Judul Buku: Perempuan di Titik Nol
Pengarang: Nawal el-Saadawi
Penerjemah: Amir Sutaarga
Penerbit: Pustaka Obor
ISBN: 978-602-433-438-3
Mubadalah.id – Perlawanan, terutama perlawanan yang perempuan suarakan seringkali berkonotasi buruk: yang di luar doktrin, yang di luar aturan. Dalam budaya patriarkhi yang telah lama tertanam dalam keseharian masyarakat Arab, perempuan mendapat anggapan sebagai makhluk liyan yang tidak perlu terlibat dalam aktivitas publik, pengambil keputusan, dan bahkan pendidikan. Tugas utama perempuan dalam kepercayaan patriakhis hanyalah tugas-tugas domestik berupa sumur, kasur dan dapur.
Nawal el-Saadawi, seorang dokter, feminis dan novelis berkebangsaan Mesir, dalam Perempuan di Titik Nol melakukan kritik tajam terhadap budaya patriarkhi yang mengakar kuat di Mesir. Melalui Firdaus, tokoh utama dalam novelnya tersebut, ia membongkar habis-habisan praktik-praktik patriarkhis yang terjadi di sana.
Perempuan di Titik Nol memiliki judul asli Imro’a ‘Inda Nuqthah al-Shifr yang pertama kali terbit pada tahun 1975. Perempuan di Titik Nol yang terbit di Indonesia pertama kali pada 1989 merupakan terjemahan dari edisi berbahasa Inggris berjudul Women at Point Zero oleh Zed Books Ltd. pada 1983.
Novel ini mulai Nawal tulis ketika mencuatnya isu modernisasi yang terjadi di Mesir. Hal ini juga dapat kita kaitkan dengan munculnya aktivisme feminisme sebagai akibat dari modernisasi tersebut. Nawal el-Saadawi menulis novel tersebut berdasarkan kisah seorang perempuan Mesir yang ia temui di penjara Qanatir.
Perjalanan hidup perempuan tersebut kemudian menginspirasinya untuk menulis novel tersebut. Firdaus, nama tokoh yang Nawal pilih untuk perempuan tersebut, menjadi pijakan untuk menguraikan benang kusut patriarkhi yang selama ini tidak kita sadari atau barangkali tertutupi dengan agama dan pengetahuan.
Membongkar Praktik Patriarkhi: Keluarga hingga Pendidikan
Nawal memulai ceritanya dengan menggambarkan keluarga sebagai tempat pertama yang sangat rentan dan potensial bagi terjadinya praktik patriakhi dan bahkan kekerasan seksual terhadap perempuan termasuk perempuan di bawah umur seperti yang Firdaus alami. Bahkan pamannya yang dalam benak Firdaus adalah orang alim dan berpengetahun merupakan pelaku pelecehan seksual itu sendiri.
Dalam novel tersebut, Nawal jelas menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap institusi keluarga sebab di dalamnya perempuan mendapat posisi marginal dan tidak jarang perempuan (seorang istri) menjadi sasaran kekerasan laki-laki dengan alasan kesalahan yang perempuan lakukan. Pamannya kepada istrinya dan di kemudian hari, suami Firdaus sendiri – yang merupakan seorang syekh dan memiliki kedudukan terpandang secara sosial – juga melakukan kekerasan terhadap perempuan.
Hal ini sangat berbanding terbalik ketika mereka berada di luar rumah dan membicarakan tentang dosa dan pahala. Apa yang Firdaus alami hingga saat menginjak usianya ke-19 dan menjadi istri seorang syekh tersebut membawanya pada pelarian-pelarian yang mengantarkannya menjadi pelacur “kelas atas” yang sukses. Firdaus pernah mengatakan,
“Saya tahu bahwa profesiku ini diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini, dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada seorang istri yang diperbudak.”
Minimnya Akses Pendidikan untuk Perempuan
Jika kita analisis secara lebih mendalam, pelacur bukanlah profesi yang langsung Firdaus lakoni pasca kabur dari rumah suaminya karena terus menerus mendapatkan kekerasan. Beberapa kali ia menawarkan diri untuk bekerja. Usianya yang tergolong belia serta ijazah sekolah dasar dan menengah yang ia miliki tidak membantunya sama sekali dalam menemukan pekerjaan.
Akses perempuan untuk mendapatkan pekerjaan terhalang oleh akses pendidikan yang juga minim. Pada masa itu, tidak ada akses pendidikan lanjut di tingkat yang lebih tinggi bagi perempuan. Kampus seperti Al-Azhar hanya menyediakan akses pendidikan bagi laki-laki. Dalam sebuah dialog dengan pamannya, Nawal melakukan kritik sosial berupa pendidikan yang tidak merata terhadap semua golongan.
“Apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”
“Saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti paman.” (h. 21)
Dalam kesempatan lain, Nawal juga menuliskan,
“El Azhar adalah suatu dunia yang mengagumkan dan hanya dihuni oleh orang laki-laki saja, dan Paman merupakan salah seorang dari mereka, dan dia adalah seorang laki-laki.” (h. 31)
Firdaus: Perlawanan tanpa Akhir
Firdaus berakhir di penjara Qanatir atas tuduhan melakukan pembunuhan seorang laki-laki. Hal ini karena ia bertemu dengan seorang pangeran Arab yang hendak menyewa dirinya dan berakhir pada ia menyerang berbagai macam kritik terhadap pangeran tersebut.
Ia mengatakan bahwa pangeran tersebut mengeruk uang dari rakyatnya yang kelaparan untuk diberikan kepada seorang pelacur. Kepada pangeran tersebut, ia mengatakan bahwa dirinya adalah pembunuh yang tidak melakukan kejahatan, ia hanya membunuh penjahat.
Atas pengakuannya inilah dia harus berakhir di penjara. Bahkan pada saat ia telah berada di sel tahanan, Firdaus tidak berhenti mengkritik laki-laki. Ia menolak bebas dengan syarat menulis surat permohonan kepada presiden dan meminta maaf atas kejahatan yang ia lakukan. Ia lebih memilih mendekam di penjara dan mendapatkan hukuman mati sebagai gantinya.
Firdaus memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran di dalam dunia yang ia sebut sebagai dunia yang penuh dusta. Ia merupakan simbol perlawanan terhadap sistem patriarkhi. Eksekusi mati Firdaus terjadi pada tahun 1974.
Pada 1981, Nawal juga mendapat kriminalisasi karena ideologinya yang melawan patriarkhi. Nawal pernah menulis, “Kebenaran itu liar dan berbahaya.” []




















































