Selasa, 23 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hukum

    Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami

    Korban Kekerasan di Bandung

    Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas

    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    Platonic Love

    Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

    Podcast

    Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

    Angelus

    Angelus dan Seni Mengenal Diri Sendiri dalam Tradisi Katolik

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Spiral

    Cara Menggunakan KB Spiral

    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    Pil KB Mini

    Cara Menggunakan Pil KB Mini yang Benar

    Pil KB Mini

    Tak Cocok dengan Pil KB Kombinasi? Pil KB Mini Bisa Menjadi Pilihan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hukum

    Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami

    Korban Kekerasan di Bandung

    Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas

    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    Platonic Love

    Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

    Podcast

    Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

    Angelus

    Angelus dan Seni Mengenal Diri Sendiri dalam Tradisi Katolik

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Spiral

    Cara Menggunakan KB Spiral

    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    Pil KB Mini

    Cara Menggunakan Pil KB Mini yang Benar

    Pil KB Mini

    Tak Cocok dengan Pil KB Kombinasi? Pil KB Mini Bisa Menjadi Pilihan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Syekh As-Sya’rawi Membantah Argumentasi Pelaku Poligami Awam yang Sok Pintar

Saya yakin bahwa poligami itu sangat sulit, berawal dari mendengar kisah KH Solahuddin bin Munshif as-Saidani Kencong, Jember saat ia menerima nasehat sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Makkah, bahwa kelak ia diizinkan untuk mewarisi seluruh ilmu dan amalan sayyid Muhammad kecuali satu hal, poligami

Ahmad Dirgahayu Hidayat by Ahmad Dirgahayu Hidayat
14 September 2022
in Hikmah
A A
0
Pelaku Poligami

Pelaku Poligami

9
SHARES
445
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Bagi saya, salah jika pelaku poligami mengatakan bahwa poligami itu “gampang-gampang sulit”, kecuali bagi mereka yang menggunakan sistem Semele-mele (baca; Sasak) atau Karepe Dhewe seperti kata orang Jawa yang bermakna bertingkah polah tidak dengan aturan yang benar. Maka wajar poligami menjadi gampang-gampang sulit, sesuatu yang sebenarnya sulit tapi karena tidak mereka jalankan dengan benar sehingga berubah menjadi gampang.

Saya yakin bahwa poligami itu sangat sulit, berawal dari mendengar kisah KH Solahuddin bin Munshif as-Saidani Kencong, Jember saat ia menerima nasehat sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki Makkah, bahwa kelak ia diizinkan untuk mewarisi seluruh ilmu dan amalan sayyid Muhammad kecuali satu hal, poligami. Nasehat ini rupanya berangkat dari kesadaran mendalam akan sukarnya berlaku adil di antara sekalian istrinya.

Dari sini saya berpikir, sekelas sayyid Muhammad saja mengakui poligami itu sangat tidak mudah. Apalagi orang-orang yang secara intelektual dan spiritual jauh di bawahnya. Maka semakin yakin, mereka yang menyebut poligami “gampang-gampang sulit” pasti tidak menjalankannya dengan benar.

Maksud Adil dalam Poligami

Kembali mengutip tulisan saya yang lalu dengan judul “Maksud Adil dalam Poligami Menurut Syekh As-Sya’rawi”, bahwa umat mutakhir ini dalam berpoligami hanya mengambil sisi bolehnya saja dan mengabaikan kewajiban berlaku adil. Syekh as-Sya’rawi tegas menyatakan, mereka yang dengan pola tingkah polah seperti itu secara tidak langsung tengah menyiarkan pembangkangan terhadap hukum Allah. Syekh as-Sya’rawi menulis;

إن الذين يأخذون حكم الله في إباحة التعدد يجب أن يلزموا أنفسهم بحكم الله أيضا في العدالة، فإن لم تفعلوا فهم يشيعون التمرد على حكم الله، وسيجد الناس حيثيات لهذا التمرد، وسيقال: انظر، إن فلانا تزوج بأخرى وأهمل الأولى، أو ترك أولاده دون رعاية واتجه إلى الزوجة الجديدة.

“Orang-orang yang telah menyelami dunia poligami, wajib untuk menekan dirinya agar selalu berbuat adil kepada sekalian istrinya. Jika tidak demikian, berarti dianggap telah menyiarkan pembangkangan terhadap hukum Allah, dan pembangkangan ini lambat laun akan tercium juga dengan pelbagai sudut pandang.”

Tentu, di bibir umat menuai ramai komentar terkait wabah poligami ini, ‘Lihatlah! Si Fulan menikah lagi dengan si B, dan mengabaikan yang pertama, atau menelantarkan anak-anaknya tanpa perhatian, dan malah mencurahkan perhatian kepada istri barunya’.” (Tafsir as-Sya’rawi (juz 4, hal. 2002))

Sebuah pukulan keras terhadap harkat dan martabat sebagai lelaki pelaku poligami. Yang bersikap cuek bebek mungkin tak kan tersindir. Namun bagi yang sadar akan terpukul rasa malu yang besar.

Saat Pelaku Poligami Awam Angkat Bicara

“Tong kosong nyaring bunyinya”, begitu kata pepatah yang kuterima sejak di bangku SMP. Dan, saya baru benar-benar paham setelah bertemu banyak orang, membangun jejaring sosial di mana-mana; di pondok, di sekolah, di bangku kuliah, di jalan, di angkutan umum, di terminal, di tengah masyarakat, dan tempat-tempat lainnya. Ternyata, umumnya orang yang banyak bicara sampai tidak memberi ruang nafas bagi yang lain adalah mereka yang dangkal ilmunya.

Syekh as-Sya’rawi mengungkapkan logika yang benar tentang bagaimana seharusnya menjalani hukum Tuhan. Ia mengatakan;

فكيف نأخذ إباحة الله في شيء ولا تأخذ إلزامه في شيء آخر، إن من يفعل ذلك يشكك الناس في حكم الله، ويجعل الناس تتمرد على حكم الله – والسطحيون في الفهم يقولون: إنهم معذورون، وهذا منطق لا يتأتى.

“Bagaimana mungkin hanya ‘menyantap’ apa yang dilegalkan Allah namun abai pada syarat dan ketentuan yang ada di sana. Laku-laku seperti itu hanya akan membuat umat meragukan hukum Allah dan potensial untuk membangkanginya. Mereka yang berilmu dangkal akan bilang, ‘Orang-orang yang tidak mampu berlaku adil pasti mendapat toleransi dari-Nya’. Ini adalah logika yang sesat.”

Tafsir Berlaku Adil

Bagi sebagian pelaku poligami yang berilmu dangkal (as-sathhiyyun) juga berkomentar, “Satu sisi, Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh kita berlaku adil, di sisi yang lain Dia memastikan bahwa kita tidak mungkin mampu berlaku adil seperti yang Dia perintahkan”. Bagaimana logika berpikir ini menurut sekalin pembaca?

Mungkinkah Allah berlaku demikian? Seplinplan itukah Allah di mata mereka dalam menetapkan hukum kepada hamba-hamba-Nya? Hati-hati, jangan biarkan akidah umat rusak dengan pernyataan yang hanya ringan di bibir ini.

Benar bahwa surah an-Nisa’ ayat 129 secara literal menegasikan kemampuan umat manusia dalam berlaku adil. Namun, bukan demikian tafsir yang benar. Tidak seperti yang disampaikan orang-orang miskin wawasan itu. Sebelumnya, mari menyimak surah an-Nisa’ ayat 129 berikut;

وَلَن تستطيعوا أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النسآء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الميل فَتَذَرُوهَا كالمعلقة وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ الله كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menelisik Makna Adil

Jika sekilas membaca ayat ini, wajar para sathhiyyun bicara demikian. Karena untuk memahaminya butuh bacaan lebih banyak lagi. Jika mencermati lafal “an ta’dilu”, berdasarkan analisa ushul fiqh, dapat kita ketahui bahwa lafal di atas kita kenal sebagai ‘Am yuradu bihi al-khushush.

Yakni lafal universal yang dimaksudkan untuk satu bagian tertentu. “an ta’dilu” di sini merupakan derivasi dari al-‘adlu yang berarti adil. Implementasi adil dalam rumah poligami itu mencakup sekurangnya empat hal; nafkah lahir, batin, pemberian tempat tinggal dan pakaian.

Dan, berlaku adil terhadap empat elemen ini sudah jelas agama perintahkan. Sedang keadilan yang dinegasikan surah an-Nisa’ ayat 129 di atas adalah keadilan dalam urusan hati. Jadi, dalam urusan cinta dan kasih sayang telah ditegaskan Al-Qur’an bahwa kita tidak mungkin mampu berlaku adil. Pasti ada di antara istri-istri itu yang lebih dicintai dan sayangi dari yang lain.

Alasan pertama, karena jika ayat 129 surah an-Nisa’ tersebut berlaku untuk semua elemen keadilan-termasuk dalam ranah hati-jelas sia-sia Allah memerintahkan hamba-Nya berlaku adil. Dan, Allah mustahil berbuat demikian.

Kedua, adalah hadis riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha;

عن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قالت: كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ يقسم ويعدل ويقول: اللهم هذا قسمي فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولا أملك. يعني القلب

“Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha berkata, ‘Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dulu sangat adli dalam memberi bagian kepada sekalian istrinya. Walau demikian, Nabi tetap berdoa, ‘Ya Allah, beginilah saya membagi sesuai kemampuan yang saya miliki, maka jangan siksa hamba hanya karena sesuatu yang tidak kumampu’. Maksudnya adalah urusan hati.”

Adil yang Dimaksud Al-Qur’an

Dari sekilas paparan tadi, maka Al-Qur’an hanya menuntut adil pada ranah lahir saja, itu pun menyesuaikan kadar kemampuan si suami. As-Sya’rawi bilang;

والعدل المراد في التعدد هو القسمة بالسوية في المكان، أي أن لكل واحدة من المتعددات مكانا يساوي مكان الأخرى، وفي الزمان، وفي متاع المكان، وفيما يخص الرجل من متاع نفسه، فليس له أن يجعل شيئا له قيمة عند واحدة، وشيئا لا قيمة له عند واحدة أخرى، يأتي مثلا ببجامة «منامة» صوف ويضعها عند واحدة، ويأتي بأخرى عند قماش أقل جودة ويضعها عن واحدة، لا

“Makna adil berpoligami adalah pembagian secara sama rata. Baik tentang tempat tinggal, di mana bila sang suami memberi rumah dengan model, harga dan kualitas yang baik. Maka ia juga wajib memberikan hal yang sama kepada istrinya yang lain.”

Begitu juga tentang pembagian waktu, perabotan rumah, dan alat kebutuhan pribadi. Sehingga, tidak benar jika memberi barang berharga kepada salah satu, dan tidak kepada yang lain. Sebut saja yang satu kita beri kasur yang terbuat dari wol dan satunya hanya tenunan biasa. Cara seperti ini jelas terlarang.” (Tafsir as-Sya’rawi (juz 4, hal. 2001) Wallahu a’lam bisshawab. []

 

Tags: islamkeluargaperkawinanpoligamisunah monogami
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kodrat Perempuan dan Fleksibilitas Peran

Next Post

Sehat dan Bahagia dengan Disiplin Beribadah

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Ahmad Dirgahayu Hidayat

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo, dan pendiri Komunitas Lingkar Ngaji Lesehan (Letih-Semangat Demi Hak Perempuan) di Lombok, NTB.

Related Posts

Belajar Mubadalah
Keluarga

Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

22 Juni 2026
Wahnan 'ala Wahnin
Buku

Wahnan ‘ala Wahnin: Ketika Pengalaman Biologis Khas Perempuan Dibahas oleh Santri Perempuan

22 Juni 2026
Parfum Perempuan
Personal

Benarkah Islam Melarang Perempuan Memakai Parfum?

20 Juni 2026
Tanggung Jawab Moral
Keluarga

Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan

18 Juni 2026
Sebelum Harimu Bersamanya
Buku

Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah

17 Juni 2026
Muharram
Aktual

Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

16 Juni 2026
Next Post
sehat

Sehat dan Bahagia dengan Disiplin Beribadah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami
  • Cara Menggunakan KB Spiral
  • Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas
  • KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai
  • Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0