Senin, 9 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    Mindful Ramadan

    Mindful Ramadan: Menerapkan Ramadan Ramah Lingkungan Berkelanjutan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    Habitus Hedonisme

    Menggugat Habitus Hedonisme Pejabat dengan Politik Hati Nurani

    Gugat Cerai

    Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    Mindful Ramadan

    Mindful Ramadan: Menerapkan Ramadan Ramah Lingkungan Berkelanjutan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Bagaimana Anak Muda Berdamai di Tengah Kekerasan: Belajar dari Riset Helen Berents di Kolombia

Cara pandang dan narasi seperti apa yang  generasi muda miliki mengenai perdamaian? Semua pertanyaan itu tersajikan secara terpadu dengan data narasi dan analisis dalam buku Helen Berents yang diulas di sini

M. Naufal Waliyuddin by M. Naufal Waliyuddin
4 Mei 2023
in Buku
A A
0
Anak Muda Berdamai

Anak Muda Berdamai

15
SHARES
769
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam dua dekade terakhir, kajian ilmu sosial tentang anak muda masih didominasi oleh topik transisi, generasi baru, pasar kerja, dunia digital, konsumsi, dan budaya populer. Studi sosial keagamaan pun terlampau fokus pada kerentanan anak muda yang terlibat dalam gerakan ekstremis—terutama pasca 9/11.

Kendati begitu, dalam rumpun kajian peace & conflict resolution, para sarjana belakangan ini menaruh perhatian pada isu anak muda dan inisiatif perdamaian dalam skala lokal. Salah satunya adalah Helen Berents yang mewedarkan risetnya lewat buku “Young People and Everyday Peace: Exclusion, Insecurity and Peacebuilding in Colombia” (Routledge, 2018). Tulisan ini akan mengulas karya tersebut.

Awal Kemunculan

Gagasan “perdamaian sehari-hari” (everyday peace) di dalam buku itu menetas dari proses panjang dalam studi peacebuilding—yang kemudian tenar disebut “the local turn” (Roger Mac Ginty & Oliver P. Richmond, 2013). Ia terlahir sebagai respons kritis atas kecenderungan pendekatan riset perdamaian dan resolusi konflik yang terkesan elitis, dari atas ke bawah (top-down).

Kini fokusnya mencoba berimbang dengan menelisik hal-hal yang lebih membumi. Yakni upaya-upaya bottom-up yang melibatkan aktor-aktor lokal, pendekatan alternatif, suara-suara pinggiran (subaltern), dan berbasis peristiwa-peristiwa konkret di lapangan sesuai konteks kehidupan sehari-hari di masing-masing waktu dan tempat.

Lewat pendekatan etnografis yang telah tersesuaikan, Helen Berents mencoba menyajikan potret semacam itu dengan subjek spesifik: anak muda. Berents memandang bahwa anak muda memainkan peran vital dalam negosiasi kehidupan sehari-hari di komunitas mereka. Tapi jarang sekali tersorot dan dihargai. Terlebih di Kolombia (tepatnya di Los Altos de Cazucá, sub-urban dekat wilayah Bogota), sebuah area yang beberapa dekade mengalami konflik, kekerasan, dan ketidakamanan.

Sejumlah pertanyaan utamanya antara lain, bagaimana anak muda di sana membangun ketahanan (resilience) dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari mereka? Pengalaman kekerasan dan tantangan kompleks seperti apa yang mereka kenyam? Cara pandang dan narasi seperti apa yang  generasi muda miliki mengenai perdamaian? Semua pertanyaan itu tersajikan secara terpadu dengan data narasi dan analisis.

Kenapa “Sehari-hari”?

Secara teoretis dan konseptual, “ruang keseharian” telah menjadi topik yang santer. Baik dalam lingkup sosiologi, antropologi, maupun studi hubungan internasional dan perdamaian. Ia terpicu oleh, salah satunya, kesumpekan tema-tema riset yang hanya meneliti suara mayor. Yakni, isu-isu besar dengan orang-orang besar juga, dan kegagalan banyak penelitian dalam memotret realitas dari hari ke hari (day-to-day/everyday) di kalangan orang-orang biasa (ordinary people).

Ini penting sebab dalam ruang keseharian-lah banyak interaksi sosial terbentuk, kultur bergulir, dan roda ekonomi politik berputar dan berdinamika. Dalam keseharian pula medan pertukaran gagasan, percampuran, dan gesekan antar-entitas terjadi. Beberapa akademikus yang ikut meramaikan tema keseharian ini, dalam konteks peacebuilding, antara lain Roger Mac Ginty, Oliver P. Richmond, Gearoid Millar, Siobhan McEvoy-Levy, SungYong Lee, dan tentu termasuk Helen Berents.

Berawal dari komitmen dirinya selaku peneliti yang juga punya semangat seorang feminis, Helen Berents ingin merekognisi suara-suara minor, pinggiran, tidak viral, dan mungkin tertindih keriuhan berita-berita besar seputar mereka yang berkuasa. Ia mengajak pembaca untuk berpikir secara berbeda mengenai perdamaian, dengan melampaui definisi ‘kedamaian liberal yang mandek’. Dan hal itu ia gali dari anak-anak muda di komunitas Cazucá selama dua kali kunjungan pada September-Desember 2010 dan 2016.

Yang Menubuh: Perdamaian dan Kekerasan

Setelah mengkritisi konsep perdamaian liberal, Berents menawarkan ruang konseptual pada perdamaian ala lokal dan lanjut memformulasi sebuah gagasan yang mengaitkannya dengan tubuh: “embodied-everyday-peace-amidst-violence”.

Ini bertumpu pada ide “the everyday” sebagai situs yang orang-orang di dalamnya terdampak konflik, ketidakamanan, mereka juga harus berurusan dengan pusparagam kesulitan dan tantangan yang akan datang dan terus ada dalam rutinitas mereka. Contoh dampak kekerasan tersebut dapat diamati pada kenaikan harga bahan pokok, kerentanan pangan, kurangnya air bersih, ruang aman untuk pendidikan, kesehatan, psikologis, dan konflik bersenjata.

Gagasan yang dinamainya dengan panjang itu diajukannya sebagai produk refleksi atas pengalaman anak muda dalam bernegosiasi dengan kekerasan yang lekat di lingkungannya. Kemudian mereka berhasil bertahan, sembari mengupayakan perdamaian sehari-hari lewat permainan, pekerjaan, menghadiri sekolah, dan kegiatan lainnya yang mungkin tampak rutin, berulang, dangkal, dan seolah tak berdampak.

Semua itu membentuk suatu resiliensi, sikap, cara pandang, dan narasi mereka tentang hidup—terutama mengenai perdamaian dan kekerasan—yang terpendar dari sorot mata, tangan, fisik, dan ketubuhan yang lainnya.

Mengingat konteks yang Helen teliti adalah Kolombia, dengan sejarah panjang kekerasan di dalamnya, tidak aneh apabila banyak generasi terdampak secara langsung maupun tidak langsung. Dalam bab khusus “Half a Century of Struggle for Peace” ia menjabarkan sejarah ringkas kekerasan, aneka dampaknya, serta proses rekonsiliasi. Lalu, Perjanjian Damai 2016 yang diteken oleh Presiden Juan Manuel Santos. Dari serangkaian jejak hitam itu, gerakan perdamaian dan anak muda bermunculan. Mereka mulai menuntut hak atas keamanan di tempat mereka hidup dan tumbuh.

Contoh Kasus

Dalam kasus di Cazucá sendiri, wilayah ini tidaklah unik dari daerah lainnya di Kolombia. Beberapa area urban (disebut comuna) di Cazucá termasuk kategori termiskin di Kolombia. Kemiskinan dan perpecahan bisa tampak pada mata telanjang dengan melihat kurangnya aspal jalan, rumah gubuk, sampah berserak, malang-melintangnya kabel-kabel listrik, dan kurang perhatiannya akan area publik yang sehat. Belum juga menyangkut orang terlantar dan stigmatisasi.

Area seperti itulah yang menjadi tempat Sofia (nama samaran, usia 15 tahun), salah satu narasumbernya, hidup dan bersaksi, “Saya hidup dengan kakek-nenek. Saat saya berusia 9 tahun, ayahku dibunuh dan ibuku….saya gak tau. Tapi sebelum itu, kami terusir dari [sebuah tempat] dan datang ke sini karena kerabatku bisa bangun rumah di sini. Jadi aku sudah di sini selama lima tahun.” [hal. 92. | terjemah bebas penulis]

Beberapa anak muda sepertinya, terutama yang tinggal di area la loma (tepi bukit) di Cazucá juga kerap mengalami stigmatisasi. Karena pada masa lalunya di area itu sering terjadi kekerasan dan konfrontasi dengan polisi sejak urbanisasi digulirkan 1970-an. Anak muda lainnya, Felipe (16 tahun), berujar: “banyak orang mengira kalau Cazucá…[membuang napas dengan desah]…jika kamu datang ke sini, kamu akan dibunuh, kalau kamu tiba di Cazucá, mereka akan merampokmu atau menyerangmu, atau apalah… padahal kalau mereka beneran ke sini tentu mereka akan sadar kalau itu gak bener.” [hal. 108. | terjemah bebas penulis]

Menilik Peran Pemerintah

Kekecewaan dan pengalaman kekerasan semacam itu juga tampak dalam diri Maria (15 tahun). Ketika Helen menanyainya soal peran pemerintah, Maria sudah menjawab sekalipun belum selesai pertanyaannya:

“Ya, karena… hmm… Saya telah mendengar dan melihat banyak hal. Saya telah melihat bahwa pemerintah gak bantu orang-orang. Mereka bilang mereka akan bantu, tapi semua itu bohong. Pemerintah memberi polisi uang jutaan untuk membantu tapi ke mana uang itu? Menurutku, mereka simpan sendiri. Mereka membagi ke kelompok mereka sendiri ketika seharusnya itu mereka gunakan membantu orang-orang…tapi mereka malah gak melakukan apa-apa.” [hal. 126-127]

Dari uraian semacam itu, pengalaman kekerasan anak-anak muda di sana, rasa geram, kekecewaan, dan frustrasi, terakumulasi dan pada akhirnya membenihkan inisiatif perdamaian di kalangan mereka. Hal itu tumbuh dan terpendar pada ketahanan diri dan resistensi mereka. Yakni melalui berkomunitas, sekolah, organisasi, perayaan hari besar seperti Natal, dan diskusi di antara mereka. Di ruang-ruang seperti itulah mereka dapat saling bertukar keresahan, berefleksi, menabur optimisme, rencana perubahan gradual, dan bayangan akan masa depan. Seperti tampak dalam kalimat Camila Andrea (14 tahun):

“Menurutku Cazucá kekurangan banyak hal. Terkadang di sini di Cazucá itu kejam… [tapi] ia juga, terkadang, ada kebahagiaan. Seperti yang akan sebentar lagi tiba, Hari Natal, dan semuanya akan bahagia, semua orang akan berdansa…” [hal. 176]

Kesadaran Gender dalam Upaya Perdamaian

Anasir menarik dalam buku Berents lainnya adalah kemampuannya menangkap gejolak emosional para narasumber. Itu bukan semata kepakaran dan kepiawaian analitis yang ia butuhkan. Lebih dari itu, ia juga menuntut kepekaan batin akan penderitaan orang lain. Tidak aneh jika ia banyak mengutip sudut pandang yang emansipatoris dan lebih empatik dalam meneliti anak muda.

Selain itu, Helen Berents juga tidak luput menyoroti dimensi gender di dalam bukunya. Itu ia sandarkan pada fakta ketidakseimbangan kuasa di lapangan sosial. Terutama mengenai perempuan dan anak-anak. Ia mengutip Bina d’Costa, yang menilai bahwa ‘perempuan dan anak-anak tetap menjadi kelompok marginal secara sosial, politik, dan ekonomi, hanya karena gender dan usia mereka. Ironisnya, kedua golongan itu juga terpinggirkan dalam lingkup akademik, proses-proses perdamaian (peace-making) dan pembangunan negara’.

Berents ikut memperkaya diskusi akademik seputar kajian anak muda dan upaya perdamaian, serta kehidupan sehari-hari. Lewat bukunya ini, ia memberikan argumentasi bahwa upaya merekognisi peran anak muda perlu dipergencar karena selama ini mereka kerap kita pandang sebagai masalah dan dimasukkan ke dikotomi dua laci “pasif-nakal”.

Pendekatan riset yang lebih emansipatoris ia ajukan untuk memberi ruang anak muda sebagai agen yang kompeten dan berkontribusi. Terutama dari kalangan mereka yang terpinggirkan dan tinggal di area yang terdampak kekerasan. Aspek keseharian yang menubuh perlu tersoroti agar pemahaman kita tidak semata-mata dari cara kita memandang mereka, tetapi juga dari narasi yang anak muda artikulasikan sendiri.

Sebagai komentar kritis, uraian Helen Berents masih terkesan samar-samar dalam menjelaskan apa saja contoh konkret dari embodied everyday peace. Lalu, membuat pembaca akan sedikit kesulitan menangkap. Meski begitu, buku ini patuti mereka konsumsi, terutama oleh pembaca yang punya perhatian pada generasi muda dan isu perdamaian, serta kajian sosial-antropologi tentang keduanya. []

Tags: Anak MudaAnak Muda BerdamaiBudaya KekerasanPerdamaianReview Buku
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Keindahan Ayat-ayat di Dalam Al-Qur’an

Next Post

Menimbang Risiko Mewawancarai Penyintas Kekerasan Seksual

M. Naufal Waliyuddin

M. Naufal Waliyuddin

Redaktur metafor.id. Peneliti swadaya seputar generasi muda dan sosial keagamaan. Alumni Tasawuf Psikoterapi dan Interdisciplinary Islamic Studies. Pegiat literasi dan seni yang kerap menulis dengan nama pena Madno Wanakuncoro.

Related Posts

rahmatan lil ‘alamin sebagai
Pernak-pernik

Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

1 Maret 2026
Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
Board Of Peace
Aktual

Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

11 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

28 Januari 2026
Cantik itu Luka
Buku

Cantik Itu Luka: Sejarah yang Menjadikan Tubuh Perempuan sebagai Medan Perang

18 Januari 2026
Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan
Buku

Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan

8 Januari 2026
Next Post
Penyintas Kekerasan Seksual

Menimbang Risiko Mewawancarai Penyintas Kekerasan Seksual

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan
  • Tokenisme, Ketika Perempuan Selalu Menjadi Biang Keladi Kesalahan Lelaki
  • Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan
  • Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?
  • Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0