Mubadalah.id – Dalam sebuah pertemuan bersama anak-anak muda Aceh untuk menyusun agenda perencanaan strategis, saya berbincang dengan seorang lelaki berusia 22 tahun. Usia yang setahun lebih tua dari anak lelaki saya. Dalam obrolan ringan tersebut, ia bercerita tentang relasinya yang dingin dengan sang ayah.
Menurutnya, ayahnya tidak pernah memberinya apresiasi atas prestasi apa pun yang ia capai. Percakapan antara keduanya sangat jarang terjadi. Bahkan, pada masa-masa tertentu, ia merasa tidak betah berada di rumah. Ia memilih pergi ketika ayahnya sedang ada di rumah. Untungnya, komunikasinya dengan sang ibu tetap baik. Ibunya menjadi jembatan penghubung antara dirinya, adik-adiknya dan ayahnya.
Saya terperanjat mendengar cerita itu. Perasaan saya langsung melayang jauh, teringat anak lelaki saya yang seusianya. Rasanya tidak sanggup membayangkan jika sikap seperti itu terjadi pada anak saya sendiri. Akhirnya, saya bercerita kepadanya sebagai seorang ayah.
Selama ini, saya memang selalu berhati-hati dalam menegur, menasihati, atau berdiskusi dengan anak, apalagi jika ada perilaku atau kebiasaan yang terasa kurang cocok dengan prinsip hidup saya. Saat kami berbeda pandangan, saya tidak pernah berani membentak atau berkata kasar, karena takut melukai hatinya dan merusak hubungan baik kami.
Relasi dalam Keluarga
Saya sampaikan kepadanya bahwa mungkin ayahnya mengalami hal yang sama seperti saya. Namun, sang ayah memilih diam dan menahan diri untuk berbicara. Mungkin juga karena takut salah, enggan, atau merasa gengsi memulai percakapan serius dengan anaknya sendiri.
Meski begitu, saya meyakinkan lelaki muda itu bahwa ayahnya pasti sangat menyayanginya, dengan caranya sendiri. Saya sampaikan bahwa, “Bagi seorang ayah, jika anaknya tersakiti, maka ia akan merasakan sepuluh kali lipat rasa sakit dari apa yang dialami anaknya.”
Tanpa sengaja, air mata saya menetes saat mengucapkan kalimat itu. Saya memintanya dengan sungguh-sungguh untuk mengakhiri sikap dingin kepada sang ayah. Sebagai lelaki, anak pertama yang tangguh, dia harus berani menjebol tembok yang menghalangi komunikasi hangat antara ayah dan anak. “Kamu nanti juga akan menjadi ayah dan merasakan hal yang sama lho”. Ujar saya dengan air mata yang terus menetes
Saya juga bercerita tentang pengalaman pola asuh saat masa remaja di dalam keluarga besar saat masih di kampung. Ketika itu, anak-anak yang lebih tua harus rela menanggung risiko lebih besar dalam keluarga.
Saat musim paceklik, gagal panen, atau musibah lain, ketika isi lumbung padi mulai menipis sementara kebutuhan makan keluarga tidak boleh berhenti, orang tua akan mengganti menu dari nasi menjadi tiwul. Sebagai anak bungsu, saya selalu mendapat keistimewaan, sementara kakak-kakak saya rela makan tiwul agar adik-adiknya tetap bisa makan nasi.
Pola Asuh
Relasi antara kakak dan adik sangat erat. Seorang kakak dituntut menjadi teladan dan harus mengayomi adik-adiknya. Baik dalam urusan ibadah, kemandirian, keuletan, prestasi sekolah, dan sebagainya.
Meskipun setelah dewasa masing-masing tumbuh menjadi dirinya sendiri, menempuh jalan berbeda dengan profesi dan prestasi beragam, namun prinsip penghormatan dari yang muda kepada yang tua tetap terjaga. Hingga dewasa dan berumah tangga, kakak tetap menjadi rujukan untuk bertanya, berkonsultasi, dan menjadi sandaran ketika saya menghadapi masalah.
Saya merindukan pola asuh semacam itu, namun zaman telah berubah. Rasanya sulit mengulang kembali masa-masa mengesankan yang pernah saya alami. Meski saya dan istri berusaha keras membangun kedekatan antara dua anak kami sebagaimana yang saya rasakan bersama kakak-kakak saya, hasilnya tidak sepenuhnya sama.
Nuansa kebatinan mereka mungkin tetap terpaut dekat, tetapi bentuknya berbeda. Problematika yang saya hadapi pun kini berubah. Jika dulu kami berhadapan dengan ancaman kelaparan dan stunting akibat kekurangan gizi, sekarang justru sebaliknya: anak-anak tumbuh subur, kelebihan berat badan karena asupan kalori berlebih yang sulit terbakar.
Pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib
Saya teringat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: orang tua tidak boleh bersikap semena-mena atau merasa paling benar terhadap anak. Orang tua harus memahami perkembangan anak sesuai zamannya. Sebagaimana pesan beliau, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Menurut beliau, terdapat tiga fase dalam mendidik anak. Pertama, usia 7 tahun pertama: orang tua harus melayani anak sepenuh hati, memperlakukannya seperti raja. Pada tahap ini, anak belajar melalui contoh. Ketika anak memanggil ibu atau ayah, orang tua hendaknya berusaha menjawab dan menghampirinya, meski sedang sibuk.
Kedua, usia 8–14 tahun: orang tua mulai menerapkan kedisiplinan dengan pola “hukuman dan hadiah”. Pada fase ini, anak sudah mulai mengerti tanggung jawab dan konsekuensi dari perbuatannya. Logika dan pemikirannya berkembang pesat, membuat rasa ingin tahunya tinggi.
Ketiga, usia 15–21 tahun: anak memasuki masa balig. Banyak perubahan terjadi. Fisik, mental, spiritual, dan sosial. Pada masa ini anak sangat mungkin menghadapi berbagai masalah. Tugas terbaik orang tua adalah berbicara dari hati ke hati: menjadi teman bagi anak, bertukar cerita, berbagi pengalaman, memberi dukungan dan motivasi. Dengan begitu, anak tidak merasa takut menghadapi persoalan hidup karena ia memiliki tempat terbaik untuk berdiskusi.
Mencari Pola Asuh yang Tepat
Setiap keluarga memiliki cara dan pola asuh masing-masing. Ada yang mendidik anak-anaknya dengan ketat dan mendorong anak mengikuti jejak profesinya. Jika orang tuanya pengacara, anak ditekan agar menjadi pengacara yang lebih sukses. Ada pula yang memberi kemewahan kepada anak agar mereka tidak merasakan kesengsaraan yang pernah dialami orang tuanya dulu.
Saya sendiri terus meraba dan mencari pola yang tepat, yang selaras dengan kehendak anak, ayah, dan ibu. Kami berpegang pada standar umum yang universal. Integritas, tanggung jawab, kasih sayang, serta penghormatan terhadap orang lain dalam segala perbedaannya.
Saya tidak berani menjamin bahwa pola yang kami terapkan saat ini adalah yang terbaik. Hasilnya baru akan terlihat di masa depan. Yang bisa saya lakukan adalah berdoa. Semoga jalan yang kami tempuh kini sesuai dengan masa depan anak-anak kelak. Amin. []












































