Selasa, 27 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Sejarah Kartini (1879-1904) dan Pergolakan Feminis Dunia Saat Itu

Era Kartinilah yang disebut-sebut sebagai awal titik tolak emansipasi perempuan di Indonesia.

Fathonah K. Daud by Fathonah K. Daud
28 April 2025
in Personal, Rekomendasi
0
Sejarah Kartini

Sejarah Kartini

873
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setiap 21 April, semua masyarakat Indonesia pasti ingat sejarah Kartini, ikon perempuan feminis Indonesia. Beliau memang sudah lama tiada, tetapi nama harum beliau, ‘atsar’ perjuangan dan dobrakannya masih terasa hingga hari ini. Kini, perempuan Indonesia telah banyak yang berpendidikan tinggi, berkarir dan terlibat aktif dalam berbagai bidang, ikut berkontribusi membangun negeri ini.

Meski di sana, di beberapa tempat khususnya di Indonesia, tidak sedikit perempuan masih ada yang mengalami keterpurukan, kekerasan, sexual harrasement. Mereka masih belum bisa mengaji, tidak mendapat pendidikan yang layak dan tidak dihargai. Tetapi keadaan hari ini setidaknya sudah mulai banyak masyarakat yang tercerahkan dalam memposisikan anak perempuan dan memandang perempuan secara umum. Iya kan?

Era Kartinilah yang disebut-sebut sebagai awal titik tolak emansipasi perempuan di Indonesia. Jika kita tinjau era ibu Kartini, zaman di masa itu, adalah sezaman dengan pergolakan perempuan dan isu-isu gender yang mulai bergulir di Mesir.

Kebetulan tahun wafat ibu Kartini ini hampir beriringan dengan wafatnya Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905). Dia seorang mujaddid Mesir, ulama Al Azhar dan murid dr Syaikh Jamaluddin Al Afghani. Muhammad Abduh juga pernah menjadi mufti di Mesir pada akhir tahun 1800an dan merupakan guru Rasyid Ridla.

Nah, negara Mesir ini terpandang sebagai negara Arab pertama yang telah menggugat tradisi dan wacana keagamaan terkait isu gender di dunia Islam umumnya. Tokohnya, sebut saja, Qasim Amin yang kemudian mendapat julukan sebagai ‘Bapak Feminis Arab,’ yang dengan bukunya ‘Tahrir al Mar’ah (Liberation of Women) dan Al mar’ah al jadidah (The modern Women). Dia mencoba mengkritisi tradisi dan pemikiran keagamaan di Mesir.

Menilik Isu Gender dalam Sejarah Mesir

Meskipun ada yang menyebut, dalam karya Dr. Muhammad Imarah kalau tidak salah terbit 1992, bahwa karya Qasim Amin tersebut adalah karya berdua antara Muhammad Abduh dengan Qasim Amin. Lho kok? Ini memang pendapat yang pinggiran (tidak umum) dengan wacana yang berkembang selama ini.

Menurut kajian Duktur Imarah, karena selain Qasim Amin adalah murid Muhammad Abduh, yang ketika itu mereka sempat bertemu secara intens di Prancis juga karena pada waktu itu, menjelang terbit buku Tahrir al Mar’ah, Syaikh Muhammad Abduh baru saja dilantik sebagai mufti di Mesir.

Jabatan mufti adalah sangat berwibawa, bergengsi dan berpengaruh di Mesir. Bagaimana pun saat itu pemikiran masyarakat masih sangat tradisional, lalu tiba-tiba muncul pemikian yang dipandang sangat liberal nan nyeleneh terkait isu-isu gender.

Pasti banyak penolakan dan resisten dari berbagai kalangan. Bahkan mungkin berimbas pada jabatan mufti beliau bisa dicopot, itu kemungkinan aja sih. Ingat riwayat beberapa nama tokoh yang mengalami kematian tragis di Mesir, akibat dari pemikirannya sendiri.

Oleh itu, hal demikian bisa saja dapat berimpact pada reputasi dan kedudukan Syaikh Muhammad Abduh yang baru saja menjabat Mufti. Tentu juga dapat berpengaruh pada cita-cita dan perjuangan Abduh dalam memperbaruhi pemikiran keagamaan dan tradisi di sana ke depan. Apabila sampai dicopot dari jabatan tersebut. Jadi, mungkin Syaikh Abduh dengan cara demikian, membiarkan buku Tahrir al Mar’ah hanya atas nama Qasim Amin, agar survive dari hal-hal yang tak mereka inginkan.

Konon, dalam buku tersebut, tentang isu keagamaan dari Muhammad Abduh, sedangkan isu sosial dari Qasim Amin. Sebenarnya hal seperti ini sungguh rasional dan bukan hal baru. Ingat, tradisi kolaborasi antara murid dan guru ini juga sama dengan penulisan tafsir al-Manar. Sebagian di dalamnya merupakan pemikiran Syaikh Abduh dan Rasyid Rida, sedang yang menulis adalah muridnya (Rasyid Rida).

Sejarah Feminisme di Barat

Sementara di Barat, ada nama Mary Wollstonecraft (1759-1797), penulis, feminis dan filsuf Barat. Beliau sering berkaitan dengan pendobrak kebekuan yang beraliran feminis di Barat. Bukunya yang terkenal berjudul “A Vindication of the Rights of Woman” (1792).

Dalam buku itu, ia menulis sebuah pandangan bahwa perempuan secara alamiah tidak lebih rendah dari laki-laki. Tetapi seolah-olah terlihat seperti itu hanya karena mereka tidak memperoleh banyak pendidikan. Ia menghendaki dan merekomendasikan kala itu agar perempuan dan laki-laki setara dalam segala bidang.

Keadaan itu menunjukkan sebenarnya kondisi perempuan di belahan bumi mana pun posisi dan keadaannya sama. Belum dapat kemuliaan dan masih terposisikan berbeda dengan kaum lelaki.

Meskipun terlihat di permukaan perempuan Barat sejak dahulu lebih nampak terbuka dan bebas, dalam arti budaya, daripada perempuan dalam masyarakat Muslim. Di Barat perempuan tiada halangan atas nama agama dan tradisi, tetapi rupanya masih ada sekat perbedaan dengan kaum Adam.

Sejarah Nusantara

Di sisi lain, dalam sejarah Nusantara, apabila kita kaitkan dengan kiprah perempuan pra-era Kartini, juga sebenarnya sudah banyak perempuan yang menduduki posisi penting dan tinggi. Yakni menjadi pemimpin dan raja (pemimpin negara) dan pemimpin perlawanan.

Sebut saja Ratu Kalingga ‘Ratu Sima’ (abad 7 M), Permaisuri Majapahit Tribuana Wijayatungga Dewi, Putri Kalinyamat (anak Sultan Trenggono) abad ke 15. Termasuk beberapa Sulthonah Aceh pada era Kerajaan Islam dan masih banyak lagi. Mereka memang para perempuan pilihan nan tangguh di eranya di bidang kepemimpinan. Namun, ketika bangsa Nusantara semakin terpuruk oleh ketertindasan penjajah.

Nasib bangsa ini lemah dan tak berdaya. Keadaan itulah menjadikan sosok Kartini kita butuhkan, juga istimewa. Bangsa Nusantara harus berpendidikan, berwawasan maju, kuat menandingi bangsa-bangsa penjajah di masa itu.

Kartini memang bukan seorang ratu yang memimpin sebuah bangsa atau masyarakat tertentu, tetapi Kartini telah berani mendobrak mental masyarakat dan memberi pencerahan dalam bidang pendidikan, keberanian dan perjuangan seluruh bangsa ini.

Tentu saja bukan hanya untuk perempuan, tetapi seluruh bangsa Indonesia saat itu. Inilah yang membedakan Kartini dengan para pemimpin perempuan sebelumnya. Maka sudah benar Kartini kita sebut sebagai Pahlawan Nasional.

Bayangkan, zaman itu, di mana Indonesia masih terjajah Belanda dan jauh dari tahun kemerdekaan, sudah ada putri Indonesia yang sadar akan nasib kaumnya. Menariknya, Kartini berinisiatif sendiri untuk memulai semuanya saat itu, bahwa perempuan Indonesia harus berpendidikan, trampil, mandiri dan maju. Sehingga bisa memberi manfaat kepada yang lainnya. Sungguh cita-cita yang besar dan sangat mulia bagi negeri ini.

Kartini Santri dari Kiai Sholeh Darat

Selain itu yang harus publik pahami, ibu Kartini juga merupakan santri Kyai Sholeh Darat Semarang. Kyai Soleh Darat adalah guru dari banyak ulama laki-laki di Nusantara ini. Di antara muridnya adalah dua tokoh pergerakan Islam dan pendiri organisasi besar di Indonesia, yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Siapa yang tak kenal keduanya? Konon dalam banyak informasi, ibu Kartinilah yang mengusulkan kepada Kyai Soleh agar ada tafsir yang dapat terpahami dan dibaca oleh orang Jawa. Karena Kartini kecil merasa aneh saat belajar mengaji hanya diajarkan baca, tulis, menghafalkan, sedang ia tidak paham apa maknanya.

Bertanya kepada guru ngajinya juga tidak mendapat jawaban, karena saat itu al Quran masih dipandang terlalu suci untuk dapat diterjemahkan ke bahasa selain Arab. Tahun itu bukan tidak ada tafsir, ada buanyak, tetapi mayoritas dalam bahasa Arab.

Baginya sama saja masyarakat umum tidak dapat memahaminya karena sama berbahasa Arab. Dari ide tersebut kemudian lahirlah tafsir Faidh al Rahman yang ditulis oleh Kyai Soleh Darat. Buku Tafsir karya Kyai Soleh ini tertulis dengan Arab pegon. Kalau tidak salah, tafsir tersebut ditulis dari juz 1-13 (al fatihah hingga surat Ibrahim).

Terima kasih ibu Kartini, aku dan perempuan-perempuan lainnya telah menikmati perjuanganmu dan pendidikan itu. Namamu harum terkenal seantero dunia, bahkan sejak surat-surat ibu Kartini diterbitkan dan teralihbahasakan ke puluhan bahasa di dunia. Kalau tidak salah penerjemahan itu berawal sejak tahun 1923. Nama Kartini harum, insyaAllah akan terkenang sepanjang masa dalam sanubari bangsa ini. Lahal Fatihah. []

 

Tags: emansipasifeminismeKiai Shaleh DaratMesirpahlawan nasionalQasim AminSejarah Kartini

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Fathonah K. Daud

Fathonah K. Daud

Lecturer di IAI Al Hikmah Tuban

Related Posts

Perempuan di Titik Nol
Buku

Perempuan di Titik Nol: Kisah Perlawanan Perempuan dari Padang Pasir

7 Januari 2026
sikap ambivalen
Aktual

Julia Suryakusuma Soroti Ancaman Kekerasan Seksual dan Sikap Ambivalen terhadap Feminisme

15 Desember 2025
Feminisme
Aktual

Julia Suryakusuma: Feminisme Masih Dibutuhkan di Tengah Krisis Multidimensi Indonesia

15 Desember 2025
Pengalaman Biologis
Personal

Melihat Perempuan dengan Utuh: Tubuh, Pengalaman Biologis, dan Kesetaraan yang Lebih Manusiawi

3 Desember 2025
Soeharto
Publik

Soeharto dan Situasi Epistemik Bangsa

12 November 2025
Mengenang Marsinah
Figur

Mengenang Marsinah: Sang Pahlawan Perempuan dari Pabrik Arloji

13 November 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mitos Menopause, Menikah Bukan Hanya tentang Masalah Seksual

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kerja Perempuan Bernilai Sedekah
  • Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam
  • Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID