Senin, 20 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

Dukungan Soekarno terhadap Palestina bukanlah sikap yang lahir dari ruang hampa moral semata, melainkan sebuah hubungan timbal balik dan balas budi historis

intanhandita by intanhandita
9 Februari 2026
in Aktual, Featured
A A
0
Soekarno dan Palestina

Soekarno dan Palestina

36
SHARES
1.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”

Mubadalah.id – Kutipan pernyataan tersebut adalah sebuah penentangan keras dari Bapak Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno terhadap penjajahan tanah Palestina. Beliau terkenal sangat memberikan dukungan penuh terhadap kemerdekaan Palestina dengan dukungan yang tak terbantahkan dan selalu konsisten. Bukan sekadar lewat kata-kata, tapi juga ia buktikan melalui tindakan nyata.

Meskipun Bung Karno belum pernah menjejakkan kaki di tanah Palestina, namun jejak dukungan Sang Proklamator Indonesia untuk kemerdekaan Palestina telah terpatri dalam catatan sejarah. Dukungan pemerintah Indonesia, yang digaungkan oleh Bung Karno terhadap kemerdekaan Palestina tak lepas dari sokongan yang diberikan pemerintah dan rakyat Palestina terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Lantas, apa yang mendasari Soekarno untuk membela Palestina mati-matian?

Palestina dan Pengakuan De Facto atas Merdekanya Indonesia

Setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944 mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini telah memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pengakuan ini tersampaikan tepat setelah janji kemerdekaan dari Perdana Menteri Jepang Koiso, dan didukung kuat oleh pers dan radio Palestina serta Timur Tengah.

Dalam pidatonya di Radio Berlin yang ia sampaikan dengan berbahasa Arab, Syekh Amin Al-Husaini secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia dan menyerukan kepada negara-negara Muslim lainnya untuk melakukan hal yang sama. Pidato tersebut berhasil memberikan angin segar bagi perjuangan Indonesia.

Berdasarkan buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karya M Zein Hassan Lc Lt, sejak dukungan yang tersampaikan secara terbuka melalui siaran radio oleh Syekh Muhammad Amin Al-Hussaini, jalanan di Palestina terpenuhi gelombang aksi solidaritas dan dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah.

Seruan dari Syekh Amin Al-Husaini terakui sebagai salah satu pernyataan paling awal dari seorang pemimpin dunia Muslim yang memberikan pengakuan dan dukungan internasional terhadap hak-hak Indonesia untuk merdeka. Dukungan ini juga memberi semangat kepada para pejuang di tanah air untuk terus melanjutkan perjuangan melawan penjajahan.

Selain dukungan melalui forum internasional, Palestina juga berperan dalam membangun solidaritas di kalangan negara-negara Muslim. Yakni untuk membantu Indonesia mencapai kemerdekaannya. Sebagai negara yang juga mengalami penjajahan dan tekanan, para pemimpin Palestina memahami penderitaan yang Indonesia alami, dan mendukung penuh perjuangan untuk bebas dari kolonialisme.

Solidaritas antara Palestina dan Indonesia ini juga berakar pada hubungan yang kuat di kalangan ulama dan aktivis pergerakan Islam. Para ulama Indonesia sering kali menjalin hubungan dengan ulama-ulama Palestina dalam forum-forum internasional. Termasuk melalui organisasi Islam seperti Liga Arab dan forum-forum Islam lainnya. Hubungan erat ini memberikan dukungan diplomatik yang kuat bagi Indonesia di tengah perjuangan diplomasi di panggung internasional.

Pengakuan Palestina adalah Pemantik Pengakuan Internasional atas Kemerdekaan Indonesia

Dukungan Palestina adalah sebuah simbol awal dari pengakuan internasional atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Meski secara formal, Indonesia baru mendapatkan pengakuan luas dari dunia internasional beberapa tahun pasca proklamasi. Palestina dan negara Muslim lainnya seperti Mesir memainkan peran penting dalam mendorong pengakuan ini. Pengakuan dari Palestina dan negara Muslim lain dapat membantu Indonesia untuk memperoleh pengakuan dari negara-negara lain dan organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pada tahun 1947, saat Indonesia masih berjuang mempertahankan kedaulatan dari upaya Belanda untuk kembali menguasai tanah air melalui agresi militer, dukungan dari Palestina dan negara-negara Muslim semakin penting. Mesir, yang juga dekat dengan Palestina, menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1947, terikuti oleh negara-negara Arab lainnya. Pengakuan tersebut sangat strategis dalam membuka jalan bagi pengakuan yang lebih luas di tingkat internasional.

Sikap Balas Budi Soekarno pada Palestina

Dukungan Indonesia atas kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel telah berlangsung sejak era Presiden Soekarno. Bagi Soekarno, tiap bangsa punya hak menentukan nasibnya sendiri tanpa melalui pengaturan dan campur tangan negara lain.

Sedari awal, Indonesia tak mau mengakui Israel yang David Ben-Gurion proklamasikan pada 14 Mei 1948, karena merampas tanah rakyat Palestina. Pemerintah Indonesia tak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan, ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang Presiden Israel, Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion kirimkan tak pernah tertanggapi serius oleh pemerintah Indonesia. Mohammad Hatta, sang wakil presiden pun hanya mengucapkan terima kasih, namun tak menawarkan timbal-balik dalam hal pengakuan diplomatik. Soekarno juga tak menanggapi telegram ucapan selamat dari Israel. 

Saat Soekarno mulai menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1953, Indonesia dan Pakistan menolak keras keikutsertaan Israel dalam konferensi tersebut. Kehadiran Israel dapat menyinggung perasaan bangsa Arab. Di mana kala itu mereka masih berjuang memerdekakan diri. Sementara Israel adalah bagian dari imperialis yang hendak dienyahkan Soekarno dan pemimpin-pemimpin dunia ketiga lainnya.

Solidaritas Asia-Afrika

Dalam pidato pembukaannya di KAA pada 1955 yang juga dihadiri pejuang Palestina Yasser Arafat, Soekarno menyatakan bahwa kolonialisme belum mati. Ia hanya berubah bentuk. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya.

Maka dari itu, tulis Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku, Bung Karno mengajak supaya bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam Konferensi ini membentuk satu front anti-kolonialisme dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika.

Menurut Soekarno Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat terkalahkan dan tertundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga. Hal itu ia sampaikan dalam pidato hari ulang tahun Republik Indonesia ke-21 pada 17 Agustus 1966, sebagaimana termuat dalam Revolusi Belum Selesai.

Pasca KAA, solidaritas Asia-Afrika menguat dan semangat antikolonialisme makin membara di dada rakyat kedua benua tersebut. Dukungan Soekarno makin keras terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina. Hal itu ia wujudkan dengan berbagai cara, tak terkecuali melalui olahraga. Maulwi Saelan, pengawal Soekarno saat itu, menjadi saksi tatkala sepak bola menjadi salah satu alat perjuangan Indonesia di pentas politik internasional.

Menolak Hubungan Diplomatik dengan Israel

Melansir dari Historia, menurut Maulwi Saelan, pada tahun 1958 Indonesia tinggal selangkah lagi masuk ke ajang Piala Dunia. Di penyisihan wilayah Asia Timur, Indonesia berhasil menundukkan Tiongkok. Indonesia tinggal memainkan pertandingan penentuan melawan Israel sebagai juara di wilayah Asia Barat. Namun, Soekarno melarangnya. Ia menganggap menerima pertandingan dan melawan Israel itu sama saja dengan mengakuinya. 

Perlawanan terhadap Israel kembali Soekarno lakukan ketika Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962. Pemerintah Indonesia tidak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taiwan dengan alasan resmi yang Indonesia keluarkan, bahwa Indonesia tak mempunyai hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut. Padahal, kebijakan tersebut berdasarkan alasan politik antiimperialisme Soekarno.

Konteks kebijakan tersebut lahir dengan keadaan negara-negara Arab yang sedang bersengketa dengan Israel yang saat itu ditopang. Sedangkan China, terkucilkan oleh dunia internasional setelah Barat hanya mengakui Taiwan sebagai pemerintahan China yang sah. Soekarno memandang hal ini sebagai bentuk penindasan negara-negara Old Established Forces (Oldefos) terhadap New Emerging Forces (Nefos).

Akibatnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memberikan skorsing pada keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tak ditentukan. Alih-alih patuh, Soekarno justru memberikan perlawanan dengan memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia keluar dari IOC pada Februari 1963. John D. Legge dalam Soekarno: Biografi Politik menulis “Sebagai jawabannya Soekarno membentuk Ganefo yang diadakan tahun 1963, yang menjadi pertanda kebesaran bangsa ini dan pertanda ketidaktergantungan pada kekuatan-kekuatan dunia yang ada.”

Dukungan Soekarno terhadap Palestina

Semasa pemerintahan Soekarno juga, Indonesia aktif mendukung perjuangan kemerdekaan di berbagai penjuru dunia dengan memberikan bantuan dana dan lain sebagainya. Tak hanya di tingkat pemerintahan, rakyat Indonesia juga aktif mendukung kemerdekaan Palestina dan bangsa-bangsa lain seperti Aljazair dan Afrika Selatan. Melalui OISRAA (Organisasi Indonesia untuk Setiakawanan Rakyat Asia-Afrika) yang berdiri pada 1960 dan tergabung dalam AAPSO (Organisasi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika), kerjasama perjuangan tersebut semakin intensif.

Hingga saat kekuasaannya jatuh ke tangan Jenderal Soeharto pada tahun 1966, Soekarno tetap pada pendiriannya memperjuangkan hak kemerdekaan rakyat Palestina melawan Israel. Dalam pidatonya pada hari ulang tahun Republik Indonesia ke-21, Soekarno menyatakan, “Kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus, bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!”. 

Dukungan Soekarno terhadap Palestina bukanlah sikap yang lahir dari ruang hampa moral semata, melainkan sebuah hubungan timbal balik dan balas budi historis. Palestina melalui tokoh-tokoh Arab dan dukungan politiknya, adalah pihak pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia ketika republik ini masih tergolong rapuh bahkan dipertanyakan eksistensinya di mata dunia.

Soekarno memahami pengakuan itu bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan gestur solidaritas sesama bangsa terjajah. Maka, ketika Palestina menghadapi penindasan dan kehilangan tanah airnya, Soekarno membalasnya bukan dengan hitung-hitungan kepentingan pragmatis, tetapi dengan menjalin hubungan romansa yang erat dan hangat bersama Palestina.

Hubungan romansa tersebut bernama solidaritas. Sebuah kesetiaan ideologis yang menempatkan kemerdekaan, martabat, dan keadilan sebagai hutang moral yang harus terus terbayar, bahkan oleh generasi selanjutnya. []

Tags: DiplomasiIsraelkemerdekaanPalestinapenjajahSoekarno
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

Next Post

Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

intanhandita

intanhandita

Lulusan sastra Arab, hobi baca, nulis, dan sekarang lagi ngincer skill gambar biar lengkap. Bisa dihubungi di ig: @intnhndta

Related Posts

Makna Tahrīr
Personal

Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

13 Juli 2026
Nyai Elizabeth
Figur

Bu Nyai Elizabeth, Diplomat Perempuan dari Rahim Pesantren

3 Juni 2026
Luka Yerusalem
Publik

Luka Yerusalem dan Indonesia: Refleksi Lebaran 2026

26 April 2026
Geopolitik Dunia
Aktual

Geopolitik Dunia Makin Memanas, Perempuan dan Anak-anak Jadi Korban Rentan

7 April 2026
Angelina Jolie
Publik

Angelina Jolie Terima Surat dari Perempuan di Gaza

5 April 2026
Perempuan Turki
Publik

The Power of Perempuan Turki: Ketika Hijab Dilempar, Kehormatan Laki-laki Dipertanyakan!

24 Maret 2026
Next Post
Fungsi Reproduksi

Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

No Result
View All Result

TERBARU

  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya
  • Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0