Mubadalah.id – Para ulama Islam, sejak generasi pertama, yakni generasi para sahabat Nabi SAW, generasi empat madzhab sampai generasi para pemikir fikih post-kolonial, dengan tokoh-tokoh besarnya, antara lain Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), Fakhr ad-Din ar-Razi (w. 606 H), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 1350 M) ‘Izz ad-Din bin Abd as-Salam (w. 660 H) sampai Muhammad ath-Thahir Ibnu ‘Asyur (w. 1973 M), seluruhnya menyepakati kemaslahatan umum sebagai basis sekaligus tujuan utama dari hukum-hukum Islam (syari’ah).
‘1zz ad-Din bin Abd as-Salam, dalam karyanya yang terkenal Qawaid al-Ahkam fiy Mashalih al-Anam mengatakan:
“Barang siapa yang meneliti tentang Maqashid asy-Syariah (tujuan hukum agama), yakni membawa kebaikan dan menolak kerusakan, niscaya meyakini dengan sesungguhnya bahwa (keputusan yang mengandung) kemaslahatan tidak boleh diabaikan, dan kerusakan tidak boleh didekati, meskipun tidak ada nash atau ijma‘ dan qiyas. Pemahaman substantif atas agama meniscayakan hal ini.”
Sejalan dengan pandangan di atas, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 1350 M), salah satu murid terkemuka Ibnu Taimiyyah yang dikenal sebagai tokoh pemikir salafiy/ortodoks dan bermadzhab Hanbali, secara lebih tegas dan luas menyatakan :
“Syariat Islam dibangun di atas landasan kebijaksanaan dan kemaslahatan manusia kini dan nanti. Ia sepenuhnya adil, sepenuhnya rahmat, sepenuhnya maslahat, dan sepenuhnya bijak. Setiap persoalan yang telah menyimpang dari keadilan kepada kezaliman, dari rahmat menjadi laknat, dari maslahat menjadi mafsadat (rusak) dan dari bijak menjadi kesia-siaan, maka bukanlah bagian dari syari’ah (hukum agama), walaupun dilakukan melalui upaya-upaya intelektual.”
Mayoritas pandangan ulama mengatakan bahwa makna “al-ma’ad” atau “ukhrahum‘” atau “fi al-akhirat”, adalah kehidupan sesudah kiamat.
Pandangan Muhammad ath-Thahir Ibnu ‘Asyur
Tetapi Muhammad ath-Thahir Ibnu ‘Asyur (w. 1973 M), pemikir Islam kontemporer, sambil tetap menyetujui perspektif di atas, mengemukakan pikirannya yang sangat menarik. Ia memaknainya secara berbeda dari ulama sebelumnya. Ia menerjemahkan kata “al-Ajil“, dengan perspektif yang berbeda. Menurutnya:
“Syari’ah Islam hadir untuk kemaslahatan manusia di dunia ini dan tidak untuk akhirat. Kemaslahatan (kebaikan/kebahagiaan) di akhirat, menurutnya, merupakan akibat belaka dari kemaslahatan yang ia peroleh di dunia. Manakala hukum agama berfungsi mengatur perilaku manusia di dunia, maka perwujudan kemaslahatan itu tidak mungkin kecuali bersifat dunia sebagai prioritas utama.”
Pandangan pemikir muslim kontemporer ini menimbulkan implikasi penting, terutama dalam kaitan dengan bidang-bidang kehidupan sosial kemasyarakatan (majal al-mu’amalat al-madaniyyah).
Rumusan tersebut dikemukakannya dalam rangka ingin menegaskan perlunya kaum muslimin memberikan apresiasi lebih besar terhadap persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan daripada persoalan-persoalan individual.
Agaknya sangat kita rasakan bahwa selama kurun waktu yang panjang, perhatian kaum muslimin terhadap urusan syari’ah individual sebagai yang utama dan begitu dominan. Sementara kurang responsif terhadap urusan-urusan publik. Betapa banyak hadits Nabi yang memberikan penghargaan lebih besar terhadap amalamal kemanusiaan. []