina

    Marzuki Rais Beberkan Tantangan Advokasi dan Misi Keberagaman Fahmina

    Inklusif

    Peringati Seperempat Abad, Fahmina Kuatkan Gerakan Pendidikan Inklusif

    Demokrasi

    Kelas Diskusi Islam & Demokrasi Fahmina Soroti Rapuhnya Demokrasi dan Pengalaman Diskriminasi Kelompok Minoritas

    Kekerasan Seksual

    Kelas Diskusi Islam dan Gender Fahmina Ungkap Masalah Laten Kekerasan Seksual dan Perkawinan Anak

    Fahmina yang

    Fahmina Luncurkan Buku “Bergerak untuk Peradaban Berkeadilan” di Harlah ke-25

    25 Tahun Fahmina

    Fahmina Akan Gelar Peringatan 25 Tahun, Ini Rangkaian Acaranya

    P2GP

    P2GP Harus Diakhiri: KUPI Minta Negara Serius Libatkan Ulama Perempuan dalam Setiap Kebijakan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Unity in Diversity

    Unity in Diversity: Pengalaman Belajar Keberagaman di UIII

    Seks

    Hubungan Seks Suka Sama Suka, Zina atau Bukan?

    trafficking

    Al-Qur’an Melindungi Para Korban Trafficking

    Literasi Digital Inklusif

    Pentingnya Literasi Digital Inklusif: Cegah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)

    trafficking yang

    Kisah Mu’adzah: Pengingat Bahaya Trafficking

    Ayah dan Anak

    Ibu, Ayah dan Anak pada Zaman yang Terus Berubah

    trafficking

    Trafficking dan Pembelaan Al-Qur’an kepada Perempuan

    Kisah Disabilitas

    Cara Media Membangun Jarak: Kesalahan Kita Mengangkat Kisah Disabilitas

    Ishlah

    Ishlah: Solusi Damai untuk Selamatkan Pernikahan

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    Surga

    Ketika Surga Direduksi Jadi Ruang Syahwat Laki-Laki

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Transisi Energi

    Gerakan 16 HAKTP: Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Menguatkan Transisi Energi Berkeadilan

    Fahmina

    Marzuki Rais: Fahmina Tumbuh dari Kontrakan, Kuat di Pendidikan, Meluas Lewat Jejaring Asia

    Fahmina

    Marzuki Rais Beberkan Tantangan Advokasi dan Misi Keberagaman Fahmina

    Inklusif

    Peringati Seperempat Abad, Fahmina Kuatkan Gerakan Pendidikan Inklusif

    Demokrasi

    Kelas Diskusi Islam & Demokrasi Fahmina Soroti Rapuhnya Demokrasi dan Pengalaman Diskriminasi Kelompok Minoritas

    Kekerasan Seksual

    Kelas Diskusi Islam dan Gender Fahmina Ungkap Masalah Laten Kekerasan Seksual dan Perkawinan Anak

    Fahmina yang

    Fahmina Luncurkan Buku “Bergerak untuk Peradaban Berkeadilan” di Harlah ke-25

    25 Tahun Fahmina

    Fahmina Akan Gelar Peringatan 25 Tahun, Ini Rangkaian Acaranya

    P2GP

    P2GP Harus Diakhiri: KUPI Minta Negara Serius Libatkan Ulama Perempuan dalam Setiap Kebijakan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Unity in Diversity

    Unity in Diversity: Pengalaman Belajar Keberagaman di UIII

    Seks

    Hubungan Seks Suka Sama Suka, Zina atau Bukan?

    trafficking

    Al-Qur’an Melindungi Para Korban Trafficking

    Literasi Digital Inklusif

    Pentingnya Literasi Digital Inklusif: Cegah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)

    trafficking yang

    Kisah Mu’adzah: Pengingat Bahaya Trafficking

    Ayah dan Anak

    Ibu, Ayah dan Anak pada Zaman yang Terus Berubah

    trafficking

    Trafficking dan Pembelaan Al-Qur’an kepada Perempuan

    Kisah Disabilitas

    Cara Media Membangun Jarak: Kesalahan Kita Mengangkat Kisah Disabilitas

    Ishlah

    Ishlah: Solusi Damai untuk Selamatkan Pernikahan

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    Surga

    Ketika Surga Direduksi Jadi Ruang Syahwat Laki-Laki

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Orasi Kebangsaan: Pahlawan bagi Indonesia Sehat dan Kuat

Dengarlah hari ini Indonesia memanggil. Dengarlah Indonesia mendesak. Dengarlah Indonesia menggedor nurani kita. Bergeraklah, berjuanglah, bertindaklah untuk mewujudkan cinta kita pada bangsa Indonesia

Alissa Wahid Alissa Wahid
7 November 2023
in Featured, Publik
0
Indonesia

Indonesia

365
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Salam Sejahtera.

Sebelum memulai, saya ingin menyampaikan mengapa saya memilih hanya menggunakan dua salam ini. Saya tentu ingin menghargai semua dan setiap agama dan keyakinan di bumi Nusantara, bukan hanya yang diakui formal oleh Negara. Tetapi untuk itu, saya tidak mungkin menyebutkannya satu per satu, saking beragamnya Indonesia. Karena itu, saya mengucap assalamu’alaikum karena saya seorang Muslim, dan saya mengucap salam sejahtera karena saya seorang warga Indonesia. Saya sampaikan ini, agar bapak ibu saudara-saudari saya yang terbiasa dengan enam salam tidak merasa saya tinggalkan.

Pagi ini, kita memperingati 76 tahun lahirnya negara Indonesia. Bulan Agustus biasanya menjadi bulan perayaan Indonesia, di mana rakyat berkumpul di pusat-pusat lingkungan tempat tinggalnya, untuk berbagai seseruan yang telah menjadi tradisi bersama, mulai dari parade, gotong-royong kampung, tirakat kemerdekaan, panggung gebyar kemerdekaan serta lomba-lomba, mulai dari makan kerupuk sampai lomba panjat pinang, di seluruh penjuru tanah air. Tua muda, miskin kaya, siapa saja hadir dan terlibat merayakan keberagaman dan persatuan.

Agustusan juga menjadi momen untuk menyelami kembali tentang sebuah gagasan bernama Indonesia, di mana negerinya gemah ripah loh jinawi, rakyatnya adil makmur sentosa dengan membentuk Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Suka cita Agustusan ini tentu meredup bersama bencana pandemi. Sudah selayaknya. Tahun 2021 menjadi tahun kedua kita memperingati kelahiran negara bangsa ini dalam aura penuh keprihatinan. Setahun ini, pandemi ini telah menjungkirbalikkan kehidupan kita bersama.

Terhitung 3,8 juta orang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia pada tanggal 16 Agustus 2021. Secara resmi, tercatat lebih dari 118 ribu orang meninggal dunia. Ini pun data yang kita tahu tidak merefleksikan realita yang sesungguhnya. Para epidemiolog memperkirakan, angka faktualnya berkisar antara lima sampai delapan kali lebih besar. Kawasan-kawasan pemakaman baru yang dalam waktu cepat tertutup pusara menjadi saksi tak terbantahkan, betapa akbar jumlah kematian akibat pandemi ini. Pahit bagi kita untuk mengakui bahwa saat ini kita tidak mampu memenuhi cita-cita untuk melindungi segenap bangsa Indonesia.

Sangat besar, jumlah warga yang mengingkari pandemi dengan sikap abai prokes maupun menghindar dari sistem layanan kesehatan. Seorang teman mengatakan di desanya 4-6 orang meninggal dunia setiap hari tapi itu karena pagebluk, bukan Covid-19. Orang tetap bertamasya tanpa peduli pada kemungkinan terbawa bencana. Bila sakit, larilah dari rumah sakit agar tidak dicovidkan. Tak usah vaksin, karena tidak terjamin. Kata dr. Pandu Riono, yang terjadi adalah herd stupidity, dan barangkali ini refleksi kegagalan kita mencerdaskan kehidupan bangsa dalam hal pemahaman pandemi.

Pandemi ini memberikan pukulan besar kepada keluarga-keluarga Indonesia. Kementerian Sosial mencatat lebih dari 11.000 anak kehilangan orangtua akibat Covid-19. Penduduk miskin meningkat, menjadi 27,4 juta jiwa di bulan Maret 2021. Kelompok pekerja informal menjadi lapisan pertama yang terpukul oleh hilangnya pendapatan harian, akibat ketiadaan mitigasi berupa perlindungan sosial yang malangnya justru sempat dikorupsi.

Sebagai dampak ikutannya, tantangan kehidupan berkeluarga pun meningkat. Angka perceraian meningkat. Kasus kekerasan terhadap anak meningkat, terutama terkait pembelajaran daring yang melibatkan orangtua. Begitu juga kekerasan terhadap perempuan. Dalam jangka panjang, kecenderungan baru ini berpotensi menyulut kebiasaan kekerasan berulang. Cita-cita membangun kesejahteraan umum, kembali mundur selangkah.

Sebagaimana masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, kita sedang menghadapi situasi genting. Sejatinya, kita sedang berada pada situasi perang, memperjuangkan keselamatan kita bersama sebagai bangsa. Bila di tahun 1945 kita berperang melawan pasukan kolonial, di masa ini kita melawan pasukan virus yang jauh lebih kuat daripada manusia.

Di masa perjuangan kemerdekaan, kita mencatat para pahlawan dari berbagai lapisan bangsa kita yang rela memberikan jiwa raganya untuk mewujudkan kemerdekaan demi segenap bangsa Indonesia. Setahun ini, kita mencatat para pahlawan dengan semangat yang sama, dengan senjata yang berbeda. Bukan mereka yang berpengaruh politik, atau bermodal kekayaan, atau bersandar pada dukungan kelompok kepentingan. Tetapi manusia Indonesia rata-rata, dengan dorongan cinta yang luar biasa, yang berada di garis kritis bencana ini.

Terdepan dalam barisan para pahlawan masa kini adalah para tenaga kesehatan yang berjibaku dalam keterbatasan sarana prasarana serta risiko pribadi yang sangat tinggi. Puluhan ribu tenaga kesehatan yang kala bertugas harus membungkus dirinya dengan pakaian yang menyengsarakan: tidak bisa minum, tidak bisa makan, tidak bisa ke kamar mandi. Yang memilih untuk membatasi bertemu dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya, karena ingin melindungi mereka yang dicintainya. Dan cukup menyesakkan, laman Pusara Digital laporcovid19.org menyebutkan 1.800 lebih tenaga kesehatan di Indonesia ikut menjadi korban jiwa.

Di baris setelahnya, para petugas pemakaman yang bekerja nonstop untuk menggali dan menguburkan jenazah para korban Covid-19. Mereka bekerja di bawah terik matahari dan gelapnya malam, tanpa beroleh dukungan fasilitas yang memadai. Bahkan kadang terpaksa menggeletak beristirahat di pinggir pemakaman, hanya untuk meredakan kepenatan.

Demikian pula para relawan garis kritis yang mengantar para pasien mencari RS, mengurus jenazah, membuat peti mati, bahkan melakukan pemakaman. Dan tentunya, para relawan gerakan kemanusiaan seperti GUSDURian Peduli, Gerakan Islam Cinta, Sambatan Jogja, Dapur Umum Buruh Gendong, Warga Bantu Warga, dan lain-lainnya, yang mengantarkan bantuan dari rakyat yang terus bergotong-royong kepada saudara sebangsanya yang membutuhkan.

GUSDURian Peduli yang bertumpu pada jejaring gusdurian di berbagai sudut Indonesia, menjadi jujugan dari berbagai inisiatif pengumpulan donasi yang ingin menyalurkan bantuannya. Ini menjadi refleksi dari kepercayaan masyarakat kepada kredibilitas Jaringan GUSDURian, dan kepada daya jangkau Jaringan GUSDURian yang membersamai rakyat.

Para tenaga kesehatan, para penggali kuburan, para relawan, mereka inilah para pahlawan Indonesia era modern. Yang maju ke depan menghadapi tantangan zaman, walau medan pertempuran penuh dengan keterbatasan dan ranjau yang membahayakan. Yang tidak pernah berpikir untuk menjadi pahlawan, hanya bergerak karena panggilan tugas pelayanan.

Di sisi yang lain, bagaimana dengan para pemimpin dalam medan perjuangan ini?

Di tahun 1945, dalam situasi penuh ketidakpastian, ketidaksiapan, ketidaknyamanan, dan di tengah perbedaan pandangan, para pemimpin kita ikhlas bersepakat untuk melahirkan Republik Indonesia dengan mengesampingkan kepentingan kelompoknya, lalu bahu-membahu merawat bayi republik.

Namun kali ini, sebagian besar elit bangsa setahun ini sepertinya memiliki prioritas yang berbeda dengan para pemimpin bangsa tahun 1945. Alih-alih memusatkan sumber dayanya untuk berkontribusi menghadapi pandemi, kita justru disuguhi berbagai aksi yang memprihatinkan.

Ada pernyataan pejabat yang meremehkan pandemi, ada pernyataan antarpejabat yang saling menegasikan, ada kebijakan pemerintah daerah yang tidak selaras dengan pemerintahan di atasnya, ada korupsi data pandemi hanya untuk mempersolek diri di mata publik, ada bantuan sosial yang dikorupsi, ada kehebohan yang mulia wakil rakyat di parlemen yang menuntut perlakuan istimewa misalnya RS khusus bagi wakil rakyat dan fasilitas isolasi mandiri di hotel.

Ada juga upaya memanfaatkan bencana untuk mengejar agenda-agenda oligarki. Dan yang paling epik adalah ada baliho-baliho wajah-wajah tokoh nasional. Pragmatisme terhadap kepentingan politik membuat mereka takut rakyat lupa wajah mereka di tahun 2024 nanti. Sebagaimana disampaikan lugas oleh Buya Syafii Maarif, negeri ini surplus politisi, minus negarawan.

Tahun 2021 ini, kita tidak pantas merayakan kemerdekaan kita dengan pesta. Keprihatinan ini tidak hanya demi menghormati jutaan jiwa yang terdampak pandemi ini. Lebih dari itu, pesta kemerdekaan tidak pantas kita lakukan karena tahun ini kita belajar lebih banyak tentang pekerjaan rumah kita yang masih jauh dari cita-cita membangun negeri yang adil makmur sentosa.

Tahun ini, kita perlu memperingati kemerdekaan dengan menghaturkan penghargaan kepada para pahlawan Indonesia hari ini. Tanpa mereka yang berada di garis kritis, entah bagaimana kondisi rakyat kita. Yang sakit, tak akan tertolong. Yang membutuhkan bantuan, tak akan terlayani. Yang bersedih, tak akan ada yang menemani.

Tahun ini, kita pantas memperingati kemerdekaan bangsa ini dengan menata hati dan menata diri, bersiap untuk menata langkah. Kita langitkan doa untuk memperkuat nurani dan keteguhan jiwa. Tidak perlu bertekad untuk menjadi pahlawan negara. Hanya perlu menetapkan hati untuk berkhidmah bagi bangsa.

Sebagai para penerus perjuangan Gus Dur, kita telah diberi inspirasi untuk tidak berhenti mencintai Indonesia. Kita telah diberi inspirasi untuk terus bergerak demi bangsa Indonesia Indonesia. Kita telah diberi inspirasi untuk memberi, tidak hanya mengambil dan menerima. Kita telah diberi inspirasi untuk bertindak, tidak hanya berpikir dan berbicara. Kita telah diberi inspirasi untuk berjuang untuk cita-cita kita. Kita telah diberi inspirasi untuk tidak mengharapkan imbalan selain dari tujuan perjuangan itu sendiri.

Suatu ketika, Gus Mus berkeluh-kesah kepada Gus Dur, mengapa Indonesia sering memanggil NU pada saat-saat genting dalam perjalanan sejarahnya, tetapi ketika tantangan terlewati, NU kembali terpinggirkan terlupakan, sementara panggung dan sumber daya direbut oleh lainnya. Kata Gus Mus, NU hanya diperlakukan layaknya satpam Indonesia. Gus Dur menjawab, “Apakah kurang mulia, menjadi satpam Indonesia?”

Maka dengarlah hari ini Indonesia memanggil. Dengarlah Indonesia mendesak. Dengarlah Indonesia menggedor nurani kita. Bergeraklah, berjuanglah, bertindaklah untuk mewujudkan cinta kita pada bangsa Indonesia.

Indonesia membutuhkan pribadi yang tak ragu keluar dari zona aman untuk masuk dalam gelanggang pertempuran melawan pandemi. Indonesia membutuhkan pegiat yang berani melayani di garis kritis. Indonesia membutuhkan warga yang mau membantu saudara sebangsanya.

Indonesia membutuhkan manusia-manusia penuh komitmen untuk mengorganisir dan mengumpulkan sumber daya yang kita perlukan untuk mengatasi bencana ini. Indonesia membutuhkan orang-orang yang berteguh hati untuk terus berusaha mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang mendera.

Indonesia membutuhkan kadernya yang bergerak menjahit berbagai upaya dan kelompok untuk berjalan bersama, bergotong-royong menghadapi pandemi. Dan yang tak kalah penting, Indonesia membutuhkan anak-anak bangsa yang tetap kritis menyuarakan keadilan dan kemanusiaan di tengah bencana ini, agar kita tidak menggadaikan perjuangan jangka panjang dan cita-cita kita.

Tanggal 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa dan para pahlawan telah membuka pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tugas kita hari ini untuk memastikan pintu itu tidak tertutup dan terhalang, untuk dapat mewujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa. Mari, kita teguhkan diri.

Selamat bertindak. Selamat bergerak. Selamat berjuang. Demi rakyat, demi Indonesia.

Gus Dur telah meneladankan. Saatnya kita melanjutkan. []

Via: https://gusdurian.net/orasi-kebangsaan-17-agustus-2021-pahlawan-bagi-indonesia-sehat-indonesia-kuat/
Tags: 17 Agustus 194576 Tahun KemerdekaanIndonesia KuatIndonesia RayaIndonesia SehatKebangsaankemerdekaanRepublik Indonesia
Alissa Wahid

Alissa Wahid

Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia

Terkait Posts

Guru Hebat
Publik

Guru Hebat, Dari Pahlawan Kemerdekaan Sampai Penjaga Masa Depan Bangsa

25 November 2025
Santri Penjaga Peradaban
Publik

Santri Penjaga Peradaban: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Dunia yang Damai

25 Oktober 2025
Multitafsir Pancasila
Publik

Multitafsir Pancasila Dari Legitimasi Kekuasaan ke Pedoman Kemaslahatan Bangsa

4 Oktober 2025
Diplomasi Moral Indonesia
Publik

Diplomasi Moral Indonesia: Prabowo dan Komitmen Terhadap Palestina di PBB

26 September 2025
Indonesia Merdeka
Publik

Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Sosial: Refleksi Setelah Delapan Puluh Tahun Indonesia Merdeka

26 Agustus 2025
Makna Kemerdekaan
Publik

Makna Kemerdekaan di Mata Rakyat: Antara Euforia Agustus dan Realitas Pahit

8 September 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Seks

    Hubungan Seks Suka Sama Suka, Zina atau Bukan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Media Membangun Jarak: Kesalahan Kita Mengangkat Kisah Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Al-Qur’an Melindungi Para Korban Trafficking

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Mu’adzah: Pengingat Bahaya Trafficking

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Gerakan 16 HAKTP: Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Menguatkan Transisi Energi Berkeadilan
  • Aku, Mama, dan Mimi Monalisa
  • Unity in Diversity: Pengalaman Belajar Keberagaman di UIII
  • Hubungan Seks Suka Sama Suka, Zina atau Bukan?
  • Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

Komentar Terbaru

  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID