Selasa, 16 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Dokumentasikan Kepemimpinan Perempuan dalam Membangun Perdamaian, JISRA Gelar Workshop Penulisan

Perempuan yang bekerja di isu perdamaian memiliki banyak sekali pengetahuan dan pengalaman melalui praktik di lapangan maupun yang diturunkan lintas generasi

Farah Adiba by Farah Adiba
11 Juli 2024
in Pernak-pernik
A A
0
Kepemimpinan Perempuan

Kepemimpinan Perempuan

7
SHARES
338
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan toleran. Mengenali pentingnya peran ini, dokumentasi kepemimpinan perempuan dalam isu kebebasan beragama atau berkeyakinan penting untuk meningkatkan pemahaman, memperkuat advokasi, menginspirasi generasi mendatang, membangun pengetahuan, dan menjaga warisan berharga.

“Dengan mendokumentasikan kisah-kisah kepemimpinan perempuan yang memimpin gerakan untuk kebebasan beragama atau berkeyakinan, kami berharap dapat berkontribusi pada terwujudnya masyarakat yang lebih toleran, inklusif, dan adil bagi semua,”

Ungkap Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, Program Manager JISRA Fatayat NU Jawa Barat, saat memberikan sambutan pada pembukaan acara Workshop Penulisan Documenting Women Leadership on FoRB, dengan tema ‘Perempuan Penebar Damai: Suara Perempuan, Suara Kemanusiaan’.

“Pertemuan workshop kali ini merupakan pertemuan pertama, sedangkan seluruh proses kegiatan penulisan dokumentasi ini akan diselenggarakan selama 8 (delapan) bulan,” kata Neneng.

Setiap lembaga partner JISRA Indonesia, urai Neneng, diminta mengirimkan minimal 3 tulisan, dengan dibantu oleh seorang pendamping. “Tulisan merupakan best practices dari perempuan yang terlibat dalam isu Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB) selama program JISRA dilaksanakan,” lanjutnya.

Sumber Perdamaian adalah Cinta

Documenting Women Leadership on FoRB terlaksana di Bandung pada 5-6 Juli 2024. Acara yang diinisiasi oleh Fatayat NU Jawa Barat, dan berkolaborasi dengan Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Institut Mosintuwu tersebut, dihadiri sebanyak 38 orang peserta. 6 orang di antaranya hadir secara daring melalui ZOOM. Peserta berasal dari seluruh perwakilan dan afiliasi dari 10 organisasi/ lembaga partner JISRA Indonesia, di mana masing-masing organisasi mendelegasikan 3 orang penulis dan 1 orang pendamping.

Menurut Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Barat, Hirni Kifa Hazefa, sumber perdamaian adalah cinta, “Maka penting kerja-kerja kepemimpinan perempuan yang memberikan kontribusi terhadap perdamaian perlu kita angkat ke permukaan,” ujarnya. Workshop ini, lanjut Hirni, penting dilaksanakan karena menulis membutuhkan skill dan perlu ditingkatkan.”

Meski begitu, kita tidak perlu tunggu sempurna untuk memulai menulis. Kita harus memulai, kita nggak akan mahir kalau tidak memulai,” ajaknya. Ia berharap, kegiatan ini dapat menjadi warisan kebaikan generasi mendatang.

Sementara itu, Country Coordinator JISRA Indonesia, Mutiara Pasaribu, mengatakan bahwa perempuan-perempuan yang bekerja di isu perdamaian memiliki banyak sekali pengetahuan dan pengalaman melalui praktik di lapangan maupun yang diturunkan lintas generasi.

“Pendokumentasian pengalaman dan pengetahuan yang perempuan miliki sering kali terlewatkan. Melalui workshop ini kita menginginkan pengalaman kepemimpinan perempuan menjadi produk pengetahuan yang bisa menjadi rujukan ilmiah perkembangan perempuan yang bekerja di isu-isu perdamaian dan lintas agama,”

Ungkap Mutiara. Ia berharap, hasil pendokumentasian ini menjadi jejak peninggalan yang baik, yang dapat disebarkan, terkait bagaimana kepemimpinan perempuan di Indonesia menjadi role model bagi enam negara lain di mana JISRA mengimplementasikan programnya.

Penulis Harus Bisa Menuliskan Narasi Deskriptif

Workshop yang dilaksanakan selama 2 hari ini, difasilitasi oleh 3 orang penulis profesional dan pegiat media, yaitu: Susi Ivvaty (Alif.id, Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia), Iip D Yahya (NU Online Jabar), dan Zahra Amin (Mubadalah.id). Dari pertemuan ini, harapannya peserta dapat meningkatkan pengetahuan tentang cara menulis deskriptif, menentukan lead atau teras tulisan, serta menggali makna di balik fakta.

Susi Ivvaty menjelaskan bahwa perubahan diri yang seseorang alami selalu layak untuk kita ceritakan. “Ada satu titik dalam hidup setiap orang yang menurutku layak untuk diceritakan. Maka, kita membutuhkan gaya bercerita narasi yang mampu menarik perhatian pembaca,” katanya. Menurut Susi, penulis harus bisa menuliskan narasi deskriptif menggunakan lead atau teras, yang membuat pembaca penasaran dan tertarik untuk meneruskan membaca.

Lebih lanjut, penulis artikel populer atau feature yang serius, urai Susi, biasanya mengasah diri untuk menggabungkan kecakapan menulis seorang sastrawan dengan disiplin verifikasi seorang wartawan.

Ia menegaskan bahwa akurasi adalah hal yang paling utama bagi tulisan yang akan dicetak. Ia membagikan contoh-contoh tentang kurangnya akurasi yang bisa berakibat fatal. “Jika sudah dicetak sebagai buku, tulisan tidak bisa diedit, jadi kita nggak boleh meremehkan disiplin verifikasi dan akurasi,” ucapnya.

Untuk memperlancar proses penulisan, Iip D Yahya membagikan tips bahwa dalam menulis ada 2 proses, pertama, kegiatan menulis dan menuangkan gagasan, dan kedua, mengedit tulisan. “Kalau Anda menulis dan mengedit sekaligus ya tulisan nggak akan jadi-jadi. Bagian editing ada waktunya, nah  saat ini silakan tulis saja,” katanya.

Terkait writing block, atau merasa stuck saat menulis, Iip menyarankan agar peserta mencari teman yang bisa memberikan masukan atas tulisan yang kita buat. “Suatu keluhan itu, kalau sudah disampaikan walaupun tidak ada jawabannya, sebenarnya sudah mengurangi beban pikiran. Jadi writing block bisa diatasi dengan menghubungi teman yang bisa memberikan feedback,” ujarnya.

Menulis adalah Seni Merangkai Kata

Kegiatan menulis, kata Zahra Amin, adalah seni merangkai kata dan menjahit tulisan agar enak dibaca. “Nulis aja dulu, sejadinya, sedapatnya, dan jika diperlukan tambahlah referensi,” ucapnya. “Semakin kaya data, semakin enak kita nulis, karena ada banyak bahan yang bisa kita jahit menjadi tulisan,” sarannya.

Menurut Zahra, pergulatan batin juga penting diceritakan. “Bagaimana membangun perdamaian dan bagaimana membangun relasi dengan mereka yang berbeda, atau before and after perlu tereksplorasi,” lanjutnya.

Kristina Damayanti, peserta termuda asal Surakarta yang beragama Kristen, sekaligus aktif di Divisi Kerukunan pada komunitas Sederek Eco Bhinneka Surakarta – Nasyiatul Aisyiyah, mengungkapkan kesannya mengikuti kegiatan ini.

“Saya jadi lebih tahu tentang struktur penulisan yang benar, ini pertama kalinya saya berlatih menulis biografi, sebelumnya saya biasa menulis cerita, puisi, dan pantun. Ke depan pemilihan kata di media juga penting, agar menarik pembaca,” kata Damay, yang kini masih duduk di bangku kelas XI di sebuah SMA di Surakarta.

Lain hal dengan yang Ani Farhani rasakan, Program Officer Peace Generation. Sebagai seseorang yang biasa bertutur bercerita, Ani mengungkapkan bahwa tidak mudah menuangkan pengalaman menjadi sebuah tulisan. “Namun di sini kita diberikan tips-tipsnya dan praktek langsung.

Di sini juga saya mendengar cerita aktivitas teman-teman yang luar biasa, yang mendengar ceritanya saja sudah keluar air mata. Apalagi kalau sudah tertuang dalam bentuk tulisan,” tutur Ani, yang kini sedang mengelola program Guru Masagi Abad 21. Kegiatan ini, kata Ani, merupakan pembelajaran dan karya yang sangat berharga untuk merawat perdamaian.

Pasca pelatihan ini, Nita Andriani, tidak ingin berhenti belajar. Selain pertemuan ini menambah skillnya dalam menulis, Koordinator Jaringan Gusdurian Serang Banten ini berharap bisa mengembangkannya lagi. “Harapannya, aku bisa menulis dengan baik dan aku bisa merefleksikan kegiatan ini di organisasiku, nggak hanya di sini, misalnya mencari tahu dan mengangkat kerja-kerja tokoh-tokoh perempuan di daerah,” ucapnya.

Membangun Jembatan antar Komunitas yang Berbeda

Meski berada di zona Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT), Usman Mansur antusias mengikuti pertemuan ini walau hanya hadir secara daring melalui ZOOM. “Saya senang bisa berkesempatan belajar menuliskan cerita perubahan melalui narasi deskriptif yang menarik pembaca,” ucap pemuda asal Ternate, Maluku Utara ini.

Sebagai Regional Manager Eco Bhinneka Muhammadiyah Ternate, lanjut Usman, penting baginya untuk mendengar dan belajar cerita perubahan yang dialami oleh individu maupun komunitas dari local partner JISRA Indonesia dari berbagai daerah.

Adapun JISRA (Joint Initiative for Strategic Religious Action) atau Inisiatif Bersama untuk Aksi Keagamaan yang Strategis, adalah konsorsium lintas agama internasional yang terdiri dari Mensen met een Missie, Faith to Action Network, Tearfund, dan Search for Common Ground.

Kata Arab Jisr’ berarti jembatan, yang melambangkan tujuan JISRA: membangun jembatan antar komunitas yang berbeda. Program JISRA 2021-2025 dilaksanakan di 7 negara: Indonesia, Irak, Kenya, Ethiopia, Uganda, Mali, dan Nigeria. Proyek JISRA ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan adil, di mana semua orang dapat menikmati kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Terdapat 10 organisasi mitra yang melaksanakan JISRA di Indonesia yaitu: Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Institut DIAN/Interfidei, Jaringan Gusdurian, Fatayat NU Jawa Barat, Peace Generation, AMAN (Asian Muslim Action Network) Indonesia, Imparsial (The Indonesian Human Rights Monitor), Fahmina, dan Mosintuwu.

Konsorsium JISRA di Indonesia telah bekerja sama dengan berbagai aktor, mitra, jaringan, organisasi pemuda dan organisasi perempuan berbasis agama untuk mendukung, meningkatkan kapasitas, dan memperkuat suara dan kebijakan inklusif. []

 

Tags: Eco Bhinneka MuhammadiyahFatayat NUInstitut MosintuwuJaringan GusdurianJISRAKepemimpinan PerempuanPelatihan MenulisPerdamaian
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Dalam Islam Tidak Ada Ukuran Terkait Jumlah Mahar

Next Post

Berilah Nafkah dengan Cara Ma’ruf

Farah Adiba

Farah Adiba

Eco Bhinneka Muhammadiyah

Related Posts

Paus Leo XIV
Publik

Paus Leo XIV dan Perjalanan Apostolik ke Aljazair yang Membawa Pesan Damai

2 Mei 2026
Triumfalisme
Publik

Triumfalisme dan Teologi Tanpa Kekerasan

25 April 2026
rahmatan lil ‘alamin sebagai
Pernak-pernik

Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

1 Maret 2026
Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
Board Of Peace
Aktual

Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

11 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

28 Januari 2026
Next Post
Nafkah

Berilah Nafkah dengan Cara Ma'ruf

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik
  • Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala
  • Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?
  • Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial
  • Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0