Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Nanti Kita Cerita Tentang Madrasah Creator KUPI dan Halaqah Kubra KUPI

Kisah perjumpaan, pembelajaran, dan kebersyukuran selama mengikuti Madrasah Creator KUPI hingga persiapan menuju Halaqah Kubra KUPI.

Layyin Lala by Layyin Lala
12 Desember 2025
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Madrasah Creator KUPI

Madrasah Creator KUPI

24
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Lala! Selamat ya! Kamu masuk event KUPI” pagi-pagi sekali aku melihat notifikasi media sosial di layar ponsel dari seorang rekan dari komunitas Puan Menulis. Senyumku sumringah melihat ucapan selamat berdatangan. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur dan berbinar. Rupanya, doa-doa yang kurapalkan di beberapa malam terakhir dikabulkan-Nya. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal.

Event yang diselenggarakan oleh Madrasah Creator by KUPI Media Ecosystem memberikanku kesempatan untuk mengikuti Beasiswa Menulis Menjadi Storyteller. Beasiswa tersebut merupakan fasilitas untuk siapa saja yang menekuni bidang menulis khususnya dalam ekosistem media Kongres Ulama Perempuan Indonesia. 

757 Pendaftar Beasiswa Menulis Menjadi Storyteller

Pertama kali mengisi aplikasi beasiswa, sempat aku merasa sangat optimis untuk menjadi salah satu peserta Madrasah Creator KUPI. bagiku, ada banyak tanda baik yang aku rasakan saat mendaftar. Tapi, beberapa hari setelah pendaftaran, aku terkejut dengan banyaknya pendaftar sebesar 757 pendaftar.

Hari itu rasanya lemas, tentu aku memahami lebih banyak penulis yang lebih baik karyanya daripada aku. Hari itu juga, aku merasa untuk tidak banyak berharap. Aku melepaskan segala ekspektasi. Aku siap jika memang beasiswa tersebut kali ini tidak berpihak padaku.

Salah seorang dosen laki-laki yang aku kenal dengan sangat baik menghubungiku. Kami banyak berbagi cerita tentang pendaftaran beasiswa ini. Ia banyak berbagi pesan tentang bagaimana motivation letter yang ia buat untuk mengikuti beasiswa menulis KUPI. Sempat aku terperangah takjub bagaimana ia mengelaborasi sebuah alasan yang sangat masuk akal.

Terlebih, niatnya untuk mendokumentasikan para ulama perempuan di daerahnya juga tidak main-main. Saat itu aku sadar, tulisan aplikasiku tidak memuat apa yang ia ceritakan. Rasanya, gagal sudah diri ini untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Doa demi doa aku rapalkan, setiap pagi, siang, sore, dan malamku selalu kuslipkan doa agar Sang Maha Penentu memberikan aku kesempatan. Jika tidak mendapatkan kesempatan pun, aku tetap akan bersyukur dan menikmati apa yang saat ini aku punya.

Saat pengumuman Madrasah Creator KUPI tiba, aku sangat bersyukur dan antusias. Apa yang kudapatkan bukanlah hasil karena kerja keras dan rapalan doaku. Melainkan rahmat dan kebaikan Allah yang menganugerahiku. Masyaa Allah, aku berhasil menjadi 21 penulis terpilih dari 757 penulis yang terdaftar.

Berjumpa Sang Maestro: Andreas Harsono

Di depan layar tablet, aku terperangah. Diam berkedip mendengarkan seksama tentang bagaimana sang Maestro mengolah kata. Bukan, ini bukan sesuatu yang puitis. Tapi, kata-katanya seolah hidup dengan beberapa kali mengiris urat nadi. Rasanya teduh sekali memandang wajah beliau. Beliau Bapak Andreas Harsono. 

Andreas Harsono merupakan  jurnalis, penulis, dan peneliti hak asasi manusia asal Indonesia yang terkenal luas karena kiprahnya dalam advokasi kebebasan pers dan isu HAM. Lahir di Jember pada 7 Agustus 1965, ia memulai karier jurnalistik dengan meliput untuk media internasional sebelum kemudian turut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Pantau Foundation, lembaga yang berfokus pada pelatihan jurnalisme. 

Sejak 2008, beliau menjadi peneliti Human Rights Watch dengan fokus pada kebebasan beragama, diskriminasi, dan kekerasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia. Harsono telah menulis sejumlah buku penting seperti Jurnalisme Sastrawi dan Race, Islam and Power, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu pengamat sosial-politik paling berpengaruh di Indonesia.

Dalam kesempatan workshop Madrasah Creator KUPI kali ini, para penulis mendapatkan sesi untuk belajar teknik menulis feature dengan gaya storytelling. Sesi perjumpaan kali ini disambut antusias oleh para penulis. Terlebih, banyak penulis yang berkesempatan untuk membacakan materi yang dibawa oleh beliau.

Selain teknik cara menulis feature, kami juga banyak belajar mengenai 9 elemen jurnalisme. Beliau berpendapat bahwa menjadi netral bukanlah prinsip jurnalisme. prinsipnya dalam jurnalisme harus bersikap independen daripada netralitas. 

Jujur, aku banyak belajar pada sesi beliau. Terutama untuk aku yang tidak banyak terjun ke dalam penulisan fiksi, tentu dengan adanya beliau memberikanku begitu banyak pandangan tentang teknik menulis yang satu ini. Dari beliaulah, aku mencoba membuka niat, minat, dan potensiku untuk menulis hal-hal yang menurutku di luar kemampuanku.

Berjumpa dengan Sang Ulama’ Perempuan: Bu Nyai Luluk Farida Muchtar

Sehari setelah pertemuan kedua mentoring penulis Madrasah Creator KUPI, aku mengunjungi kediaman Bu Nyai Luluk Farida Muchtar. Kebetulan, dalam beasiswa menulis ini aku mendapatkan kesempatan untuk mengabadikan kisah Bu Nyai Luluk.

Bu Nyai Luluk Farida Muchtar merupakan seorang ulama perempuan KUPI dan pendakwah yang aktif memperkuat peran perempuan dalam ruang keagamaan serta pemberdayaan masyarakat. Ia dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Majlis Ta’lim “Rahmah” di Malang, tempat beliau membina jamaah melalui kajian-kajian kitab kuning dan diskusi keislaman.

Dalam wawancara dengan beliau, aku banyak belajar tentang perjuangan beliau mengadvokasi hak-hak perempuan. Terutama dengan narasi-narasi Keislaman yang ramah terhadap perempuan. Di samping itu juga, beliau banyak sekali menyebut mengapa perempuan perlu mandiri dan berdikari. 

Ah, rasanya tidak semua hal perlu kuungkap sekarang. Biarlah kisah lengkap tentang perjalanan intelektual dan pengabdian beliau kita nikmati bersama saat peluncuran buku pada halaqah kubra nanti. Di sana, kita bisa meresapi jejak langkah beliau lengkap dengan detail-detail yang akan membuat kita semakin memahami betapa besar kontribusi seorang ulama perempuan seperti Bu Nyai Luluk bagi kehidupan sosial-keagamaan terutama terhadap hak-hak perempuan.

Dinginnya Kaliurang Jogja, Hangatnya Kebersamaan Para Penulis

Segala alat tempur yang telah kusiapkan kini telah tiba di Jogja. Entah kenapa aku lebih suka menyebut Jogja daripada Yogyakarta. Ah, tidak apa-apa yaa, kedepannya aku akan menulis lebih banyak kata “Jogja” di sini. 

Malam jam dua pagi, keretaku baru tiba di Stasiun Yogyakarta. Aku dan seorang penulis lainnya yang juga dari Malang bersiap menunggu jemputan taksi daring untuk mengantarkan kami ke Griya Gusdurian di daerah Banguntapan. Sesampainya di sana, kami disambut hangat oleh penulis-penulis lain yang baru sampai. Kami menginap sehari sebelum datang ke lokasi event kami berada.

Saat di sana, tentu aku banyak berjumpa dengan teman-teman sesama penulis KUPI yang menurutku punya latar belakang bidang yang sangat hebat. Entah mereka seorang dosen, peneliti, pernah berkuliah di Mesir, dan masih banyak lainnya. Aku sempat minder, namun aku sangat bersyukur berada pada lingkungan yang sangat baik di tengah-tengah mereka. 

Hari pertama, kami tiba di Oemah Petroek. Sebuah villa di kaki gunung Merapi yang sangat sejuk dan mendamaikan hati. Lokasi yang dipilih sangat istimewa, selain dingin dan asri, lokasinya memiliki banyak rumah ibadah dan museum yang dapat kami kunjungi.

Hari kedua, sebelum sesi-sesi padat dimulai, kami menyempatkan diri berjalan-jalan pagi menyusuri jalur kecil di kaki Gunung Merapi. Bagiku, jalan pagi ini sangat menyenangkan. Aku bisa merasakan nikmatnya well-being hidupku dengan ekosistem yang sehat dan menyegarkan. Sangat membantuku untuk tetap dapat menulis dengan baik. 

Di hari ketiga, kami telah siap dengan tulisan kami. Selama tiga hari kami menulis dan mengolah kata, selama itu pula kami memiliki banyak kenangan dengan para penulis lain dan juga para mentor. Hari ketiga menjadi sesi refleksi kami dalam menulis feature para ulama’ perempuan.

Pada sesi ini, kami meninjau kembali struktur, keakuratan data, serta kualitas narasi dalam penulisan feature mengenai ulama perempuan KUPI. Pendekatan reflektif  tersebut berhasil mendorong masing-masing penulis untuk menulis lebih tajam.

Penulis-penulis Assabiquunal Awwalun

Salah satu hal yang paling membahagiakan bagi kami adalah saat mengetahui bahwa kami terpilih sebagai angkatan pertama dalam program beasiswa menulis tersebut. Predikat sebagai peserta awal memberi rasa haru tersendiri karena kami menjadi bagian dari fondasi awal ekosistem penulisan yang sedang KUPI bangun melalui jaringan media yang terus berkembang. Para mentor dalam candaan mereka menyebut diri kami sebagai penulis-penulis assābiqunal awwalūn.

Kami pun berharap kegiatan serupa berlanjut pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak penulis muda yang dapat memberi kontribusi bagi produksi pengetahuan yang berpihak pada kemanusiaan. Sehingga, ekosistem media KUPI dapat berkembang lebih luas yang mampu menghadirkan narasi tentang pengalaman perempuan dan nilai keadilan.

Sampai Jumpa di Halaqoh Kubro KUPI!

Tulisan dari 21 penulis akan dibukukan dan dilaunching dalam Halaqah Kubra KUPI yang akan diselenggarakan di Jogja pada 12–14 Desember 2025. Halaqah Kubra tersebut merupakan forum strategis yang dirancang untuk memperkuat arah gerakan keulamaan perempuan di Indonesia. 

Kegiatan di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu akan menghadirkan lebih dari lima ratus peserta yang berasal dari kalangan ulama perempuan, akademisi, peneliti, aktivis, serta jejaring komunitas dari berbagai daerah.

Tema “Membumikan Spirit Keulamaan Perempuan untuk Peradaban Islam yang Ma’ruf, Mubadalah, dan Berkeadilan Hakiki” menegaskan posisi KUPI sebagai gerakan yang bertumpu pada tiga paradigma utama: ma’ruf, mubadalah, dan keadilan hakiki.

Dalam kerangka ma’ruf, keulamaan perempuan bertujuan untuk menghadirkan kebaikan kolektif. Melalui perspektif mubadalah, relasi kesalingan laki-laki dan perempuan menjadi dasar pengambilan keputusan. Sementara paradigma keadilan hakiki berperan sebagai fondasi etis yang memastikan bahwa proses keagamaan berpijak pada martabat manusia.

Secara kelembagaan, Halaqah Kubra 2025 berada pada fase ketiga dalam siklus lima tahunan kerja KUPI. Fase tersebut merupakan momentum untuk menghimpun refleksi nasional sebelum memasuki persiapan Kongres KUPI ke-3 pada 2027. 

Evaluasi situasi sosial, politik, budaya, dan keagamaan menjadi agenda penting agar gerakan tetap kontekstual dan mampu menjawab tantangan mutakhir, termasuk meningkatnya kekerasan berbasis gender, ketimpangan sosial, krisis kemanusiaan, serta kerusakan ekologis.

Halaqah Kubra juga berfungsi memperluas jejaring lintas sektor. Kolaborasi antara ulama perempuan, media, lembaga pendidikan, komunitas akar rumput, hingga kelompok muda memperlihatkan bahwa KUPI bergerak melalui model gerakan sosial yang inklusif dan berbasis pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan keagamaan.

Forum KUPI memastikan akses perempuan terhadap ruang-ruang pengambilan keputusan, baik dalam ranah keagamaan maupun kebijakan publik. Hal tersebut dengan memperkuat kapasitas ulama perempuan serta memperluas partisipasi peran ulama’ perempuan dalam proses penetapan hukum dan kebijakan

Refleksi Perjumpaan, Refleksi Kebersyukuran 

Perjumpaan selama mengikuti rangkaian kegiatan Madrasah Creator KUPI rasanya seperti menjelma menjadi ruang perenungan. Ada rasa syukur yang pelan-pelan tumbuh. Syukur karena mendapat ruang untuk belajar dalam ekosistem yang membangun. Syukur karena bertemu dengan para penulis yang memandang kata sebagai medium merawat pengalaman dan pengetahuan. 

Refleksi perjumpaan dan kebersyukuran atas partisipasi dalam beasiswa menulis ini juga mengajarkanku proses menulis selalu mengandung dimensi spiritual. Aku menemukan kembali alasan mengapa menulis tentang ulama perempuan terasa sangat mendesak. Semoga perjalanan yang baru kumulai ini terus menemukan jalannya, dan syukur tetap menjadi penuntun dalam setiap prosesnya. Nanti kita cerita tentang Madrasah Creator KUPI dan Halaqoh Kubro KUPI. []

 

Tags: Halaqah Kubra KUPIKongres Ulama Perempuan IndonesiaKupiMadrasah Creator KUPIulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Krisis Ekosistem Laut: Dari Terumbu Karang Rusak hingga Ancaman Mikroplastik

Next Post

Mereka yang Menjaga Alam, Namun Menjadi Korban: Potret Perempuan di Tengah Krisis Ekologi

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Syarifah Baghdad
Figur

Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara

20 Juli 2026
Pengelolaan Sampah
Lingkungan

Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

3 Juli 2026
ToT KUPI
Personal

ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

2 Juli 2026
Pengelolaan Sampah di Kebon Jambu
Lingkungan

Refleksi Pengelolaan Sampah di Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon

25 Juni 2026
SUPI
Personal

Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

17 Juni 2026
Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Next Post
Ekologi

Mereka yang Menjaga Alam, Namun Menjadi Korban: Potret Perempuan di Tengah Krisis Ekologi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0